My Bipolar Boy

My Bipolar Boy
73. Berantem


__ADS_3

🍃 M.B.B🍃


Setibanya disana, ia melihat banyak orang mengerumuni pintu masuk kelasnya Vino. Cahya makin khawatir terjadi apa apa dengan Vino, bagaimanapun ia sangat peduli dengan Vino.


Banyak bisik bisik dari kerumunan yang membicarakan peristiwa yang terjadi didalam kelas itu tanpa ada niatan untuk melerai apa yang sedang terjadi.


Bahkan suara baku hantam terdengar oleh Cahya yang berada diluar kelas. Namun sayang ia tidak dapat melihat kedalam karena terhalang oleh siswa-siswi yang memenuhi pintu, sehingga menyulitkan bagi Cahya untuk masuk kedalam.


Ia menepuk bahu seorang siswa di depannya itu.


"Apa yang terjadi?" Tanya Cahya pada siswa tersebut.


"Raka dan Vino berantem didalem." Perkataan siswa tersebut membuat Cahya terkejut. Bahkan dia terdiam selama 3 detik. Otaknya sedang mencoba memproses apa yang baru saja didengarnya itu.


"Maksudmu, Bryan Giovino Wirautama itu?" Perkataan dari Cahya itu mendapat anggukan dari siswa tersebut.


Segera saja Cahya menerobos kerumunan di depannya itu, mengabaikan umpatan yang ditunjukan padanya itu. Begitu masuk dapat ia lihat 3 orang yang berada didepan papan tulis dimana terdiri dari 2 laki-laki dan 1 perempuan yang mana salah satunya adalah Vino.


Mata Cahya terbelalak lebar melihat kekacauan yang terjadi didalam kelas, dimana bangku dan meja berantakan tidak seperti biasanya.


Bukan itu yang menjadi fokus Cahya, tapi 2 orang yang sedang baku hantamlah yang jadi target kefokusannya.


"Vino!" teriak Cahya agar keduanya berhenti berkelahi.


Tapi sepertinya teriakan itu tak berpengaruh apa apa.


Segera saja Cahya menghampiri perempuan yang ada di dekat perkelahian itu yang tak lain adalah Dinda.


"Apa yang terjadi?" Tanya Cahya sambil membalikkan tubuh Dinda untuk menghadap ke arahnya.


Tampak ketakutan dimata Dinda melihat apa yang tengah terjadi dan itu tertangkap jelas dimata Cahya.


"Apa yang terjadi, Dinda!" Ulang Cahya sambil menaikkan oktaf suaranya.


"A...ku ti...dak tau, tiba...tiba Bryan seperti ini." jelas Dinda sambil terbata bata. Cahya menangkap jelas nama yang baru saja diucapkan oleh Dinda membuat Cahya terkejut.


"Barusan kau panggil Vino dengan apa?" Tanya Cahya yang belum sepenuhnya sadar dari terkejutnya itu.


"Tadi aku memanggil Bryan, aku berniat menjelaskan semuanya. Dan juga untuk memperbaiki hubunganku dengan Bryan, tapi tiba tiba Raka datang terus dia juga memanggil Bryan untuk menyelesaikan masalah yang terjadi sebelumnya." jawab Dinda sambil menatap kearah Raka dan Vino dengan mata berkaca kaca.


"Begitu Raka bicara, Vino langsung memukul Raka. Dan terjadilah perkelahian ini." ucap Dinda sambil menangis.


Cahya sudah mengerti apa yang tengah terjadi dan ia kembali menatap kearah Raka dan Vino yang tak menyudahi perkelahian ini.


"Kalau dibiarkan seperti ini, keduanya bisa mati." batin Cahya.


Cahyapun melangkah menuju 2 orang itu tanpa melepaskan pandangannya itu. Banyak siswa yang menatap kearah Cahya terkejut.


Pasalnya, tidak ada yang berani memisahkan keduanya. Mereka takut terjadi apa apa pada diri mereka masing masing.


Bisikan larangan untuk mendekat mulai terdengar, namun cahya mengabaikan hal tersebut. Ia tetap melanjutkan langkah mendekati Raka dan Vino.


"Vino berhenti!" Teriak Cahya.


Tapi keduanya tak berhenti. Dapat Cahya lihat wajah raka yang babak belur. Melihat itu membuat Cahya meringis membayangkan betapa sakitnya bekas pukulan itu.


Wajah Vino pun tak jauh berbeda, hanya saja memarnya lebih sedikit dibandingkan dengan Raka.


"Vino berhenti!!" Teriak Cahya sekali lagi. Namun lagi lagi tak ada respon dari keduanya membuat Cahya semakin khawatir apabila ini terus berlanjut.

__ADS_1


Segera saja Cahya menarik lengan Vino untuk menjauhkan mereka berdua. Namun naas, Raka yang pada saat itu ingin membalas pukulan dari Vino itupun tak sempat menghentikan laju kepalannya, begitu melihat posisi cahya yang berada di depannya itu hingga pukulan itu mengenainya dan menimbulkan suara yang sedikit nyaring.


Bahkan siswa dan siswi yang melihatnya pun bergidik ngeri dan ada juga yang meringis nyeri membayangkan wajah mereka yang terkena pukulan itu.


Brukk


Cahyapun jatuh terduduk akibat pukulan itu, tak dapat ditahan ringisan keluar begitu saja dari mulutnya begitu merasa pipi kirinya terkena pukulan tersebut.


Raka terdiam ditempat dan tubuhnya seketika langsung kaku. Padahal ia tak ada niat untuk memukul cahya.


Vino yang melihatnya pun mengeraskan rahangnya pertanda bahwa ia benar benar marah.


"KAU!!" Bentak Bryan sambil menerjang tubuh raka yang masih kaku itu.


Bug


Bug


Bug


"Vino hentikan, tolong kamu kontrol emosi kamu!!!" Lerai Cahya sambil mendekati Bryan yang berada di atas tubuh Raka yang sudah tak berdaya.


"Giovino Wirautama!!" Panggil Cahya pada vino tanpa memanggil nama depannya itu membuat Bryan seketika menghentikan tangannya yang hampir mengenai wajah babak belur raka itu.


Melihat Bryan yang terdiam, membuat Cahya segera berjalan mendekati Bryan dan menarik tangannya agar menjauh dari Raka. Setelah menjauh beberapa meter, segera cahya memanggil Dinda.


"Tolong bawa dia ke uks, Din"


Mendengar hal tersebut, Dinda yang sedari tadi hanya menonton sambil menangis itu segera memapah Raka ke uks agar mendapatkan pertolongan.


Semua anak yang melihatnya pun segera memberi jalan pada mereka berdua.


"Bubar Sekarang juga!!" Bentaknya tanpa menoleh kearah para siswa, sedangkan para siswa yang mendengarnya pun segera membubarkan diri.


Walaupun dalam diri mereka masih menyimpan rasa penasaran akan apa yang terjadi selanjutnya. Tapi mereka lebih memilih bubar daripada berurusan dengan Bryan sang anak pemilik sekolah ini.


Setelah semuanya pergi, Cahya mendongak menatap kearah Bryan yang kini juga tengah menatapnya itu.


"Wajahmu, Vin" ucap Cahya sambil memegang muka Vino yang babak belur itu. Sedangkan Bryan masih setia menatap kearah Cahya tanpa mengalihkan pandangannya kearah lain.


"Sakit?" Pertanyaan retoris yang ditujukan pada Bryan walaupun Cahya sendiripun sudah tau jawabannya.


Bryan tak menjawab pertanyaan tersebut, ia hanya terus menatap kearah Cahya, sedangkan yang ditatap pun mengernyitkan dahinya.


"Kenapa kau menatapku seperti itu? Apa ada yang salah," ucap Cahya sambil sedikit meringis merasakan efek yang mulai terasa di pipinya itu. Tak ada jawaban dari Bryan membuat Cahya menghela nafas panjang.


"Baiklah kita pulang ya, kita obati dulu lukamu itu." Terang Cahya pada Vino.


Cahyapun mengajak Bryan untuk berdiri namun Bryan malah menarik tangan Cahya mengakibatkan Cahya kembali terduduk disebelahnya.


"Maaf," ucap Bryan lirih.


Cahya yang mendengarnya pun bingung.


"Kenapa minta maaf padaku?" Tanya Cahya tak mengerti.


Bukannya menjawab, Bryan malah memeluk Cahya erat membuat Cahya kesulitan bernafas.


Deg

__ADS_1


Deg


Deg


Detakan jantung Cahya rasa makin menggila begitu saja membuat wajahnya memerah tanpa diminta.


"Ku harap dia tidak mendengarnya." Batin Cahya yang coba mengontrol nafasnya itu.


"Kau kenapa, Vino?"


"Aku minta maaf." Jawaban itu membuat Cahya terkejut.


"Bryan" ucap Cahya lirih.


"Maafkan aku," ucapnya begitu lirih.


"Ternyata bukan Vino." batin Cahya.


Cahya mengurai pelukan itu, membuat Bryan lagi lagi menatap kearah Cahya secara intens.


"Tidak perlu minta maaf" lanjut Cahya sambil tersenyum.


"Tapi..." Belum selesai ucapan dari Bryan itu, Cahya terlebih dahulu sudah memotongnya.


"Sudahlah, jangan dipikirkan. Lebih baik kita pulang, ya" Setelah mengatakan itu, Cahya kembali menarik tangan Bryan dan menuntunnya kearah parkiran.


*Kenapa tidak dibawa ke Uks saja? Karena tidak mungkin Cahya mau melihat perkelahian itu terulang lagi di Uks. Kalau dibawa kesana yang ada Raka Dan Bryan berantem lagi.


Sesampainya di parkiran, ia melihat mobil keluarga Vino tak jauh dari posisinya saat ini berada. Sedangkan sopir keluarga Vino yang melihatnya tuannya sedang dipapah oleh Cahya itupun segera menghampirinya.


"Tuan tidak apa apa?" Pertanyaan itu tak mendapat respon apa apa dari Bryan.


"Tidak apa apa, mang. Ohh iya mang di mobil ada kotak p3k tidak?" Jawab Cahya sambil menanyakan kotak p3k itu pada sang supir keluarga Wirautama itu.


"Tidak ada non." jawab sang supir.


"Kalau ketemu apotik, mampir sebentar ya mang. Cahya mau beli kotak obat dulu"


"Baiklah Non."


.


.


.


...Perhatian...


Aduh si Cahya kena pukul. Sakit pasti itu mah😲. Vino kemana, ya? Dari kemarin gk muncul², pada kangen Vino nggak sih?


Tapi


Masih setia baca M.B.B kan?


Nantikan kehadiran part selanjutnya lagi ya guys😉. Please jangan Copas ya. Tolong hargai usaha saya dalam membuat cerita ini Budayakan vote setelah selesai baca, ya😊


🍁Terimakasih🍁


😍😇😍

__ADS_1


__ADS_2