
💞M.B.B💞
"Para ibu ibu sekalian. Kalau Anda ingin di hormati seharusnya Anda lebih menghormati orang lain." Perkataan Cahya barusan seperti menyulut api kemarahan ketiga wanita dewasa itu.
"Hei nak, jaga ucapanmu!" Bentak ibu ibu berbaju hijau dengan jari menunjuk kearah Cahya.
Cahya yang melihat hanya tersenyum datar. Sepertinya Cahya sudah bisa menebak kemana ini akan berakhir.
Keributan yang terjadi membuat mata semua orang disana tertuju pada Cahya dan ketiga ibu ibu itu.
Ada rasa penasaran dibenak orang orang kenapa bisa terjadi keributan antara gadis remaja dengan 3 wanita dewasa.
"Apakah Anda sekalian menjaga ucapan kalian?" Tanya Cahya polos, berusaha membuat ketiganya sadar bahwa meraka yang salah disini.
"Kau benar benar tidak punya sopan santun. Apa kau tidak diajari oleh orangtuamu bagaimana cara bersikap sopan pada orang yang lebih tua." Nada bicara ibu berbaju merah terdengar meremehkan di telinga Cahya.
"Palingan sikap kedua orangtuanya tak beda jauh dengan anak ini." Sungguh keterlaluan perkataan ibu berbaju ungu itu membuat Cahya mengepalkan tangannya.
Ia hanya tidak suka kalau ada yang menghina orang tuanya. Biarkan semua orang menghinanya asalkan bukan keluarganya. Apalagi sampai menghina kedua orangtuanya, hal itu sangat sangat menyinggung hatinya.
"Kalau Anda tidak mengenal saya, lebih baik diam daripada Anda hanya berbicara fitnah saja." Cahya berusaha menahan amarahnya.
"Memang benarkan, orangtuamu pasti sudah menyerah menghadapi tingkah anak sepertimu." Wanita berbaju merah kembali bersuara. Kali ini Cahya benar benar berusaha menahan kekesalannya pada ibu ibu itu.
Bisa ia rasakan kalau ada getaran di ujung pakaiannya membuat Cahya menoleh dan menemukan Vino menundukkan kepalanya. Tapi Cahya sadar kalau Vino tengah ketakutan saat ini.
Ia menurunkan amarahnya dan membuang nafasnya kasar. Ia menatap ketiga wanita yang kini menatapnya sinis.
"Benar benar." Desis Cahya sambil menatap ketiganya tajam.
__ADS_1
"Ki..ta pu..lang sa..ja." Gumam Vino dengan terbata bata.
Cahya menghela nafas perlahan. Percuma kalau dirinya masih disini dan meladeni ibu ibu sosialita itu.
"Baiklah. Kita pergi dari sini." Cahya menggenggam tangan Vino untuk mengajaknya pergi. Tapi baru selangkah, ucapan ibu ibu tadi benar benar membuatnya naik darah.
"Cih, lihatlah dia. Dia pikir dia siapa. Dan hahaha kalian lihat dia menggandeng tangan anak idiot itu. Seharusnya sejak awal dia tidak usah membawanya kemari, bikin malu saja." Ketiga tertawa bahagia seolah yang mereka ucapkan itu bukan hal biasa.
Cahya menatap kearah Vino dan bisa ia lihat Vino seperti menahan tangis membuat Cahya benar benar tidak tega.
Padahal tadi ia sudah diamanati untuk menjaga dan membuat Vino bahagia, tapi nyatanya malah Vino semakin down akibat ucapan ibu ibu tak berperasaan itu.
Orang orang yang mendengar perdebatan itu merasa kasihan pada pemuda yang disebut idiot oleh wanita berbaju merah itu.
"Kalian." Desis Cahya yang kelihatannya benar benar marah.
"Tidak bisakah kalian bertiga tidak menghina pacar saya! Apa salah pacar saya sampai anda bertiga tega berbicara seenaknya begitu. Kalian minta saya menghormati kalian?! Tapi kalian bertiga tidak bisa menghormati orang lain. Kalaupun keadaan dia begitu apa peduli anda?!!. Apa kalian orangtuanya sampai anda berani menghina dia seperti itu. Bahkan orangtua kandungnya saja tidak pernah berkata kasar padanya!!" Sentak Cahya tak terima.
Biarkan orang lain mengganggap Cahya tidak sopan pada yang lebih tua. Biar semua menghujat dirinya asalkan bukan orang disekitarnya.
Ia hanya merasa marah dengan omongan ibu ibu tadi tentang Vino. Hanya entah kenapa merasa sesak mendengar hujatan ibu ibu itu terhadap Vino.
Apa mereka tidak berfikir bagaimana perasaan Vino kala mendengar hujatan tentang dirinya.
Apa Vino meminta kondisinya yang seperti ini pada tuhan. Kalau pun boleh pasti dia tidak akan meminta kondisi yang seperti ini.
Plakk
Satu tamparan mendarat mulus di pipi putih milik Cahya. Cahya tak bergeming mungkin dirinya masih syok atas apa yang terjadi padanya.
__ADS_1
"Kau anak kecil, jangan berani berani membentak saya. Kau pikir kau siapa, hah?!" marah si ibu berbaju merah.
Bukannya marah Cahya malah tertawa remeh. "Hahaha, lalu kalian pikir kalian siapa?. Tindakan kalian benar benar tidak mencerminkan seorang ibu. Apa kalian tidak malu, menampar anak orang didepan anak kalian sendiri." Ujar Cahya sambil menatap ketiga anak kecil yang sejak tadi menatap pertengkaran itu dengan sorot ketakutan.
Cahya tak memperdulikan ibu ibu itu. Ia malah melangkah menuju ketiga anak yang kini menatap takut ke arahnya.
Ia tersenyum, tapi kali ini senyum tulus bukan senyum remeh seperti tadi.
💙💜💙
...Mohon Di Baca...
Hallo Ya
Masih setia baca M.B.B kan? Maaf ya karakter Cahya aku buat agak nggak sopan di part ini.
*Pokoknya itu aku cuma mau mengingatkan sedikit aja, kalau nggak suka sama seseorang jangan menghina atau bahkan menghujatnya. Cukup diam daripada ucapan yg keluar malah bikin sakit hati yg mendengarnya. Kalau kalian nggak suka ya Jangan menghujat semau kalian. Kalian bahkan tidak mengenal mereka secara pribadi.
Gimana perasaan kalian kala ada orang yang gk kalian kenal, trus menghujat kalian dengan kata kata yang menyakitkan hati.
Bayangin gimana rasanya!. Kalau nggak bisa bayangin ya jangan lagi berbuat begitu*.
Pokoknya intinya saling menghormati aja lah. Kalau kalian ingin dihormati maka hormati juga orang lain.
____________________________________
Kalau iya, tunggu kelanjutannya di Chapter depan ya😉 dan aku mau ngucapain makasih buat yang udah nyempetin baca dan nge~votment.
Dan kalau bisa hargailah suatu cerita, karena sejujurnya menulis itu lebih susah daripada membacanya.
__ADS_1
~Terimakasih~
💞💙💞💙