My Bipolar Boy

My Bipolar Boy
44. Amarah


__ADS_3

๐ŸM.B.B๐Ÿ


"Kau sudah gila, Hah?!" Bentak Bryan sambil melongokkan kepalanya dari balik jendela.


Bukannya menjawab Cahya malah terdiam kaku. Bagaimana tidak? Ia saja masih syok karena nekat menghalangi jalan Bryan. Untung saja tidak sampai tertabrak. Kalau ia, Cahya tak bisa membayangkan.


"Hei, kau tuli ya!! CEPAT MENYINGKIR ATAU KU TABRAK?!" Bentakan itu membuat Cahya tersadar dari lamunannya.


Ia menatap kearah Bryan yang tengah menatapnya tajam. Cahya meneguk ludahnya susah payah.


Bryan yang melihat Cahya tak kunjung menyingkir menjadi bertambah kesal.


"CEPAT PERGI" Bentaknya keras sambil membunyikan klakson yang membuat telinga siapapun yang mendengarnya menjadi berdengung.


Cahya segara bergerak menuju sisi pintu depan, ia pikir pintunya dikunci tapi ternyata ia salah. Begitu menarik gagang pintu tersebut, pintunya juga ikut tertarik.


Tanpa mengindahkan tatapan tajam Bryan, Cahya segera saja naik ke mobil dan duduk disamping Bryan.


"Apa apaan kau. Keluar dari mobilku!". Bryan benar benar marah saat ini dan ia sedang tidak ingin diajak bercanda apalagi oleh gadis disamping ini.


Cahya memberanikan diri untuk menatap kearah Bryan kemudian mengeluarkan suaranya "Kau mau kemana? Nanti mama Irena nyariin kamu. Dan aku harus jawab apa?".


Bryan kembali tersulut amarahnya begitu mendengar perkataan Cahya.


"Cepat.Keluar.Dari.Mobilku" tekannya dengan suara dalam membuat Cahya merinding.

__ADS_1


"Ku hitung sampai tiga. Kalau kau tidak keluar. Jangan salahkan aku kalau kau habis ditanganku".


Glup


Dengan susah payah Cahya menelan ludahnya paksa.


"Dia tidak akan mungkin berani" Cahya masih mencoba berpositif thinking kalau Bryan hanya mengertakannya saja.


Namun apa yang di dengarnya saat ini membuat nyalinya menciut.


Bryan menyeringai menatap kearah Cahya yang nampak gugup disampingnya. Tapi ia yakin kalau Cahya gugup bukan karena malu, tapi karena takut.


"Baiklah kalau itu maumu. Jangan salahkan aku kalau aku membunuhmu".


Cahya bimbang antara tetap duduk diam didalam mobil atau keluar dari mobil Bryan dan bersikap tak peduli.


Tapi sisi lainnya menyuruhnya untuk pergi daripada harus kehilangan nyawa.


"Ku hitung sampai tiga, kalau kau tidak turun aku pastikan kau hanya tinggal nama".


Lamunan Cahya terbuyarkan oleh perkataan Bryan barusan.


Tanpa ia sadari keringat dingin membasahi dahinya. Kalau ditanya apakah Cahya takut, maka jawabannya Tentu saja Takut.


Gimana tidak takut kalau kalian diancam mau dibunuh. Apalagi sepertinya ancaman itu bukan main main. Cahya *** ujung pakaiannya gemetaran. Hal itu tentu terlihat jelas oleh Bryan membuat senyum miring di bibir Bryan tercipta.

__ADS_1


"Oke, kita hitung. Sa...tu" ucapan yang sengaja diperlambat itu membuat bulu kuduk Cahya meremang.


"Bagaimana ini, tuhan tolong Cahya" batinnya berteriak.


Baru saja Cahya mau memutuskan, namun terlebih dulu hitungan Bryan membuatnya membeku ditempat.


"Tiga! Kau berani juga ya. Oke kita lihat sejauh mana keberanianmu" ujar Bryan yang sengaja melewati angka 2 dalam hitungannya itu.


Seringaian di bibir Bryan masih saja terbentuk sempurna membuat Cahya yang melihat mengigit bibirnya berusaha menyalurkan ketakutannya saat ini.


Bryan segera menjalankan mobilnya keluar dari area parkiran dengan kecepatan yng tak bisa dibilang pelan itu. Yang tentunya membuat Cahya refleks menggenggam tas tangannya yang ada dipangkuannya itu.


"Tuhan tolong selamatkan aku," Pinta Cahya yang sedari tadi tak berhenti berdoa pada tuhan agar memberinya keselamatan.


๐ŸM.B.B๐Ÿ


...Perhatian...


Woo apa Bryan benar benar akan melakukan perkataannya tadi?๐Ÿ˜ฑ Kalau benar bagaimana? Aduh Cahya๐Ÿ˜ฒ.


**Hallo Ya


Masih setia baca M.B.B kan?


๐ŸTerimakasih**๐Ÿ

__ADS_1


๐Ÿ˜๐Ÿ˜‡๐Ÿ˜


__ADS_2