My Bipolar Boy

My Bipolar Boy
81. Cincin


__ADS_3

Previous Chapter


Mereka berdua tidak menyadari dari kejauhan sepasang mata menatap mereka tajam dan datar.


Tapi bila diperhatikan lebih lagi tatapan itu hanya mengarah pada satu orang saja.


🍁M.B.B🍁


Cahya menghembus nafas sabar, apalagi orang di depannya ini masih saja mendebatkan hal yang seharusnya bisa di selesaikan dengan mudah. Tapi apa? Bukannya selesai, masalahnya malah semakin panjang. Ditambah lagi beberapa siswa dan siswi menonton perdebatan mereka.


Cahya menatap orang di depannya yang tak lain adalah teman sekelasnya sendiri. Lebih tepatnya orang yang duduk di bangku belakang Cahya. Siapa lagi kalau bukan Rafael Putradinata atau Fael, sapaannya. Dia adalah salah satu most wanted di sekolah ini.


Bisa Cahya lihat tatapan siswi siswi disekitarnya yang menatap memuja kearah Fael. Sedangkan padanya malah ditatap dengan sinis.


Ada beberapa ucapan yang sedikit banyaknya melukai perasaan Cahya. Perkataan itu adalah.


Diakan yang kemarin berantem sama dinda.


Iya, kemarin juga dia yang sama Vino kan?


Iya, ya. Kok aku baru sadar. Tapi kenapa sekarang malah deket sama Fael.


Kegatelen banget sih jadi cewek. Merasa dirinya cantik, ya.


Iya, baru jadi anak baru aja udah belagu. Mentang mentang dia deket sama Vino, dia caper sama Fael.


Emang dasarnya Playgirl aja tuh, makanya pengen deketin most wantednya sekolah ini.


*Mukanya aja polos, tapi kelakuannya mirip j*lang*.


Perkataan yang terlontar dari mulut siswi siswi di sana membuat Cahya menghela napas berat.


"Ada saja masalah pagi ini. Tidakkah mereka membiarkannya tenang sedikit." Batin Cahya sambil mengalihkan pandangannya kearah lain.


Deg


Tapi apa yang dilihatnya saat ini membuat Cahya membelalakan matanya kaget. Diujung koridor sana terdapat sepasang mata yang menatapnya tajam. Belum lagi jarak diantara dirinya dan pemuda di depannya itu pasti akan membuat si pemilik sepasang mata tadi marah padanya.


Tak ingin membuat masalah lebih buruk lagi, Cahya segera berlalu dari sana setelah mengucapkan maaf untuk yang kedua kali pada Fael.


"Aku minta maaf sudah menumpahkan minumanmu. Aku mohon jangan memperpanjang masalah ini. Soal minuman, nanti pasti aku ganti." Setelah mengatakan hal itu, Cahya berlalu pergi mengabaikan bisik bisik siswi disana yang masih mengghibahkan dirinya.


Kini Cahya sudah berada di dalam perpustakaan. Tadi niat awalnya Cahya ingin ke kelas, tapi pikirannya sungguh tidak sanggup menampung pelajaran. Jadi daripada di kelas dia hanya melamun dan dimarahi oleh gurunya, lebih baik dia disini.


Untungnya penjaga perpustakaan belum datang. Jadi Cahya bisa bernapas lega. Dan tidak akan ketahuan kalau dia ada di sini.


Baru juga menundukkan kepalanya diatas meja. Sebuah deheman membuat Cahya terlonjak dari lamunannya. Tapi dia masih tetap dalam posisinya tadi.


Seingtnya bel pelajaran pertama sudah berbunyi beberapa menit yang lalu. Kalau begitu, siapa yang barusan berdehem. Jangan bilang dia ketahuan oleh guru.


Cahya tak berani mendongak, takut apa yang dipikirkannya itu ternyata benar. Hingga deheman kedua membuyarkan lamunannya.


Dengan memberanikan diri, Cahya mendongak untuk mengetahui siapa pemilik deheman tadi. Alangkah terkejutnya dirinya saat mengetahui siapa yang kini ada di depannya.

__ADS_1


"K..au di..si..ni?" Pertanyaan itu terlontar dari bibir Cahya.


"Kenapa disini?" Perkataan itu membuat Cahya meneguk lidahnya susah payah.


"A..aku.." Cahya tak bisa melanjutkan kata katanya karena tatapan tajam yang diarahkan oleh pemuda di depannya itu.


"Ikut aku," tangan Cahya ditarik oleh pemuda itu keluar dari perpustakaan menuju parkiran.


Sedangkan Cahya awalnya berontak, tapi semakin dirinya berontak maka semakin kuat juga cekalan di tangannya.


Maka dari itulah, Cahya tak lagi berontak. Ia hanya menurut, karena ia percaya bagaimanapun juga orang di depannya itu tidak akan melukainya.


"Bryan, kita mau kemana?" Jangankan menjawab, menolehpun tidak. Membuat Cahya tak lagi bertanya pada pemuda di depannya itu.


Ketika keduanya sudah berada didalam mobil, keadaan masih canggung seperti tadi. Bahkan setelah Bryan menjalankan mobilnya, keadaanya pun masih saja hening.


Kalian bertanya kenapa mobil Bryan dengan mudah keluar dari sekolah bahkan saat masih jam pelajaran. Jawabnya sih simple, karena sekolah ini milik pak Sanjaya, yang tak lain adalah ayahnya Bryan Giovano Wirautama.


Cahya sama sekali tak bisa tenang, ia sesekali menatap kearah Bryan secara diam diam. Tapi kemudian ia kembali menghela napas.


"Kenapa?" Cahya menoleh kearah Bryan yang kini menatapnya. Bahkan mesin mobil sudah dimatikan oleh Bryan. Cahya saja sampai tidak sadar akan hal itu. Apa karena terlalu melamun, ya. Makannya Cahya sampai tidak sadar begitu.


"Kenapa?" Bukannya menjawab Cahya malau balik tanya. Bryan mengangkat alisnya sambil menatap kearah Cahya.


"Kenapa melamun?"


"Aku tidak melamun." Jawab Cahya sambil menundukkan kepalanya. Bryan disampingnya menghela napas begitu melihat gadis disampingnya itu menunduk.


"Ayo turun." Ajak Bryan sambil keluar dari mobilnya diikuti oleh Cahya. Kini Bryan sudah ada didepan kap depan mobilnya, sedangkan Cahya masih menutup pintu mobil. Bryan masih menunggu Cahya menghampirinya.


Hangat


Itulah yang dirasakan oleh Cahya saat ini. Bukan hanya tangannya tapi juga hatinya. Keduanya melangkah memasuki salah satu mall terbesar yang ada di kota ini.


Kini Bryan membawa Cahya menuju ke salah satu toko pakaian yang baru buka, mengingat saat ini masih jam setengah 8 pagi. Untung saja pelanggan di mall ini masih sedikit lantaran masih lagi. Jadi pasti Bryan dan Cahya tidak akan menjadi pusat perhatian karena mereka masih menggunakan seragam sekolah.


Begitu masuk kedalam toko, mata keduanya dimanjakan oleh deretan pakaian, jas, celana, outfit bahkan beberapa aksesoris lainnya. Tanpa menunggu lama, segera saja Bryan meminta Cahya untuk memilih pakaian. Karena tidak mungkin keduanya berlalu lalang di mall menggunakan seragam sekolah, disaat jam pelajaran masih berlangsung.


"Pilihlah yang kau suka. Aku akan mengajakku ke suatu tempat."


Awalnya Cahya menolak saat akan di bayari oleh Bryan. Tapi kali ini yang dihadapi oleh Cahya adalah Bryan bukan Vino. Makan mau tak mau Cahya harus menerima pemberian dari Bryan ini.



Mereka keluar dari toko tesebut setelah membayar pakaian yang mereka beli. Dan jangan lupa, kalau keduanya memakai pakaian bermerk sama hanya saja berbeda warna. Sedangkan seragam yang tadi mereka gunakan sudah ada didalam papaerbag, karena pakaian yang mereka beli sudah langsung di pakai oleh keduanya.


Kini Bryan mengajak Cahya menuju ke salah satu toko perhiasan paling terkenal di kota ini. Untuk apa mereka kesana? Tentu saja untuk membeli cincin pernikahan.


Karena soal urusan cincin, Bryan menanganinya sendiri. Tapi untuk acara pernikahannya empat hari lagi itu sudah di tangani oleh mamanya dan bibinya Cahya.


"Selamat datang di toko kami. Silahkan dipilih pilih tuan dan nona." Ucap seorang pegawai pada Bryan dan Cahya.


"Pilihlah yang kau suka." Tawar Bryan membuat fokus Lisa sekarang beralih pada bermacam macam perhiasan di depannya. Ada cincin, gelang, kalung, anting anting dan masih banyak lainnya yang tentunya terbuat dari emas dan permata.

__ADS_1


Cahya mengamati bermacam macam jenis cincin yang tersedia di dalam etalase kaca tersebut. Dirinya memang tidak mengerti apapun tentang perhiasan. Tapi perhatiannya tersita pada salah satu jenis cincin yang menurutnya tidak terlalu berlebihan malah cenderung simple tapi membuatnya memiliki kesan tersendiri bagi Cahya.


"Kau mau yang itu?" Tanya Bryan yang sejak tadi memperhatikan Cahya yang tengah memilih cincin untuk mereka.


Mata Cahya mengerjab setelah mendengar perkataan Bryan. Ia kemudian menoleh kearah Bryan. Tanpa menjawab pun, Bryan sudah tahu jawabannya.


Segera ia menatap kearah pegawai tadi yang masih ada didepan mereka berdua.


"Aku pilih ini." Tunjuk Bryan pada cincin pilihan Cahya tadi.


Si pegawai tadi tersenyum. "Baiklah, tuan. Pilihan tuan dan nona memang yang terbaik. Walaupun desainnya terlihat sederhana, tapi butuh waktu yang lama untuk membuatnya." Terang pegawai itu sambil mengambil cincin tadi untuk diletakan diatas meja.


Hal itu dilakukan untuk menyakinkan pembelinya terhadap perkataannya tadi. Dan memang benar, setelah di lihat secara dekat terlihat ukiran yang begitu rumit tapi terlihat elegan dimata orang yang melihatnya.


"Apakah sekalian ingin di coba dan diberi ukuran nama di dalamnya."


Bryan mengangguk, kemudian ia mencoba memasangkan cincin tersebut di jari manis tangan Cahya. Dan ternyata cincinnya pas ditangan Cahya. Setelah mencoba cincin yang lebih besar lagi untuk dipakaikan di jari manis milik Bryan.


Dan hasilnya memang pas. Jadi tanpa ragu, Bryan meminta si pegawai tadi untuk membungkus pesanannya.


"Jadi mau di tulis nama siapa, pak?" Pertanyaan itu membuat Bryan tersenyum simpul.


"Tulis saja Bryan Giovino W. dan Cahya Larasati W." Setelah menulis apa yang di ucapkan oleh Bryan, pegawai tadi segera menyimpan cincin itu di etalase yang berbeda agar bisa di ukir nanti oleh salah seorang pegawai disana.


"Baiklah mau di tunggu atau nanti kamu antar cincinya ketempat tujuan anda."


"Kirim saja. Ini kartu nama saya, kalau sudah siap kalian bisa hubungi nomor disini." Bryan menyerahkan kartu namanya kepada pegawai tadi. Dan dibalas anggukan oleh pegawai itu.


"Baiklah, tuan. Dan ini tagihan untuk pembelian cincin. Semuanya jadi 65 juta." Mendengar hal itu membuat Cahya tercengang.


Bagaimana mungkin cincin sekecil itu bisa melampaui harga sebuah motor. Cahya tidak sanggup membayangkan kalau sampai Bryan mengeluarkan uang sebanyak itu hanya untuk cincin pernikahan mereka.


Baru saja Bryan ingin memberikan golden cardnya kepada pegawai tadi untuk membayar cincin pesanan mereka. Tapi tangan Cahya lebih dulu mencegahnya membuat Bryan menatap bingung ke Cahya.


 


************M.B.B**********


...Perhatian Harap Dibaca...


Untuk Visulnya sudah aku kasih tahu, ya. Kalau seandainya kurang srek, kalian boleh pikirkan visual yang kalian sukai.


Disini aku Visualin Kim Taehyung sebagai Bryan Giovino Wirautama.


Sedangkan untuk Visualnya Cahya Larasati itu adalah Lalisa Manoban


Jadi yang penasaran, sudahterjawab bukan😉.


Kalian masih setia baca M.B.B kan?


Nantikan kehadiran part selanjutnya lagi ya guys😉. Please jangan Copas ya. Tolong hargai usaha saya dalam membuat cerita ini😊. Usahakan untuk memberi Vote, ya.


🍁Terimakasih Semuanya🍁

__ADS_1


😍😇😍


__ADS_2