My Bipolar Boy

My Bipolar Boy
85. Diprank


__ADS_3

Bukannya dirinya seharusnya senang karena bisa lepas dari Bryan ataupun Vino. Tapi kenapa hanya mendadak sangat sesak begini. Kenapa?


🍁M.B.B🍁


Bryan masih dalam posisi yang sama, yaitu memperhatikan Cahya yang masih larut dalam lamunannya itu. Tapi kemudian tatapan keduanya bertemu. Terlihat jelas kalau mata Cahya nampak berkaca-kaca.


Sebelum dirinya mengeluarkan suaranya, terlebih dahulu suara Cahya yang mengalun ditelinganya itu.


"Baiklah. Kalau itu keputusanmu. Aku tidak bisa menolaknya. Mari kita bersikap saling tidak mengenal mulai sekarang. Kalaupun kita tak sengaja bertemu. Berpura pura lah kita ini orang asing." Perkataan itu membuat mata Bryan melebar begitu mendengarnya.


"Dan terimakasih untuk waktu kebersamaan kita beberapa minggu ini." Cahya tak lagi menatap kearah Bryan. Dirinya hanya menatap lantai dibawahnya. Karena posisinya menunduk membuat setitik air mata jatuh dari matanya. Dan hal itu bisa dengan jelas Bryan lihat.


"Baiklah kalau itu maumu. Aku pergi." Keduanya saling berbalik, Cahya berbalik menghadap pemandangan kota sedangkan Bryan melangkah menjauh dari posisinya saat ini.


Suara langkah kaki yang perlahan mulai menjauh membuat tangis yang sejak tadi ditahan oleh Cahya mengalir keluar begitu saja. Tak jarang isakan kecil keluar dari celah bibir Cahya.


Dirinya sungguh tidak menyangka kalau beginilah akhir dari hubungan mereka. Jujur perkataan Bryan tadi sangat menyakiti hati Cahya. Apalagi berpisahnya hubungan yang baru ingin ia jalankan.


Tak bisakah Bryan mengerti kalau dirinya baru saja membuka hati untuk dia. Kenapa setelah Bryan berhasil membuka pintu hatinya, kini dengan mudahnya ia pergi menjauh darinya. Bagaimana mungkin dia bisa begitu sempurnanya memyakiti hati dan perasaannya itu.


Hiks Hiks Hiks


Isakan itu tak kunjung reda, malah semakin terdengar lebih keras daripada sebelumnya.


"Ke..napa kau be..gitu mu..dah mela..kukan se..suatu Bryan?" Cahya masih sesenggukan saat mengeluarkan perkataan itu.


"Kenapa kau bisa mudah membuatku mencintaimu. Tapi di detik itu juga kau berhasil menyakitiku."


Cahya menepuk pelan dadanya yang terasa begitu menyesakkan. Bolehkah Cahya berteriak sekencang kencangnya? Sesak di hatinya juga tak kunjung reda. Ditambah dinginnya malam yang mulai menusuk tulangnya itu kian menambah penderitaan Cahya saat ini.


Tanpa menyadari seseorang yang berada dibelakangnya mendengar jelas rintisan Cahya tadi. Seseorang itu kemudian berjalan mendekat kearah Cahya dan mulai memeluk tubuh Cahya dari belakang.


Cahya yang merasa ada seseorang yang memeluknya tiba tiba membuat tubuhnya menegang. Tapi setelah mengetahui sosok itu dari wangi parfum yang diciumnya itu membuat tangis Cahya kembali datang.


"Maafkan aku, aku tidak berniat membuatku menangis." Perkataan itu terlontar dari bibir seseorang yang memeluk Cahya tadi. Cahya masih dengan untuk membalikkan badan. Dan sepertinya seseorang itu tahu kalau Cahya masih marah padanya dan juga masih sakit hati dengan tindakannya tadi.


Dihirupnya tubuh Cahya sambil mengucapkan sesuatu. "Kumohon maafkan aku." Cahya tak menjawab perkataan itu. Dirinya masih tenggelam dalam tangisnya yang belum juga mereda.


Seseorang itu kian mengeratkan pelukan sepihaknya karena Cahya masih belum membalas pelukannya sampai saat ini.


Hampir 15 menit hanya diisi keheningan dan suara isak tangis dari Lisa yang perlahan menghilang. Dengan perlahan orang tadi membalikkan tubuh Cahya kearahnya agar dirinya bisa melihat wajah tangis dari gadis di depannya itu.

__ADS_1


Dengan pelan kemari orang itu mengangkat dagu Cahya agar mendongak kearahnya. Kemudian dengan lembut diusapnya bekas air mata yang masih mengalir di sudut mata Cahya.


"Kumohon jangan menangis. Aku tidak suka melihatmu menangis begitu." Masih sama dengan yang tadi. Saat ini pun Cahya masih bergeming dan tidak menanggapi ucapan orang di depannya itu.


"Dengarkan aku bicara. Sebenarnya yang aku ucapkan tadi hanya sandiwara." Mendengar kata terakhir itu membuat saya Cahya mengernyitkan dahinya bingung.


"Apa maksudmu?" Seseorang itu lantas tersenyum manis dan hal itu diakui oleh saya kalau senyuman pemuda di depannya itu memang manis.


"Iya, yang tadi itu aku hanya bercanda. Aku hanya ingin membuktikan sesuatu dan sekarang telah terbukti." Cahya semakin bertambah bingung dibuatnya.


"Bukti apa yang kau maksud?" Seseorang itu tersenyum mendengarnya.


"Terbukti bahwa kau mencintaiku dan tidak ingin kehilanganku. Sekarang aku sudah tenang karena ternyata perasaanku terbalaskan olehmu."


Sungguh saat ini Cahya makin bingung dengan apa yang barusan ia dengar itu. "Jangan berbelit-belit. Aku bingung dengan apa yang sebenarnya ingin kau katakan."


Ada helaan napas dari orang itu begitu melihat raut wajah bingung yang begitu ketara dimuka Cahya saat ini. "Ya bisa dibilang tadi aku mau nge-prank mu dan ternyata itu berhasil."


"Apanya yang berhasil?" Sepertinya 2 orang ini sibuk saling melempar dan menjawab pertanyaan, karena sejak tadi itulah yang dua orang ini lakukan.


"Karena kau percaya bahwa aku akan memutuskanmu dan lihatlah sekarang kau menangis atas perkataanku itu. Pada akhirnya Cahya bisa menangkap apa maksud dari semua ini.


"Jadi itu semua ini bohongan. Kau hanya menipuku dan kau juga sudah membohongiku dengan apa yang tadi kau bilang. Kenapa kau tega sekali denganku. Memangnya aku ada salah padamu." Sungguh sekarang rasanya Cahya begitu kesal dengan apa yang barusan terjadi.


Tak ingin terjebak dalam perangkap untuk kedua kalinya, maka Cahya lantas menimpalinya. "Jangan membual. Apa sekarang kau ingin mengerjaiku lagi?"


Belahan napas yang entah ke berapa kali kini terdengar lagi. "Aku tidak membual. Aku bicara apa adanya."


"Sebenarnya apa yang kau inginkan dariku. Kenapa sejak tadi kau berbelit-belit." Kini sampailah Cahya pada tahapan kesal yang tak terbendungkan.


"Aku hanya ingin bilang satu hal padamu. Kalau aku ingin menjadikanmu istriku, pendamping hidupku, kekasihku seumur hidupku dan juga ibu dari anak-anakku." Perkataan itu tentu membuat Cahya benar-benar syok. Bahkan otaknya mendadak Blank tapi seolah tak ingin terperangkap lagi, Cahya kembali bersuara.


"kali ini pun, kau juga akan mengerjaiku lagi dengan berkata begitu. Jika itu benar, kau sungguh keterlaluan."


"Tidak, aku tidak membohongimu." Orang itu berusaha menyakinkan Cahya untuk mempercayai perkataannya. "Lantas tadi apa? Kau kira aku ini apa? kau dengan mudahnya berbohong dan mengatakan kalau mengerjaiku. Lalu apa aku harus percaya begitu saja denganmu." Ucap Cahya marah.


"Aku tahu kamu kecewa dan marah karena perkataanku tadi. Tapi kali ini aku bener-bener serius. Aku serius ingin melamarmu untuk menjadi istriku. Kumohon jangan pernah menjauh dariku, lari dariku ataupun hidup bersama dengan laki-laki lain. Karena aku tak menyukai hal itu." Tekan orang itu pada setiap perkataannya.


Cahya diam, dirinya terlalu bingung harus percaya atau tidak dengan perkataan orang di hadapannya itu. Dirinya hanya tidak ingin jatuh ke lubang yang sama dengan mempercayai perkataan orang itu.


"Aku tahu kau tidak percaya tapi kali ini aku jujur." Dengan perlahan orang itu mengeluarkan sebuah kotak dari saku celananya. Kotak itu memang tidak terlalu besar tapi begitu membukanya sebuah Kalung berliontin bertuliskan nama mereka menggantung indah di kalung tersebut.

__ADS_1


"Kali ini kau harus percaya padaku. Aku benar-benar jujur mengatakannya, jadi kuharap kau percaya dengan perkataan ku kali ini." Ucap orang itu yang tak lain adalah Bryan sambil menyerahkan kalung tersebut kearah Cahya.


Dirinya berjalan mendekati Cahya, karena memang dirinya berniat memakaikan kalung tersebut di leher jenjang Cahya. Cahya masih Blank untuk menyadari kalau Bryan semakin mendekat ke arahnya untuk memasangkan kalung tersebut. Barulah ia sadar ketika suatu benda yang agak dingin menempel di lehernya.


Dipandanginya sejenak kalung itu sebelum dirinya menatap kearah sang pemberi. "Kau benar-benar serius. Kali ini kau tidak mengerjaiku, kan?


Bryan tersenyum sebelum menjawabnya, "Iya, aku serius. Aku jujur, sangat sangat jujur padamu."


"Benarkah?" sejujurnya masih ada setitik keraguan dibenak Cahya. Tapi dirinya coba tepis. "Iya, calon ibu dari anak-anakku." Jawaban Bryan terdengar sungguh sungguh di telinga Cahya. Perlahan lelehan air mata yang tadi sempat berhenti, sekarang muncul kembali.


Cahya tidak menyangka kalau Bryan akan melamarnya dengan hal tak terduga dan tak pernah ia sangka sebelumnya. "Kenapa kau menangis? Kau tidak bahagia? Apa kau tidak senang dengan apa yang barusan aku bilang?" Jelas Bryan mempertanyakan hal itu karena dia melihat sendiri Cahya menangis karena mendengar pengakuannya.


"Bukan begitu, Aku hanya tidak menyangka kau akan mengatakan hal seperti ini padaku." Bryan tersenyum manis. "Jangan bilang kau senangkan aku bilang begitu padamu." Cahya mengangguk pelan, dirinya juga merasa malu dan gugup karena terus dipandangi oleh Bryan. Dan ia sangat yakin kalau matanya akan sembab karena sejak tadi dirinya tak berhenti menangis.


Tanpa aba-aba Bryan langsung memeluk tubuh Cahya dan kali ini Cahya membalasnya. "Aku bahagia karena kau mau menerima lamaranku."


Cahya berniat mengerjai balik, "Siapa juga yang menerima lamaranmu." Mendengar hal itu membuat Bryan melepaskan pelukan mereka.


"Jadi kau tidak menerima lamaranku?" Ada sedikit nada terkejut dari ucapan Bryan tadi. "Siapa bilang aku menolak, Aku kan tidak bilang begitu." Cahya mencoba menahan senyumnya begitu melihat raut wajah bingung Bryan.


"Jadi kau mengiyakan atau menolak?" "Tentu saja, iya." Jawab Cahya dengan malu-malu. Mendengar hal itu tentu membuat Bryan tambah bahagia dan langsung memeluk tubuh ramping Cahya.


"Kau tahu hari ini adalah hari yang menggembirakan karena kau sebentar lagi akan jadi istriku. Jadi aku sangat bahagia malam ini." Senyum keduanya tak bisa disembunyikan oleh mereka.


"Aku pun juga sama denganmu." Jawab Cahya dengan tersenyum kearah pemuda di depannya itu.


Waktu pun bergulir begitu cepat. Setelah makan malam, Bryan dan Cahya memutuskan untuk kembali ke kamar hotel mereka. Harusnya mereka sudah dalam perjalanan pulang. Tapi hujan turun dengan deras mengguyur area hotel ini. Jadi daripada terjadi sesuatu dijalan, lebih baik mereka menginap semalam disini.


Mereka berdua tidak ingin mengambil resiko dengan memaksakan pulang dalam kondisi hujan lebat disertai petir yang terus menyambar itu.


Jadi daripada membuat mereka celaka, lebih baik mereka berdiam diri di hotel ini. Toh juga mereka telah memesan kamar hotel. Bukan mereka sih lebih tepatnya hanya Bryan yang memesan sebuah kamar.


************M.B.B**********


...Perhatian Harap Dibaca...


**Kalian masih setia baca M.B.B kan? Nantikan kehadiran part selanjutnya lagi ya guys😉. Please jangan Copas ya. Tolong hargai usaha saya dalam membuat cerita ini😊. Usahakan untuk memberi Vote, ya.


Selamat Tahun Baru 2020. Semoga kedepannya bisa lebih baik tahun tahun sebelumnya, Aamiin😍**.


🍁Terimakasih Semuanya🍁

__ADS_1


😍😇😍


__ADS_2