
Kini Cahya dan keluarganya sedang dalam perjalanan pulang. Tentunya dengan Bryan yang kini duduk di samping Cahya. Sedangkan Cahya sendiri sama sekali tidak menatap kearah suaminya itu.
Sejak tadi dia hanya bergelud dengan pikirannya. Sebab dirinya yakin kalau dalam waktu dekat ini, Bryan akan semakin jauh darinya. Entah kenapa perasaannya begitu kuat akan hal itu.
Beberapa kali, Bryan melirik kearah Cahya yang duduk diam disampingnya itu. Walaupun ibunya mengatakan kalau sosok di sampingnya itu adalah istrinya.
Sulit bagi Bryan untuk percaya. Lagipula satu kenangan kecilpun tak diingat oleh Bryan tentang sosok Cahya itu. Kalaupun Cahya memang benar adalah istrinya, kenapa dia tidak ada disaat dirinya membuka mata.
Malah sosok yang diyakini oleh Bryan sebagai kekasihnya itulah yang ada di sampingnya.
Selama perjalanan, tak ada yang bersuara. Baik orang tua Bryan, Bryan ataupun Cahya lebih memilih diam. Hingga kini sampailah mereka berempat di apartemen Bryan.
Tubuh Cahya rasanya lelah sekali. Belum lagi saat ini dirinya tengah mengandung, membuat lemahnya terasa berkali lipat dari biasanya.
"Kamu tidur sama Cahya, Bryan." Perkataan dari ibunya itu Bryan menghentikan langkahnya.
"Tidak mau, Ma."
Penolakan itu memang sudah di prediksikan oleh Cahya, tapi kenapa rasa sakitnya semakin bertambah. Bahkan Cahya tak menduga, hanya kerena penolakan itu saja, moodnya semakin memburuk.
"Ta---,"
"Sudah, Ma. Biar aku tidur dikamar lain saja." Cahya tak ingin berdebat lebih lama. Dia hanya ingin segera istirahat. Lagipula Bryan juga butuh istirahat. Untuk masalah kedepannya, biar itu jadi urusan nanti saja.
Lagipula memaksakan Bryan agar ingat padanya, hanya akan membuat Bryan tertekan. Dan pasti lebih lama lagi bagi Bryan untuk mengingatnya.
"Cahya pamit ke kamar duluan, Ma, Yah." Setelah mengatakan hal itu, Cahya langsung menuju ke kamar yang paling dekat dengan posisinya saat ini.
Irena dan Sanjaya hanya mengangguk sambil memperhatikan Cahya yang kini baru masuk kedalam kamar. Bryan hanya menatapnya acuh dan berlalu menuju kearah kamarnya. Tentu saja kamar yang berbeda dengan Cahya tadi.
Untungnya di apartemen ibu tersedia 3 kamar, jadi Cahya bisa istirahat dengan tenang malam ini.
🍁 🍁 🍁
Jam menunjukan pukul 02.23 A.M.
Seseorang yang baru saja terbangun dari tidurnya itu, tidak dapat kembali melanjutkan tidurnya. Entah apa yang membuatnya dengan untuk kembali tidur itu.
Sudah beberapa kali dia mencoba memejamkan mata, tapi dia tidak kunjung terlelap. Padahal sejak tadi, badannya sudah sangat lelah dan tentu saja butuh istirahat.
Belum lagi, dirinya yang baru saja pulang dari rumah sakit pasca kecelakaan yang tidak dia ingat itu. Seseorang ini adalah putra tunggal dari pasangan Irena dan Sanjaya Wirautama.
Bryan mendengus kesal. Dia akhirnya menyerah dan memutuskan untuk bangun dari posisinya itu. Padahal tadi dia merasa tidak lapar sama sekali, tapi entah kenapa dia tiba - tiba ingin makan sesuatu.
Sesuatu yang berbau kacang. Padahal biasanya Bryan jarang makan - makanan yang terbuat dari kacang itu.
Dilangkahkan kalinya menuju ke lantai bawah apartemennya itu. Dirinya berniat mengambil minum dan mencari selai kacang di kulkasnya itu.
Tapi baru beberapa langkah, dia menginjakkan kakinya di lantai dasar. Tapi pandangan Bryan teralih pada ruang Tv di samping kiri posisinya berdiri.
Rasa penasaran membuat Bryan melangkah menuju ke ruangan yang dibatasi beberapa rak itu. Dilihatnya Tv itu dalam posisi menyala dan bisa Bryan dengar suara Tv itu walaupun samar - samar. Seperti yang menonton Tv saat ini memang tidak membunyikan volume Tv dalam mode normal.
__ADS_1
Dilihatnya sosok perempuan berambut panjang yang kini tengah fokus pada siaran Tv sambil sesekali makan makanan di depannya itu.
"Cahya?" Panggilan itu membuat sang pemilik nama menoleh. Dirinya sempat terkejut melihat kehadiran suaminya di dekatnya.
"Kau terbangun?" Cahya menatap kearah Bryan yang masih berdiri beberapa meter di sampingnya itu.
Bryan tak menjawab. Sekilas Bryan menatap kearah piring yang dibawa oleh Cahya. Sepersekian detik, Bryan meneguk ludahnya susah payah. Sebab di piring itu tersaji makanan yang membuat rasa lapar Bryan kembali muncul.
Karena ucapannya yang tak direspon oleh Bryan, membuat Cahya kembali memanggilnya. "Mas. Mas Bryan?"
"Iya," jawab Bryan yang baru tersadar dari lamunannya tadi itu.
"Kenapa terbangun?"
Bryan berdehem sebentar setelah mengalihkan pandangannya dari piring yang ada di tangan Cahya itu. "Haus."
Jawaban singkat itu membuat Cahya mengangguk. Cahya sendiripun tak ambil pusing lantaran jawaban singkat dari suaminya itu.
Dia kembali memakan makananya itu. Sejujurnya Cahya juga sama dengan Bryan. Dia juga terbangun karena mendadak merasa lapar. Makanya dia masak makanan yang saat ini di makan itu.
Padahal di kulkas ada beberapa macam makanan. Tapi entah kenapa, Cahya tidak tertarik untuk makan makanan itu. Malah dia ingin sekali makan daging dengan bumbu kacang.
Makanan ini semacam sate, namun tidak di tusuk dengan bambu. Cahya hanya membakarnya dan melumurinya dengan bumbu kacang. Untung saja, di kulkas ada persedian kacang, jadi Cahya tak kesulitan untuk mendapatkannya.
Merasa Bryan yang belum beranjak dari posisinya, membuat Cahya mengernyit bingung. "Ada apa, kau mau?" tawarnya begitu melihat arah tatapan Bryan yang tertuju pada piring di tangannya itu.
Sejujurnya Bryan ingin mengangguk, tapi dia gengsi untuk mengakuinya. "Tidak. Aku tidak lapar." Setelah mengatakan hal itu, Bryan berlalu menuju ke dapur.
Di posisinya saat ini, Bryan tengah mengambil minum dingin di dalam kulkas. Niat awal dimana dia ingin memakan selai kacang harus kandas. Begitu dirinya melihat hanya ada selai coklat dan stroberi didalam kulkasnya.
Entah kenapa mendadak dia ingin makan makanan yang dimakan Cahya tadi. Tapi lagi - lagi rasa gengsinya muncul. Mana mau dia minta makanan yang dimakan oleh Cahya tadi.
Lebih baik di menahan rasa laparnya itu, dibandingkan harus meminta pada Cahya. Lama dirinya berperang dengan batinnya, sampai tidak sadar kalau sudah ada Cahya di dekatnya.
"Mas?"
Panggilan itu membuat Bryan terlonjak kaget. Tapi wajahnya langsung berubah datar kala melihat presensi dari Cahya itu. "Kenapa?"
"Seharusnya aku yang tanya, Mas kenapa?"
"Memangnya aku kenapa?"
Cahya menghela napas sabar. Sudah sejak beberapa menit Cahya berdiri di dekat Bryan. Tadi dia pikir, suaminya itu langsung kembali ke kamar setelah mengambil air minum.
Tapi begitu dia kembali ke dapur untuk meletakkan piring dan gelasnya. Dia melihat kalau lampu dapur masih menyala. Db ternyata suaminya itu masih ada disana.
Tadi Cahya sempat mendengar kalau Bryan tengah lapar. Tapi yang menjadi pertanyaan, kenapa dia tidak makan makanan yang ada di kulkas.
Memang tadi, Mama Irena memesan makanan lumayan banyak. Sebab dirinya tidak sempat memasak, karena sibuk mengurusi kepulangan Bryan dari rumah sakit.
Balik lagi ke Cahya, yang kini menatap bingung kearah Bryan. Sebab, suaminya itu memandangi bekas piring yang tadi dia gunakan untuk makan.
__ADS_1
Seakan tahu apa yang dipikirkan oleh Bryan. Cahya melangkah menuju ke ayah washtafel dibelakang Bryan. "Kalau Mas lapar, di kulkas masih banyak makanan." ucapnya sambil mencuci piring dan gelas bekasnya tadi.
"Aku juga tahu itu." balas Bryan agak ketus.
Masih dengan kegiatannya mencuci piring. Cahya kembali menimpali. "Kalau tahu, kenapa tidak dimakan. Bukannya mas ke dapur karena lapar, ya?"
Skakmat
Bryan tak lagi membalas ucapan Cahya, karena itu memang benar adanya. Hanya saja dia tidak ingin makan makanan yang ada di kulkas.
Dia hanya ingin makan - makanan yang tadi Cahya makan itu. Tidak dengan yang lain. Tapi Bryan juga tahu, kalau makanan itu sudah habis di makan oleh Cahya. Lihat saja piringnya sudah tidak tersisa secuilpun makanan.
Padahal Bryan ingin sekali makanan itu. Entah kenapa rasanya dia ingin makan saat ini juga. Dan itu harus makanan tadi. Bukan yang lain, bahkan Bryan sudah membayangkan akan seperti apa rasa daging yang dilumuri dengan bumbu kacang itu.
Klek
Suara piring yang ditaruh di depannya membuat Bryan menunduk sambil menatap apa yang ada di piring itu tadi.
Daging bakar dengan bumbu kacang yang terlihat mengiurkan itu, sekarang ada di depan matanya. Dialihkan pandangnya kearah sampingnya. Dimana piring itu berasal.
Cahya.
Hanya dia yang dia lihat ada disana. Jangan lupakan dengan senyumannya yang entah kenapa terasa manis di penglihatannya itu.
"Makanlah, Mas. Itu masih baru, tadi aku buat memang agak banyak. Kalau masih kurang, di microwave juga masih ada."
Bryan tak membalas ucapan itu. Dirinya hanya sedikit merasa tidak asing dengan senyuman Cahya tadi. Dan entah kenapa jantungnya berdegup kencang.
Melihat sang suami yang hanya diam pun, membuat Cahya kembali angkat bicara. "Kalau tidak mau, juga tidak apa - apa." Cahya baru saja ingin menarik kembali piring itu, tapi gagal karena tangannya dia tahan oleh Bryan.
"Biarkan disini saja. Kalau aku sudah lapar akan aku makan." Jawaban itu membuat Cahya mengulas senyum cerah.
Cahya tahu akan sikap gengsi suaminya itu, makanya dia berinisiatif untuk meninggalkan Bryan sendirian. Sebab kalau dia masih di sana. Cahya yakin 100% kalau Bryan tidak akan mau memakan makanan yang dia buat itu.
"Kalau begitu, aku permisi dulu, Mas. Kalau sudah selesai, piringnya letakkan saja di washtafel. Biar besok aku yang mencucinya."
Tak lama setelah mengatakan hal itu, Cahya berlalu pergi. Bryan pun memastikan kalau Cahya sudah tidak terlihat lagi. Barulah dia makan makanan itu dengan lahap. Seolah dirinya tidak makan selama beberapa hari.
"Enak," gumamnya tanpa sadar. Namun seperti Bryan tidak sadar kalau dari kejauhan Cahya kembali mengulas senyum lembut. Begitu melihat Bryan dengan lahap memakan masakan yang dia buat itu.
"Sepertinya papamu sedang mengidam, Nak." ucapnya pelan bahkan nyaris tak terdengar sambil mengelus perutnya yang masih rata itu.
Cahya masuk kedalam kamarnya karena tidak ingin menganggu aktifitas makan suaminya itu. Pantas saja, saat terbangun tadi. Cahya ingin masak makanan itu dalam porsi yang cukup banyak.
Ternyata ini toh jawabannya. Suaminya sedang ngidam, makan makanan berbau kacang. Padahal Cahya juga tahu kalau Bryan jarang makan - makanan olahan berbahan dasar kacang.
...Alasanya tak lain adalah kerena Bryan tengah ngidam😂....
...💖...
...🍁 Calon papa lagi ngidam. Untung calon mamanya peka, ya😂 🍁 ...
__ADS_1