
M.B.B
Vino menatap mamanya "Ihh, mama mah gitu." Dengusnya lucu.
Irena yang melihatnya tentu saja tertawa pelan.
"Ya sudah, ini dimakan dulu." Irena meletakkan sepiring nasi dan satu paha ayam di piring dan memberikannya pada Vino.
Vino yang melihat ingin segera memakannya, tapi dihentikan oleh Irena.
"Berdoa dulu Vino." Suruh Irena setelah selesai menyiapkan makanan untuk sang suami.
"Iya ma." Setelah mengucapkan hal itu, Vino memejamkan matanya sambil berdoa. Tak lama ia kembali membuka matanya dan mulai memakan makanannya.
Kedua orangtuanya juga ikut makan sambil sesekali mengajak bicara anaknya itu. Sedangkan anak mereka hanya terfokus pada makanan dan makan dengan lahapnya.
Kedatangan seseorang membuat sepasang suami istri itupun menolehkan pandangannya kearah orang tersebut yang tak lain adalah Cahya.
"Sini nak." Suruh Irena begitu melihat kedatangan Cahya.
Apa ada yang penasaran kenapa Cahya baru tiba? Kalau ada aku kasih jawabannya.
Cahya itu habis selesai menunaikan kewajibannya. Dan sebelum mengikuti Vino tadi, Cahya bertemu dengan Ayahnya Vino, pak Sanjaya.
Setelah meminta izin untuk mengunakan salah satu ruangan, Pak Sanjaya mengizinkannya. Makanya ia baru saja tiba saat ini. Dan pak Sanjaya juga sudah bilang pada istrinya itu.
Cahya yang dipanggil segera mendekat kearah Irena.
__ADS_1
"Kamu makan dulu, ya." Tawar Irena pada Cahya.
Sebenarnya Cahya agak sungkan, niat awal ia ingin menolak secara halus tapi sepertinya Irena menyadari kalau Cahya pasti ingin menolaknya.
"Tidak ada penolakan." Ucapnya membuat Cahya tersenyum kikuk.
Melihat Cahya yang tak kunjung duduk membuat Irena berdiri dari dudukannya dan menghampiri Cahya untuk menyuruhnya duduk.
Cahya yang digiring begitu merasa tidak enak.
"Duduk dulu, baru makan ya." Setelah Cahya duduk disamping Vino, Irena kembali ketempat duduknya disamping sang suami.
Cahya memperhatikan Vino yang mungkin tak menyadari kehadirannya, karena terfokus pada makanan yang tengah dilahapnya.
"Kamu mau makan apa?" Irena berniat mengambilkan makanan untuk Cahya.
"Mama tidak merasa direpotkan. Kesinikan piringmu." Ucapnya sambil meminta piring dihadapan Cahya itu.
Cahya menyodorkan piringnya dan tak lama 2 sendok nasi sudah berada dipiringnya.
"Segini atau mau tambah lagi?"
"Sudah cukup, ma." Jawab Cahya membuat Irena meletakan kembali sendok nasi ketempat semula.
"Kau mau lauk apa, tinggal pilih saja." Tak lama Cahya mengambil kentang balado dan sayur sop.
"Hanya itu saja?" Tanya Irena pada Cahya dan Cahya hanya mengangguk kepalanya.
__ADS_1
Setelah itu keempat orang tadi makan sebagaimana mestinya. Dan akhirnya sesi makan itu berakhir.
"Vino sangat kenyang." Vino mengelus perutnya sambil menopangkan badannya pada kursi yang didudukinya itu.
Semua orang tertawa mendengarnya. "Makanya kalau makan jangan banyak banyak." Sahut Sanjaya sambil menatap anaknya itu.
Sedangkan Vino mengerucutkan bibirnya kearah ayahnya.
Cahya yang saat itu tengah menatap kearah Vino tersadar kala matanya menatap jam dinding yang tak begitu jauh dari ruang makan.
"Ma, yah. Cahya izin pamit dulu ya." ucapannya membuat ketiga manusia itu menolehkan pandangannya kearah Cahya.
Irena mengerutkan dahinya, "Kenapa terburu buru?"
"Ada sesuatu yang ingin Cahya beli." Jawab Cahya pada ibu Vino itu.
"Baik..." Belum sempat Irena menyelesaikan kalimatnya, sebuah suara sudah terdengar memotong ucapan Irena.
"Tidak boleh!"
.
.
💛💙💜💙💛
**Yuhuu ketemu lagi ma aku😍.
__ADS_1
Masih setia dengan Ceritaku ini, kan**?