
Menuju Detik Detik Chapter Terakhir. Jangan Lupa Kasih Vote kalian. Itu tandanya kalian ingin aku terus Update kelanjutannya.
OoOoOoOoOoOo
Previous Chapter
Keduanya masih di posisi seperti itu tanpa menyadari datangnya 2 orang dari arah pintu kamar. Dan mata kedua orang itu melebar begitu menyaksikan apa yang ada didepan mereka.
"APA YANG KALIAN BERDUA LAKUKAN?!" Teriakan itu seketika membuat Cahya dan Bryan menoleh kearah pintu kamar.
Dan seketika...
ย ย
๐*M.B.B*๐
Semua yang ada disana terdiam. Dua diantaranya berusaha mencerna apa yang sedang terjadi didepan meraka. Dan dua yang lainnya masih bingung dan tidak juga merubah posisi meraka. Hingga salah satu dari keempat orang itu buka suara.
"Bryan, Cahya?!"
Bryan langsung menatap kedua orang yang sangat dikenalnya itu dengan datar. Tapi ia sama sekali belum beranjak dari posisinya yang masih diatas Cahya. Bukannya menyahuti, Bryan malah nampak mengeram marah.
"Apa yang kalian lihat?!"
Bentakan itu membuat keduanya gelagapan. Mereka langsung mengalihkan pandangannya kearah lain. Yang pasti bukan kearah Cahya yang you know lah๐.
Cahya langsung tersadar dari blanknya itu, ia langsung menutupi bagian depannya dengan tangan serta mengeratkan gengamannya pada handuk yang melilit tubuh polosnya itu.
Bryan dengan sigap langsung meraih selimut yang ada disampingnya untuk melindungi tubuh Cahya dari pandangan 2 orang diambang pintu itu.
Pipi Cahya terlihat merah sekali karena rasa malunya itu. Bahkan ia rasanya ingin menenggelamkan dirinya sendiri agar dia tidak malu lagi.
"Kenapa masih disini? Keluar sekarang juga!" Bryan menatap marah kedua pria yang masih saja berdiam diri diambang pintu. Setelah tak sengaja memergoki dia dan Cahya dalam posisi yang bisa membuat orang lagi salah paham.
"Baiklah, tapi kami berdua ingin bicara dengan kalian. Segeralah turun dan tidak ada penolakan." Begitu mengatakan hal itu, keduanya langsung menutup pintu kamar Bryan dalam sekali sentak. Tapi keduanya masih setia berdiri didepan pintu.
"Kau memikirkan apa yang aku pikirkan?" Pertanyaan itu datang dari salah satu dari keduanya. Sedangkan yang satunya hanya mengangguk dengan raut wajah yang terlihat masih syok.
Sedangkan didalam kamar, Cahya berusaha menyembunyikan wajahnya karena malu. Bryan yang masih memperhatikan wajah Cahya begitu menyadari kedua orang tadi mulai menjauh dari kamarnya.
"Kenapa?"
__ADS_1
Cahya tak menjawab membuat Bryan langsung menyibak selimut yang menutupi sebagian wajah memerah Cahya, karena sejak tadi Cahya terus berusaha menutupi wajahnya itu dengan selimut.
"Kenapa?!" Ulangnya lagi, tapi kali ini intonasinya agak naik sedikit.
"Aku malu." Cicit Cahya tapi tak mau menatap wajah Bryan.
"Malu kenapa?" Rasanya Cahya ingin menjitak kepala Bryan. Tanpa sadar Cahya berdesis kesal.
"Issh, nyebelin." Cahya mendengus kesal. Bryan mengabaikan dengusan dari Cahya. Ia malah tersenyum jahil kearah Cahya.
"Mau sampai kapan kau seperti ini, huh?" Bryan tersenyum menggoda kearah Cahya yang terbelalak kaget.
"Awas dong." Cahya berusaha mendorong tubuh Bryan. Untungnya Bryan memang berniat menyingkir dari posisinya. Ia sengaja menjatuhkan tubuhnya di sebelah Cahya yang langsung bangkit dari posisinya.
"Keluar sana." Usir Cahya yang dibalas gelengan oleh Bryan.
"Keluar sana. Aku mau ganti baju."
"Nggak mau." Tolak Bryan mentah mentah.
Cahya menghela napas lelah.
"Baiklah, terserah. Tapi aku pinjam bajumu, ya."
Lagi lagi Cahya menghela napas pelan. Ia berjalan menuju walk in closet. Dan mulai mencari pakaian yang sekiranya pas ditubuhnya.
Begitu selesai ganti baju di walk in closet. Cahya keluar dari ruangan itu dan melangkah mendekati Bryan yang masih tiduran di ranjang.
"Bryan." Panggil Cahya.
"Hmm?" Gumaman pelan dari Bryan.
"Bukannya kita sudah ditunggu di bawah." Perkataan dari Cahya membuat Bryan bangkit dari posisinya.
"Ayo." Ajak Bryan sambil menggandeng tangan Cahya membuat Cahya hanya mengikutinya saja.
๐๐บ๐
Kini suasana yang sama tegangnya dengan yang tadi, membuat Cahya *** tangannya gugup. Bryan yang tadi datang bersama dengan Cahya, kini menatap malas kearah depannya dimana ada 2 orang yang begitu dikenalnya itu.
"Apa yang tadi kalian berdua lakukan?" Salah satu dari kedua orang tadi mengajukan pertanyaan yang sejak tadi menganggunya itu. Cahya yang duduk disamping Bryan hanya menundukkan kepalanya gugup. Dia bingung harus menjawab apa.
__ADS_1
"Tidak melakukan apa apa." Jawab Bryan santai. Kedua orang tadi tak langsung percaya dengan perkataan yang terucap dari bibir Bryan.
Bagaimana mungkin langsung percaya, kalau apa yang tadi mereka lihat bisa membuat orang lain jadi salah tafsir.
Ditambah lagi keadaan Cahya yang pada saat itu hanya memakai handuk. Apalagi posisi antara Bryan dan Cahya yang bisa membuat orang lain berpikiran yang 'Iya-iya' itu.
Dan sekarang, mereka berdua bisa melihat adanya luka di bibir Cahya yang membuat keduanya bertambah yakin kalau terjadi sesuatu hal antara Bryan dan Cahya.
"Intinya kalian berdua mau apa?" Bryan sedang malas menanggapi ucapan kedua pamannya itu.
Yap, keduanya memang paman Bryan. Siapa lagi kalau bukan Om Ibram dan Paman Bram. Kedua orang yang entah kenapa bisa datang di saat yang tidak tepat.
"Kau berbohong pada kami?" Kali ini Om Ibram yang bertanya.
"Apa untungnya bagiku."
"Kau yakin tidak terjadi apa apa?" Bram bertanya sambil menatap curiga kearah keponakannya itu. Sejujurnya ia belum percaya. Ditambah fakta bahwa yang ada dihadapannya ini adalah Bryan, bukan Vino.
Mungkin kalau yang di depannya ini Vino, ia bisa percaya kalau keduanya tidak melakukan apapun. Tapi, ini Bryan? Haruskah mereka langsung percaya begitu saja?
"Aku dan pamanmu sudah menghubungi ayah dan mamamu. Mungkin mereka tidak bisa langsung pulang tapi akan mereka usahakan untuk pulang cepat."
Perkataan panjang lebar yang barusan keluar dari mulut Om Ibram membuat Bryan mendengus sebal. Ia tahu, pasti kedua pamannya itu akan mengadu dan melebih lebihkan fakta yang ada. Terlebih lagi kalau paman Bram yang ngadu.
Beda dengan reaksi Cahya yang nampak bertambah gugup. Bagaimana kalau mereka semua salah paham? Yang ada malah akan mempersulit keadaannya nantinya.
Cahya hanya bisa berdoa, semoga saja tidak ada yang buruk untuk kedepannya.
******************************
...Perhatian Harap Dibaca...
Wadow, di aduin apa ya sama si double Bram itu?
Udah ketebak, ya siapa 2 orang itu๐. Siapa lagi kalau bukan Paman dan Omnya Bryan. Ya, walaupun sebenarnya Paman sama Om itu artinya sama๐.
Up๐
Masih setia baca M.B.B kan?
Nantikan kehadiran part selanjutnya lagi ya, guys๐. Please jangan Copas ya. Tolong hargai usaha saya dalam membuat cerita ini๐
__ADS_1
๐Terimakasih Semuanya๐
๐๐๐