
🍁My Bipolar Boy🍁
Pesta pernikahan masih tetap berlangsung, para tamu undangan juga masih ada di tempat resepsi. Walaupun kebanyakan tamu yang hadir itu adalah kolega dari ayah Sanjaya.
Untuk para mempelai juga masih ada disinggah sana mereka. Bahkan sejak tadi mereka sudah menyalami para hadirin yang memberikan ucapan selamat kepada mereka berdua.
Kini raut wajah lelah sedikit terlihat di wajah Cahya. Jika dibilang dia lelah, maka jawabannya ada iya. Bagaimana tidak kalau dari kemarin malam dirinya tidak tidur karena memikirkan pernikahannya.
Tapi hal itu masih bisa ditutupi dengan baik oleh Cahya yang memang sejak tadi tak henti menebar senyuman. Sebenarnya selain lelah, Cahya juga menghindari bertatapan dengan suaminya.
Bukannya apa-apa, hanya saja Cahya masih malu bila mengingat kejadian yang membuat keluarganya dan keluarga suaminya itu sempat salah paham padanya itu.
Makanya sejak tadi, keduanya tidak saling bicara. Walaupun begitu sesekali Cahya ketangkap basah oleh Bryan saat tengah memperhatikannya itu.
Di sela-sela para tamu undangan yang sedang menikmati pesta perayaan. Bryan diam diam mulai menggenggam tangan Cahya. Hal itu tentu saja membuat Cahya agak tersentak kaget.
"Kenapa?" Tanya Cahya sambil menatap kearah Bryan. Sedangkan Bryan hanya menggeleng pelan.
"Tidak apa-apa, hanya ingin menggenggam tangan istriku saja. Apa aku salah?" Cahya yang mendengar hal itu pun dibuat blushing ria.
Cahya tidak mengira kalau Bryan akan bersikap seromantis ini padanya. Cahya pun mengalihkan pandangannya dari Bryan. Dia tidak ingin ketahuan kalau sedang melting mendengar perkataan Bryan tadi.
Bryan sendiripun sudah tahu kalau wajah istrinya itu memerah begitu mendengar perkataannya itu. Hal itu menimbulkan senyum manis di bibir Bryan.
"Kenapa?" Kali ini giliran Bryan yang bertanya pada Cahya.
"Tidak apa-apa." Balas Cahya yang masih tetap memalingkan wajahnya itu.
"Kenapa tidak menatapku?" Cahya masih belum menatap kearah Bryan. Dirinya hanya menetap ke samping kanannya.
Bryan tersenyum tipis, "Atau jangan bilang kau blushing karenaku." Cahya menyangkalnya dengan memberikan gelengkan atas perkataan Bryan barusan.
Karena tak tahan dengan tingkah sang istri, Bryan langsung saja mencubit gemas pipi kiri istrinya, yang membuat Cahya sedikit meringis dibuatnya.
"Aw, sakit Bryan." Dengan wajah yang masih kesakitan, Cahya akhirnya mau tak mau harus menghadap kearah Bryan.
Kalau dirinya tidak menatap kearah Bryan, bisa bisa pipinya akan melar dibuatnya.
"Utu, utu, utu. Istri siapa sih ini. Gemes banget jadi pengen gigit." Ucap Bryan yang sekarang mencubit gemas kedua pipi istrinya itu.
Cahya berusaha melepaskan tangan Bryan di pipinya. "Ishh, Bryan." Dengus Cahya sambil menekuk wajahnya.
Bryan yang merasa sudah cukup membuat istrinya kesal itupun menyudahi kegiatannya mencubiti pipi istrinya yang agak tembam itu.
Dengan pelan Bryan mengelus pipi Cahya yang sedikit memerah akibat ulahnya itu. "Masih sakit?" Cahya mengeleng pelan. Memang karena rasa sakit di pipinya tidak seberapa.
"Habisnya aku gemas sekali melihatmu. Salah siapa tidak mau menatapku."
"Aku malu, Bryan." Ungkap Cahya yang kini menundukkan kepalanya.
"Kenapa harus malu?" Sebenarnya Cahya sungguh gregetan begitu mendengar perkataan Bryan itu.
Tapi dirinya juga sadar posisi, ditambah lagi banyak pasang mata yang menatap kearah mereka membuat Cahya jadi mengurungkan niatnya.
"Itu." Arah mata Cahya melirik kearah para tamu undangan yang memang sebagian besar masih menatap mereka.
Bryan yang menyadari kepala Cahya sedikit menoleh itupun membuatnya mengikuti arah pandang Cahya.
Yang pertama dia lihat adalah para tamu undangan yang memang sebagian besar menatap kearah keduanya. Tapi tak begitu lama, Bryan kembali menatap kearah Cahya.
Dengan senyum tipis, Bryan perlahan mulai mengangkat dagu Cahya agar menatap ke arahnya.
__ADS_1
Akhirnya tatapan keduanya bertemu. "Memangnya kenapa harus malu? Kau kan istriku dan aku ini suami sahmu. Jadi kau tidak perlu merasa malu kalau aku menggodamu."
Begitu selesai mengatakan hal itu, Bryan menunjukkan senyum khas miliknya itu. Melihat senyuman itu membuat Cahya kembali dibuat melting oleh Bryan.
Seakan Cahya baru sadar kalau suami sahnya itu memang sosok yang tampan. Pakai banget malahan😍.
Melihat respon Cahya membuat Bryan perlahan mulai merengkuh tubuh Cahya kedalam dekapannya itu. Kalian bertanya tentang kondisi Cahya saat ini.
Yang jelas kalian bisa menebaknya dari detak jantung Cahya yang terdengar begitu keras dan tentu saja berdetak secara abnormal.
Bryan yang bahkan sempat merasakan bagaimana tubuh sang istri yang menegang itu pun kembali mengulas senyum. Ternyata istrinya itu sangat polos dan juga masih steril melihat dari respon tubuhnya itu.
Namun pelukan itu tak berlangsung lama karena kedatangan sosok pamannya itu. Yap, siapa lagi kalau bukan paman Bram. Bram menghampiri sang mempelai seorang diri tanpa di dampingi oleh siapapun.
Dia berniat menyapa keponakan iparnya atau mungkin lebih cocok dibilang adik iparnya itu untuk memberikan selamat dan beberapa wejangan.
"Sepertinya mempelai laki lakinya sudah tidak sabar menanti hingga malam." Ucapan itu membuat Cahya perlahan melepaskan pelukannya dari Bryan.
Sedangkan Bryan tanpa menolehpun sudah tahu siapa pemilik dari suara tersebut.
"Memangnya itu urusanmu?" Tanya Bryan datar membuat pamannya yang sudah kebal dengan nada suara dari sang keponakannya itu hanya tertawa biasa.
"Tidak juga adikku sayang." Ucap Bram sambil merangkul bahu sang keponakannya yang lebih dianggapnya sebagai adiknya itu.
Dengan sebal Bryan melepaskan rangkulan tadi. Dia memang tidak suka di rangkul rangkul oleh siapapun terkecuali orang tuanya dan sekarang bertambah dengan Cahya.
"Selow, adik. Apa kau tidak ingin minta maaf?" Bryan menaikkan alisnya begitu mendengar perkataan Bram.
Bram yang sadar tengah di tatap oleh Bryan pun kembali melanjutkan ucapannya. "Minta maaf karena sudah melangkahiku lebih dulu."
"Kau tidak lupa kan, kalau aku ini belum menikah. Tapi seenak jidatnya saja kau minta kakakku untuk melamarkan seorang gadis untukmu." Ada nada sebal yang dikeluarkan oleh Bram.
Tapi sepertinya hal itu tidak menarik minat Bryan. Bryan sendiripun tidak ambil pusing. Lagian hak hak dia kalau ingin menikah lebih dulu dari sang paman itu.
"Sudah nasibmu." 2 kata itu membuat Bram mendengus kesal.
"Iya, tahu. Mentang-mentang sudah menikah. Tahu gitu tadi ku kunci kau dari luar, biar kau tidak jadi nikah." Gerutu Bram yang membuat Bryan menatap tajam pamannya itu.
Bram yang di tatap seperti itu perlahan menelan ludahnya. Dan kini arah tatapannya beralih pada Cahya.
"Semoga kau betah dengan manusia jenis ini, ya." Ucap Bram sambil menatap Cahya dan melirik kearah Bryan. Sedangkan Bryan tidak meladeni sindiran halus dari pamannya itu.
Kemudian Bram kembali memfokuskan pandangannya kearah Cahya. "Ya, walaupun dia kadang aneh. Tapi tenang saja dia itu adalah pemuda yang baik. Dan paman yakin, keponkan paman ini akan jadi suami yang paling top dan kelak akan jadi ayah yang hebat. Paman jamin itu."
Cahya yang sejak tadi hanya menjadi penyimak lantas menganggukkan kepalanya. Sedangkan Bryan diam diam menyetujui apa yang pamannya katakan itu.
"Iya, paman. Cahya percaya itu. Dan Cahya doakan semoga paman cepat bertemu jodohnya, Aamiin." Sahut Cahya sambil mendoakan paman barunya itu.
Bram langsung mengamini apa yang diucapkan oleh Cahya. Tapi respon dari Bryan membuat Bram menatap kesal kearah anak kakaknya itu.
"Mungkin jodohmu belum lahir." Canda Bryan tapi tidak menampilkan raut wajah bercanda pada umunya. Malah terkesan serius menurut Bram dan juga Cahya.
Dengan pelan Cahya menyenggol lengan suaminya itu. Walaupun dirinya tahu kalau mungkin saja Bryan hanya bercanda. Tapi mungkin bercandanya sudah sedikit kelewatan.
"Dasar. Kalau setelah ini paman menikah. Paman tidak akan mengundangmu untuk datang ke pernikahan paman." Sahut Bram dengan sewot.
"Tidak masalah. Memangnya siapa yang mau denganmu itu."
Sudah sering Bram dibuat jengkel dengan sang keponakannya itu. Bahkan kini dia juga dibuat kesal dengan jawaban yang di berikan oleh Bryan atas perkataannya itu.
Memang sudah sering dia kalah omong kalau melawan Bryan itu. Dirinya seolah dapat serangan telak kalau sedang bercanda dengan Bryan itu.
__ADS_1
"Cahya kalau kau bosen dengan suamimu itu. Paman bersedia mengantikan posisinya. Kapanpun kau mau, kau bisa mendatangi paman. Paman akan siap sedia."
Mendengar ucapan Bram membuat Bryan benar benar menatap tajam plus dingin kearah pamannya itu.
"Kalau kau berani mengambil Cahya dariku, maka langkahi dulu mayatku." Tekan Bryan pada setiap kalimatnya itu. Membuat siapapun yang mendengarnya tahu kalau Bryan sedang tidak main main dengan ucapannya.
"Woi, sante my bro. Paman hanya bercanda. Lagian mana berani paman ngambil istri keponakan paman sendiri. Bisa bisa paman diurap sama mama dan papamu. Belum lagi sama kakek dan nenekmu."
Bram menjadi ngeri sendiri dengan tatapan ponakannya itu. Dalam hati diam membatin untuk segera menjauh dari Bryan, kalau tidak bisa saja dia dicingcang oleh manusia di hadapannya itu.
"Ya, sudah. Paman kesini cuma mau ngasih ucapan selamat bukan menjadi samsak tinjumu, Bryan." Ucap Bram sambil menampilkan senyuman kikuknya itu.
Tapi raut wajah Bryan masih belum berubah. Dia masih memandang Bram dengan pandangan tajam dan menusuk membuat yang dipandangi jadi grogi sendiri.
Sebenarnya dari postur tubuh, Bram lebih unggul dari Bryan. Mengingat Bryan masih seorang anak sma. Tapi Bryan itu kalau sudah marah, tidak akan ingat siapa pun. Mungkin hanya orangtuanya saja yang dia ingat kalau sedang marah. Selain itu, tidak ada sama sekali.
Ditambah lagi, kalau sedang marah. Biasanya Bryan tidak akan peduli mau musuhnya itu celaka atau mati, yang penting amarahnya bisa reda. Makanya itu jadi alasan bagi Bram untuk tidak terlalu jauh membuat keponakannya itu marah.
"Paman pamit dulu. Dan kalau nanti malam Bryan bersikap kasar padamu. Kamu teriak saja, ya." Gumam Bram pelan biar Bryan tidak mendengar hal itu. Bram juga memberi kerlingan mata yang membuat Cahya dengan kikuk mengangguk.
Walaupun dalam hati Cahya masih bingung. Apa jangan jangan kasar yang dimaksud itu berkaitan dengan Bryan yang masih tampak marah itu.
Mungkin otak Bram sudah terganti dengan batu. Sudah tahu kalau Bryan sedang dalam mode marah. Dia malah seenaknya memeluk tubuh Cahya didepan suaminya. Cahya sendiri pun dibuat terkejut dengan pelukan itu.
Pelukan itu hanya berlangsung selama 5 detik saja, karena tubuh Bram langsung ditarik paksa menjauhi Cahya. Kalian tanya siapa pelaku utamanya penarikan itu? Jelas saja suami sah dari Cahya. Memangnya siapa lagi.
"Kau, berani sekali memeluk istriku. Pergi sekarang juga atau aku habisi kau disini." Tatapan tajam yang Bryan layangkan pada pamannya itu sukses membuat Bram bergidik ngeri. Dengan senyum canggung, Bram langsung meminta maaf.
"Sorry my bro. Oke paman pergi sekarang juga. Nanti malam jangan lupa buka kado paman untuk kalian, ya. Paman sudah menyiapkan kado spesial untuk kalian. Dan sudah paman taruh di ranjang kalian. Oke." Setelah mengantakan hal itu, Bram langsung buru buru pergi sebelum Bryan benar benar memukulnya dan pasti itu akan mengacaukan pesta pernikahan milik keponakannya itu.
Seturunnya dari singgah sana sang pengantin, Bram sudah disambut dengan tatapan biasa milik kakaknya itu yang tak lain adalah mamanya Bryan itu.
"Kau menganggu Bryan lagi, Bram." Ucapan dari Irena hanya disambut senyum kikuk oleh Bram membuat Irena menghela napas panjang.
"Segeralah cari istri, biar kau tidak lagi menganggu anakku itu." Setelahnya Bram berlalu dan masih terdengar jelas gerutuan dari Bram begitu mendengar ucapan kakaknya tadi.
Hal itu tentu membuat Irena hanya terkikik geli mendengar gerutuan adiknya itu.
Sedangkan diatas singgah sana, terlihat Bryan yang tampaknya masih marah itu. Terlihat dari tatapan mata Bryan yang masih menajam itu. Ditambah dengan deru napas yang tidak beraturan menandakan Bryan masih berusaha menahan dirinya agar tidak lepas kendali.
Cahya yang berdiri disamping Bryan itupun kini mulai menggenggam tangan Bryan lembut. Hal itu membuat Bryan menoleh ke arahnya.
Ternyata Cahya mengajak Bryan untuk duduk. Hal itu dimaksudkan Cahya untuk membuat amarah Bryan perlahan menghilang.
"Duduk dulu, ya." Bryan menurut. Kini keduanya telah duduk berdua. Dengan perlahan Cahya mengelus tangan Bryan.
Tatapan mata Bryan perlahan mulai tampak biasa. Bukan lagi pandangan menusuk yang siap dihunuskan oleh orang yang berani mengusik dirinya itu.
"Jangan marah, ya. Paman Bram hanya bercanda. Lagian aku tidak akan meninggalkanmu. Apalagi sampai menikah dengan paman Bram. Kau percaya hal itu kan?" Bryan diam tidak memberikan respon.
Hal itu membuat Cahya menghela napasnya pelan. "Bryan sayang jangan marah lagi, ya. Cahya takut melihatnya." Bujuk Cahya sambil memeluk suaminya itu dari samping.
Bryan menatap sebentar kearah Cahya sebelum membalas pelukan istrinya itu. Bryan tidak peduli dengan tatapan dan suara jeritan tertahan kebanyakan berasal dari ibu muda yang menghadiri pesta pernikahannya itu.
Bahkan adegan mereka sejak tadi tak luput dari sorot mata para tamu undangan yang hadir. Bahkan tak jarang ada yang dibuat melting melihat adegan yang sebenarnya biasa saja. Tapi tampak romatis dimata kebanyakan orang.
💞My Bipolar Boy💞
So sweet😍
🍁Terimakasih Semuanya🍁
__ADS_1
😍😇😍