My Bipolar Boy

My Bipolar Boy
123. Hubungan


__ADS_3

Sepulangnya dari supermarket, Bryan sering kali menatap kearah Cahya. Cahya sendiri sadar akan tatapan suaminya itu. Tapi dia coba cuek, sebab menurutnya Bryan hanya merasa bersalah karena membuatnya kelelahan akibat ulah Amertha.


Kini Cahya sudah berada di dalam kamarnya. Dia tengah berbaring sambil mengelus pelan perutnya itu. Entah kenapa dia merasa ingin suaminya itu untuk mengelus perutnya sambil menyanyikan lagu pengantar tidur.


Merasa tidak bisa tidur akhirnya Cahya memutuskan untuk keluar kamar. Mungkin menonton tv akan menjadi opsi pertama yang akan Cahya lakukan setelah keluar kamar. Tapi mendadak langkahnya menjadi terhenti begitu melihat keberadaan sang suami yang duduk di sofa.


Bryan yang merasakan kehadiran oranglain pun segera mengedarkan pandangannya. Matanya terpaku pada persensi Cahya yang kini tengah menatapnya itu. Mendadak Bryan merasa gugup setelah berpandangan dengan Cahya.


“Kau kenapa belum tidur?” Pertanyaan itu menyapa pendengaran Bryan. Kini Cahya sudah duduk di samping Bryan dengan menyisahkan jarak beberapa puluh cm diantara mereka. “Belum ngantuk. Kau sendiri kenapa belum tidur.”


Cahya mengulas senyum tipis. “Sama sepertimu.” jawabnya singkat yang tentu saja bukan kebenarannya.


Tidak mungkin Cahya bilang kalau anaknya itu ingin sang ayah mengelusnya. Ini bukan waktu yang tepat untuk memberitahukan kehamilannya pada Bryan. Sebab Bryan masih belum mengingatnya sama sekali.


Bryan hanya ber’oh’ saja. Kini pandangan keduanya tertuju pada channel tv, tapi tidak dengan pikiran mereka yang kini berkelana entah kemana. “Bagaimana kuliahmu? Apa ada kendala?” Cahya berusaha mencairkan suasana dengan membahas topik perkuliahan.


“Tinggal beberapa hal lagi untuk mencapai target dan sejauh ini lancar.” Balasnya masih dengan menghadap tv. “Kalau kau sendiri? Masih kuliah atau sudah kerja?” Sebenarnya pertanyaan ini ingin Bryan tanyakan sejak awal. Sebab Bryan tidak pernah mengetahui kegiatan Cahya diluar rumah. Dan yang dia tahu hanya, Cahya sering dirumah.


Apa benar Cahya ini adalah istrinya? Begitulah yang sering Bryan tanyakan pada diriya sendiri.


“Aku kuliah, tapi tidak disini. Lagipula ini masih dalam masa liburanku.” jawab Cahya seadaanya.


Keadaan mendadak diam dan Cahya mencoba mencari topik lain. Tapi pertanyaan yang Bryan lontarkan membuatnya menoleh.


“Sebenarnya kau itu siapaku? Kenapa kau dan ibuku selalu bilang kalau kita ini sudah menikah. Padahal aku sama sekali tidak mengingat apapn tentangmu.”


Cahya menghela napas sejenak sebelum menjawabnya. “Yang perlu kau tahu adalah aku ini istrimu dan kau adalah suamiku.”


“Lalu Amertha itu siapa? Kenapa yang aku ingat hanya dia yang jadi pacarku?” Cahya menatap dalam mata suaminya itu. Bryan juga ikut menatap lama kearah mata Cahya. Dari tatapan itu, Bryan bisa rasakan perasaan tulus serta keputusaaan dalam satu waktu yang sama. Dan entah kenapa tatapan keputusaaan itu sangat menganggunya.


“Aku tidak tahu kau ada hubungan apa dengan Amertha sejak berada disini. Tapi sebelum kau pamit untuk kuliah disini, kita ini sudah menikah. Dan sikapmu agak berubah sejak 3 bulanan ini. Maka dari itu aku memutuskan untuk mengunjungimu kesini. Tapi apa yang aku dapatkan? Kau malah bermesraan dengannya.” Gurat wajah sedih menghiasi wajah Cahya. Dialihkan pandangannya kembali kearah tv.


Ingatannya kembali mengulang dihati dimana dia datang untuk mengejutkan Bryan, tapi malah dia yang dibuat terkejut. Padahal sebelumnya Cahya sudah menyiapkan kejutan yang membahagiakan untuk suaminya itu.

__ADS_1


Ada rasa sesal yang bersarang di hati Cahya, kalau saja dia mau mendengarkan penjelasan Bryan waktu itu. Bryan tidak akan mungkin kecelakan dan berakibat lupa ingatan seperti ini. Semuanya pasti akan jauh lebih baik lagi.


Tapi menyesalpun rasanya tidak berguna, hubunganya dengan Bryan masih belum bisa dikatakan baik walaupun ada kemajuan. Sebab Bryan masih belum mengingatnya. Lagipula sebentar lagi Cahya harus kembali kenegaranya untuk melanjutkan kuliahnya.


Sejenak Cahya merenung, memikirkan kalau pada akhirnya Bryan sama sekali tidak mengingatnya, lantas bagaimana hubungan pernikahan ini? Apakah Cahya harus benar – benar melepaskan Bryan untuk orang lain. Meski Cahya sendiri tidak akan sanggup melepaskan Bryan.


...[ * ¥ * ]...


Pembicaraan semalam hanya sampai pada topik kuliah dan Cahya pamit ke kamar lebih dulu untuk menghindari topik yang nantinya malah akan merusak moodnya itu. Kini Cahya barusaja berniat keluar kamar untuk menyiapkan sarapan.


Baru saja menutup pintu kamar, Cahya dibuat tersentak oleh keberadaan kedua orang yang kini tengah berpelukan di dapurnya itu. Perasaan nyeri langsung melingkupi hati Cahya begitu melihat kemesraan suaminya dengan pacarnya itu.


Mencoba mengatur napasnya, kini Cahya mantap melangkah menuju meja makan yang berhadapan dengan dapur. “Selamat Pagi.” Sapanya yang lebih memilih untuk langsung duduk di meja makan.


Sapaan itu menyentak keduanya dan mereka segera melepaskan pelukan mereka itu.


“Selamat pagi.” Itu balasan dari Amertha yang entah sejak kapan sudah berada di apartemennya ini.


“Kau datang kesini pagi sekali.” ucap Cahya yang berniat sedikit menyindir Amertha yang sudah datang pagi – pagi sekali kesini.


Pandangan Bryan sejenak tertuju pada Cahya, Cahya sendiri mengabaikan tatapan dari suaminya itu. Katakanlah Cahya cemburu atas kemesraan yang Bryan tunjukan pada Amertha. Lagipula istri mana yang tidak cemburu kalau suaminya bermesraan dengan wanita lain. Cahya hanya wanita biasa yang tentu bisa merasakan cemburu.


Bryan berusaha mengabaikan perasaan bersalah yang entah kenapa dia rasakan setelah ketahuan bermesraan dengan pacarnya sendiri. Jadi sebenarnya Bryan ini kenapa?.


“Kalau begitu aku mandi dulu, setelahnya kita sarapan bersama.” Bryan mengecup pelan kening Amertha. Tapi tatapannya terarah pada Cahya yang kini sedang buang muka padanya. Setelah Bryan pergi, Cahya menatap lurus kearah Amertha yang kini sedang menghidangkan makanan siap saja keatas meja makan.


Kalau kalian beranggapan tadi Amertha masak, tentu tidak sepenuhnya salah. Amertha hanya sedang memanaskan makanan yang tadi dibelinya di restoran. Amertha duduk di depan Cahya dan Cahya masih menatapnya lama.


Sadar kalau dirinya sedang ditatap membuat Amertha belik menatap kearah Cahya. “Ada apa? Kenapa menatapku seperti itu.”


“Apa kau tidak malu?”


Alis Amertha bertaut “Malu? Soal apa?”.

__ADS_1


Cahya memutar bola matanya malas. “Aku kira kau tidak bodoh untuk mengetahui apa maksud dari perkataanku tadi.”.


Amertha menatap sinis kearah Cahya. “Sebenarnya kau ingin bicara apa? Jangan bertele – tele!” Nada bicara Amertha meningkat 1 oktaf.


Sejenak Cahya memejamkan matanya, berusan agar tidak ikut emosi. “Bukannya kau sudah tahu kalau aku adalah istrinya Bryan. Tapi kenapa kau masih mendekati suamiku.”


“Tentu kau sendiri tidak lupa, kan? Kalau Bryan itu menganggapku sebagai kekasihnya.”


“Tapi seharusnya kau ingat batasanmu. Bukannya pagi – pagi gini kau sudah datang kemari.”


Sungguh, meladeni Amertha di pagi hari seperti ini malah membuat mood Cahya jadi rusak.


“Memangnya apa masalahnya. Bryan saja tidak protes, kenapa malah kau yang marah.”


Amertha memajukan sedikit badannya kearah Cahya. “Seharusnya kau ingat posisimu disini. Kau tidak lebih hanya menumpang disini. Dan kehadiranmu tak berarti apa – apa untuk Bryan.”


Cahya terpaku mendengar ucapan itu. Memang sejak Bryan lupa ingatan, kehadirannya hanya bagai angin lalu buat Bryan. Melihat keterdiamannya Cahya membuat Amertha mengulas senyum miring.


Cahya bangkit dari posisinya, dia berjalan menuju dapur untuk membuat susu ibu hamil. Sebelum itu, dia mengambil susu yang dia taruh di bawah dekat kulkas. Hal ini Cahya lakukan untuk menghindari pertanyaan dari Bryan. Jadi untuk lebih amannya, lebih baik dia sembunyikan dulu fakta kalau dia saat ini sedang hamil.


...[ * ¥ * ]...


Saat ini Cahya tengah bersandar di sofa, badannya terasa pegal karena dia habis memasak masakan untuk sang suami. Sejak jamil Cahya jadi mudah lelah, mungkin ini efek dari kehamilannya. Dan lagi, dia sudah lama tidak memeriksakan kandungan ke dokter.


Sejak tinggal disini, Cahya memang disibukan dengan urusan rumah tangganya yang sampai hari ini belum kelar juga. Bryan masih belum mengingatnya dan dalam waktu dekat Cahya harus kembali ke tanah air.


Kalau Bryan masih belum ingat, apa yang harus dia lakukan. Walaupun sikap Bryan tak sedingin sebelumnya, tapi bukan berarti sikapnya menjadi hangat. Bahkan kerap kali Bryan secara terang - terangan bermesraan dengan Amertha.


Gimana Cahya bisa baik - baik saja, kalau di hadapannya sendiri disuguhi kemesraan sang suami dengan gadis lain. "Aku aku harus menyerah saja?"


Cahya menggeleng keras atau ucapannya barusan. "Nggak boleh. Aku harus berhasil membuat Bryan ingat padaku. Pokoknya harus!" serunya dengan semangat.


...[ * ¥ * ]...

__ADS_1


...Haii, Semuanya 🙋😍...


...Apakah ada yang masih menunggu kelanjutannya? Setelah sekian belas purnama tidak kunjung diupdate???☺...


__ADS_2