
๐M.B.B๐
"Cahya sepertinya kamu melupakan sesuatu." Entah itu pertanyaan atau pernyataan dari mama Irena membuat Cahya berpikir sebentar sebelum menelisik dirinya apakah ada yang kurang.
Dan ternyata memang ada yang kurang. Belum sempat Cahya bicara. Suara mama Irena sudah lebih dulu terdengar membuat Cahya tersenyum malu.
"Kau lupa membawa tas, buku dan memakai sepatumu." Irena terkikis geli melihat reaksi Cahya yang sepertinya baru menyadari ada yang kurang dari tampilannya hari ini.
Vino sudah tertawa terbahak bahak begitu melihat penampilan Cahya yang hanya memakai satu set seragam berserta roknya. Namun tidak membawa tas dan tidak memakai sepatu beserta kaos kakinya.
Mendengar tawaan Vino membuat Cahya semakin malu. Bagaimana dirinya bisa lupa dengan benda penting yang harus dibawanya ke sekolah itu.
"Malu maluin aja kamu Cahya." Begitulah rutukan Cahya pada dirinya sendiri itu.
Setelah melihat wajah Cahya yang kian memerah karena malu, membuat Irena tidak tega dan menyuruh Vino untuk berhenti tertawa.
"Vin, sudah jangan tertawa terus. Kasihan Cahya. Sebaiknya kalian cepat berangkat nanti telat loh."
"Ini kamu pakai, Cahya. Mama sudah siapin tas, buku, alat tulis, kaos kaki dan sepatu untukmu. Pakai dulu baru berangkat."
Cahya yang masih berusaha menahan malunya itupun perlahan mulai melangkah kearah Irena.
Vino masih setia ditempatnya sambil sesekali tertawa pelan. Walaupun pelan itu cukup terdengar jelas di telinga kedua perempuan beda usia itu.
Setelah menerima barang tadi akibat desakan dari mama Irena pun, Cahya mulai memakainya. Setelah selesai Cahya berdiri dari posisinya yang semula duduk disamping mama Irena itu.
"Ya sudah. Kalian berangkat. Jangan lupa nanti makan di sekolah ya. Kalau makan sekarang sepertinya waktunya tidak sampai dan malah kalian akan terlambat."
Keduanya mengangguk. Vino sekarang sudah mulai berhenti tertawa. "Sana kalian berangkat, hati hati dijalan ya. Jangan pulang terlambat, kalian mengerti?"
"Mengerti mama," jawab keduanya kompak. Baik Cahya maupun Vino menuruti perkataan mama Irena.
Setelah kembali berpamitan keduanya mulai melangkah kearah pintu utama untuk segera pergi kesekolah. Dan ternyata mang Asep sudah menunggu disamping mobil.
Begitu melihat tuan mudanya keluar, mang Asep segera membukakan pintu untuk putra majikannya itu.
Vino dan Cahya naik, tanpa membuang waktu mang Asep mulai menjalankan mobil menuju ke sekolah.
Selama di perjalanan, Vino menatap kearah jendela, Cahya juga ikut menatap keluar jendela sedangkan mang Asep fokus menyetir.
Cahya masih malu akibat kejadian tadi. Sedangkan Vino masih asyik melihat jalanan.
Namun tak berapa lama, Cahya bisa merasakan ada beban di pahanya. Begitu menatap kebawah ternyata itu kepala Vino.
Huh, kepala Vino?๐ฑ
Cahya tidak salah lihat kan?
Cahya mengerjapkan matanya pelan, takut takut retinanya salah menangkap gambar.
Tapi seberapa kalinya Cahya mengerjapkan matanya, apa yang dilihatnya tidak berubah sama sekali. Bahkan sang pemilik mata balik menatap ke arahnya.
Deg Deg Deg Deg
Jantung Cahya kembali berdetak abnormal.
Bagaimana tidak gugup, kalau ada sepasang mata yang mengawasi pergerakan kalian. Sungguh Cahya harus lebih berhati hati dan menjaga jarak kalau tidak ingin membuat kerja jantungnya berkerja terlalu berat.
"Vino mau bobo, nanti Cahya bangunin Vino kalau sudah sampai ya." Vino mengucapkan hal itu sambil membenarkan posisinya diatas paha Cahya.
Pergerakan itu malah membuat Cahya gugup. Akhirnya Vino berhenti bergerak dan mulai memejamkan mata.
__ADS_1
Namun hal itu malah membuat Cahya tambah gugup. Bayangkan saja ada orang yang tidur diatas pahamu, lalu menghadap kearah perutmu. Apalagi dengan hembusan hangat yang orang itu keluarkan dari organ pernafasannya.
Sungguh Cahya benar benar gugup. Berada diposisi yang belum pernah ia alami membuat Cahya gugup setengah mati. Dan jangan lupakan tubuhnya yang menegang merasakan hembusan nafas Vino yang terasa hangat dikulit perutnya itu.
Mencoba menetralisir kegugupannya, Cahya mulai menyamankan diri dengan bersandar di sandaran mobil.
"Ternyata tidak sulit membuat Vino tertidur." Gumam Cahya pelan sambil mengamati Vino yang kini sudah terlelap diatas pahanya yang dijadikan bantal untuk tidur.
Perlahan tangan Cahya mulai terangkat untuk menyentuh kepala Vino. Namun belum sampai, sebuah tangan sudah terlebih dulu menghentikan pergerakannya.
Tangan itu milik siapa lagi kalau bukan milik Vino. Vino mengarahkan tangan Cahya yang ada dalam gengaman tangannya itu ke atas kepalanya. Hal itu membuat Cahya terdiam.
"Usapin kepala Vino." Vino sedikit membuka matanya sambil menatap Cahya dengan pandangan sayunya.
Walaupun gugup, Cahya tetap melakukan permintaan itu. Ia mulai mengelus surai hitam milik Vino, membuat si pemilik surai mulai kembali memejamkan matanya.
Tak butuh waktu lama, Vino kembali terlelap. Cahya yang melihatnya tersenyum tipis melihatnya.
Entah berapa lama mereka dalam posisi seperti itu, hingga keduanya tidak sadar kalau mobil yang mereka tumpangi sudah sampai di parkiran sekolah.
Cahya yang merasakan deru mobil sudah berhenti pun mendongak kearah mang Asep. Soalnya sedari tadi ia asyik mengamati Vino yang masih terlelap.
"Sudah sampai, non." Suara mang Asep membuat Cahya menoleh kearah kirinya. Dan benar saja, sudah ada banyak siswa disepanjang matanya memandang.
"Ooh iya mang." Jawab Cahya. Kemudian tatapannya beralih kearah Vino.
Perlahan Cahya mulai menepuk pelan bahu Vino agar sang empunya-nya bangun.
"Vin, bangun yuk. Kita sudah sampai di sekolah." Cahya masih berusaha membangunkan Vino.
"Vin, bangun." Bujuk Cahya namun tak ditanggapi oleh Vino. Tentu saja tidak ditanggapi, lah si Vinonya aja masih sibuk bermimpi.
"Iya, mang. Memangnya Vino sudah dibangunin ya mang?"
"Iya non, den Vino kalau sudah tidur di mobil susah dibangunin. Coba non tepuk pipinya sambil bujuk lagi. Siapa tahu den Vino mau bangun."
Cahya mencoba saran dari mang Asep tadi. Sekarang ia mulai menepuk pelan pipi Vino serta mengucapkan beberapa kata yang menyuruh Vino untuk segera bangun.
Di percobaan pertama dan kedua gagal. Namun di percobaan ketiga ternyata membuahkan hasil.
"Vino bangun. Kita sudah sampai." Cahya masih mencoba membujuk di ketiga kali percobaannya.
"Eghh," erang Vino yang baru saja terbangun itu. Matanya mulai terbuka sedikit demi sedikit.
"Ada apa? Vino masih ngantuk." Ucapnya dengan nada merajuk karena dibangunin. Padahal tadi ia sendiri yang minta untuk dibangunin.
"Kita sudah sampai. Memangnya Vino tidak mau masuk?"
"Vino mau tidur." Jawaban itu membuat Cahya mengernyitkan dahinya.
"Tidak mau sekolah?"
"Vino mau tidur disekolah." Ucapnya santai, tapi tidak bagi Cahya.
Cahya bingung harus menanggapinya dengan apa. 'Masa mau tidur di sekolah, kalau ketahuan gurunya bisa dihukum', begitulah sekiranya pemikiran Cahya untuk saat ini.
Mengerti raut wajah kebingungan Cahya, mang Asep lantas membuka suaranya.
"Den Vino punya ruangan khusus di sekolah. Biasanya kalau den Vino tidak mau 'sekolah', den Vino pasti minta diantar ke ruangannya".
Penjelasan dari mang Asep membuat Cahya melongo. Bagaimana mungkin seorang siswa dibiarkan bolos terang terangan begitu.
__ADS_1
"Vino mau tidur," rajuk Vino yang mulai ngantuk, apalagi sejak tadi ia hanya mendengarkan ucapan Cahya dan mang Asep yang menurutnya tambah membuatnya mengantuk itu.
"Ya sudah, mang anter den Vino dulu. Non Cahya mau sekalian mang anter ke kantor kepala sekolah?" Pertanyaan itu membuat Cahya mengangguk.
Soalnya dia kan tidak tau lokasi ruang kepala sekolah itu ada dimana. Daripada nyasar mending diantar mang Asep kan.
Tapi belum sempat turun, Vino kembali bersuara.
"Vino nggak mau diantar mang Asep. Maunya diantar Cahya." Pintanya sambil menahan tangan kanan Cahya, sedangkan tangan kiri Cahya sudah menyentuh gagang pintu mobil bersiap membukanya.
Menyadari tangannya ada yang mengenggam membuat Cahya menoleh menatap Vino yang kini juga menatapnya.
"Tapi Cahya tidak tahu dimana ruangan itu."
"Pokoknya Vino maunya diantar Cahya." Vino masih kekeh dengan ucapannya itu.
"Tapi Vi..."
"Pokoknya mau diantar Cahya, titik!" Tekannya tanpa ingin dibantah.
Cahya mulai menghela nafas, kemudian mencoba bersabar mengatasi Vino yang sedang dalam mode bangun tidur itu.
"Baiklah, Cahya yang mengantar Vino" Cahya akhirnya menyetujui untuk mengantar Vino.
"Asyik," Vino bersorak heboh membuat Cahya sedikit meringis mendengar suara Vino yang lumayan kencang itu.
Cahya kemudian menyuruh Vino untuk turun, diikuti dirinya yang turun dari mobil.
Begitu turun, ada beberapa orang yang menatap ke arahnya dengan pandangan yang berbeda beda.
"Mungkin karena aku murid baru, jadi pada ngeliatin kali, ya." Gumam Cahya pelan.
"Ayo." Tanpa aba aba, Vino langsung mengandeng tangan Cahya membuat beberapa orang bisik bisik melihatnya.
Walaupun bisik bisik, tetap saja Cahya bisa mendengarnya. Bagaimana tidak mendengar, kalau mereka bisik bisik itu didepan Cahya.
***Hei, bukannya itu Vino kan?
Iya, tapi siapa perempuan itu?
Si Vino sudah mulai sekolah lagi, setelah hampir 2 minggu tidak masuk sekolah.
Wah makin tampan saja ya si Vino itu.
Makin suka...
Tapi siapa gadis itu? Bukan pacarnya kan? Kalau iya, aku tidak rela!!
Tidak mungkinlah, mungkin saudaranya***.
Begitupula bisik bisik yang tertangkap di pendengaran Cahya. Ia agak mengernyit begitu ada yang membicarakannya.
"Ada apa ini sebenarnya?" Batin Cahya yang masih belum menemukan jawabannya.
...Perhatian...
Terimakasih atas dukungan kalian dengan masih setia membaca sampai bab ini๐
๐Terimakasih Semuanya๐
๐๐๐
__ADS_1