My Bipolar Boy

My Bipolar Boy
107. Gara - Gara Foto


__ADS_3

๐ŸMy Bipolar Boy๐Ÿ


.


.


Waktu makan malam telah tiba, para siswa mulai mendatangi kafetaria hotel untuk menyantap makan malam mereka itu. Begitupun dengan Cahya yang kini tengah bersama rekan sekamarnya itu. Sebenarnya Cahya tidak terlalu lapar, kalau bukan setelah acara makan malam selesai akan diadakan kegiatan. Cahya lebih memilih berdiam diri di kamarnya itu.


Setibanya Cahya dan para rekan sekamar itu di lobby. Cahya bisa melihat keberadaan sang suami yang sepertinya tengah menunggunya itu.


Tapi berbeda dari biasanya, kali ini Bryan ditemani oleh seseorang. Dan orang itulah yang membuat mood Cahya turun sejak sore tadi.


Tapi Cahya tidak menghampiri sang suami. Tapi malah terus saja melangkah menuju ke kafetaria bersama 4 rekan sekamarnya itu.


"Kau tidak menemui kekasihmu?" Bisik salah satu dari teman sekamar Cahya itu. Dengan gelengan pelan, Cahya membalas bisikan itu.


Kini jarak antara Cahya dan Bryan hanya terpaut 1 meter. Bryan kira Cahya berhenti di sampingnya. Tapi yang ada, istrinya itu malah terus saja melangkah. Seakan keberadaan Bryan sama sekali tidak terlihat dimata sang istri.


Seseorang yang tadi bersama Bryan itupun mulai mengukir senyum kemenangan, setelah melihat sendiri bagaimana respon yang Cahya berikan kepada Bryan itu.


"Baguslah. Dengan begini aku lebih mudah untuk menarik perhatian Bryan." Gumam orang tadi yang kini diam - diam menampilkan senyum miringnya itu.


Sebuah pesan masuk ke ponsel Bryan, membuat sang empunya langsung mengecek pesan tersebut. Satu senyum tipis Bryan sematkan di bibirnya itu. Kemudian dia berbalik menuju ke sisi kafetaria yang lain.


Yang mana intinya itu berseberangan dengan sosok sang istrinya itu. Tapi sebelum pergi, Bryan langsung memberikan deathglare kepada sosok di samping kirinya itu.


"Jangan pernah mengikutiku lagi. Dan jangan sok akrab denganku, memangnya kau ini siapa!" Setelah mengatakan hal tersebut, barulah Bryan melangkah menuju ke sisi lain dari kafetaria hotel.


Sedangkan orang tadi walaupun kesal dengan ucapan Bryan, tapi tak lama senyum culasnya muncul. "Kali ini kau bisa mengusirku, tapi aku pastikan suatu saat nanti. Kau sendiri yang akan datang padaku dan mengemis cinta padaku." Ujarnya pede seolah apa yang dia katakan itu akan benar - benar menjadi kenyataan.


Kita lihat saja, siapa yang akan menangis nantinya๐Ÿ˜Ž.


โ•๐Ÿโ•๐Ÿโ•๐Ÿ


Para murid sudah menyelesaikan waktu makan mereka. Kini semuanya di minta untuk menuju ke bibir pantai. Tapi sebelumya para guru pembimbing sudah menyuruh para murid untuk mengenakan jaket atau pakaian hangat, mengingat acara saat ini akan d di lakukan di tepi pantai.


Sebagian besar anak perempuan memakai pakaian berlengan panjang ataupun jaket. Tapi untuk yang laki - laki, hanya beberapa saja yang mengenakan jaket. Selebihnya mereka hanya mengenakan pakaian lengan panjang dan pendek.


Ternyata area tepi pantai sudah disulap dengan sedemikian rupa.ย  Bahkan di tengah - tengah, terdapat kayu yang nantinya akan dibuat api unggun.


Melihat kalau sebagian besar para murid sudah berdatangan, langsung saja para guru memulai acara malam ini yaitu memainkan game, menyanyi, bercerita sambil ditemani oleh api unggun yang bisa menghangatkan badan itu.


Acara malam ini sungguh menyenangkan, bahkan para guru sampai tidak sadar kalau ada satu 'penyusup' yang ikut dalam acara mereka itu.


Siapa lagi si penyusup itu kalau bukan di Viona. Sejak tadi dia berada tak begitu jauh dari sosok Bryan. Sedangkan Bryan sendiri tak memperdulikan kehadiran Viona. Sebab yang ada di pandangannya itu hanya tertuju pada sosok sang istri yang posisinya sedikit jauh darinya itu.


Memang tadi, Cahya dan Bryan tidak bersama. Lebih tepatnya setelah Bryan mengantar Cahya menuju ke kamarnya itu. Bryan dan Cahya sama sekali tidak terlibat obrolan sama sekali. Bahkan mereka itu makan sendiri - sendiri. Kini pun duduknya berjauhan, seperti orang yang sedang marahan.


Sebelum usia kegiatan tadi, Cahya memutuskan untuk kembali ke hotel karena dirinya sudah kebelet pipis. Dia tadi juga sudah berpesan ke teman sekamarnya, kalau dirinya ingin ke toilet.


Tanpa Cahya sadari, tak jauh dari posisi saat ini. Ada seseorang yang tengah mengikutinya. Mungkin karena sudah benar - benar kebelet, Cahya sama sekali nggak sadar kalau dirinya itu sedang diikuti.


Bahkan ketika dirinya memasuki toilet pun, sosok tadi masih mengikuti Cahya kedalam toilet. Selesai dengan urusannya, Cahya pun keluar dari bilik toilet.


Dirinya lumayan kaget begitu melihat seseorang yang berjarak 3 meter dari posisinya itu. Walaupun begitu, Cahya tak ambil pusing. Dia menuju ke wastafel untuk membasuh tangan dan wajahnya dengan air.


"Kau lihat sendiri, kan. Sekarang Bryan bersikap cuek padamu." Ucap orang itu yang pada Cahya.


Cahya tak memperdulikan ucapan ataupun kehadiran dari orang yang barusan berbicara padanya itu. Dia masih melanjutkan kegiatannya mencuci tangannya.


"Aku berani bertaruh, cepat atau lambat Bryan pasti akan meninggalkanmu." Ucap orang itu sambil terkekeh.


Cahya menutup kran air yang tadi digunakannya itu. Kemudian mengambil beberapa lembar tisue. Setelah mengelap wajah dan tangannya, Cahya berbalik untuk menuju ke kamarnya.


Tapi sebelum itu, dia menatap kearah orang yang kini masih tersenyum miring padanya itu. "Bermimpilah sepuasmu. Karena hal itu tidak akan pernah terjadi." Cahya berlalu pergi setelah mengucapkan sederetan kata bernada tajam itu.


Lama - lama dirinya juga bisa marah kalau di bikin sensi mulu sama si gadis itu. Memang siapa lagi kalau bukan si Viona.


Entah apa masalahnya, tapi kenapa si Viona itu selalu saja mencari celah dalam hubungan percintaannya dengan Bryan.


Sedangkan di dalam toilet, Viona tampak memgeram marah begitu mendapatkan balasan dari apa yang dia ucapkan tadi kepada Cahya itu.


"Lihat saja besok. Aku pastikan kau akan menyesal telah berani menantangku." Tatapan marah mulai menyelimuti mata Viona.


โ•๐Ÿโ•๐Ÿโ•๐Ÿ


Cahya baru saja ingin memasuki kamarnya namun terhenti akibat dering di ponselnya itu. Setelah tahu siapa yang menelpon, langsung saja Cahya angkat.


"Iya, Om. Benarkah? Sekarang Om lagi di lantai berapa? No kamarnya? Baiklah Cahya akan segera kesana." Setelah panggilan usai. Kini Cahya bergegas menuju ke lantai 5 seperti yang sudah diberitahu oleh 'Om'nya itu.

__ADS_1


Begitu sampai di lantai 5, kini Cahya tengah mencari kamar 85. Setelah ketemu, Cahya langsung memencet bel yang terpasang di tembok dekat pintu itu.


Tak begitu lama, pintu yang ada di depan Cahya terbuka. Tanpa ba bi bu, Cahya langsung saja memeluk sosok yang ada di depannya itu.


Keduanya berpelukan cukup lama, sebelum sosok yang di peluk oleh Cahya itu mengiring Cahya untuk masuk kedalam kamar.


Kira - kira siapa, ya? Nggak mungkin sosok itu Bryan. Bahkan Bryan saja saat ini tengah kebingungan mencari sosok istrinya itu.


โ„โ˜€โ„โ˜€โ„โ˜€โ„โ˜€โ„โ˜€


Acara api unggun sudah selesai dari beberapa menit yang lalu. Para siswa juga sudah mulai kembali ke dalam hotel. Tentu saja untuk segera beristirahat, memangnya mau apa lagi.


Jam pun sudah menunjukkan pukul 10.10 P.M, Cahya baru keluar dari kamar 85 dengan ditemani sosok Omnya itu. Keduanya memang ada hal yang tadi dibicarakan dan baru keluar saat urusannya sudah selesai.


Tapi sayangnya ada seseorang yang diam - diam mengambil gambar ketika Cahya baru keluar dari kamar hotel itu bersama om - om yang entah siapa itu.


"Gotcha, kena kau Cahya. Sebentar lagi, Bryan pasti akan memutuskan pertunangan kalian." Ucap orang itu sambil tersenyum menatap hasil foto yang di didapatkannya itu.


Dari foto itu terlihat jelas muka Cahya, tapi wajah dari pria di samping Cahya tidak terlalu kelihatan. Sebab hanya bagian belakangnya saja yang terlihat.


Tapi dari postur tubuhnya, itu jelas bukan Bryan. Dan bisa di pastikan kalau foto itu tersebar. Reputasi Cahya akan tercemar dan bukan hanya itu saja, tapi dirinya pasti akan mendapatkan hujatan dari para siswa disini.ย 


Dan benar saja tak kurang dari setengah jam, foto itu sudah tersebar di grup angkatan sekolah. Para siswa yang menerima Chat berisi foto itu pun langsung menuduh Cahya yang tidak - tidak.


Cahya yang tidak tahu soal itu pun di buat bingung ketika dirinya itu ingin berjalan menuju ke kamarnya, banyak bisik - bisik yang kurang menyenangkan tentangnya.


Apalagi lantai menuju ke kamarnya itu adalah lantai yang di khususkan untuk para siswi, kalian tentu tahu bagaimana tajamnya seorang cewek kalau lagi ngomongin orang.


"Nggak tahu malu banget sih jadi orang. Sudah enak diajak tunangan sama orang ganteng, ehh malah selingkuh sama om - om."


"Iya, nggak bersyukur banget. Kalau aku jadi dia malah, aku nggak bakalan berani nunjukin muka di depan banyak orang."


"Parahnya lagi, aku sempet ngira kalah dia itu gadis polos, ehh ternyata cuma sok polos. Hahaha."


Tak ingin ambil pusing, Cahya langsung saja masuk ke dalam kamarnya. Begitu dia masuk, tatapan keempat teman sekamarnya itu membuat Cahya cukup risih.


Soalnya keempatnya menatap Cahya seakan Cahya ini baru saja kepergok maling sesuatu. Belum lagi beberapa dari mereka seakan menatap jijik kearah Cahya.


Daripada makin bingung, Cahya langsung saja bertanya pada keempatnya. "Kalian kenapa?"


Tak ada yang menjawab pertanyaan itu. Hal itu tentu membuat Cahya semakin bingung. Dia merasa ada sesuatu yang salah disini. Tapi Cahya sendiri pun tak tahu apa yang salah.


"Apa aku berbuat salah pada kalian? Kenapa kalian menatapku seperti itu."


Dia merasa sikap teman sekamar ini sebelumnya tidak seperti ini. Lantas apa yang membuat mereka seolah menatapnya benci itu. Memangnya kesalahan apa yang telah Cahya buat?


Bingung dengan keadaan ini, membuat Cahya memilih untuk mengistirahatkan dirinya ditempat tidur. Tapi anehnya, tidak ada satupun dari keempatnya yang berniat tidur di sampingnya itu. Padahal kemarin mereka berlima berebut masalah ranjang.


"Michelle dan Anggi kalian nggak mau tidur disini." Ucap Cahya sambil menepuk pelan ranjang di sampingnya itu.


Kedua orang yang disebut namanya oleh Cahya itu menggeleng cepat. "Kami tidur disini saja. Kami nggak ingin tidur dengan cewek simpanan om - om seperti kamu." Ujar Anggi sambil mendengus sinis.


Deg!!!


Cahya membulatkan matanya begitu mendengar kalimat yang barusan Anggi lontarkan kepadanya itu.


"Kenapa kau meyebutku simpanan om - om? Aku bukan gadis seperti itu." Tolak Cahya yang tidak menerima disebut sebagai simpanan om - om itu.


"Kan memang kenyataannya begitu. Jadi terima saja kalau kau di panggil seperti itu." Kali ini bukan Anggi yang menjawab melainkan si Michelle.


Cahya menggeleng cepat, dia benar - benar tidak menerima tuduhan yang dikatakan oleh Anggi dan Michelle itu. Sebab dirinya bukan seorang simpanan. Dia bahkan telah sah menjadi seorang istri Bryan Giovino Wirautama itu.


Cahya berusaha menahan perasaannya itu, "Darimana kalian bisa menyebutku gadis seperti itu? Memangnya ada buktinya?"


Michelle tertawa sinis, "Jadi kau minta buktinya. Nih lihat, itu dirimu kan. Dan kau baru keluar dari kamar hotel bersama om - om." Michelle menunjukkan pesan chat di grup angkatan yang berisi foto Cahya yang diambil secara diam - diam itu.


Cahya pun menatap gambar dirinya di ponsel milik Michelle itu.ย Dan benar saja, Cahya memang mengakui kalau yang ada di dalam foto itu adalah dirinya. Tapi Cahya menolak mentah - mentah tuduhan dirinya sebagai simpanan om - om itu.


Belum lagi balasan dari para siswa yang ada di roomchat itu. Alasan kenapa Cahya tidak tahu kalau fotonya itu tersebar di grup angkatan itu karena Cahya belum join ke grup itu.


Kan Cahya itu siswi pindahan, makanya belum sempat join. Cahya memang sudah join di grup kelas, tapi bukan di grup angkatan kelas 12 ini.


Bukannya marah, Cahya malah tertawa melihat kalau yang menjadi sumber masalahnya ini adalah foto yang berisi dirinya bersama seorang om - om itu.


Melihat respon dari Cahya malah membuat keempatnya mengernyitkan dahi bingung. Dalam benak mereka, "Ini anak kenapa malah ketawa bukannya marah atau gimana gitu." Batin keempatnya sambil memperhatikan Cahya yang masih tertawa.


Menyadari kalau dirinya itu jadi objek perhatian membuat Cahya menghentikan tawanya. "Jadi hanya karena foto ini kalian menuduhku yang enggak - enggak?" Keempatnya mengangguk cepat.


Tawa Cahya kembali hadir mengisi keheningan yang sempat terjadi itu. "Kalian semua sudah salah paham. Ini tidak seperti yang kalian semua pikir."

__ADS_1


"Salah paham bagaimana? Sudah jelas itu fotomu, tapi kau malah menyangkalnya."


Cahya menggeleng, "Ini memang fotoku." Baru saja Michelle ingin menyela. Tapi keburu di tahan oleh Cahya. "Tapi apa yang kalian pikir itu tidak benar. Dan kalian tahu siapa om - om yang kalian pikir itu simpananku."


Walaupun enggan terlihat kepo. Tapi keempatnya juga sangat penasaran dengan identitas dari sosok om yang ada di foto itu.


Walupun mereka berempat tidak menjawab pertanyaannya, tapi Cahya tahu mulai keempatnya itu sangat penasaran dengan sosok 'Om' di foto bersamanya itu.


"Itu adalah om Bram. Kepala sekolah kita." Tatapan terkejut hadir di balik bola mata keempat gadis itu. Mereka tidak menyangka kalau sosok 'Om' yang ada di foto itu adalah kepala sekolah mereka.


"Dan kalian tentu tidak lupa kan, kalau Om Bram itu adalah omnya Bryan." Jelas Cahya yang membuat keempatnya mengangguk mengerti.


Tapi tiba - tiba,


"Jadi kau berselingkuh dari Bryan, hanya karena pak Bram?" Ucapan itu di lontarkan oleh Clara begitu berhasil menyambungkan tiap bagian dari permasalah yang ada.


Dengan cepat Cahya menyangkalnya. "Tidak seperti itu. Jangan salah paham dulu. Aku dan om Bram sebenarnya punya rencana khusus untuk Bryan."


"Rencana khusus apa?" Keempatnya kepo dengan apa yang diucapkan oleh Cahya barusan.


Dengan gestur seolah memperhatikan sekitar, kini Cahya mencondongkan tubuhnya kearah ke empat teman sekamar itu. "Tapi jangan bilang ke siapa - siapa, ya. Ini masih bersifat rahasia." Kata Cahya yang membuat keempatnya mengangguk mengerti.


"Sebenarnya itu, acara karya wisata iniย diperuntukkan bagi Bryan. Makanya pihak sekolah tidak menaik biaya akomodasi sama sekali, kan?" Keempatnya mengangguk mengiyakan.


"Soalnya semuanya sudah ditanggung oleh keluarga Bryan." Jelas Cahya yang membuat keempatnya shyok. Terkaget dengan apa yang dibilang Cahya.


Keempatnya langsung memekik begitu membayangkan betapa banyak pengeluaran yang dikeluarkan untuk acara karya wisata ini. Dan semua itu ditanggung hanya oleh satu keluarga saja.


'Benar - benar luar biasa. Sebenarnya seberapa kaya keluarga Bryan itu, ya.' Itulah yang dipikirkan oleh keempatnya.


Kembali Clara bertanya, "Jadi rencana khusunya itu apa?"


"Sebenarnya ini rahasia, tapi karena muncul masalah seperti ini, aku akan beritahu kalian berempat. Jadi sebenarnya pihak keluarga Bryan merencanakan mengadakan pesta ulang tahun untuk Bryan."


Keempatnya masih mendengarkan tanpa menyela. "Lebih tepatnya sih ulang tahun Bryan itu besok. Makanya segala persiapan akan dibuat besok."


"Jadi foto itu tidak seperti apa yang kami pikir?" Pertanyaan itu datang dari Tasya, salah satu dari keempat gadis teman sekamar Cahya.


Langsung saja Cahya mengangguk. "Iya, sepertinya foto itu diambil ketika aku dan Om Bram baru keluar dari kamar hotelnya Om Bram."


"Jadi kau dan Pak Bram itu berbicara di dalam kamar yang sama. Hanya berdua?" Cahya menggeleng. "Bukan hanya kami saja, ada orangtuanya Bryan juga didalam."


"Maksudmu pasangan suami istri Wirautama itu? Sang pemilik sekolah?!" Entah kenapa Cahya merasa respon keempatnya terlalu berlebihan menurutnya.


"Respon kalian kenapa segitunya sih? Sampai kaget aku loh." Memang tadi Cahya sempat terkaget begitu mendengar teriakan keempatnya itu.


"Ooh, ya. Aku boleh minta tolong nggak ke kalian semua?"


"Minta tolong apa?" Jawab Clara sambil menatap Cahya bingung. Sebelum mengatakannya, lebih dulu Cahya membuang napas panjang.


"Aku minta kalian bilang di grup kalau foto itu hanya kesalahpahaman semata. Dan apa kalian itu salah satu admin di grup angkatan?"


Michelle mengangkat tangannya yang menandakan kalau memang dirinya itu menjadi salah satu dari admin grup angkatan. "Aku minta kau mengeluarkan Bryan dari grup tersebut."


"Kau gila, yang ada malah aku yang kena masalah. Aku nggak mau" Tolak Michelle terhadap ide dari Cahya itu. Michelle hanya nggak mau dirinya kena masalah dengan Bryan. Bisa - bisa dirinya dikeluarkan dari sekolah sebelum dinyatakan lulus itu.


Cahya tahu kalau Michelle bakalan menolak, makanya dengan tatapan memohon Cahya kembali menatap Michelle. "Aku mohon. Dan kau tenang saja, Bryan tidak akan mempermasalahkan hal itu. Kalaupun Bryan marah, biar aku yang menanganinya."


"Alasanku kenapa memintamu mengeluarkan Bryan itu adalah untuk membahas rencana untuk acara ultahnya Bryan. Kalau Bryan masih join di grup, bukan kejutan itu namanya." Jelas Cahya sambil mengambil napas panjang.


Setelah dibujuk dan dijelaskan mengenai rencana yang akan dibuat, akhirnya keempatnya setuju untuk membantu Cahya. Dengan sedikit takut, akhirnya Michelle mengeluarkan Bryan dari grup angkatan.


Beragam respon mulai bermunculan begitu Michelle berhasil mengeluarkan Bryan dari grup. Namun penjelasan dari Michelle, Clara, Tasya dan Anggi membuat para siswa yang sudah membuka pesan keempatnya itu mulai merubah kembali persepsi mereka terhadap Cahya.


Cahya mengucapkan terimakasih kepada keempatnya karena sudah mau membantunya. Setelahnya mereka memutuskan untuk tidur, begitupun dengan Michelle dan Anggi yang saat ini sudah mulai membaringkan diri disamping Cahya.


Keduanya tadi juga sudah meminta maaf akibat termakan hoax yang belum tentu kejelasannya itu. Dan Cahya juga sudah memaafkan, lagipula masalah tentang foto juga sudah clear. Jadi tidak perlu ada yang di permasalahkan lagi.


Setidaknya malam ini Cahya bisa tidur nyenyak tanpa memikirkan masalah yang sempat menimpanya itu. Cahya berdoa semoga saja suaminya itu belum membuka chat di grup kelas sebelum dirinya di keluarkan dari grup itu.


โ•๐Ÿโ•๐Ÿโ•ย ย 


.


.


.


๐ŸMy Bipolar Boy๐Ÿ

__ADS_1


Terimakasih sudah hadir dan menyempatkan waktu untuk membaca cerita ini. Terimakasih juga untuk setiap Vote ๐Ÿ’– dan Komentar kalian semua๐Ÿ˜


Sampai jumpa lagi๐Ÿ’™


__ADS_2