My Bipolar Boy

My Bipolar Boy
47. Bentakan


__ADS_3

🍁M.B.B🍁


"Jangan pernah bicarakan nama itu lagi di hadapanku." Ancamnya tepat didepan wajah Cahya.


Tak ada niatan bagi Bryan untuk menjauh dari hadapannya Cahya. Bahkan Bryan tengah asyik menatap wajah ketakutan milik Cahya yang entah kenapa terlihat menarik dimatanya.


"Kau paham?!"


"Iy...ya pa..ham." Jawab Cahya terbata bata. Tapi Cahya engan untuk membuka matanya.


Jarak diantara mereka tidak berubah sama sekali. Hanya menyisakan 2 Cm, yang itu artinya posisi mereka sangat ets terlalu dekat.


Karena tak mendengar ada respon dari Bryan. Cahya memutuskan untuk membuka matanya secara perlahan. Namun hal pertama yang dilihatnya sungguh membuatnya sangat terkejut.


Sepasang mata yang terlihat indah namun entah mengapa menyimpan teka teki didalamnya.


Deg


Cahya tak bisa mengalihkan pandangannya. Tubuhnya seolah membeku dan membuatnya tidak bisa bergerak.


Ada satu hal yang bergerak begitu cepat didalam diri Cahya yaitu jantungnya. Rasanya agak menyesakkan namun tidak menyakitkan.


"Kenapa kau menatapku."


Pertanyaan itu mengundang senyum tipis di bibir Bryan.

__ADS_1


"Memang masalah untukmu?"


Bukannya menjawab Bryan malah balik nanya.


Cahya tak menanggapi pertanyaan itu. Tapi ada satu hal yang menganggu pikiran Cahya. Hal itu berkaitan dengan sosok di hadapannya yang tak kunjung menjauh darinya itu.


Entah berapa lama mereka berdua di posisi itu hingga Bryan mulai menjauhkan wajahnya dari hadapan Cahya yang tentunya di syukuri oleh Cahya.


Mungkin kalau lebih lama dari ini, Cahya bisa saja kehabisan nafas. Deru mobil mulai terdengar menandakan mobil mulai dinyalakan dan siap dijalankan.


Keheningan masih tercipta. Cahya dengan pemikiran dan Bryan entah sedang memikirkan apa. Hanya dia dan Tuhan yang tahu.


Lelah karena memikirkan jawaban yang tak kunjung temu itu membuat Cahya memberanikan diri untuk kembali bertanya pada Bryan.


Namun hatinya bilang agar tidak menanyakan hal itu. Takutnya malah Bryan memarahinya lagi. Tapi pikirannya menolak hal itu. Maka pilihan kedualah yang diambil olehnya.


"Bryan," panggilnya dengan nada lembut, berharap Bryan mau menjawabnya dan bukan memarahinya lagi.


Lelah dengan penantian yang tak berarti membuat Cahya kembali bersuara.


"Apakah kau muncul karena dia memanggil namamu? Padahal tadi aku bersama dengan Vino sebelum gadis tadi datang." Diakhir kalimat Cahya memelankan suaranya berharap hanya dia yang mendengarnya.


Tapi siapa sangka kalau orang disampingnya mendengar jelas apa yang diucapkan oleh Cahya.


**Citttt

__ADS_1


Brakkk**


"Auwh."


Kejadian itu terulang kembali, bahkan sepertinya yang kali ini lebih dahsyat dari pada sebelumnya.


"BISA KAU DIAM?!. AKU SUDAH MUAK MENDENGAR NAMA ITU!. KELUAR SEKARANG JUGA!!" Bentak Bryan yang sepertinya tidak bisa lagi mengontrol emosinya.


Cahya yang belum sembuh dari rasa sakitnya harus kembali mendengar bentakan dari seorang Bryan Giovino Wirautama untuk kesekian kalinya kurang dari 2 jam itu.


Bisa Cahya rasakan ada benjolan lumayan besar di dahinya akibat benturan tadi. Rasa nyeri langsung menyerang saraf Cahya.


Bahkan pandangannya mulai berkunang kunang sekarang ini. Dengan masih memegangi dahinya, Cahya menatap kearah Bryan yang kini tengah menatapnya tajam.


"Bryan..."


Cahya bahkan belum sempat menyelesaikan ucapannya kembali lagi harus mendengar bentakan yang keluar dari mulut orang yang sama yang membentaknya tadi.


"KELUAR SEKARANG JUGA!! ATAU AKU SENDIRI YANG MENYERETMU KELUAR." Ancaman itu sepertinya sangat ampuh membuat Cahya mengigil ketakutan.


🍁M.B.B🍁


Setidaknya hargailah suatu cerita, karena bagaimanapun juga menulis itu lebih sulit daripada hanya sekedar membaca.


🍁Terimakasih🍁

__ADS_1


πŸ˜πŸ˜‡πŸ˜


__ADS_2