My Bipolar Boy

My Bipolar Boy
115. Berita Bahagia


__ADS_3

...🍁 Selamat datang di My Bipolar Boy Series kedua ini😍 Kita bertemu lagi☺🍁...


.......


.......


.......


Seorang gadis nampak termenung di meja kantin sebuah universitas negeri ternama. Sejak tadi pikirannya hanya tertuju pada sosok pria yang sudah menjadi suaminya itu.


Tapi sayangnya saat ini keduanya sedang menjalani hubungan jarak jauh. Sebab sang suami tengah melanjutkan pendidikan ke Sydney, Australia. Sedangkan gadis ini ada di negara sendiri.


Hampir 2 setengah tahun keduanya LDR-an, walaupun 2 bulan kemarin, sang suami sempat pulang dan menemuinya. Itupun hanya selama dua minggu saja. Waktu 2 minggu itu tidak ada apa - apanya bila dibandingkan kerinduannya selama hampir 2 tahun ini.


Gadis tadi tak lain adalah Cahya Larasati Wirautama. Istri dari Bryan Giovino Wirautama.


Di pandanginya foto sang suami yang ada di ponselnya itu. Helaan napas berat terus dikeluarkan oleh Cahya sejak beberapa menit yang lalu.


Bahkan napasnya terasa panas, sebab suhu tubuhnya tengah naik saat ini. Sejak tadi pagi sampai sekarang ini, Cahya belum makan apa - apa. Padahal jam sudah menunjukkan pukul 14.15 P.M


Lalu untuk apa ke kantin kalau tidak makan?


Cahya kemari itu untuk menunggu sahabatnya yang tengah menuju kemari. Tapi sejak Cahya duduk disini 15 menit yang lalu. Jangankan orang, batang hidung sahabatnya itupun belum terlihat sampai sekarang.


Dirinya sudah mengirim pesan pada sahabatnya itu. Tapi jawaban yang diberikan padanya, hanya 'iya, ini lagi otw.'. Entah otw darimana sahabatnya itu. Padahal Cahya tahu, kalau kelas sahabatnya itu tak jauh dari kantin.


Saat sedang asyik mengagumi paras sang suami, tepukan di bahunya menyadarkan Cahya. "Darimana saja kau ini, Rim?"


Sedangkan yang ditanya malah cengegesan begitu. "Biasa, ketemu ayang beb." Cahya memutar bola matanya malas mendengar ucapan yang terlontar dari mulut sahabatnya itu.


Bukannya tidak senang, hanya saja Cahya terlalu malas mendengar sang sahabat bercerita banyak hal tentang pacarnya itu. Sebab hal itu akan semakin membuat Cahya merindukan sosok sang suami yang berada di belahan benua yang berbeda dengannya.


"Lalu kenapa tidak kau ajak saja pacarmu itu kemari." Rima malah tersipu malu dengar Cahya menyebut pacarnya itu.


Dan gelagat aneh yang dilakukan oleh Rima tertangkap oleh mata Cahya, membuatnya mengernyitkan dahinya bingung. "Kau itu kenapa? Apa kau sakit?"


Rima langsung bersikap biasa saja, seolah tak terjadi hal aneh padanya itu. "Tidak, aku baik - baik saja. Memangnya kenapa?"


"Pipimu merah, makanya aku bertanya begitu. Tapi syukurlah kalau kau baik - baik saja." Cahya kembali menatap ponselnya itu dengan pandangan rindu.


Sejujurnya Cahya ingin menelpon sang suami. Tapi beberapa hari yang lalu, sang suami bilang padanya kalau dia akan sibuk selama beberapa hari ini. Makanya sejak tadi Cahya hanya memandangi foto sang suami saja.


Cahya juga tidak ingin membebani suaminya itu. Apalagi suaminya itu sudah memasuki semester tua. Sebenarnya dulunya mereka berada di angkatan yang sama, namun Bryan bilang ingin mempercepat masa kuliahnya.


Karena itulah, Cahya mencoba mengerti dan tidak berniat menganggu fokus Bryan dalam belajar.


Tak berada lama terdengar sapaan didepan Cahya dan Rima. Sebenarnya tanpa menolehpun, keduanya sudah tahu siapa pemilik dari suara itu.


"Eh, Ayang beb" Sapa Rima pada kekasihnya itu. Sedangkan Cahya hanya tersenyum dan membalas sapaan itu. "Kau darimana, Dam?"


Sedangkan yang ditanya bukannya menjawab malah tampak tersipu malu. Sama halnya seperti Rima tadi.

__ADS_1


"I--tu," Adam bingung ingin menjawab apa. Kalau dia jujur, pasti dirinya akan tambah malu.


Melihat gelagat aneh dari pasangan di depannya itu membuat Cahya terkekeh pelan. "Tak perlu dijawab, Dam. Karena aku sudah tahu jawabannya." ucapnya sambil terkekeh pelan.


Ketiga anak manusia itu kembali bercerita tentang banyak hal. Seperti Cahya mengatakan kalau Rima terkena karma dari ucapannya sendiri.


Dulu saat mereka masih satu Sma, Rima menolak keras kalau Cahya menjodohkannya dengan Adam, di anak kelas sebelah.


Tapi, sekarang?


Rima paling tidak bisa berjauhan dengan Adam. Belum lagi kemesraan keduanya yang terus mereka lakukan di depan umum. Seperti halnya saat ini, Rima dengan senangnya menyuapi Adam makanan yang barusan di pesannya itu.


Cahya mengehela napas panjang. Masih ingat betul bagaimana waktu itu, Rima bercerita tentang perasaannya kepada Adam.


Tentu kalian tidak lupa, kan? Akan kisah cinta si Rima dan Adam ini. Dan benar saja tebakan Cahya waktu itu, kalau keduanya akan menjadi pasangan.


Tiba - tiba badan Cahya melemas, entah itu efek belum makan atau memang imun tubuhnya melemah. Pandanganya yang semua tertuju pada ponselnya, mendadak buram dan gelap.


Pekikan suara Rima membuat mahasiswa yang tengah menyantap makanan mereka pun sontak menoleh kearah meja ketiga orang tadi.


"Beb, tolong angkat Cahya ke Uks." Pinta Rima yang sangat khawatir dengan kondisi sahabatnya itu.


...🍁  ❇  🍁...


Raut wajah tak percaya menghiasi paras manis Cahya. Dirinya baru saja sadar, setelah pingsanya itu. Dan tanpa disadari airmatanya turun diiringi isakan kecil.


Rima yang berada di sebelahnya tentu saja panik. "Hei, kau kenapa malah nangis? Apa kau tidak senang?"


Cahya menggeleng pelan. "Bu-kan, aku malah bahagia sekali, Rim." ucapnya disela isakannya itu.


Yups, tadi dokter memeriksa Cahya yang pingsan itu. Setelah pemeriksaan, ternyata hal yang menyebabkan Cahya pingsan karena belum makan dan kondisi tubuhnya yang saat ini ada bayi di dalam tubuh Cahya.


Awalnya Rima sangat terkejut. Tapi beberapa detik setelahnya, dia memekik girang karena akan segera menjadi aunty dari anaknya Cahya itu.


"Kau harus jaga kesehatan, jangan sampai kelelahan. Dan ingat, kau jangan sampai lupa makan seperti tadi. Kasihan bayimu, mau makan apa dia. Kalau kau sendiri tidak makan." Oceh Rima seperti ibu - ibu menasehati anaknya itu.


"Iya, ya nyonya Saputra."


Blush,


Pipi Rima memerah begitu digoda sebagai nyonya Saputra. Sebab itu adalah nama panjang dari kekasihnya yang tak lain adalah Adam Rifan Saputra.


Cahya terkikik geli melihat reaksi malu - malu dan tersipu seperti itu dari sahabatnya ini. Memang mudah menggoda Rima. Tinggal sebut nama pacarnya, pasti pipinya akan memerah seperti tomat.


"Awas kalau kau tidak menjaga keponakan ini. Akan aku adukan kau pada Bryanmu itu."


Bicara tentang suaminya itu, Cahya belum sempat mengabari kehamilan yang sudah beranjak 3 minggu ini kepada sang suami. Mungkin setelah pulang dari kampus, baru dia akan mengabari Bryan tentang hal ini.


Saat ini Cahya sudah dalam perjalanan menuju rumahnya. Dia diantar oleh Rima dan Adam menggunakan mobil Adam. Tadi Rima memaksanya untuk pulang bersama, karena khawatir bila Cahya harus berdesak - desakan di angkutan umum.


Kadang Cahya tidak pulang dengan naik angkutan umum. Sesekali dia diantar dan di jemput oleh supir keluarga Wirautama. Apalagi sejak ditinggal Bryan ke Sydney, Cahya tinggal bersama mama Irena dan Papa Sanjaya.

__ADS_1


"Kalian berdua hati - hati di jalan." ucap Cahya yang kini sudah ada diteras rumah mertuanya itu.


Tadi Rima memaksa untuk mengantar sampai depan teras rumahnya itu. Biasanya hanya sampai pintu gerbang, tapi sekarang beda cerita karena ada sosok kecil di perut Cahya itu.


"Kami pamit dulu." ucao keduanya yang diangguki oleh Cahya. Saat ini Cahya melambaikan tangannya kearah mobil Adam yang mulai menjauh dari rumahnya itu.


Setelahnya barulah Cahya masuk kedalam rumah. Dirasa pintu itu tidak terkunci, Cahya langsung membukanya. "Assalamualaikum." Salamnya sambil memasuki pintu rumah mertuanya itu.


Dari posisi saat ini, Cahya sudah bisa melihat keberadaan ibu mertuanya yang sedang menonton TV. "Assalamualaikum, Ma." ucap Cahya sambil menyalami mama Irena itu.


"Wa'alaikumsalam. Kau baru pulang, nak." jawabnya sambil mengelus pelan surai milik menantunya itu. Cahya mengangguk sambil menikmati elusan diatas kepalanya itu.


Perasaannya menghangat ketika membayangkan, tak lama lagi dirinya akan bisa mengelus sang buah hatinya itu. Bicara soal buah hati, Cahya langsung menegakkan tubuhnya yang sempat bersandar pada ibu mertuanya itu.


"Ada apa?"


"Ma, Cahya punya kabar baik untuk mama." Cahya tak bisa menutupi senyumannya itu. Apalagi saat ini sang mama menatapnya penasaran.


"Memangnya ada apa? Kau tampak senang sekali?"


Belum sempat Cahya menceritakan kebahagiaan itu. Sang ayah mertua lebih dulu menginstruksi pembicaraan keduanya.


"Ada apa ini? Sepertinya serius sekali?" Kedua wanita beda usia itupun menoleh kearah sumber suara, yang tak lain milik papa Sanjaya.


Melihat kedatangan papa mertuanya itu, Cahya lantas segera menyalami mertuanya itu. Begitupun dengan Irena yang menyalimi sang suami.


"Entahlah, anak kita ini belum cerita. Tapi seperti ada kabar baik, suamiku." Alis Sanjaya terangkat satu. Rasa penasaran mulai muncul dalam dirinya itu.


"Jadi, apa kabar baiknya?" tanyanya yang cukup penasaran itu.


Cahya mengulas senyumannya itu. "Jadi, sebentar lagi ayah dan mama akan menjadi seorang kakek dan nenek." Perkataan itu sontak membuat keduanya terbelalak, namun sedetik kemudian senyum bahagia terpatri di bibir keduanya.


"Jadi kau sedang hamil, Nak?" Cahya mengangguk sambil tersenyum lebar. Irena langsung merengkuh tubuh menantunya itu dan mengucap rasa syukur atas apa yang terjadi pada anaknya itu.


"Mama senang sekali, akhirnya mama akan menjadi nenek!" Serunya sambil mengeratkan pelukan itu. Sesekali Irena mengecup pucuk kepala anaknya itu.


Cahya balas memeluk ibunya itu. Perasaan bahagia yang sejak ia tahu bahwa dirinya tengah hamil itupun tak luntur dari hatinya.


Ketiganya saling berpelukan dengan posisi Cahya berada di tengah. Tiba - tiba Sanjaya melepaskan pelukan itu dan menatap anak dan istrinya itu bergantian.


"Kau sudah memberitahu Bryan soal ini?"


Pertanyaan itu membuat kedua wanita itu perlahan melepaskan pelukan mereka dan mulai menatap kearah Sanjaya.


"Iya, kau sudah memberitahu Bryan?" Gelengan pelan diberikan oleh Cahya membuat kedua orang dewasa ini saling pandang.


"Ayah ada ide." ujarnya sambil tersenyum misterius."


"Apa, yah?"


"Idenya itu adalah kita semua akan ...."

__ADS_1


...🍁 πŸ’₯ ❇ πŸ’₯ 🍁...


Β 


__ADS_2