
💞M.B.B💞
Keduanya saat ini sedang berada diatas komedi putar. Tawa bahagia milik Vino terbang mengudara begitu saja.
Cahya yang berada disamping Vino mengembangkan senyum manis miliknya. Entah kenapa mendengar tawa milik Vino membuat perasaan Cahya menghangat.
Atau mungkin Cahya telah terjerat pesona milik Vino?
"Tidak mungkin secepat itu." Cahya berusaha mengeyahkan pemikiran yang sempat terlintas dibenaknya itu.
"Kita kesana, ya." Tunjuk Vino pada area pemancingan untuk anak. Cahya mengikuti arah telunjuk Vino dan menganggukkan kepalanya pertanda menyetujui ucapan Vino barusan.
Vino terlihat bahagia begitu melihat respon Cahya. Ketika komedi putar berhenti, segera Vino menarik tangan Cahya kearah yang ditunjuknya tadi.
Area pemancingan ikan mainan begitulah yang terpampang didepan stan yang dipadati oleh anak anak dan para orang tua mereka.
Setibanya disana, karena Vino dan Cahya memiliki akses khusus jadi tidak perlu mengantri lagi. Pandangan orang orang tertuju pada mereka berdua. Jelas mereka menjadi pemandangan para orang tua anak yang sedang memancing.
Bagaimana tidak? Kalau mereka datang berdua, tanpa ada anak kecil di sisi mereka. Jadi siapa yang akan mancing disana? Itulah pemikiran orang tua disana.
Tapi sepertinya baik Cahya ataupun Vino belum menyadari kalau sekarang mereka menjadi pusat perhatian disana kecuali anak anak kecil yang tengah asyik memancing ikan main di kolam yang telah disediakan.
"Bang, tolong pancingannya satu sama sekalian embernya." Pinta Cahya pada mas mas penjaga disana.
Mas mas penjaga yang ada disamping Cahya mengernyitkan dahinya bingung mendengar perkataan Cahya.
"Memang buat siapa mbak? Kan tidak ada anak kecil yang bersama mbaknya." Jawaban itu membuat Cahya, Vino dan para orangtua disana menatap kearah Cahya dan mas mas penjaga tadi.
Sebenarnya mereka penasaran juga, siapa yang ingin bermain pancingan ikan itu.
__ADS_1
"Itu untuk Vino." Si mas mas tadi memberikan pancingan dan ember seperti yang diminta oleh Cahya.
"Memangnya Vinonya mana mba, kok mbaknya cuma berdua sama masnya." Tunjuknya pada Vino.
"Ini Vino." Jawaban itu membuat si mas masnya tadi kaget begitu pula para orang tua yang mendengar ucapannya barusan.
"Apa?" Mas mas tadi tampaknya benar benar terkejut mengetahui bahwa Vino yang dimaksud oleh Cahya adalah sosok pemuda yang nampak gagah itu, ingin bermain permainan anak macam ini.
"Ini." Cahya tak perduli akan respon si mas mas tadi ataupun para orang tua disana yang masih terkejut atas ucapannya.
Ia hanya sudah menduga akan reaksi orang orang disini begitu tahu kalau Vino akan memainkan permainan ini.
Cahya malah terfokus pada Vino yang saat ini tengah fokus pada pancingannya itu. Sesekali Cahya tertawa pelan begitu melihat reaksi Vino begitu mendapatkan ikan pada pancingannya itu.
Tapi omongan orang disampingnya membuat Cahya terdiam. Bagaimana tidak? Kalau sumber pembicaraan orang disampingnya itu adalah Vino.
Sepertinya mereka berdua itu ibu dari salah satu anak yang tengah bermain disini.
"Iya, ya. Apalagi dia sepertinya senang sekali saat dapat ikan. Bahkan anak kita tidak seheboh dia saat mendapatkan ikan." Timpal yang satunya sambil menatap Vino dengan pandangan menilai.
"Iya, aku rasa pemuda itu terganggu jiwanya." Ucapan itu sungguh membuat Cahya kaget begitu mendengarnya.
Walaupun Vino bertingkah seperti anak kecil, tapi Vino tidak gila. Cahya benar benar terganggu dengan omongan mereka terhadap Vino.
Apalagi sekarang ia bisa melihat kalau Vino tertunduk. Entah kenapa melihat Vino yang begitu membuat Cahya tidak nyaman.
Segera ia berbalik menghadap ketiga ibu ibu yang sedang menatap ke arahnya. Atau mungkin lebih tepatnya kearah Vino.
"Maaf ya ibu ibu. Daripada ibu ibu sekalian membicarakan hal yang tidak penting lebih baik awasi saja anak anak kalian." Entah kenapa Cahya merasa sangat tidak terima akibat ucapan ibu ibu tadi.
__ADS_1
Jangan salahkan Cahya yang bersikap tidak sopan pada yang lebih tua, salahkan saja mereka yang tidak bisa menutup mulut mereka dengan benar.
Apalagi berkata yang tidak tidak dihadapan orangnya langsung.
"Hei nak, jangan bertingkah tidak sopan pada kami. Kami ini lebih tua daripada kamu." Sentak salah satu wanita tadi yang seperti tidak terima atas ucapan Cahya tadi.
"Anda tersinggung?" Tanya Cahya polos.
Ketiganya tampak marah melihat respon Cahya yang seolah menantang mereka.
"Kau ini tidak sopan sekali pada yang lebih tua!" Bentak salah satu dari ketiga wanita itu.
Cahya menatap mereka bertiga dengan senyum manis andalannya. Tapi tahukah sebenarnya senyuman itu mengandung arti tersendiri bagi yang sudah benar benar mengenal seorang Cahya Larasati.
💙
💞💙💞💙
Hallo Ya
Masih setia baca M.B.B kan?
Jangan salah sangka dulu dengan Cahya, ya. Dia bersikap begitu karena ada alasannya.
Dan kalau bisa hargailah suatu cerita, karena sejujurnya menulis itu lebih susah daripada hanya membacanya.
~Terimakasih~
💞💙💞💙
__ADS_1