
Bryan sama sekali tidak berniat melepaskan genggaman tangan itu. Bahkan setelah keduanya berlalu dari restoran itu menuju ke tempat yang ingin dituju oleh Bryan.
.......
Kini keduanya tengah berada didalam mobil yang sedang dikendarai oleh Bryan. Keduanya masih dalam keadaan canggung, ya walaupun lebih tepatnya Cahya yang canggung sedangkan Bryan mah biasa saja.
Sebenarnya Cahya penasaran Bryan ingin mengajaknya kemana, karena sejak tadi Bryan tak kunjung memberitahukannya perihal mereka ini akan kemana.
Lamunannya buyar begitu merasakan genggaman tangan di tangan kanannya. Segera ia menoleh menatap sang empunya tangan.
"Kenapa diam saja?" Pertanyaan itu terlontar dari bibir Bryan yang kini menoleh kearah Cahya, ya walaupun sesekali ia menoleh menatap kedepan.
"Tidak apa apa." Jawaban itu malah mengundang senyum manis di bibir Bryan.
"Masih cemburu?" Kontan saja Cahya menggeleng, siapa juga yang cemburu begitulah batin Cahya.
"Masa?" Goda Bryan yang membuat Cahya mendengus pelan dan memalingkan wajahnya ke jendela mobil disampingnya.
Bryan terkekeh pelan begitu melihat respon yang diberikan oleh Cahya barusan. Tapi dirinya tak mengambil pusing sikap Cahya tadi.
Dirinya masih tersenyum sambil memikirkan rencana yang telah tersusun rapi di otaknya. Membayangkan reaksi Cahya nanti membuat senyumannya makin melebar. Cahya yang melihat senyuman Bryan yang terpantul dari kaca mobil mengernyitkan dahinya.
"Dia kenapa?" Pertanyaan itu hanya sampai di tenggorokannya saja. Ia masih enggan untuk bertanya pada Bryan. Bukannya malah menjawab, nanti Bryan malah kembali menggodanya. Hal itu tidak akan baik untuk kinerja jantungnya.
Tak berapa lama mobil yang dikendarai oleh Bryan telah sampai di parkiran sebuah gedung bertingkat. Deru mesin mobil pun sudah tidak lagi terdengar lantaran sang pemilik sudah mematikan mesin mobilnya.
"Ayo turun." Ajaknya sambil melepaskan seatbeltnya itu. Hal itu diikuti oleh Cahya. Kini keduanya berjalan bersisian memasuki gedung mewah yang ada didepan mereka.
Tapi tulisan besar yang menyambut mereka membuat Cahya menghentikan langkahnya tepat didepan pintu masuk gedung ini.
Kalian tak akan percaya kalau Bryan akan mengajak Cahya ke tempat seperti ini. Jangankan kalian, Cahya saja masih tidak percaya dengan apa yang dilihatnya itu.
__ADS_1
Kalian penasaran dengan apa yang di lihat oleh Cahya?
Jangan terkejut, ya. Siapakan mental kalian dan pastikan kerja jantung kalian masih berdetak normal setelah mengetahuinya.
Jawabannya adalah...
Bryan mengajak Cahya ke sebuah Orchid Garden Hotel. Perhatikan tulisan itu baik baik. Ada yang sudah menemukan kejanggalan disana? Ya, Bryan membawa Cahya ke sebuah hotel bintang lima.
Hotel, apakah perlu ditekankan lagi?
Cahya menggeleng tak mengerti kenapa Bryan membawanya kesini. Pikiran aneh mulai mengelayuti pikiran Cahya saat ini. Semuanya berputar seolah mengasumsikan bahwa itulah kebenaranya.
Menyadari kalau Cahya tak berada disampingnya membuat Bryan menoleh kebelakang. Dan dirinya melihat Cahya yang berdiri kaku didepan pintu masuk dengan raut wajah tak percaya.
Bryan menghela napas sejenak, ia tahu kalau Cahya pasti akan terkejut begitu menyadari kalau dirinya mengajaknya kemari. Ya ingin membuat Cahya berspekulasi buruk tentangnya segera saja Bryan mendekat kearah Cahya.
"Ayo. Kenapa masih disini." Baru saja Bryan ingin menggandeng tangan Cahya, tapi sang empunya sudah lebih dulu menjauhkan tangannya dari Bryan.
"Kenapa kesini?" Hanya itu yang Cahya ucapkan karena jujur saja dirinya masih mencoba mencerna apa maksud dari semua ini.
"Kenapa?" Beonya sambil menatap tak percaya kearah Bryan.
Cahya menggeleng tak percaya, "Kau ingin berbuat yang tidak tidak padaku?" Lanjutnya sambil melangkah mundur. Bryan yang melihat sikap antisipasi dari Cahya hanya bisa menghela napas panjang.
"Singkirkan pikiran burukmu tentangku. Aku yang ingin menunjukkan sesuatu padamu, tidak lebih." Cahya masih belum percaya sepenuhnya dengan perkataan Bryan. Bisa saja Bryan mencoba membujuknya lalu kemudian berbuat yang tidak tidak terhadapnya.
Bryan melangkah maju membuat Cahya otomatis memundurkan langkahnya. Seketika Bryan menatap tak suka saat Cahya kembali menjauh darinya.
Tanpa perlu menunggu lama, langsung saja Bryan melangkah dengan langkah lebar menuju tempat Cahya berada. Mungkin karena kurang persiapan membuat Cahya dengan mudah ditangkap oleh Bryan.
Hap
__ADS_1
Tubuh Cahya saat ini berada dalam gendongan Bryan. Cahya pun tidak tinggal diam. Dirinya langsung berontak dengan memukuli tubuh kekar Bryan agar dia bisa lepas dari kungkungannya Bryan itu.
Tapi sepertinya Bryan tak terlalu memperdulikannya, karena pukulan Cahya tak terlalu menyakitkan dibadannya.
Langsung saja dia membawa Cahya menuju ke kamar yang sudah ia persiapkan. Menyadari kalau tubuhnya semakin menjauh dari pintu masuk membuat Cahya segera meminta tolong pada orang orang yang ada di lobby ini.
"Tolong aku!" Seru Cahaya berusaha agar ada yang mau menolongnya. Tapi tidak ada satu orangpun yang mau menolongnya, bahkan sepertinya orang orang hanya menatapnya tanpa berkeinginan untuk menolong. Mungkin lebih tepatnya tidak berani.
Siapa juga yang ingin cari mati, tidak ada yang berani berurusan dengan anak dari salah satu orang terkaya di kota ini. Jadi daripada membuat masalah, lebih baik mereka menghindar. Itu pilihan yang paling tepat untuk mereka.
Kini Cahya yang berada dalam gendongan Bryan telah sampai di depan Lift. Keduanya masih menunggu pintu lift terbuka. Makanya hal itu dimanfaatkan oleh Cahya untuk terus berusaha melepaskan diri dari Bryan.
"Diam atau aku akan menciummu disini." Sepertinya ancaman itu ampuh membuat Cahya diam seketika. Tak lagi merasakan pergerakan perlawanan dari Cahya membuat Bryan mengulas senyum di sudut bibirnya.
Ting
Pintu lift terbuka menampilkan beberapa ekspresi terkejut di wajah orang orang yang baru saja naik lift. Bryan sama sekali tak memperdulikan hal itu. Ia segera masuk kedalam lift setelah semua orang yang tadi naik lift keluar dari lift.
Pintu lift tertutup membuat sebagian besar orang yang masih ada didepan lift penasaran. Karena penasaran bagaimana keadaan gadis yang dibawa oleh anak pengusaha besar itu nantinya.
Cahya masih saja bungkam dan diam begitu ancaman yang tadi dilancarkan oleh Bryan, bukan karena takut tapi Cahya harus lebih hati hati. Karena Bryan bisa bertindak semaunya. Jadi daripada harus melawan lebih baik Cahya pasrah saja. Toh disini tidak ada yang mau menolongnya.
Tapi lihat saja, kalau sampai Bryan macam macam padanya. Ia tidak akan diam saja. Dia juga harus bisa melawan kalau seandainya Bryan berbuat jahat padanya.
************M.B.B**********
...Perhatian Harap Dibaca...
Kalian masih setia baca M.B.B kan? Nantikan kehadiran part selanjutnya lagi ya guys😉. Please jangan Copas ya. Tolong hargai usaha saya dalam membuat cerita ini😊. Usahakan untuk memberi Vote, ya.
__ADS_1
🍁Terimakasih Semuanya🍁
😍😇😍