My Bipolar Boy

My Bipolar Boy
34. Manis


__ADS_3

Semua anak merasa belum puas akhirnya meminta Rian untuk mengatur kembali timer kameranya agar bisa foto lebih banyak lagi.


Dengan pasrah Rian kembali mengatur ulang timer, tak lama ia kembali lagi ke posisinya semula.


Akhirnya sesi foto berakhir dengan keributan anak anak yang mau liat hasil fotonya.


"Udah nanti aku share ke grup. Jangan kayak orang susah." Nah si Nanda angkat bicara. Btw si Nanda nih anak kouta banget. Makanya nggak heran dia bakal ngomong kayak gitu.


Semua yang mendengarnya langsung menggangguk paham.


"Kalau gitu kita pulang dulu, ya." Pamit anak cowok ke anak cewek.


"Ya udah kita juga pulang ya. Bakalan kangen banget nanti mah." Satu persatu cewek meluk Cahya sebagai salam perpisahan.


Semua sudah pulang menyisahkan Cahya dan Rima di dalam kelas.


"Ya sudah, kita pulang. Aku sudah disuruh pulang sama mama." ujar Rima sambil menunjukkan chattan nya pada Cahya.


"Kenapa tidak bilang kalau sudah di suruh pulang." Cahya langsung menarik Rima kearah luar kelas untuk segera pulang.


Tepat didepan gerbang, si Cahya berhenti membuat Rima ikut berhenti.


"Kenapa berhenti?" Rima menatap bingung kearah Cahya yang malah menatapnya sambil cengengesan.


"Kau pulangnya hati hati ya, soalnya aku disuruh kerumah ayah Sanjaya dulu." Mendengarnya membuat Rima menganggukkan.


"Kalau gitu duluan, ya. Kau hati hati dijalan." Rima mulai melangkah menuju kearah pemberhentian angkutan.


"Kau juga." Sahut Cahya sambil melambaikan tangannya kearah Rima yang dibalas hal serupa oleh Rima.


Cahya mulai melangkah menuju kearah angkutan yang lain, karena arah tujuannya berbeda dengan Rima. Makanya keduanya tidak bisa pulang bareng.


Setelah naik angkutan, Cahya membuka ponselnya dan mengecek akun grup kelasnya dan ternyata sudah banyak foto yang di share oleh Nanda tadi.

__ADS_1


Ia tersenyum melihat hasil foto tadi, karena melihat betapa konyolnya sahabat sahabat itu. Bahkan beberapa sudah berkoar digrup begitu melihat hasil fotonya.


Sekitar 16 menitan akhirnya Cahya sampai didepan komplek perumahan elit yang kemarin di datanginya itu.


Setelah ditanyai satpam komplek akhirnya Cahya bisa masuk juga kekomplek itu. Mungkin sekitar 130 meter dari pos satpam akhirnya rumah yang dituju Cahya ada didepan matanya.


Sejenak ia mengatur nafasnya, lelah juga jalan dari depan kesini, batin Cahya.


Pak Satpam yang sudah melihat Cahya segera membuka pintu gerbang.


Cahya tersenyum menatap pak satpam yang sudah membukakan pintu untuknya.


"Terimakasih, pak." Senyum Cahya tak luntur juga.


Setelah dipersilahkan masuk oleh satpam tadi, Cahya kembali berjalan menuju pintu utama.


Tak terasa Cahya sudah sampai didepan pintu utama. Ia mengetuk pintu tersebut. Sebenarnya ada bel tapi Cahya malah lebih memilih untuk mengetuk pintu.


"Nyonya sudah menunggu Nona di ruang santai." Sambung bibi tadi pada Lisa yang ada dibelakangnya.


"Terimakasih, bi." Ucap Cahya begitu keduanya sudah berada di ruang santai.


"Sama sama, non. Nyonya nona Cahya sudah tiba." Suara itu membuat Irena memalingkan muka kearah sumber suara.


"Cahya, kamu sudah datang nak. Sini duduk dulu." Irena meminta Cahya untuk duduk di sebelahnya.


"Saya permisi pamit, Nya." pamit bibi tadi yang dibalas iya oleh mama Irena.


"Kamu baru pulang sekolah?" Tanyanya begitu melihat Cahya masih memakai seragam sekolahnya itu.


Cahya menganggukkan kepalanya, "Iya ma, tadi sempet foto bareng sama temen temen sekelas, ma."


"Ooh begitu. Maaf ya mama langsung nyuruh kamu kesini. Soalnya tadi pagi Vino sempat marah karena kamu tidak ada di kamarnya. Makanya mama minta tolong sama bibi kamu, buat nyuruh kamu kesini." Penjelasan itu membuat Cahya tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


"Iya tidak apa apa, ma." Cahya masih tersenyum.


"Jadi Vino masih marah sama Cahya ma?" Lanjutnya sambil menatap kearah Irena.


Irena menghela nafas panjang, "Sepertinya dia masih marah, buktinya pas mama nyuruh dia makan siang, Vino hanya berdiam diri dikamar." Sontak saja Cahya terkejut.


"Jadi Vino belum makan, ma?" Pertanyaan itu dibalas angukkan oleh Irena.


"Mama minta tolong bujuk Vino makan ya? Soalnya pagi tadi Vino cuma makan bubur." Irena menampilkan wajah memelas kearah Cahya yang tentu saja membuat Cahya tidak bisa menolak.


Cahya menganggukkan kepalanya, "Iya ma. Cahya bakalan bujuk Vino untuk makan."


Mendengarnya tentu saja membuat Irena tersenyum. "Terimakasih ya nak. Kalau begitu biar mama siapin dulu makannya. Kamu tunggu disini dulu, ya."


Irena berjalan menuju kearah dapur untuk menyiapkan makanan untuk putranya itu. Sedangkan Cahya yang bingung harus apa hanya bisa berdiam diri sambil menatap keseluruh ruangan.


Tapi pandangannya tertuju pada sebuah foto yang ada diatas televisi. Bingkai foto berukuran 10 X 15 meter itu menampilkan sebuah gambar keluarga yang terdiri dari sepasang suami istri dan putra mereka.


Mata Cahya menatap lurus kearah gambar pemuda yang tersenyum menampilkan rectangle smile nya.


"Manis." Tanpa sadar Cahya mengumamkan kata itu begitu matanya menatap foto tadi.


💞🍀💞🍀💞


Hallo Ya


Masih setia baca M.B.B kan?


Dan kalau bisa hargailah suatu cerita, karena sejujurnya menulis itu lebih susah daripada membacanya.


~Terimakasih~


💞💙💞💙

__ADS_1


__ADS_2