My Bipolar Boy

My Bipolar Boy
Menyerahkah?


__ADS_3

Ekspektasi yang sebelumnya Cahya bayangkan adalah dirinya bergandengan tangan dengan Bryan sambil menuju kearah kedua mempelai. Namun yang terjadi malah dirinya yang berada si belakang Bryan dan Amertha yang kini sudah bergandengan tangan menuju ke tempat pelaminan.


Dalam hati, Cahya bergumam miris akan apa yang dia hadapi. Kalau boleh jujur, dia lebih tepatnya kesal pada Bryan bukannya cemburu ataupun sakit hati. Rasanya dia ingin memukul sekeras mungkin kepala Bryan, agar dia sadar siapa yang seharusnya dia gandeng.


Sayangnya, Cahya tak setega itu melukai sang suami yang tak lagi ingat akan istrinya sendiri. Cahya mendengus kesal begitu melihat keduanya tanpa tau malu mulai bermesraan di muka umum.


Beberapa kali Cahya menghela napas kasar. Tatapannya penuh akan rasa kesal, tapi coba dia buang karena dirinya masih ingat dimana dirinya berada saat ini.


Arah pandangan Cahya tertuju pada meja yang berisi kue - kue cantik yang membuat matanya berbinar. Tanpa bisa di cegah, dirinya segera menuju kesana. Begitu sampai, Cahya sudah dibuat tergiur akan aroma manis yang menguar dari kue - kue itu.


Diambilnya satu kue cantik yang menarik perhatiannya sejak awal. "Ini bisa dimakan, kan?" tanyanya pada dirinya sendiri. Baru akan mencapai mulutnya, Cahya mulai menjauhkan kue itu dati mulutnya. "Tapi sayang kalau di makan."


Ekspresi Cahya terlihat mengemaskan. Bahkan sepasang mata nampak menatap intens ke arahnya. Senyumnya nampak naik, kala melihat Cahya yang pada akhirnya tetap memakan kue itu sambil tersenyum bahagia.


Cahya yang merasa di perhatiankan pun, mulai menatap sekitarnya dengan waspada. Dia bukannya kegeeran, tapi dia hanya merasa ada orang yang mengawasi gerak - geriknya.


Namun saat dia memindai keadaan sekitarnya, tak ada yang mencurigakan. Semuanya tengah melakukan aktivitas mereka masing - masing. "Mungkin hanya perasaanku saja kali, ya?" Cahya tak lagi memikirkan hal itu, karena arah pandangannya kembali tertuju pada kue - kue yang sebentar lagi pindah ke perutnya.


Sedangkan orang tadi mulai menghela napas syukur, karena tidak ketahuan oleh Cahya. "Syukurlah, nggak ketahuan."


[ # ¥ # ]


Selepas menikmati hidangan yang tersaji, Cahya menuju kearah kedua mempelai yang nampak sangat bahagia itu. Nicole yang pertama kali menyadari kehadiran Cahya pun berseru senang. "Akhirnya kau datang juga."


Cahya tersenyum lembut sambil mengucapkan selamat kepada keduanya. "Selamat menempuh hidup baru ya, Kak. Semoga kalian terus bahagia, segera di beri momongan dan selalu bersama sampai maut memisahkan."


Nicole dan Marcel tersenyum atas doa yang Cahya berikan kepada mereka. "Terimakasih atas doanya. Dan semoga doa baik yang kau berikan pada kami, bisa berimbas juga pada pernikahanmu."


Cahya sedikit tercenung atas apa yang Marcel ucapkan. Dia paham apa yang Marcel maksud. Bukannya itu artinya Marcel dan Nicole mendoakan pernikahan agar selalu bahagia bahkan sampai maut memisahkan. Dalam hati Cahya mengamini doa baik itu.


"Terimakasih juga doanya." balas Cahya sambil tersenyum lembut. Nicole menatapnya dengan pandangan miris. Tidak ada dalam bayangannya, kalau dia menjalani hidup seperti Cahya.


Dilupakan oleh suaminya sendiri dan di selingkuhi tepat di depan matanya. Nicole pasti tak akan sanggup membayangkan akan sehancur apa hati dan hidupnya, kalau hal itu terjadi kepadanya.


Direngkuhnya tubuh Cahya yang tak menolak pelukan mereka itu. Suara isakan pelan terdengar di sela pelukan itu. "Hei, kenapa kau malah menangis? Seorang mempelai nggak boleh menangis dihari bahagianya."

__ADS_1


Cahya perlahan mengurai pelukan mereka, dirinya tersenyum haru begitu melihat tatapan yang Nicole berikan kepadanya. "Jangan menangis, nanti riasannya jadi jelek loh." Dari nada bicaranya saja, Cahya hanya berniat bercanda dan mengalihkan suasana saja.


Untunglah airmata Nicole tak membuat riasannya berantakan. "Walaupun kita baru kenal, tapi aku yakin gadis baik sepertimu akan selalu bahagia." Cahya hanya terus tulus. "Begitupun dengan dirimu." balasnya sambil menatap Nicole.


"Ooh, ya Kak. Aku cuma mau ngasih tahu, kalau besok aku akan pulang ke Indo."


Nicole dan Marcel menatap kaget pada Cahya. "Kok cepet banget? Padahal kita baru ketemu sebentar saja. Tidakkah bisa kau tunda kepulanganmu itu?" Cahya menggeleng pelan. "Tidak bisa, aku harus kembali untuk menyelesaikan kuliahku."


Raut wajah Nicole nampak sedikit sedih. Padahal dia berniat mengajak Cahya jalan - jalan setelah dia menikah dengan Marcel. Melihat raut sedih sang istri membuat Marcel merangkul bahunya hangat. "Nanti kan kita masih bisa bertemu saat pulang kerumahku. Jangan sedih begitu, ya." hibur Marcel yang tak ingin istrinya bersedih.


Nicole hanya mengangguk pelan, sedangkan Cahya hanya memberikan senyum kikuk pada pasangan baru ini. Seakan ingat sesuatu, Cahya mulai memberikan hadiah untuk pasangan di depannya ini. "Ini untuk kado pernikahan kalian. Semoga kalian suka, ya."


Nicole tersenyum sambil mengucapkan terimakasih pada Cahya. Namun acara ketiganya sedikit terganggu lantaran kedatangan sepasang kekasih yang membuat suasana tak sebagus yang tadi.


"Selamat menempuh hidup baru." ucap si cewek yang tak lain adalah Amertha. Sedangkan Bryan hanya memberikan senyum singkat. Cahya perlahan bergeser, memberi ruang pada kedua orang ini. "Ini kado dari kami." Amertha menyodorkan sekotak kado kearah Nicole dan Marcel.


"Terimakasih, seharusnya nggak perlu repot - repot." Bila di perhatikan, nampak raut wajah Nicole sedikit berubah masam. Amertha masih tersenyum, dirinya sedikit melirik kearah Cahya yang hanya diam saja.


"Nggak repot, kok. Lagian aku nyarinya juga sama Bryan." Cahya sedikit melirik kearah keduanya, dalam hati dia merasa sedih, sebab dirinya merasa waktunya dengan sang suami tak lagi sebanyak dulu. Mereka sekarang ini tak lebih dari dua orang yang saling berbagi tempat tinggal.


Seperti Amertha sengaja melukai hati Cahya dengan mengatakan hal itu di depannya. Tak cukupkah saat di mobil tadi. Dan kenapa juga dia membahas hal itu di depan orang lain. Baik Nicole maupun Marcel cukup kaget dengan apa yang Amertha ucapkan.


"Maksudmu, kalian berdua akan menikah begitu?" Amertha mengangguk semangat sambil memeluk erat lengan Bryan. "Benarkan, sayang?" Bryan hanya mengangguk. Entah kenapa mulutnya seperti terkunci rapat, seolah tak ingin mengiyakan apa yang Amertha tanyakan tadi.


Diliriknya sosok perempuan yang tadi berangkat bersamanya. Dilihatnya sekarang perempuan itu menunduk dan perasaannya berubah menjadi tak nyaman kala matanya bertatatapan dengan sepasang mata yang menatapnya dengan berkaca - kaca.


"Sebaiknya aku turun dulu, ya. Lihat sudah banyak yang antri." Cahya menatap beberapa orang yang sudah naik ke tempatnya berada. "Kalian berbahagia selalu, ya. Kalau ada waktu, tentu kalian bisa menemuiku." Sebelum turun, Cahya kembali memeluk Nicole dan Marcel.


Keduanya memberikan semangat untuknya yang membuat Cahya merasa di perhatikan. Selepas dia turun dari panggung, dirinya berjalan menuju pintu utama. Mungkin dia akan menunggu Bryan dan Amertha di dekat mobil saja. Sekalian dia perlu sedikit ruang untuk sendiri.


[ # ¥ # ]


Kini kedua orang berbeda gender tengah berjalan menuju sebuah lorong hotel. Dan tibalah mereka di depan pintu kamar bernomor 123. Setelah di buka, si cowok mempersilahkan si cewek untuk masuk lebih dulu. Begitu masuk, dilihatnya sebuah ranjang yang cukup besar, selain itu juga ada beberapa sofa dan kamar mandi.


"Ranjangnya hanya ada satu." ucap si cowok yang tak lain adalah si Bryan. Cahya hanya sekilas mengangguk, bahkan tanpa di beritahu pun dia juga bisa melihatnya. "Lalu gimana? Mau tidur bersama atau berpisah?"

__ADS_1


Bryan langsung menatap kearah Cahya, begitu ide tersebut Cahya cetuskan. Menyadari akan kata - katanya yang bersifat ambigu, Cahya langsung meralatnya. "Maksudku, berbagi ranjang. Hanya sebatas itu saja, tidak lebih."


Walaupun keduanya sudah sah dalam mata hukum dan agama. Namun dalan kondisi Bryan yang seperti ini, tak mungkin dia ingat kalau Cahya itu sudah halal baginya. Opsi berbagi ranjang, akan terdengar aneh di telinga Bryan saat Cahya yang mengatakannya.


Bryan nampak menimbang ide tersebut. Lagian tak ada salahnya mereka saling berbagi ranjang. Toh mereka juga tak melakukan hal yang dilarang. "Baiklah, opsi pertama baik juga untuk di lalukan."


Cahya sedikit mengulas senyum saat tahu kalau suaminya itu mau satu ranjang dengan dirinya.


Sedikitnya itu bisa mengurangi mood buruknya, karena kelakuan Amertha tadi. Gimana nggak kesal, kalau Amertha kekeh untuk ikut menginap di hotel. Padahal rencana tidur di hotel, sudah di susun dengan baik oleh ibu mertuanya. Untung saja, Bryan bisa menyakinkan Amertha agar tidak ikut dengan mereka.


Keadaan mendadak jadi canggung bagi


keduanya, saat mereka mulai naik keatas ranjang. Posisi keduanya saling memunggungi, tapi mata keduanya belum terpejam. Hingga dering ponsel dari Bryan memecah keheningan diantara mereka.


Cahya sedikit melirik kearah Bryan yang sedang dalam posisi setengah duduk sambil mengangkat telepon. Cahya akhirnya merubah posisinya menjadi telentang, arah tatapannya berpusat pada Bryan.


Cukup lama Bryan menelpon, hingga ponsel yang semula berada ditangan Bryan, kini berpindah keatas nakas. "Kau belum tidur?" tanyanya retoris.


"Siapa yang menelpon?" Sejenak Bryan menatap kearah Cahya yang masih menatapnya intens. Bryan sendiri cukup ragu untuk mengatakan yang sebenarnya. Melihat diamnya Bryan, membuat Cahya bisa menebak siapa yang telah menelpon Bryan malam - malam begitu.


"Dari Amertha, ya?" Pertanyaan itu tak mendapatkan jawaban sama sekali. "Dia bilang apa sama kamu? Apa dia juga mengancammu agar tak dekat - dekat denganku?" Bryan masih menutup rapat mulutnya, Cahya hanya bisa menghela napas berat.


Cahya membalik posisinya jadi menghadap ke kanan. Posisi yang sama seperti sebelumnya, sebelum dering ponsel Bryan berbunyi. "Lupakan apa yang tadi aku tanyakan. Toh itu juga tak penting untukku." Posisi Cahya saat ini jadi memunggungi Bryan.


"Sebaiknya kau tidur, besok pagi bukannya kau dan pacarmu itu mau pergi kencan. Kalau kau sampai telat jemput, pacarmu itu pasti akan menuduhku yang macam - macam seperti tadi."


Bryan hanya diam sambil pikirannya mulai berkelana entah kemana. Dibaringkannya badannya yang terasa sangat lelah. Padahal dirinya tak melakukan hal yang berat seharian ini. Ditatapnya sejenak punggung Cahya. Ada perasaan bersalah dalam hatinya untuk Cahya. Dan Bryan sedang mencari alasan kenapa perasaan itu muncul untuk Cahya yang dianggapnya orang lain di hidupnya itu.


"Sebenarnya kau itu siapa? Kenapa ingatan ini muncul dan seolah tak asing dengan dirimu?" Cahya jelas mendengar ucapan itu. Tapi dia memilih untuk diam saja, menunggu ucapan Bryan selanjutnya. Namun yang di tunggunya tak kunjung tiba.


Cahya menghela napas pelan. Dalam hatinya terus bergumam, 'Tidak bolehkah dia merasa lelah atas pernikahan ini? Kalaupun pada akhirnya tak berakhir baik, setidaknya jangan sampai mereka jadi saling membenci'. Itulah yang Cahya pikirkan saat ini. Lelah memikirkannya membuat Cahya terlelap dalam tidurnya.


...[ # ¥ # ]...


...Terimakasih sudah membaca sampai sini, ya :-)....

__ADS_1


__ADS_2