My Bipolar Boy

My Bipolar Boy
50. First Kiss


__ADS_3

🍁M.B.B🍁


Orang tadi masuk tanpa memperdulikan keterkejutan Cahya begitu melihat kehadirannya itu. Ia malah tetap berjalan menuju nakas untuk meletakan sarapan yang dibuat khusus olehnya untuk gadis yang masih menatapnya kaget itu.


"Kau? Kenapa kau ada disini?" Pertanyaan itu membuat seseorang tadi menoleh kearah Cahya.


"Memang kenapa?" Balikan tanya itu di tujukan pada Cahya yang masih belum mengalihkan pandangannya itu.


"Makan." Hanya itu yang dikatakan oleh orang tadi sebelum berniat beranjak dari kamarnya itu.


Yap seseorang tadi adalah si pemilik kamar ini. Kamar yang baru saja di tinggali oleh Cahya karena kejadian tadi malam.


Belum sempat membuka pintu, langkah orang tadi harus terhenti begitu mendengar suara Cahya yang kembali bertanya padanya.


"Kenapa kau menolongku?"


"..."


Namun sayangnya pertanyaan itu tak mendapat jawaban.


Seperti Cahya belum puas kalau pertanyaannya tidak dijawab oleh yang bersangkutan.


"Kenapa kau membawaku kesini, padahal tadi malam kau meninggalkanku dijalanan." Cahya kembali menatap punggung seseorang yang membelakanginya itu.


"Kenapa kau harus tahu." Suara itu terdengar begitu dingin di pendengaran Cahya membuatnya berhenti menatap sang pemilik punggung itu.


Yap sang pemilik kamar itu adalah orang yang sama, yang telah menurunkan Cahya ditengah jalan tadi malam.


Masih ingat siapakan😉?


"Kenapa?" Entah berapa banyak kata itu keluar dari mulut Cahya membuat orang tadi perlahan membalikkan badannya.


"Kenapa?" Beo orang tadi, siapa lagi kalau bukan Bryan. Cahya sadar kalau yang ada di hadapannya itu masih sama seperti sosok yang kemarin.


Tentu ia bisa lihat dari sorot matanya, walaupun tidak setajam tadi malam, tapi masih tersisa sedikit emosi didalamnya.


"Kenapa sekarang kau diam?"


Cahya masih tak berani menatap Bryan walaupun ia tau Bryan sedang berbicara padanya. Hal itu tentu saja membuat Bryan merasa tidak dihargai.


"Tatap aku." Memang jika didengar ucapan Bryan barusan itu tidak tajam tapi entah bagaimana malah membuat Cahya semakin gugup.


Terhitung sudah 1 menit berlalu tanpa pembicaraan, baik dari sisi Bryan ataupun Cahya keduanya memilih bungkam.


"Ada satu hal yang harus kau tahu. Aku tidak suka kau memanggil nama itu di depanku." Lanjutan kalimat yang di ucapkan Bryan membuat tubuh Cahya membeku seketika.


"Dan sepertinya kau terlalu mengabaikan ucapanku semalam. Maka aku akan memberikanmu 1 hukuman yang tidak akan pernah kau lupakan selama kau hidup."

__ADS_1


Nada ancaman begitu kental di pendengaran Cahya membuat Cahya berpaling menatap Bryan yang ternyata sedang menatap ke arahnya.


Bryan perlahan mulai mendekat ke arah Cahya. Cahya yang melihatnya segera beringsut menjauhi Bryan. Melihat respon Cahya yang seperti itu membuat sudut bibir Bryan menarik simpul tipis.


"Sepertinya kau takut sekali denganku, apa aku benar?" Nada retoris itu kembali mengalun dari mulut Bryan.


Cahya masih berusaha menjauh dari Bryan, namun naasnya ia sudah tersudut dikepala ranjang. Yang itu artinya sudah tak ada jalan keluar lagi.


"Tidak, kau salah." Jawab Cahya dengan gemetaran.


"Benarkah tapi nyatanya seperti itu." Bryan masih menyeringai menatap Cahya yang sudah tak bisa lari kemana mana.


"Sebenarnya apa yang kau inginkan." Cahya masih tak berani menatap kearah Bryan tapi masih mencoba agar tak terlihat ketakutan dihadapan Bryan, tapi sayangnya itu gagal karena Bryan amat sangat jelas menangkap ketakutan itu dari tingkah Cahya saat ini.


Tanpa Cahya sadari Bryan sudah berada di samping dirinya yang berada diatas ranjang.


"Menurutmu apa?" Bisa Cahya rasakan nafas seseorang disisi kanan telinganya membuatnya bergidik. Memberanikan diri untuk menatap sang pemilik nafas, Cahya mendongak dan


Deg


Tatapan keduanya bertemu. Untuk ke berapa kalinya Cahya menatap mata itu. Mata yang entah kenapa terasa lembut namun berbahaya secara bersamaan.


"Ja..jang..an ma..cam..ma..cam," walaupun Cahya berusaha agar tidak gugup. Tapi kenyataannya berbeda dari keinginannya.


Bryan tak peduli, ia malah semakin mendekat kearah Cahya membuat Cahya beringsut menjauh. Namun tetap saja tak membuat jarak keduanya berjauhan lantaran Cahya sudah mentok di kepala ranjang.


Jangan tanya bagaimana jantung Cahya saat ini. Bahkan ia tidak pernah membayangkan akan sedekat ini dengan seorang pria diatas ranjang.


Perlu ditekankan lagi? Diatas ranjang guys😱.


Jarak keduanya semakin dekat, bahkan Bryan dengan berani memegang dagu Cahya agar menatap ke arahnya.


"Buka matamu." Suruh Bryan yang entah kenapa mampu membuat Cahya membuka matanya. Seolah olah Cahya terhipnotis akibat ucapan Bryan tadi membuatnya menuruti perkataan Bryan itu.


Tatapan keduanya bertemu, bahkan Cahya bisa melihat seringian yang tercipta di bibir Bryan.


Bukan itu saja, tatapan intens dari Bryan juga Cahya dapatkan. Walaupun begitu Cahya tak sadar kalau wajah Bryan perlahan mulai mendekat kewajahnya.


**5 Cm


4 Cm


3 Cm


2 Cm**


Chup

__ADS_1


Tubuh Cahya menegang begitu ia rasakan sebuah bibir asing menempel di bibir pink miliknya.


Hal itu tentu saja membuat Cahya terkejut. Bahkan matanya membulat tak percaya kalau dirinya di cium oleh pria yang ada didepannya itu.


Walaupun nyatanya itu hanya menempel, tetap saja First Kiss milik Cahya telah diambil oleh pria di hadapannya itu.


"Oh tidak, My First Kiss" Jeritan itu hanya bisa sampai di tenggorokan saja. Bahkan sangking terkejutnya Cahya masih membeku.


10 detik tak ada respon membuat Bryan memberikan sebuah kecupan kecil di bibir Cahya. Seolah tersadar segera Cahya mendorong tubuh Bryan dari hadapannya.


Walaupun sudah sekuat tenaga mendorongnya, Bryan hanya tergeser sedikit saja dari posisi awalnya.


"Apa yang kau lakukan?!" Amuk Cahya yang tidak terima dicium sembarangan itu. Bukan hanya itu saja, fakta kalau orang di depannya yang mengambil First Kiss membuat dirinya marah.


Walaupun ia sudah menyetujui bertunangan dengan Bryan. Bukan berarti ia bisa dicium sembarangan begini.


"Aku hanya mengambil apa yang menjadi milikku." Perkataan itu membuat Cahya membulatkan mata tak percaya.


"Apa yang dia maksud barusan," dengus Cahya dalan hati.


"Kau..Hanya..Milikku.. Dan..Tak..Seorangpun..Yang..dapat.. Mengambilmu..Dariku!" Tekan Bryan sambil menatap mata Cahya yang terlihat berkaca kaca itu.


Tak ingin melihat Cahya menangis segera saja Bryan berlalu dari sana. Bahkan ia sengaja mengunci pintu kamarnya agar Cahya tidak kabur.


"Hiks Hiks, kenapa dia tega sekali," tangis Cahya pecah begitu melihat Bryan yang meninggalkan dirinya tanpa meminta maaf padanya.


Bisa Bryan dengar isakkan kecil dari dalam kamarnya yang diyakininya milik Cahya itu. Tapi seolah tak peduli, Bryan membiarkan Cahya menangis didalam sana dan berlalu entah kemana.


Meninggalkan seorang gadis sendirian didalam kamarnya yang menangis akibat ulahnya tadi.


...Perhatian...


Wow, harap bijak ya membaca part ini😉 apalagi bagi yang belum cukup umur. Walaupun masih ringan tapi tetap aja, ya kan😆.


Ini pertama kalinya aku nulis part begituan, jadi kalau kurang ngefeel mohon maaf🙏.


Hallo Ya✋


Masih setia baca M.B.B kan?


Kalau masih, tunggu kelanjutannya di part selanjutnya.


**Nantikan kehadiran part selanjutnya lagi ya guys😉.


🍁Terimakasih🍁**


😍😇😍

__ADS_1


__ADS_2