My Bipolar Boy

My Bipolar Boy
59. Itukan ? Ehem!


__ADS_3

"Anda baik baik saja kan, pak?" Pertanyaan polos itu membuat Bram menghentikan suara tawanya.


Beberapa detik berlalu hingga suara tawa itu benar benar hilang digantikan oleh senyum ramah.


"Paman tidak apa-apa. Hanya saja paman ingin kamu panggil saya paman, biar saya nggak kelihatan tua gitu." Balasnya diselingi tawa.


"Ooh begitu ya, pak." Angguk Cahya begitu mendengar penjelasan tersebut.


Bram menoleh kearah Cahya begitu masih mendengar panggil pak dari mulut Cahya. Cahya menatapnya bingung sambil mengangkat alisnya.


"Tadi paman suruh kamu apa?"


"Panggil bapak paman."


"Lah tadi kamu masih manggil saya pak loh." Cahya menggaruk kepalanya yang tidak gatal sambil tertawa kikuk.


"Pokoknya paman harap kamu bisa manggil saya paman, ya." Walaupun sedikit ragu, Cahya tetap menganggukkan kepalanya.


"Ya sudah, kita sudah hampir sampai di kelasmu."


Tak terasa keduanya kini sudah sampai didepan pintu kelas XII IPA 3. Paman Bram mengetuk pintu di hadapannya dan tak begitu lama ada sahutan dari dalam.


Ceklek


Pintu terbuka, menampilkan sosok guru dihadapan pak kepsek dan Cahya.


"Selamat pagi pak kepala sekolah." Sapa guru itu begitu melihat siapa yang mengetuk pintu kelasnya itu.


"Pagi juga bu Mona. Maaf mengganggu waktu mengajar anda."


"Tidak apa apa kok, pak. Memangnya ada perlu apa ya bapak kemari?" Tanyanya sopan.


"Saya ingin mengantarkan murid baru di kelas ini."


Kini eksistensi dari bu Mona beralih pada sosok dibelakang kepseknya itu. Cahya yang merasa diperhatikan reflek menundukkan kepalanya menyapa ibu guru barunya itu.


"Ooh begitu ya, pak. Apa dia murid barunya?" Tanyanya yang kini mulai menghadap kearah Cahya.


"Iya, ini Cahya. Ayo Cahya perkenalkan diri pada Bu Mona." Cahya mulai menampilkan senyuman dan kemudian mencium tangan bu gurunya itu baru mulai memperkenalkan diri.


"Perkenalkan nama saya Cahya Larasati bu. Ibu bisa panggil saya Cahya. Saya murid pindahan dari Sma Nusa Bangsa."


Setelah memperkenalkan diri, giliran bu Mona yang memperkenalkan dirinya.


"Halo Cahya, Nama ibu Monalisa. Ibu juga walikelas XII IPA 4. Semoga kamu betah belajar disini, ya." Ucapnya sambil menambilkan senyum manisnya. Tak lupa lesung pipi yang ada di pipi kirinya membuatnya terlihat semakin cantik.


Bram masih memperhatikan interaksi antara murid dan guru itu. Kemudian ia membuka suaranya.


"Kalau begitu saya pamit dulu, ada beberapa urusan yang harus saya kerjakan. Sekalian saya juga ingin menitipkan Cahya pada Anda selaku walikelas XII IPA 4 ini".


Perkataan Bram diangguki oleh Mona. Kemudian Bram menoleh kearah Cahya "Belajar yang rajin ya. Saya pamit dulu." undurnya yang diangguki oleh kedua perempuan beda usia itu.


"Ayo masuk Cahya." Ajaknya begitu melihat kepergian kepala sekolahnya itu yang sudah menjauh pergi.


"Iya, bu." Balasnya. Namun ia belum beranjak kedalam kelas kerena kini arah pandangannya tertuju pada punggung lebar kepala sekolah barunya itu.

__ADS_1


"Terimakasih kasih paman." gumamnya sambil tersenyum. Kini Cahya mulai melangkah kedalam kelas begitu tadi membiarkan bu Mona jalan lebih dulu.


"Anak anak, hari ini kita kedatangan murid baru. Ibu harap kalian semua bisa berteman baik dengannya, ya."


Ada yang menjawabnya dan ada yang tidak peduli sama sekali. Walaupun begitu arah pandang hampir seluruh murid kini tertuju pada Cahya, yang tentu saja membuat Cahya gugup.


Bahkan untuk menelan ludahnya saja rasanya sulit sekali. Ia berdiri gugup disamping bu Mona. Bahkan ia tidak berani menatap teman di kelas barunya itu.


"Silahkan perkenalkan diri," suruh bu Mona sambil menepuk pelan bahu Cahya, seolah mengisyaratkan agar tidak gugup. Perlahan Cahya menghembuskan nafas sebelum mengangkat pandangannya.


"Per...Perkenalkan nama saya Cahya Larasati. Kalian bisa panggil saya Cahya. Saya murid pindahan dari Sma Nusa Bangsa. Saya berharap kalian semua menerima saya sebagai teman kalian." Walau awalnya sempat sedikit tersendat, tapi Cahya dapat menyelesaikan ucapannya dengan lancar.


"Kalau kita tidak mau bagaimana?"


Tiba tiba ada yang menyahut membuat Cahya mencoba tenang sambil berusaha mengedarkan pandangannya kearah dimana suara itu berasal.


Tapi tak ada tanda tanda ada orang yang membuka suaranya itu.


"Fael" tegur Mona yang mendengar suara dari salah satu muridnya itu.


Cahya juga berusaha menemukan siapa pemilik nama 'Fael' yang baru saja disebut bu gurunya itu.


Tidak ada yang aneh dari teman teman barunya itu, tapi retinanya menangkap pergerakan seseorang dibarisan paling belakang yang semula menelungkupkan badannya ke meja kini mulai menegakkan badannya dan menghadap kedepan.


Lebih tepatnya kearah Cahya.


"I..itu kan?" Batin Cahya begitu melihat siapa orang yang mungkin baru saja terbangun dari tidurnya itu.


Jadi gimana kalau kita nggak menerimamu?" Tanyanya sekali lagi yang mendapat kekehan ringan dari beberapa cowok di sebelahnya.


"Ibu rasa sudah cukup perkenalkannya, sekarang Cahya bisa duduk disamping Wulan. Wulan angkat tanganmu."


Perkataan itu membuat fokus Cahya teralihkan. Awalnya ia sempat menatap terkejut kearah pemuda yang tadi sempat bertanya atau lebih tepatnya meledek dirinya itu. Kini mulai fokus pada Bu Mona.


Ketika bu Mona memanggil nama seorang gadis membuat Cahya memfokuskan pandangannya keseluruhan ruangan. Dan matanya langsung tertuju ketika ada seorang gadis mengangkat tangannya seperti perintah dari bu Mona tadi.


Yap, ada satu orang yang mengangkat tangannya. Namun pandangannya teralih kebelakang gadis itu. Dimana disana duduk seseorang yang tadi meledeknya itu.


Sekali lagi, Cahya membuang nafasnya lesu. Belum apa apa sudah dihadapankan dengan hal seperti ini.


"Baiklah, kau boleh duduk Cahya."


"Terimakasih, bu." Setelah mengatakan itu, Cahya melangkah menuju kearah bangkunya. Dimana letaknya persis didepan cowok tadi.


"Lindungi hari hariku nantinya, ya tuhan." Pintanya sambil tetap berjalan menuju tempat duduknya.


"Baiklah, kita lanjut materi tapi sebelum itu kita ulang pembahasan kemarin, ya."


Mona kembali menyambung pelajaran yang sempat tertunda begitu melihat Cahya sudah duduk ditempat duduknya disamping Wulan itu.


Cahya menatap sekilas anak cowok itu yang juga tengah menatapnya kemudian mulai menatap kearah gadis yang diketahuinya bernama Wulan itu.


"Hai, namaku Cahya Larasati, kalau boleh tahu siapa namamu?" Cahya kembali mengenalkan dirinya pada teman sebangkunya itu.


Tapi belum sempat gadis itu menjawab, suara dibelakangnya sudah lebih dulu menyahutinya.

__ADS_1


"Kau bodoh atau pikun. Dia sudah tahu namamu siapa. Bukannya tadi kau sudah memperkenalkan diri." Ucapan cowok itu membuat Cahya menoleh kearahnya. Dan dilihatnya si cowok ini malah menyeringai ke arahnya.


"Dia ini kenapa sih," gumam Cahya dalam hati.


Tak ingin mengurusi, Cahya balik menatap kearah Wulan yang mungkin sejak tadi sudah menatapnya.


"Aku Wulansari Ayuningtias." Balasnya sambil menyodorkan tangannya kearah Cahya yang langsung disambut baik oleh Cahya.


"Salam kenal, semoga kau mau menjadi temanku". Cahya masih tidak melunturkan senyumannya membuat Wulan ikut tersenyum.


"Iya, aku mau jadi temanmu."


Jawaban itu membuat senyum Cahya makin melebar.


Begitu sesi perkenalkan itu selesai, Baik Cahya ataupun Wulan kembali memperhatikan materi dari bu Mona.


..........


Dering bel istirahat baru 3 menit berlalu, tapi kelas sudah hampir kosong. Entah kemana para penghuninya yang pasti banyak dari mereka sudah memenuhi area kantin.


Sekarangpun hanya ada Cahya didalam kelas. Tadinya Wulan mengajak Cahya untuk ke kantin bareng teman kelasnya yang lain. Tapi Cahya menolak halus ajakan itu karena dirinya ada urusan.


Untung teman barunya itu mengerti, jadi mereka tidak memaksa Cahya untuk ikut ke kantin.


Cahya yang sudah selesai membereskan buku bukunya terkejut begitu mendapati tangan yang memeluk erat pinggangnya.


Reflek ia memukul orang tersebut dengan buku yang baru saja ia bereskan dan masih dalam gengamannya itu.


**Dugh


Dugh**


"Akh ad...duh, Sakit." Ringisan itu terdengar familiar di telinga Cahya. Membuatnya menghentikan pukulannya.


"Ya tuhan, Vino. Maaf ya, Cahya tidak tahu kalau itu Vino." Sesal Cahya begitu melihat keberadaan Vino dibelakangnya.


Bukannya menjawab, Vino masih tampak kesakitan, mungkin karena tadi Cahya memukulnya agak keras jadinya lumayan sakit.


Bagaimana tidak sakit, lah bukunya saja setebal 167 lembar. Tahu sendiri kan tebal buku paket Biologi sama Matematika itu seperti apa.


"Sa..kit Ya?" Tanyanya sambil mengelus kepala Vino yang baru dipukul pakai buku itu.


"Sakit." Vino memanyunkan bibirnya karena merasa kepalanya masih berdenyut akibat pemukulan tadi.


"Maaf, ya. Cahya tidak sengaja. Mana yang sakit?" Cahya masih berusaha meminta maaf sambil mengelus kepala Vino.


"Disini." Vino mengarahkan tangan Cahya agar mengelus kepalanya yang lumayan sakit itu.


Mungkin jika dihitung sudah 3 menitan mereka berdua dalan posisi seperti itu. Hingga terdengar sebuah deheman dari seseorang membuat Cahya terlonjak kaget dan melepaskan usapannya.


"Ehem!!"


...Perhatian...


Terimakasih atas dukungan dari kalian semua karena sudah menyempatkan waktu untuk membaca cerita ini.

__ADS_1


🍁Thanks🍁


__ADS_2