My Bipolar Boy

My Bipolar Boy
78. Ke-Gep


__ADS_3

Detik Detik Menuju Part Terakhir💝


________oOOOoOOOo____________


🍁M.B.B🍁


Setelah memakan waktu yang cukup lama sampai Cahya benar benar berhenti menangis, kemudian Bryan menyuruh Cahya untuk membersihkan diri.


Hal itupun diangguki oleh Cahya dengan lemah. Walaupun sudah berhenti menangis, masih terdengar sesenggukan kecil dari celah bibir Cahya yang terlihat agak membengkak itu.


Selama hampir 20 menit didalam kamar mandi, Cahya hanya berdiam diri. Dirinya tidak melakukan apapun kecuali berdiri didepan washtafel sambil memandang dirinya didepan cermin.


Ada semacam rasa syok yang belum hilang dari hatinya itu. Walaupun begitu, dia tidak ingin terlarut dalam perasaan yang membuatnya semakin kepikiran tentang hal tadi.


Dengan perlahan, di nyalakannya keran air, kemudian ia mulai membasuh wajahnya dan fokusnya terhenti pada bagian bibirnya yang sedikit membengkak ditambah lagi dengan luka sobek kecil disana.


Disentuhnya pelan luka itu, tapi setelahnya ia meringis pelan begitu merasakan perih. Setitik air bening meluncur bebas dari mata Cahya dan berakhir jatuh di keramik putih kamar mandi ini.


Perlahan ia mulai acara mandinya dan sepertinya karena kurang fokus ia meletakan seragamnya tidak di gantungan baju tapi malah di samping washtafel, membuat sebagian besar seragam dan roknya basah kena air. Bahkan sebelum diletakan disana, seragam Cahya sudah lebih dulu basah akibat ketumpahan air kompresan tadi.


Setelah selesai mandi dirinya baru sadar kalau pakaiannya hampir terendam oleh air yang ada di washtafel. Segera saja Cahya mengangkat seragam dan rok sekolahnya itu.


Helaan napas berat keluar dari celah bibir Cahya. Cahya merutuki dirinya sendiri, bisa bisanya dia meletakkan seragamnya disitu.


Masa ia harus memakai baju basah begini. Mana dia lupa meminjam pakaian milik Bryan. Suhu di kamar mandi semakin lama semakin dingin membuat tubuh polos Cahya meremang.


Ia mencoba mencari apapun yang sekiranya bisa menutupi tubuh polosnya. Dan tatapannya jatuh pada selembar handuk yang mengantung di samping pintu.


Diambilnya segera handuk itu untuk membungkus badannya agar lebih hangat. Sekarang dirinya hanya diam lebih tepatnya sedang berpikir, 'Tidak mungkin kan dirinya keluar dalam keadaan begini. Apalagi Bryan ada di kamar ini juga.


Entah berapa lama Cahya berpikir, yang pasti dirinya agak ragu untuk membuka pintu kamar mandi.


Dengan memantapkan hati, perlahan Cahya membuka kunci agar pintu bisa terbuka. Bahkan ia sampai harus memejamkan mata sambil berdoa semoga saja Bryan tidak ada dikamar ini.


Ceklek


Bunyi kunci berhasil terbuka.


Tapi Cahya belum berani menekan knop pintu berwarna putih gading itu. Ia hanya termenung dibalik pintu yang masih tertutup itu.


Buka?


Tidak?


Buka?


Tidak?

__ADS_1


Buka?


Tidak?


Buka?


Itulah yang dirapalkan oleh Cahya selama hampir 2 menitan. Dan kata terakhir adalah buka, membuat Cahya memutuskan untuk membuka pintu tersebut.


Ceklek


Sreet


Kali ini suara pintu terbuka dan perlahan ditarik pelan oleh Cahya. Kepala Cahya lebih dulu menyembul dari balik pintu. Sedangkan badannya masih didalam kamar mandi.


Selama ia menelusuri ruangan belum ada tanda tanda kehidupan manusia yang dilihatnya membuatnya menghembuskan napas lega.


Dengan memberanikan diri Cahya keluar dari dalam kamar mandi. Ia bahkan berjalan menjinjit untuk tidak menimbulkan suara yang bisa mengundang orang lain untuk datang.


Akhirnya setelah memakan waktu cukup lama, Cahya sampai juga di tepi ranjang. Baru saja ia bisa bernapas lega, suara orang dibelakangnya mengejutkan dirinya.


"Apa yang kau lakukan?"


Cahya tidak langsung membalikkan badannya karena ia sangat tahu siapa pemilik suara itu. Tubuhnya sendiripun sampai menegang kala merasakan seseorang dibelakangnya mulai mendekat kearahnya.


Bryan, yang tadi memanggil Cahya pun mulai mendekat kearah Cahya karena Cahya tak kunjung menatap ke arahnya. Sekali lagi, ia benci diabaikan. Makanya jangan salahkan dirinya kalau saat ini tatapan agak mengelap.


Cahya berusaha menahan lilitan handuk di badannya agar tidak terlepas. Bisa malu luar biasa kalau sampai handuknya terlepas.


Karena reflek ia balas menarik baju Bryan bermaksud untuk pegangan. Tapi karena Bryan sendiri belum siapa membuat keduanya jatuh keatas ranjang dengan posisi Bryan diatas Cahya dibawah.


Deg Deg Deg


Tatapan keduanya bertemu membuat Cahya meneguk ludahnya susah payah. Pacuan detak jantungnya bekerja abnormal.


Deru napasnya pun nampak tidak beraturan. Apalagi menyadari posisi keduanya saat ini. Entah berapa detik terlewati dengan saling menyelami arti dibalik tatapan keduanya. Hingga suara Bryan memecah keheningan yang sempat terjadi.


"Maaf untuk yang tadi." Ucap Bryan sambil membetulkan posisinya agar tidak **** tubuh Cahya dibawahnya itu.


Cahya diam, dia sendiri bingung harus meresponnya bagaimana. Sejujurnya ada rasa tidak terima kala Bryan dengan seenaknya menciumnya tanpa seizinnya.


Tapi melihat tatapan Bryan yang terlihat tulus membuat Cahya akhirnya mengangguk pelan. Mau bagaimanapun hal yang sudah terjadi tidak akan bisa dikembalikan seperti semula.


Bryan tersenyum. Cahya sempat tertegun sebentar karena melihat senyum diwajah Bryan. Entah kenapa melihat senyum itu membuat hati Cahya menghangat.


Ya, walaupun kalau dalam mode Vino. Wajah yang ada di depannya itu sering tersenyum. Tapi kenapa rasanya agak sedikit berbeda dengan senyum yang barusan ia lihat.


Bryan mengernyitkan dahinya kala tidak melihat respon berarti dari Cahya. Satu satunya respon yang ia tangkap adalah raut wajah Cahya yang tampak terkejut.

__ADS_1


Ngomong ngomong tentang raut wajah, tatapan Bryan yang tadi terarah pada mata Cahya kini turun ke bibir Cahya. Sejenak ia pandangi bagian yang terluka akibat ulahnya itu.


Perlahan tangan Bryan menyentuh luka dibagian bibir pink milik Cahya membuat si empunya menegang.


"Masih sakit?" Tanyanya retoris. Cahya hanya mengangguk kikuk. Ia hanya terlalu kaget dengan perlakuan lembut itu.


Chup


Bryan memberikan satu kecupan dibagian yang luka itu. Mata Cahya terbelalak karena kecupan yang tak ia duga itu. Bagaimana bisa dirinya kecolongan lagi.


"Kenapa menciumku lagi?"


"Biar lukanya cepat sembuh." Perkataan itu membuat pipi Cahya memerah. Bagaimana bisa hanya karena kecupan bisa membuat luka sembuh. Harusnya kan diobati. Bukanya malah dicium.


"Modus, ya?" Cahya memberikan tatapan mengintimidasi kearah Bryan. Bukan merasa takut, Bryan malah tertawa pelan membuat Cahya mendengus karena dipikirannya, Bryan sedang menertawakannya.


Menyadari kalau gadis dibawahnya itu tengah mendengus kesal ke arahnya, membuat Bryan mencubit pelan hidung mancung Cahya.


Respon Cahya? Tentu saja kesakitan. Memangnya mau apa lagi?


"Lepas, sakit tau!" Cahya memegangi tangan Bryan yang tengah mencubit pucuk hidungnya. Bukannya melepaskan Bryan malah semakin gemas mencubit hidung milik gadis yang berada dibawahnya itu.


"Nggak mau," Tolak Bryan main main. Ia ingin melihat wajah kesal Cahya, karena itu terlihat lucu dimatanya.


"A..ku ng..gak..bi..sa..na..pas Br..yan.." Cahya masih berusaha melepaskan cubitan Bryan di hidungnya. Mendengar hal itu membuat Bryan langsung melepaskan tangannya kemudian tertawa lagi.


Cahya berusaha meraup udara sebanyak mungkin karena sejak tadi pasokan udara yang masuk dari hidungnya terganggu karena kelakuan Bryan itu.


Keduanya masih di posisi seperti itu tanpa menyadari datangnya 2 orang dari arah pintu kamar. Dan mata kedua orang itu melebar begitu menyaksikan apa yang ada didepan mereka.


"APA YANG KALIAN BERDUA LAKUKAN?!" Teriakan itu seketika membuat Cahya dan Bryan menoleh kearah pintu kamar.


Dan seketika...


   


...Perhatian Harap Dibaca...


Wadow, kepergok lagi ngapain itu😂. Bisa bisanya kalian berdua ini. Mana kegep sama 2 orang lagi.


Ada yang bisa nebak 2 orang itu siapa?😄.


Up💞


Masih setia baca M.B.B kan?


Nantikan kehadiran part selanjutnya lagi ya guys😉. Please jangan Copas ya. Tolong hargai usaha saya dalam membuat cerita ini😊

__ADS_1


🍁Terimakasih Semuanya🍁


😍😇😍


__ADS_2