
Bryan menatap ragu pada keberadaan Cahya di dalam kamarnya. Sejujurnya dia cukup bingung kenapa Cahya bisa ada di dalam kamarnya ini. Lagian sejak kapan Cahya tidur di sampingnya ini. Baru saja akan membangunkan Cahya, interupsi dari ambang pintu kamarnya.
"Jangan dibangunkan. Istrimu baru tidur jam 3 pagi tadi. Kasihan dia dari semalam begadang jagain kamu." Ucapan yang Bryan dengar membuat hati Bryan tersentuh. Entah kenapa sejak ingatan tentang Vino muncul di pikirannya, membuat Bryan seakan merasa dekat dengan Cahya.
Walaupun dalam Ingatan itu, Bryan tak bisa melihat sosok yang dipanggil Cahya oleh Vino. Sebab wajahnya nampak samar di penglihatannya. Bahkan Bryan benar - benar merasa bingung akan adanya ingatan itu.
"Mama, kenapa bisa ada disini?" Bryan menatap bingung akan kehadiran mamanya disini. Padahal yang dia tahu, kalau mamanya sedang berada di negara asalnya. Dan Bryan yakin kalau ayahnya juga ikut kemari. Sebab tak mungkin ayahnya membiarkan mamanya ini berpergian jauh sendirian saja.
Irena menatao putra tunggalnya itu dengan senyum di bibirnya. "Mama sebenarnya sudah sejak kemarin disini. Dan baru hari ini bisa nemuin kamu." Irena mendekat kearah ranjang dimana telah terbaring pulas anak mantunya itu.
Dari yang Irena lihat saat ini, dirinya yakin kalau selama Cahya disini hubungan keduanya tidak banyak mengalami perubahan. Buktinya semalam Irena lihat tak ada satupun barang Cahya yang ada di kamar utama. Dan dirinya malah mendapati semua barang Cahya ada di kamar lantai bawah.
Irena merasa sedih akan hubungan yang semula baik - baik saja, kini berubah menjadi tidak baik - baik saja. Apalagi anaknya itu belum mengingat kenangannya bersama sang istri. Lamunan Irena terbuyarkan kalau sebuah tepukan halus dia rasakan di bahu.
Irena menoleh sedikit untuk mrngetahui siapa pelaku penepukan itu. Dan ternyata itu adalah suaminya sendiri. "Kenapa ngalamun, Ma?" Irena menggeleng pelan. "Nggak kok, Mas. Cuma mau nyuruh Bryan sarapan dulu." Sanjaya mengangguk dan kini tatapannya beralih pada putranya ini.
"Ayo sarapan, Son." Bryan mulai beranjak dari atas ranjangnya. Sanjaya dan Irena lebih dulu keluar dari kamar utama, menuju kearah dapur. Setelah turun dari ranjang, Bryan menatap Cahya dengan tatapan rumit. Setelahnya dia berlalu pergi untuk sarapan bersama dengan kedua orangtuanya.
[ # ¥ # ]
Bryan baru mengetahui alasan kedua orang tuanya datang kemari. Selain untuk mengunjunginya dan memastikan keadaannya agar selalu baik - baik saja, keduanya juga bermaksud untuk menjemput Cahya. Sebagaimana yang pernah Cahya katakan, kalau dalam waktu 2 hari lagi, dirinya sudah harus tiba di negaranya.
Tentu saja untuk melanjutkan kuliahnya. Apalagi kini liburan akhir semester sudah hampir usai. Mungkin untuk kedepannya, Bryan akan kembali sendirian di apartemennya ini. Memikirikan hal itu malah membuat Bryan sedikit merasa tak nyaman.
Walaupun Bryan belum merasakan perasaan yang sering dirasakan oleh seorang suami kepada istrinya. Namun ketidak hadiran Cahya nanti, pasti akan sedikit berdampak kepadanya. Suasananya pasti akan sepi, sebab hanya dia seorang yang tinggal di apartemennya ini.
Bryan tengah memperhatikan Cahya yang sedang di make up oleh mamanya. Sebenarnya hari ini merupakan hari pernikahan Marcel dan Nicole. Dan keduanya berniat untuk berangkat bersama. Tentu saja Cahya senang, sang suami berinisiatif untuk berangkat bersamanya, tanpa harus dia kode lebih dulu.
"Sudah selesai. Menantu mama cantik sekali." Irena tersenyum menggoda pada Cahya yang kini wajahnya sedikit merona. "Apa sih, Ma. Ini juga kan berkat bantuan mama yang sudah ngemake up in aku." Irena hanya bisa terkekeh kecil akan kelakuan Cahya yang sedang salah tingkah.
Arah pandangan Irena tertuju pada anaknya hanya diam sambil menatap intens kearah Cahya. "Benarkan apa yang mama bilang, kalau istrimu ini cantik sekali. Iya kan, Bryan?" Tak mendengar adanya jawaban membuat Cahya menolehkan pandangan kearah sang suami.
__ADS_1
Deg
Jantung keduanya berdegup kencang, kala dua pasang mata saling bertatapan. Namun itu hanya berselang beberapa detik, sebelum keduanya berpaling karena rasa malu yang kini mulai menjalar. Irena kembali terkekeh melihat tingkah keduanya yang saling tersipu itu.
"Sudah, tersipunya nanti saja. Sekarang kalian berangkat saja, kalau kelamaan malah jadi kemalaman nantinya."
Bryan berdiri dari posisinya. Benar apa yang mamanya katakan, kalau tidak berangkat juga, nanti malam terlalu malam pulangnya. "Ma, kami berangkat dulu. Mama nggak apa - apa sendiri disini?"
Irena mengangguk pelan. "Kalian jangan khawatir, papamu sedang dalam perjalan kesini. Gih, sana berangkat. Nanti kalau sudah jam 11 kalian mending jangan pulang, ya." Alis keduanya terangkat mendengar ucapan itu.
"Maksud mama apa? Masa kami nggak boleh pulang. Lalu kami harus tidur dimana, Ma?" Irena mengulas senyum disudut bibirnya. "Kalian kan bisa menginap di hotel atau di tempat lain."
Mendengar hal itu membuat telinga Bryan sedikit memerah. Terlebih dia paham akan maksud dalam kalimat mamanya tadi. Tak ingin jadi bahan godaan sang mama, Bryan lebih memilih untuk segera pamit. "Dahlah, Ma. Kami berangkat dulu."
Selepas berpamitan, keduanya mulai berlalu pergi menuju kearah parkiran dimana mobil Bryan berada. Namun setelah sampai di lantai dasar, keduanya bertemu dengan sang ayah. "Kalian mau berangkat sekarang?" Keduanya mengangguk sebai jawaban.
"Kalau begitu kalian hati - hati dijalan, ya. Bryan, tolong jaga istrimu baik - baik." Bryan hanya mengangguk saja. Dia tak ingin membantah apa yang ayahnya bilang, agar keduanya bisa segera pergi ke acara pernikahan itu. Selesai berpamitan, keduanya menuju ketujuan awal mereka yaitu ke parkiran.
[ # ¥ # ]
Bila ditanya tahukah Cahya dimana tempat resepsi pernikahan Marcel dan Nicole. Jawabanya adalah tahu, tapi untuk lokasi tepatnya dia sama sekali tidak tahu. Sebab Cahya belum kenal betul tempat - tempat di benua Australia ini.
Mobil yang di kendarai oleh Bryan telah berhenti melaju. Awalnya Cahya pikir kalau mereka sudah tiba di tempat pernikahan, namun nyatanya malah tiba di depan sebuah rumah yang cukup mewah. "Kita sudah sampai, ya?" tanya Cahya sambil memperhatikan sekitarnya.
Kernyitan mulai muncul kala dirinya hanya melihat sebuah rumah yang terlihat cukup sepi. Tentu saja Cahya bingung, masa acara pernikahan tidak ada orang yang datang. Baru saja akan bertanya, pintu rumah itu terbuka menampilkan sosok wanita yang engan Cahya lihat.
Bryan keluar dari dalam mobil sembari menghampiri wanita itu. Senyum hangat Bryan berikan kepada kekasihnya yang saat ini sangat cantik di matanya. Keduanya saling memberikan kecupan ringan dibibir tanpa menyadari perasaan sakit hati Cahya yang melihat semuanya dari dalam mobil.
Cahya masih menatap lurus pada apa yang suaminya lakukan saat ini. Bahkan Cahya mulai mengabaikan rasa perih dihatinya. Kedua objek yang Cahya pandangi mulai berjalan menuju kearah sisi dimana dia duduk saat ini.
Pintu disisi kirinya mulai dibuka, membuat Cahya kini menatap kearah mereka dengan pandangan bertanya. "Bisakah kau pindah ke belakang. Biar Amertha yang duduk disini." Cahya masih menatap keduanya, namun kali ini ada bayangan tipis di balik sorot mata Cahya.
__ADS_1
"Kenapa harus aku yang pindah? Kenapa bukan dia saja?" Walaupun matanya nampak berkaca - kaca, tapi ekspresi Cahya masih terlihat tenang. Tidak tahu saja, kalau hatinya sedang berperang agar tidak menghajar keduanya disini.
Amertha sama sekali tak buka suara. Dia hanya diam sambil memberikan ekspresi mengejek pada Cahya dari balik punggung Bryan. "Karena dia adalah pacarku. Jadi sudah sewajarnya dia duduk di sampingku."
Tanpa bantahan lagi, Cahya mulai berdiri dari posisinya dan sedikit mendorong bahu Bryan yang menghalangi jalannya. Bryan tak mencegah Cahya yang kini sudah duduk di kursi belakang. Bahkan dari luar dia terlihat biasa saja, seolah tak ambil pusing akan kekesalan Cahya kepadanya.
Namun ada bagian dalam dirinya yang terus merutuki tindakannya yang bersikap abai pada Cahya. Bryan tak mengubris perasan itu. Dirinya mulai mempersilahkan Amertha untuk duduk di sampingnya. Setelah itu ketiganya mulai memuju kearah tempat acara pernikahan berlangsung.
[ # ¥ # ]
Sejak mobil mulai kembali di jalankan, Cahya sama sekali tak buka suara. Lagipula dia telalu malas untuk menyela obrolan sepasang kekasih yang nampak begitu mesra itu. Kenapa dia harus repot - repot ikut menimbrung pada obrolan yang unfaedah baginya.
Tahukah, apa yang tengah mereka bahas di depan Cahya saat ini. Mereka sedang membahas rencana masa depan mereka setelah lulus kuliah nanti. Bahkan Amertha sudah menyusun rencana bulan madu mereka.
"Menikah saja belum, sudah bahas honeymoon." dengus Cahya yang sengaja dia suarakan cukup untuk terdengar oleh keduanya.
Amertha langsung menoleh kebelakang untuk menatap Cahya yang balik menatapnya dengan senyum miring. "Memangnya kenapa kalau aku bahas bulan madu, huh?" Tapi sayangnya ucapan itu tak di tanggapi oleh Cahya.
Darinya terlalu malas menanggapi orang yang tak penting untuknya. Lagian itu hanya buang - buang tenaga saja. Merasa ucapannya tak ditanggapi, membuat Amertha diam - diam mengepalkan kedua tangannya.
"Oh, ya. Bukannya besok kau akan pulang ke tempat asalmu, kan?" Cahya hanya meliriknya sebentar, sebelum kembali memfokuskan pandangan kearah jendela di sampingnya. "Kalau itu benar, aku akan sangat senang, karena si penganggu akan segera pergi." ucapnya dengan aenyum lebar.
Perkataan yang Amertha ucapan secara tak langsung menyindir Cahya aebagai penganggu. Padahal pada kenyataannya dialah yang menjadi penganggu di rumah tangga Cahya dan Bryan.
"Dasar tak tahu diri." batin Cahya sambil melempar tatapan sinis kearah Amertha yang masih tersenyum bahagia di depannya itu.
...[ # ¥ # ]...
...Selamat menunggu part selanjutnya....
...See you [ ^ \= ^ ]...
__ADS_1