My Bipolar Boy

My Bipolar Boy
93. Gengsi Tapi Mau


__ADS_3

๐ŸMy Bipolar Boy๐Ÿ


Kini sepasang pengantin baru itu tengah berada di sofa depan TV yang ada di dalam apartemen Bryan. Keduanya sudah makan dan minum tadi, jadi mereka bisa santai mengingat ini juga hari libur sekolah.


Walaupun mulai besok Senin, mereka harus mulai mempersiapkan diri menghadapi pemadatan serta evaluasi untuk ujian akhir mendatang.


Tak terasa keduanya hampir lulus, mungkin hanya menghitung minggu, keduanya bisa lulus dari jenjang Menengah Atas ini.


"Kau sudah belajar, Bryan?" Tanya Cahya kepada Bryan yang kini tengah fokus pada ponselnya itu. Bryan berdehem sebagai jawaban atas pertanyaan Cahya berusan.


Keadaan cukup hening karena Bryan sibuk dengan ponselnya, Cahya sibuk dengan siaran televisi di depannya. Sesekali Cahya tertawa begitu melihat adegan lucu yang ditampilkan di televisi tersebut.


Keduanya benar-benar larut dalam kesibukan masing-masing. Mereka juga ingin menikmati waktu libur mereka sebelum belajar menghadapi ujian akhir nanti.


Dering ponsel Cahya berbunyi, menandakan ada yang menelpon membuat Cahya menoleh sekilas kearah ponselnya itu. Diambilnya ponsel yang tadi ia letakkan di meja dan mulai melihat nama dari sang penelpon.


Marcel


Itulah nama yang terpampang di layar ponsel Cahya. Dan dahi Cahya sedikit mengkerut, begitu tahu siapa sang penelpon tadi. Dia hanya sedikit merasa aneh, kenapa Marcel tiba-tiba meneleponnya. Padahal biasanya jarang sekali, paling-paling hanya sekedar chat.


Karena penasaran, akhirnya Cahya segera mengangkat panggilan tersebut, untuk memastikan ada apa Marcel menelponnya.


Panggilan terhubung.


"Iya, hallo." Sapa Cahya pada sang penelpon.


"Aku mau tanya, apa kau sibuk hari ini?" Tangannya pada Cahya.


Cahya tampak berpikir sejenak sebelum menjawabnya. "Tidak juga, memangnya ada apa?"


"Hari ini ada pertandingan basket dan anak-anak memintaku untuk mengajakmu menonton. Apa kau bisa?"


Cahya tampak menoleh kearah Bryan yang masih sibuk dengan ponsel di tangannya itu. Tapi yang Cahya tidak tahu, kalau sejak bunyi dering telpon tadi, Bryan sudah berusaha untuk mendengarkan pembicaraan Cahya dengan sang penelpon itu.


"Benarkah? Memangnya jam berapa pertandingan dimulai?" Pertanyaan itu mengundang perhatian Bryan yang kini mulai memfokuskan pandangannya kearah sang istri.


"Jam 9 nan." Ucap Marcel di seberang sana.


Cahya melirik sekilas kearah jam di atas televisi. Dilihatnya arah jarum panjang berdetak menuju angka 2, sedangkan yang pendek berada di angka 8.


"Jadi sebentar lagi dong, Cel." Ujar Cahya. Hal itu semakin membuat Bryan memfokuskan pendengarannya, apalagi begitu mendengar sebuah nama diucapkan oleh istrinya itu.


"Iya, makanya, apakah kau bisa datang kemari. Kalau kau bisa, nanti aku akan kirimkan alamatnya."


"Baiklah, akan aku usahakan untuk datang kesana." Balas Cahya pada ajakan Marcel tadi. Tanpa tahu kalau saat ini Marcel tengah mengulas sebuah senyuman di seberang sana.


"Kalau begitu aku tung- ups maksudku kami tunggu disini." Ucap Marcel yang sempat meralat ucapannya tadi.


"Baiklah, terima kasih karena sudah menginformasikan kepadaku. Dan semangat untuk pertandingan nanti." Dukung Cahya sambil tersenyum.


"Iya, pasti. Kalau begitu sampai jumpa disini." Ucapan itu mengakhiri panggilan ini. Tentunya setelah mengucapkan salam, panggilan tersebut pun terputus.


Belum juga Cahya meletakan ponselnya, lebih dulu suara Bryan menginterupsi, "Siapa?" Tanya Bryan pada Cahya. Jujur Bryan merasa penasaran dengan siapa gerangan yang telah menelpon Cahya barusan.


"Oh, ini si Marcel." Mendengar Cahya menyebut nama pemuda lain, tentu saja membuat sisi posesif Bryan mulai muncul.


"Untuk apa dia menelpon pagi pagi begini?" Lagi-lagi pertanyaan bernada menuntut jawaban itu kembali terlontar dari bibir Bryan.


Cahya menaikkan sebelah alisnya begitu mendengar nada bicara Bryan yang tidak seperti sebelumnya.

__ADS_1


Jangan bilang kalau Bryan tengah cemburu.


"Dia hanya memberitahuku bahwa hari ini ada pertandingan basket smaku dulu. Dan semua anak disana menyuruhku untuk datang menonton pertandingan mereka." Jelas Cahya yang tak ingin membuat Bryan salah paham.


"Dan kau akan pergi untuk menemui si Marcel itu." Dengus Bryan membuat Cahya menghela napas sebentar.


"Bukan hanya Marcel, tapi disana ada teman-temanku yang lain terlebih lagi dari tim basket putri cukup juga banyak."


Sejujurnya menjelaskan pada Bryan itu mudah, hanya saja sepertinya suaminya itu menganggap Cahya hanya ingin menemui Marcel saja, padahal mah bukan.


"Memangnya kamu kesana jam berapa?" Cahya memandang Bryan sejenak, "Ini aku mau siap-siap. Soalnya tim Putri akan bertanding jam 9.30 dan ini sudah hampir jam setengah 9."


Belum sempat Cahya beranjak dari posisinya. Lebih dulu suara Bryan menghentikan niatnya itu. "Jadi kau mau meninggalkanku di rumah sendirian hanya demi menonton pertandingan si Marcel itu."


Tuh kan, apa Cahya bilang.


Bryan itu kalau sudah dalam mode seperti ini, akan sudah untuk membujuknya. Cahya menghela nafas panjang. Walaupun sudah beberapa kali menghadapi sosok Bryan yang terlalu posesif padanya itu, tak lantas membuat Cahya mudah untuk menghadapi sikap Bryan yang menurut Cahya agak sedikit berlebihan itu.


"Kalau kau mau, kau boleh ikut." Mendengar ucapan itu membuat Bryan lantas bangkit dari posisinya. "Baiklah aku ikut." Setelah mengatakan hal itu, Bryan langsung berlalu menuju ke kamar untuk mengambi jaketnya.


Cahaya menggeleng pelan. "Bilang aja kalau mau ikut, pakai acara malu tapi mau segala sih." Kekeh Cahya yang membuat Bryan menghentikan langkahnya.


"Aku dengar, ya kalau bilang apa barusan." Seketika Cahya menghentikan kekehannya kemudian menggeleng lucu. Bryan tak memperdulikan, ia kembali melangkah menuju kearah kamar mereka.


Melihat Bryan berlalu pergi membuat Cahya mengikuti langkah sang suami menuju ke kamar mereka. Dirinya juga ingin mengambil beberapa barang untuk ia bawa nanti.


Sebenarnya Cahya ke kamarnya hanya untuk mengambil tas selempang dan juga jaket. Jadi tidak butuh waktu lama untuk dia menemukan benda yang dicarinya itu.


"Sudah selesai bersiap?" Tanya Cahya yang memang menunggu Bryan di ruang santai. Cahya yang melihat Bryan sudah berganti pakaian karena sebelumnya hanya memakai kaos lengan pendek. Sebenarnya Bryan hanya menambahkan jaket saja sebagai pelindung luarnya.


"Ehm." Jawab Bryan hanya sesingkat itu. Setelah memastikan semua benda elektronik tidak terhubung ke stop kontak dan juga memastikan kompor tidak menyala. Kini keduanya berlalu menuju keluar dari apartemen mereka itu.


Lagi pula cuacanya juga cerah, tidak mendung jadi lebih Bryan memilih opsi memakai motor dibandingkan mobil.


Untung saja Cahya memakai celana jadi tidak ada ada adegan Bryan menyampirkan jaket di pinggang Cahya untuk melindungi paha mulus Cahya.


Ingat ini bukan ftv๐Ÿ˜„


Setelah berhasil naik ke motor, Bryan menginstruksi Cahya untuk pegangan. Awalnya Cahya sudah pegangan ke pegangan besi di belakang tubuhnya. Tapi Bryan menyuruh Cahya untuk pegangan di pinggangnya.


Lagi pula mereka sudah sah juga untuk melakukan kontak fisik seperti ini. Jadi sah-sah saja, kan.


"Pegangan." Ujar Bryan kepada Cahya. Dan Cahya pun menuruti hal tersebut.


"Sudah?" Tanyanya karena tak merasa tangan Cahya memeluk pinggangnya itu.


Bryan menoleh kearah Cahya dan dia mendengus begitu melihat Cahya yang memangย  tidak berpegangan padanya.


"Pegangan padaku. Aku akan ngebut, jadi nanti kau bisa jatuh kalau tidak pegangan aku." Ucapan Bryan membuat Cahya menuruti keinginan sang suami. Lagipula menuruti apa kata suami bisa mendapat berkah, kan.


Kini Bryan mulai mengendarai motornya menuju ke lokasi pertandingan basket yang akan mereka tonton itu.


Di perjalanan kali ini pun mereka berdua tidak banyak mengobrol. Bukannya lagi marahan atau apa, tapi karena Bryan memfokuskan pandangannya karena jalanan, sedangkan Cahya sibuk menikmati suasana di pagi hari seperti ini.


Dan lagi kalau bicara di atas motor itu suara kita akan terbawa angin. Biasanya orang cenderung akan teriak-teriak saat bicara kalau sedang dalam perjalanan menggunakan motor.


Untuk itu keduanya hanya mengobrol seperlunya sambil menikmati suasana yang tercipta di antara mereka.


Butuh 25 menit untuk sampai ke lokasi tempat pertandingan. Ternyata lokasi itu adalah sebuah GOR. Dan ternyata sudah banyak penonton yang memadati tempat ini.

__ADS_1


Setelah memarkirkan motornya, keduanya turun dari motor tersebut. "Beneran ini lokasi pertandingannya?" Tanya Bryan begitu turun dari motornya.


"Sepertinya begitu. Soalnya alamat ini yang dikirimkan oleh Marcel." Bryan hanya mengangguk saja, apalagi begitu mendengar nama pemuda lain di sebut oleh sang istri.


Cahya mengedarkan pandangannya untuk memastikan apakah ini memang benar lokasinya atau bukan.


Tak lama, Cahya berteriak memanggil seseorang yang dikenalnya saat orang tadi hendak masuk ke pintu GOR.


"Kimmy." Panggilnya ada sosok gadis yang baru akan melangkah masuk kedalam GOR. Sang gadis tadi menoleh saat merasa namanya dipanggil oleh seseorang.


"Kak Cahya." Balas gadis bernama Kimmy itu.


Cahya langsung menghampiri gadis itu. Begitupun dengan Kimmy yang menghampiri Cahya. Setelah jarak mereka tak kurang dari 1 meter, keduanya langsung berpelukan.


"Kak, Kimmy kangen sama kakak." Ucap Kimmy disela pelukannya.


"Kakak juga kangen sama kamu. Kabar kamu gimana selama ini?" Tanya Cahya pada sosok gadis yang ia anggap sebagai adiknya itu.


Kimmy tersenyum lebar, "Baik sih kak. Cuma Kimmy sering kangen sama kakak." Ekspresi Kimmy mendadak memelas membuat Cahya tertawa pelan.


"Kau ini. Lagipula masih banyak temen-temen yang lain di tim basket. Bukan hanya kakak saja kan."


Kimmy merengut sambil menatap kearah Cahya. "Beda lah, kak." Cahya mengusap pelan surai Kimmy.


"Ngomong-ngomong dimana yang lainnya?"


"Yang lain sedang siap-siap dan mungkin ada beberapa yang belum datang. Makanya aku ini tadinya mau nungguin. Cuma dari tadi belum muncul-muncul juga."


"Ya, sudah. Sekarang kita sama-sama masuk kedalam saja. Sekalian kakak mau ketemu sama yang lainnya." Baru juga ingin melangkah masuk kedalam, sebuah suara deheman yang berasal dari arah belakang tubuhnya membuat kedua gadis tadi menoleh.


Cahya sampai menepuk dahinya begitu sadar kalau dia ke sini tidak orang diri melainkan bersama orang lain.


"Ooh iya, kakak lupa ngenalin seseorang sama kamu, Kim. Kenalin ini Bryan, dia ini..." Belum sempat Cahya menyelesaikan kalimatnya. Ucapannya malah lebih dulu di potong oleh orang yang ingin dikenalkan ke Kimmy.


"Bryan, tunangannya Cahya." Ucap Bryan dengan intonasi datar. Mungkin Bryan mulai kesal karena sejak tadi diabaikan oleh Cahya.


Kimmy menampilkan ekspresi terkejut begitu mendengar perkataan pemuda di samping kak Cahya itu. Dia menatap kearah Cahya dan Bryan bergantian, sebelum kembali menormalkan kondisinya.


"Saya Kimmy, adik kelasnya kak Cahya sekaligus juniornya di tim basket." Sapa Kimmy sambil menyodorkan tangannya berniat berkenalan secara resmi. Dan untungnya di sambut oleh Bryan.


"Ehm." Bryan menganggukan kepalanya sambil melepaskan jabatan tangan itu.


Sejujurnya Kimmy sedikit merasa kikuk, sebab dirinya sungguh terkejut saat mengetahui Cahya sudah memiliki tunangan.


Tunangan Loh, Ya.


Padahal mah sudah nikah, ya๐Ÿ˜„


Kimmy pikir Cahya akan berpacaran dengan ketua basket putra. Tapi apa yang diperkirakannya jauh meleset dari fakta yang ada.


Karena setahunya, dulu Cahya sangat dekat dengan Marcel-sang ketua basket-, entah karena memang memiliki jabatan yang sama yaitu sebagai kapten atau memang keduanya memiliki kedekatan di luar lapangan.


Makanya Kimmy sempet dibuat kaget begitu mendengar fakta yang ada tentang hubungan kedua orang di depannya itu.


Cahya bisa menangkap raut terkejut di wajah Kimmy. Dan sepertinya setelah pertandingan ini, Kimmy pasti akan menanyainya banyak hal.


๐ŸMy Bipolar Boy๐Ÿ


Terimakasih Sudah Berkunjung Sampai Sejauh Ini๐Ÿ˜‡๐Ÿ’ž

__ADS_1


Luv U๐Ÿ’–


__ADS_2