
๐M.B.B๐
Bel pulang telah berbunyi dari 8 menit yang lalu. Tapi sepertinya Cahya masih betah duduk ditempatnya.
Bahkan tadi ia sempat menolak halus ajakan Wulan untuk pulang bersama. Dalam pikirannya saat ini, ia hanya berusaha menemukan jawaban dari peristiwa yang tadi.
Dimana Bryan itu tidak ingat siapa dirinya. Atau mungkin Bryan pura pura lupa padanya. Entahlah, yang pasti itu sangat menganggu benak Cahya.
Beberapa kali ia membuang nafas lelah. Iya, lelah karena memikirkan jawaban yang tak kunjung ditemuinya itu.
Hingga suara dering ponselnya membuat lamunan Cahya buyar.
Diambilnya ponsel yang di letakkan di tasnya itu.
Rima๐ป
Itulah nama yang tertera di layar ponsel Cahya.
"Kenapa Rima menelpon, ya?" Cahya mengangkat panggilan itu.
"Assalamualaikum," salam Cahya pada sahabatnya itu.
"Wa'alaikumsalam, Hya kau sudah pulang sekolah?"
"Aku sudah selesai, tapi aku masih ada di sekolah. Memangnya ada apa?"
"Katanya, si ketua Volly putra mau ke sekolahanmu." Perkataan Rima membuat Cahya mengernyit bingung.
"Untuk apa dia kesini?" Terdengar jelas helaan nafas dari seberang sana, "Tentu saja menemuinmu. Memangnya apa lagi."
"Menemuiku, untuk apa?"
"Aku tidak tahu, yang pasti ia sekarang hampir sampai di sekolahmu. Jadi kau bisa menemuinya di gerbang. Dia bilang akan menunggumu disana." Jelasnya panjang lebar membuat Cahya mengangguk mengerti.
"Baiklah, terimakasih infonya. Dan kau tidak kangen denganku?" Goda Cahya pada sahabatnya itu.
Di seberang sana, Rima mendengus pelan sebelum menjawabnya. "Kau pikir aku tidak kangen denganmu. Aku kangen banget. Sehari tanpamu rasanya bagai seminggu." Cahya tertawa begitu mendengar ocehan sahabatnya itu.
"Kenapa malah tertawa, memangnya kau tidak kangen denganku." Belum sempat Cahya menjawab, Rima lebih dulu bersuara.
"Ooh jangan jangan kau sudah melupakan aku, ya? Sedihnya hati ini."
Cahya tahu, pasti Rima sedang sok melow.
"Jangan sok deh Rim. Aku tahu sifatmu seperti apa, jangan coba coba menipuku." Rima terkekeh pelan mendengarnya membuat Cahya ikut tertawa.
"Ooh, iya. Ngomong ngomong gimana dengan calon suamimu itu? Dia baik kan? Kau belum cerita apapun tentangnya, bukannya kau sudah janji mau cerita, kan." Cahya menghela nafas pelan, ia sempat terdiam begitu Rima menanyakan tentang calon suaminya.
"Calon suami?" Cahya tertawa pelan, tapi kalau kalian peka maka kau akan tahu kalau Cahya tengah menertawakan dirinya sendiri.
"Cahya...Cahya," panggil Rima.
"Iya, Rim. Kenapa?"
"Kau melamun, ya?"
__ADS_1
"Tidak kok, ya sudah kita sambung nanti, ya. Takunya dia malah sudah nunggu didepan gerbang."
"Oke, ingat jangan lupa buka grup. Daritadi kau sama sekali nggak online."
"Iya, Rima Chubby. Nanti aku akan buka grup. Kalau begitu sampai jumpa Rim".
"Sip๐"
"Assalamualaikum," Cahya mengakhirinya dengan salam.
"Wa'alaikumsalam." Setelah panggilan terputus, Cahya masih memandang kearah layar ponselnya yang kini menampilkan wallpaper dirinya berserta teman sekelasnya.
(Ingatkan, tentang yang foto bersama sebelum perpisahan)
Ia membuang nafas sejenak sebelum bangkit dari sebangkunya. Bahkan ia baru sadar, kalau hanya dirinya yang masih ada di kelas. Segera ia melangkah menuju ke gerbang sekolah.
Sejenak ia hentikan langkah kakinya didepan kelas XII IPA 1. Kelas siapa lagi kalau bukan kelasnya Vino.
Karena pintunya terbuka, memudahkan Cahya untuk melongok kedalam.
Tapi apa yang dicarinya tidak ada di kelas tersebut. Bahkan kelasnya sudah tidak penghuninya.
"Kau dimana?" Gumam Cahya sebelum beranjak menuju gerbang sekolah.
Saat diparkiranpun, Cahya tidak melihat mobil jemputan Vino. Itu artinya Vino sudah pulang ke rumah. Tapi kenapa ia tidak memberitahu dirinya.
Sepintas ingatan tadi muncul diotaknya membuat Cahya kembali menghela nafas. "Memangnya aku ini siapanya," gumamnya sambil tersenyum miris.
Cahya tetap berjalan dengan menundukkan kepalanya tanpa menyadari seseorang sedang menatapnya dari balik motornya.
Cahya mendekat kearah orang itu. "Hai, sedang apa kemari?" Tanyanya pada pemuda itu.
Pemuda itu lantas membuka suaranya. "Kenapa kau pindah tidak bilang-bilang?" Tanyanya tanpa menjawab pertanyaan Cahya tadi.
Cahya menghela nafas sebentar. Kemudian memberikan senyum kecil kearah pemuda di hadapannya itu.
"Ada sesuatu yang membuatku harus pindah kemari. Sedangkan kau ada apa kemari? Ingin menemui seseorang?".
Pemuda tadi mendengus sebentar sebelum menjawab pertanyaan Cahya.
"Iya, aku ingin menemui seseorang. Dan orang itu ada di hadapanku sekarang ini."
Mendengarnya membuat Cahya tertawa pelan. Sebenarnya ia sudah tahu kalau pemuda di depannya ini ingin bertemu dengannya. Tapi ia sengaja mengerjainya.
"Hahaha, aku tahu kok. Jadi ingin membicarakan apa?"
"Kau kenapa mendadak pindah, anak volley langsung menyerangku dengan berbagai pertanyaan begitu mereka tahu kalau kau pindah sekolah." Raut wajah pemuda itu berubah menjadi agak lelah. Apalagi saat ia menyebut anak volley.
"Kau seperti habis dikeroyok massa saja" Cahya tertawa lagi, kali ini lebih panjang daripada yang tadi. Sedangkan si pemuda sejenak terpaku melihat tawanya itu.
Cahya menghentikan tawanya begitu melihat respon orang di depannya itu yang tak bergeming.
"Hei, Cel. Kenapa kau malah diam saja?" Cahya menggoyangkan lengan Marcel pelan agar menyadarkan pemuda itu dari lamunannya.
Marcel tersentak akibat sentuhan Cahya dilengannya. "Ti..dak Apa..Apa" jawabnya dengan terbata bata.
__ADS_1
"Jadi kau kemari hanya ingin mengeluh tentang kelakuan anak volley ku?" Cahya menaik turunkan alisnya.
"Bukan, aku sekalian ingin memberikan piagam dan medali penghargaanmu minggu kemarin. Tadi pak kepala sekolah menitipkannya padaku." Jelas Marcel membuat Cahya menganggukkan kepalanya.
Marcel membuka tasnya dan mengambil sebuah piagam serta medali untuk diberikan kepada Cahya. Cahya menerimanya lantas mengucapkan terimakasih.
"Terimakasih, maaf karena sudah merepotkanmu. Seharusnya kau titipkan saja pada Rima, biar nanti sore ia berikan padaku."
"Tidak merepotkan sama sekali. Aku malah senang."
Cahya mengernyit bingung, "Senang kenapa?" Marcel menelan ludahnya bingung, buru buru ia menjelaskan agar Cahya tak salah paham.
"Senang, karena bisa melihat sekolah yang lain. Sekolahmu bagus juga ya" ucap Marcel sambil memandangi sekolahan Cahya yang baru itu.
Cahya ber'Ooh' ria.
"Ada-ada saja dirimu ini"
"Kalau tidak keberatan, mau ku antar pulang? Sekalian bertemu anak anak volley mu yang lain" tawar Marcel sambil menatap Cahya yang kini mulai memasukkan piagam dan medali miliknya kedalam tasnya.
"Maksudnya?"
"Sebenarnya aku kesini sekalian ingin menjemputmu, anak anak volley memintaku untuk menjemputmu karena mereka ingin bertemu denganmu. Katanya kalau kau tidak datang mereka semua akan mengulitiku."
Lagi lagi Cahya tertawa, ia tahu betul bagaimana peringai anak anak volleynya dulu. Kemudian ia mengangguk membuat senyum Marcel makin melebar.
"Kalau begitu, ayo. Mereka pasti senang bertemu denganmu" ajaknya sambil melangkah kearah mobilnya yang terparkir tak jauh dari gerbang sekolah.
Sejenak Cahya menatap sekelilingnya, karena sedari tadi ia merasa tengah diperhatikan oleh seseorang.
Tapi begitu melihat sekelilingnya, tidak ada yang mencurigakan. Tak ingin memikirkannya, membuat Cahy kembali meneruskan langkahnya kearah mobil Marcel.
Setelah masuk kedalam, mobil yang ditumpangi oleh Marcel dan Cahya melaju menjauhi sekolahan.
Tak begitu lama terlihat sebuah motor keluar dari arah parkiran menuju gerbang sekolah kemudian menuju rute yang sama yang tadi dilewati oleh mobil Marcel.
...Perhatian...
Up๐
Siapa tuh kira kira? Sok misterius bgt kan๐.
Btw masih ingat sosok yg memberi ucapan selamat pada Cahya begitu keluar dari ruang kepalanya dulu, kan? Nah ini dia orangnya๐.
Hallo Ya
Masih setia baca M.B.B kan?
Kalau masih, tunggu kelanjutannya di part selanjutnya. Berikan dukungan kalian lewat vote dan komen ya๐.
Makasih yang udah mau Vote + Komen Ya๐
๐Terimakasih๐
๐๐๐
__ADS_1