My Bipolar Boy

My Bipolar Boy
119. Air Mata Cahya


__ADS_3

...❤ Selamat Membaca ❤...


Di pagi hari yang cerah, bel apartemen milik Bryan sudah berbunyi beberapa kali. Cahya yang baru saja keluar dari dalam kamarnya terdiam mendengar suara itu.


Karena posisi kamarnya yang paling dekat dengan pintu, membuat Cahya lebih dulu mendengar suara itu. Dilangkahkan kakinya menuju kearah pintu. Disamping pintu ada semacam intercom yang berguna untuk mengetahui siapa yang mencet bel.


Keterkejutan hadir di diri Cahya begitu melihat siapa yang bertamu pagi - pagi begini. Keraguan untuk membuka pintu hadir di hati Cahya. Tapi membiarkan orang itu tetap disana, Cahya juga tidak tega.


Baru saja ingin memutuskan pilihannya, suara dibelakangnya membuat Cahya menoleh.


"Siapa yang datang?" Cahya berusaha sewenang mungkin. Melihat Cahya hanya diam, akhirnya Bryan melangkah mendekat kearah intercom.


"Kenapa tidak dibukakan? Minggir, biar aku saja yang buka." Cahya mengeset posisi berdirinya itu. Kemudian tak begitu lama, pintu di depannya itu terbuka dan menampilkan sosok perempuan yang sejak beberapa hari ini menjadi alasan mood Cahya down.


"Kau datang." Tanpa diduga, Bryan malah memeluk perempuan itu di depan mata Cahya. Tatapan Cahya menyendu melihat suaminya sendiri memeluk perempuan lain di depannya.


"Ehem."


Cahya sengaja berdehem agar kedua anak manusia itu melepaskan pelukan mereka. Lagipula, Cahya juga tidak meminat menjadi nyamuk bagi mereka.


Perempuan itu tersenyum canggung. Untuk menutupinya, perempuan itu siapa lagi kalau bukan Amertha. Perempuan yang diakui Bryan sebagai kekasihnya.


Entah hubungan keduanya memang benar - benar sepasang kekasih atau ada kesalahpahaman yang terjadi diantara keduanya. Cahya sebenarnya penasaran, tapi jika benar kalau keduanya menjalin hubungan. Bisa di pastikan perasaan Cahya lah yang tersakiti disini.


"Ini, ku bawakan kau sarapan." Amertha menyodorkan satu bungkusan kepada Bryan.


Bryan tersenyum manis. "Kenapa kau repot - repot segala. Tapi terimakasih sayang karena kau sudah perduli padaku." Baru saja Bryan ingin mencium kening Amertha tapi terhenti akibat deheman keras dari Cahya.


"Jangan ngobrol di depan pintu. Pamali!" ucapnya agak ketus. Setelahnya Cahya berlalu pergi menuju ke dapur untuk menyiapkan sarapan.


"Bisa - bisanya dia bermesraan didepanku. Apa dia tidak memikirkan perasaanku." gerutu Cahya kesal. Dia itu cemburu dan sayangnya Bryan sama sekali tidak peka.


Ooh iya, Cahya lupa kalau Bryan sedang amnesia. Tapi apa harus seperti itu.


Cahya memilih untuk memanaskan makanan yang ada di kulkas. Lagipula mubazir kalau tidak dimakan. Mana makanan enak semua, kan sayang kalau di buang.


Selagi berkutat dengan peralatan dapur, suara di sebelahnya membuat Cahya melirik sejenak kemudian kembali meneruskan kembali kegiatannya itu.


"Kau dengar tidak?"


"Dengar."


"Jadi, lain kali kau tidak perlu menggangguku dengan kekasihku."


Cahya menghela napas panjang. "Iya." balasnya singkat. Lagipula Cahya malas berdebat dengan suaminya itu.


"Bagus kalau kau mengerti. Setidaknya tahu diri sedikit kalau menumpang di rumah orang lain."


Perkataan itu membuat Cahya mematung. Tak bisa di pungkiri kalau perkataan Bryan tadi kembali melukai hati Cahya. Emosinya yang sejak tadi dia tahan pun tak bisa di bendung lagi.

__ADS_1


Di matikannya kompor dengan sekali bentak. Kemudian dia menatap kearah Bryan yang baru saja mengambil minum di dalam kulkas.


"Oke, aku akan lebih menjaga sikap lagi disini. Lagipula benar katamu tadi, aku hanya menumpang disini. Jadi memang seharusnya aku tidak mencampuri urusan tuan rumah."


Setelah mengatakan hal itu, Cahya berlalu pergi dari hadapan Bryan. Dia lebih memilih menuju kearah pintu keluar. Ada rasa kecewa di hati Cahya atas perkataan Bryan tadi.


Kalau seandainya Bryan tidak amnesia, apa Bryan juga akan mengatakan hal seperti itu padanya?


Cahya memang lebih memilih keluar daripada berada disini, malah akan membuat moodnya yang sudah buruk makin memburuk.


Walaupun ini kali pertama, Cahya pergi keluar negeri. Tapi dia tidak memperdulikan hal itu. Niatnya hanya ingin sejenak menjauh dari suaminya itu. Lagipula paling Cahya hanya berjalan - jalan di sekitar sini saja.


Untuk saja cuaca disini tidak terlalu dingin pagi ini. Jadi Cahya tidak akan menggigil kedinginan.  Dia juga tidak membawa ponselnya. Tapi untungnya dia masih membawa uang di kantong celananya itu.


15 menit kepergian Cahya dari apartemen Bryan, kedua orang tuanya turun untuk menikmati sarapan dengan anak dan menantunya itu.


Tapi mereka terkejut melihat Amertha sudah ada di meja makan dan sedang menyuapi Bryan sambil bersenda gurau. Tapi Irena tidak melihat keberadaan menantunya itu.


"Bryan, kau lihat Cahya, Nak?" Ucapan itu membuat keduanya menoleh kearah Irena dan Sanjaya.


"Entah, Ma. Mungkin dikamarnya." ucapnya santai. Seolah apa yang terjadi di dapur tadi sama sekali bukan hal yang perlu ia pikirkan.


Irena mengangguk, lantas dia menuju ke kamar Cahya yang pintunya itu tertutup. Di ketuknya pintu itu beberapa kali. "Nak, kau sudah bangun? Kalau sudah, mari kita sarapan bersama." Ajaknya.


Namun tak ada sahutan dari dalam. Merasa ada yang aneh, Irena pun langsung membuka pintu itu yang ternyata tidak di kunci. "Nak," panggilnya tapi ternyata tidak ada siapapun di dalam kamar itu.


Irena mencoba mengecek kamar mandi. Tapi ternyata juga tidak ada. Dia pun langsung keluar dari dalam kamar dengan perasaan resah. "Cahya tidak ada di dalam kamar."


"Mama sudah cek, tapi tidak ada. Bryan, tadi kamu bertemu dengan Cahya?" Bryan mengangguk. "Lalu sekarang dia dimana?"


Bryan menghela napas sebal. "Mana aku tahu, Ma. Lagipula apa urusannya denganku, Ma." Bryan hanya sebal, kenapa mamanya panik seperti itu hanya kerena Cahya tidak ada di kamarnya.


Lagipula yang anaknya itu kan dirinya. Bukannya Cahya. Tapi sepertinya mamanya tampak lebih mengkhawatirkan Cahya daripada dirinya.


Baru saja Irena ingin membalas ucapan itu. Tapi dihentikan oleh Sanjaya. Gelengan diberikan Sanjaya. "Tidak sekarang. Lebih baik mama telpon Cahya dan tanya dia ada dimana."


Irena segera menelpon Cahya melalui telpon rumah. Tapi suara dering ponsel yang tak jauh dari mereka membuat keduanya mengedarkan pandangnya.


Ternyata ponsel itu ada di atas meja di ruang santai. Mungkin saja semalam Cahya tak sengaja meninggalkan ponselnya ketika sedang makan waktu itu.


Irena semakin panik begitu tahu kalau menantunya itu tidak membawa ponselnya. "Bagaimana ini, Pah. Aku takut terjadi sesuatu pada Cahya."


"Tenang, Ma. Cahya pasti baik - baik saja. Lebih baik sekarang kita Cari Cahya disekitar sini. Mungkin Cahya hanya ingin jalan - jalan sebentar."


Sanjaya berniat menenangkan istrinya itu. Dirinya juga cemas, tapi Sanjaya berusaha berpikir jernih agar tidak sama kalutnya dengan sang istri.


"Bryan, sebaiknya kau cari Cahya sekarang juga." Ucapan tegas dari ayahnya membuat Bryan mendengus pelan. Baru saja ingin protes, Sanjaya lebih dulu menginterupsinya.


"Cari sekarang juga. Ayah tidak terima penolakan darimu itu."

__ADS_1


Mau tak mau, Bryan mengiyakan ucapan ayahnya itu. Dia semakin kesal dengan Cahya. Tidak bisakah dia tidak merepotkan dirinya. Bahkan dirinya baru saja pulang dari rumah sakit. Tapi gara - gara Cahya, dia harus mencari wanita itu.


...🍁 🍁 🍁...


Sudah dua jam Bryan mencari Cahya. Tapi belum ketemu juga. Padahal Bryan sudah mengitari sekitaran gedung apartemen, namun tidak ketemu juga.


"Kemana sih dia. Bikin susah saja." Gerutunya sambil sesekali memukul angin.


Tatapannya menajam begitu melihat sosok yang tengah dia cari ada di bangku taman sambil makan es krim itu. Perasaan dongkol bersarang kuat di hati Bryan. Dengan segera dia mendekat kearah Cahya yang belum menyadari keberadaannya itu.


"Hei, Kau! Berhentilah membuat kekacauan." Desisnya sambil menatap tajam kearah Cahya yang nampak terkejut akibat seruannya tadi.


   


"Ayo pulang, bikin susah orang saja." Ucapan itu disertai tarikan kasar oleh Bryan pada Cahya. Cahya sendiripun meringis pelan akibat tarikan yang di lakukan oleh suaminya itu.


"Pelan - pelan, Mas." Sayangnya ucapan Cahya sama sekali tidak digubris oleh Bryan.


Akibat tarikan itu, bisa dipastikan kalau tangan Cahya akan memerah. Cahya tak lagi bersuara hingga mereka sampai di depan mobil Bryan.


"Masuk!" Cahya tak membantah dan langsung mematuhi ucapan dari sang suami.


Kini keduanya sudah berada di perjalanan pulang. Selama perjalanan, tak henti Bryan mengomeli Cahya seperti halnya saat ini.


"Kan aku sudah bilang padamu. Jangan menyusahkanku. Tapi belum juga sejam aku bicara begitu, kau malah kabur - kaburan begini."


"Kau tahu, gara - gara kau. Aku gagal kencan dengan kekasihku."


Deg


Perkataan itu kembali berhasil menghancurkan perasaan Cahya. Belum juga satu hari, tapi kenapa Cahya merasa dia sudah berkali - kali di buat sakit hati oleh ucapan Bryan tadi.


Matanya berkaca - kaca akibat ucapan Bryan tadi. Di alihkan pandangannya keluar jendela agar Bryan tidak melihat kalau dia tengah menahan tangis itu.


Bryan menoleh kearah Cahya, karena tak mendapat jawaban. "Kau mendengarkanku?" Cahya tak menyahut.


Karena diabaikan, Bryan membalikkan kepala Cahya agar menghadap kearahnya. Tapi Bryan tertegun begitu melihat air mata sudah membasahi pipi Cahya.


"Kau--,"


"Bisakah kau tidak marah - marah." ujar Cahya pelan diiringi isakannya. Sejujurnya ingin sekali Cahya berhenti menangis. Tapi kenapa rasanya sangat sulit sekali. Seolah perkataan Bryan tadi selalu terngiang di kepalanya.


Bryan sedikit merasa bersalah dengan apa yang dia lakukan pada Cahya. Mungkin kata - katanya tadi sedikit keterlaluan, sampai - sampai membuat gadis di sebelahnya ini terisak - isak begini.


Di dalam mobil hanya terdengar suara deru mobil dan suara isakan Cahya. Bryan lebih memilih diam. Dia mencoba fokus pada jalanan di depannya sambil sesekali melirik kearah Cahya.


"Apa aku sudah keterlaluan padanya?" Pikirnya yang kini sejenak melirik kearah Cahya.


...❤ ❤ ❤...

__ADS_1


...💖 Terimakasih sudah setia menanti. 💖...


__ADS_2