My Bipolar Boy

My Bipolar Boy
25. Cerita


__ADS_3

🍀🍂🍃🍂🍃🍀


Memakan waktu hampir 20 menitan akhirnya Cahya sampai juga di sekolahnya yaitu SMA Nusa Bangsa.


Setelah menyapa pak satpam yang berjaga didepan pintu gerbang, Cahya segera memarkirkan sepeda kesayangannya di parkiran sekolah. Walaupun di parkiran itu lebih didominasi oleh sepeda motor, tapi sepertinya sepeda Cahya punya tempat tersendiri yaitu dibawah pohon mangga.


Tanpa menunggu lama, Cahya segera menuju kearah kelasnya yang berada di XII-Ipa 2.


Ditengah perjalanan ia melihat sang sahabat yang berada 3 meter dari posisinya.


"Rima." Panggilnya lumayan kencang membuat seseorang didepan Cahya menolehkan kearahnya.


"Hai Cahya." Seseorang itu melambaikan tangannya kearah Cahya membuat Cahya agak berlarian kearah Si Rima tadi.


"Tak biasanya kau baru nyampai jam segini." Rima berbicara dengan Cahya.


"Tadi main sebentar sama si Ziel." Mendengarnya membuat Rima menganggukkan kepalanya.


"Ooh ya Rim, ada yang ingin aku bicarakan sebentar denganmu." Keduanya berjalan beriringan menuju ke kelas mereka. Yap mereka itu sekelas.


"Tentang apa?" Tanya Rima yang kini menolehkan kepalanya kearah Cahya.


"Ooh aku tau, pasti tentang perlombaan voli itu kan. Wahh selamat kau bisa bawa pulang juara satu." Rima segera memeluk sahabatnya itu atas kemenangan dalam kejuaraan Voli seminggu yang lalu.

__ADS_1


"Iya terimakasih." Cahya membalas pelukan itu.


"Tapi bukan itu yang ingin aku bilang padamu." Lanjutnya sambil melepaskan pelukan mereka membuat Rima agak mengernyitkan dahinya bingung.


"Jadi tentang apa?" Tanya Rima penasaran.


"Sebenarnya hari ini adalah hari terakhir aku sekolah disini." Perkataan itu membuat Rima tersentak kaget.


"Hahaha, jangan bercanda. Nggak lucu tau." Rima masih menganggap kalau ucapan yang dibilang oleh Cahya itu hanya candaan saja.


Mendengar respon sang sahabat yang tak percaya membuat Cahya menatap ke arahnya.


"Beneran Rim, aku lagi nggak bercanda." Cahya menatap Rima yang kini juga menatapnya.


Rima tak bisa berkata kata lagi, perlahan dapat Cahya lihat mata Rima yang berembun, menandakan sang pemilik mata menahan air matanya.


Melihat Cahya yang menunduk membuat Rima yakin apa yang diucapkan Cahya tadi bukan bualan.


"Tapi kenapa kau pindah? Memangnya kau mau pergi kemana? Jangan bilang kau mau pindah keluar kota." Saat ini Rima tak bisa membendung air matanya.


Katakan saja kalau Rima melankolis, tapi coba bayangkan bagaimana perasaan mu begitu tau sahabat dari pertama masuk ke Sma ingin pindah sekolah. Sedih bukan.


"Jangan menangis." Cahya langsung mengusap airmata Rima. Dan untungnya mereka sudah sampai didalam kelas.

__ADS_1


Dan lagi, kelas juga dalam keadaan sepi walaupun sudah ada beberapa tas dibangku yang ada di kelas.


"Aku hanya pindah sekolah, bukan pindah rumah." Jawaban itu sama sekali tidak membantu mengatasi airmata Rima yang semakin deras.


"Tapi tetap saja kita akan jarang bertemu." Perkataan itu mendapat kekehan dari Cahya.


Rima yang mendengarnya tentu saja kesal dengan Cahya. Sudah tau lagi sedih, bukannya dihibur malah diketawain, pikir Rima.


"Kita masih bisa bertemu, kan aku juga masih di jakarta. Kau juga bisa main kerumah bibiku."


"Tapi kenapa kau pindah?" Pertanyaan itu membuat Cahya menghentikan kekehannya.


Bukannya menjawab Cahya malah mengiring Rima untuk duduk.


Saat ini keduanya sudah duduk di kursi mereka masing masing.


Cahya menghembuskan nafasnya sebentar sebelum menjawab pertanyaan dari Rima tadi.


"Sebenarnya..."


💛💙💜💙💛


Hallo Ya

__ADS_1


Masih setia baca M.B.B kan?


💞😊💞


__ADS_2