
Previous Chapter
"Tidak bisa. Cahya harus pergi denganku malam ini." Tekannya pada kata harus itu. Membuat pandangannya terarah ketiga wanita berada usia itu mengarah pada Bryan.
๐M.B.B๐
Cahya menatap Bryan sekilas sebelum mengalihkan pandangannya. Sedangkan si Risma menatap Bryan bingung dan Rima menatap Bryan aneh.
"Aku mohon ya, Bi. Izinin Cahya keluar sama Rima, sebentar saja Bi." Rima kembali memasang muka melas, yang tentunya membuat Risma tidak tega.
Belum sempat Risma menjawab, suara barito dari Bryan mengalun dari bibirnya.
"Aku ikut!" Tekannya yang tak ingin dibantah.
Cahya mengerti mungkin sebentar lagi emosi Bryan akan meledak kalau ada yang berani membantahnya. Sekilas ia menatap kearah Rima seolah mengatakan 'aku bilang juga apa'. Kemudian ia menatap kearah Bryan.
Flashback On
Saat Cahya masih terkejut dengan kedatangan Vino, karena ia mengira itu Vino bukan Bryan. Tapi sepertinya suara dari luar menyelamatkan suasanan canggung yang terjadi. Buktinya bibi Risma menyadari kalau baik Cahya atau Bryan tidak akan buka suara.
Cahya Pov.
Untung saja suara dari luar terdengar diwaktu yang tepat, membuatku pamit untuk menemui siapa yang tengah bertamu itu, ya walaupun aku tahu betul itu suara siapa.
Jelaslah itu suara Rima.
Begitu tiba diluar aku segera mengeret tangan Rima agar menjauh dari pintu. Rima menatapku bingung. "Hei, kau ini kenapa?" Protesnya begitu aku menarik tangannya menjauh dari pintu.
"Sstt." Desisku agar Rima tidak bersuara. Bukannya menurut, Rima malah bersuara lumayan keras.
"Kau ini kenapa sih, aneh banget."
Cahya yang mendengarnya segera membekas mulut comel Rima, takutnya tamu yang di dalam mendengar ucapan dari Rima itu.
"Sstt, diamlah. Didalam sedang ada tamu." Jelasku tanpa melepaskan bekapan yang ada dimulutnya itu. Melihat Rima yang mulai kehabisan nafas membuat Cahya segera melepaskan bekapannya.
"Huft..me..huft..mangnya..huft..sia..pa..huft..tamunya." ucap Rima dengan nafas menderu.
Aku tak langsung menjawab. Sebenarnya bingung juga mau menjelaskannya bagaimana. "Siapa sih?" Desak Rima yang sepertinya mulai tidak sabar melihatku diam terus.
"Calon tunanganku." Melihat reaksi Risma barusan memang sesuai dengan prediksiku sebelumnya.
Bisa kulihat Rima yang terkejut kemudian ia berseru senang. Memang sebelum datang kemari, Rima sudah menanyakan bagaimana rupa, sikap dan kepribadian dari calon tunanganku ini.
__ADS_1
Mendengar calon tunanganku ada disini tentu saja membuat Rima penasaran.
"Kau nampak senang sekali?" Tanyaku begitu melihat reaksi heboh dari Rima yang kini menatapku dengan jahil.
"Jangan cemburu dong, aku kan hanya ingin melihat bagaimana calon suamimu itu." Godaannya membuatku mendengus.
"Aku tidak cemburu, ya. Kata siapa aku cemburu," Rima menatapku sambil terkekeh pelan.
"Ya sudah, ayo masuk." Rima menggandeng tanganku agar ikut masuk kerumah bibiku. Belum sampai depan pintu, lebih dulu aku menarik tangannya membuat Rima menatapku seolah 'ada apa?'.
Aku memutar bola mataku malas, "Seharusnya aku yang mempersilahkan kau masuk bukan dirimu."
Rima hanya cengegesan begitu mendengar ucapanku barusan.
"Sama saja kan. Intinya masuk kedalam juga, kan." Gemas sekali aku padanya.
"Terserah, tapi sebelumnya ada apa kau kemari?" Aku sedikit bingung dengan kedatangan Rima kali ini.
Tidak biasanya ia menyuruhku untuk berpakaian rapi. Biasanya kalau dia berkunjung kemari, dia tidak mempermasalahkan cara berpakaianku itu.
Rima menatapku seolah aku tersangka teroris. "Kenapa?" Aku jengah juga dengan tatapannya yang seperti itu padaku.
"Kenapa?" Beonya membuatku menaikkan alis bingung.
"Memang ada apa di grup?"
Ku lihat Rima menepuk dahinya lumayan keras. Aku meringis begitu melihatnya.
"Kau ini." Dengan tidak sopannya telunjuknya mengarah tepat ke mukaku. Belum sempat aku protes, dia lebih dulu bersuara membuatku diam mendengarkannya.
"Kita ini mau ke restoran. Disana kita akan mengadakan pesta untukmu. Jadi sekarang kau harus ikut denganku. Dan kau tidak menerima penolakan."
Aku menghela nafas sebentar, sebelum membalas ucapan Rima.
"Baiklah aku ikut, tapi sepertinya si Vino tidak akan mengizinkanku untuk pergi."
"Siapa itu Vino?"
"Orang yang tadi ingin ditemuimu."
"Siapa?"
Mendengarnya membuatku menghela nafas sabar. "Calon tunanganku."
__ADS_1
"Oh, kau tenang saja. Biar aku yang izinkan. Ayo cepat. Kau nggak kasihan sama pak supir GoCar. Dia sudah dari tadi loh ya nungguin kita."
Seketika aku menatap kearah halaman dan benar saja disana ada mobil hitam dan ada juga bapak bapak didalamnya.
"Tapi aku tidak yakin,"
"Sudahlah, kau hanya tinggal diam biar aku yang melakukan." Aku hanya mengangguk saja kemudian tanganku ditarik oleh Rima untuk ikut masuk kedalam.
Flashback Off
Cahya menghela nafas sebentar sebelum menjawabnya. "Baiklah, Kau boleh ikut" Bryan mengulas senyum tipis tanpa disadari oleh 3 orang wanita beda usia itu.
"Kalau begitu, Cahya pamit dulu ya, Bi." Pamitnya kemudian mulai menyalimi tangan bibinya itu. Kemudian ia mencium pipi Ziel yang terkikik geli akibat kecupan itu.
Bryan yang melihatnya menampilkan wajah datar. Dirinya tidak suka melihat pemandangan di depannya itu. Kalau bisa ia ingin mengantikan posisi anak kecil itu.
Kini beralih ke Rima yang ikut menyalami tangan Bibi Risma itu kemudian menoel pipi tembak ponakannya Cahya itu sebelum kembali ketempat semula.
Kini giliran Bryan yang menyalami tangan Bibi Risma kemudian ia menatap datar anak kecil yang berada digendongan Risma sebelum kembali ketempatnya.
Nampaknya si Bryan Cemburu dengan si dede Aziel๐.
Sebelum pergi Cahya mengambil tas selempangnya di kamarnya sebentar, kemudian mulai melangkah pergi diiringi oleh Rima dan Bryan.
Sesampainya di luar, terlihat GoCar yang sudah menunggu karena tadi Rima berangkat dengan GoCar. Sedangkan Bryan tadi membawa motor sport bewarna merah itu.
...Perhatian...
Yang kemarin kemarin udah nyamperin komen tapi belum aku bales, aku minta maaf ya๐. Walaupun begitu aku ttp baca komenan kalian, tapi kadang bingung mau balas apa๐.
Jadi mohon bersabar ya๐
Up๐
Hallo Ya
Masih setia baca M.B.B kan?
Nantikan kehadiran part selanjutnya lagi ya guys๐.
๐Terimakasih๐
๐๐๐
__ADS_1