My Bipolar Boy

My Bipolar Boy
Pertemuan di Restoran


__ADS_3

Cahya yang semula berbaring di atas ranjangnya, mulai berpindah posisi menjadi sedikit miring. Namun tak sampai 2 menit, Cahya kembali merubah posisi tidurnya. Lelah dengan posisi yang itu - itu terus, Cahya lantas bangkit dan memposisikan diri menjadi duduk di atas ranjang.


"Gimana bisa tidur, kalau masih gelisah gini." Sebenarnya Cahya sedang gelisah memikirkan hubungan rumah tangganya ini kedepannya akan seperti apa.


Mengingat, Bryan masih belum mengingatnya sebagai istrinya. Apa yang harus Cahya lakukan? Ditambah lagi kurang dari 5 hari, dia harus kembali ke negaranya untuk melanjutkan kuliahnya.


Waktu yang terasa sangat singkat, namun Cahya masih belum memikirkan cara yang tepat, agar Bryan ingat padanya. Kalau memaksa Bryan untuk mengingatnya, nanti yang ada malah Bryan makin menjauh dan mengira Cahya hanya terobsesi padanya.


Ditengah kekalutannya, ponsel Cahya berdering membuat si empunya mulai mengambil ponselnya itu. Dilihatnya nama yang tertera di ponsel itu. Jelas itu bukan nama yang asing bagi Cahya sendiri. Diangkatnya panggilan itu, karena mungkin saja orang yang di sebrang sana ingin menyampaikan info penting.


"Halo. Ada apa, Kak?" tanyanya pada si penelepon.


"Bisakah kita bertemu sebentar saja. Ada yang ingin aku bicarakan padamu." ujar si penelepon yang nampak di pertimbangkan oleh Cahya. Setelah berpikir, akhirnya Cahya mengiyakan ajakan orang itu. Merasa cukup dengan apa yang ingin disampaikan, si penelpon mulai memutuskan panggilan itu.


Cahya menatap sejenak kearah ponselnya yang masih menyala, dimana wallpaper handphonenya itu adalah fotonya dengan Bryan saat liburan bareng. Kenangan yang ada di foto itu masih terekam jelas di memori Cahya, sebab saat itu mereka tengah melakukan bulan madu bersama.


Cahya mengelus pelan perut sambil mengingat setiap moment yang dia san Bryan ciptakan bersama. Bahkan Cahya kembali teringat akan pertemuan pertanyaan dengan Bryan. Walaupun saat itu tak berjalan mulus. Bahkan sedikit meninggalkan bekas di ingatan Cahya.


Cahya lantas bersiap - siap untuk menemui orang yang tadi menelponnya itu. Sebelum melangkah keluar dari rumah, Cahya sedikit ragu. Sebab dia belum izin pada suaminya. Keraguan itu muncul karena bagaimanapun juga, dia harus izin saat ingin keluar dari rumah.


Namun masalahnya, sejak tadi pagi Cahya sama sekali tidak melihat keberadaan Bryan. Bahkan Bryan juga tak meninggalkan pesan apapun kalau dirinya sedang ada perlu di luar. Terlebih lagi, Bryan kerap kali mengabaikan pesan yang Cahya kirimkan.


"Nggak usah izin kali, ya. Toh hanya sebentar saja, palingan juga Mas Bryan nggak marah."

__ADS_1


Setelah memantapkan hati untuk pergi menemui temannya itu. Lagian Bryan juga belum tentu pulang cepat. Apalagi kalau menyangkut urusannya dengan Amertha. Cahya yakin, suaminya itu akan pulang setelah jam 9 malam.


[ < • _ • > ]


Cahya telah sampai di tempat janjiannya yaitu di sebuah restoran yang tak begitu jauh dari apartemennya. Dan begitu masuk, Cahya sudah bisa melihat temannya itu tengah duduk sambil ditemani segelas latte.


Tanpa membuang waktu, Cahya segera menghampiri temannya itu. "Hai, Kak Marcel." sapanya pada temannya yang tak lain adalah si Marcel.


Tentu kalian masih ingatkan pada si Marcel ini. Dia adalah si ketua volley putra dan orang yang pernah menyukai Cahya waktu di sekolah. Dan untungnya sekarang dia sudah move on dari Cahya.


"Akhirnya kau datang juga. Silahkan duduk." sahut Marcel sambil mempersilahkan Cahya untuk duduk. Cahya duduk di depan Marcel, dimana posisinya itu menghadap pintu masuk restoran.


Cahya meletakan tasnya di kursi sampingnya. "Maaf ya, Kak. Pasti nunggu lama." sesal Cahya yang memang agak terlambat dari yang di janjikannya.


Marcel mengangguk pelan, sebelum itu dia menyesap latte pesannya terlebih dulu. "Iya, ada yang ingin aku sampaikan padamu. Tapi nunggu seseorang dulu, ya. Dia lagi di toilet sebentar." Cahya hanya mengangguk.


Keduanya mulai mengobrol ringan dengan pembahasan seputar kabar dan kesibukan. Hingga tiba - tiba kehadiran dua orang, mengejutkan Cahya. "Hya, kamu kenapa?" Marcel bertanya seperti itu bukan tanpa alasan, sebab pandangan Cahya lurus kearah belakangnya, membuat Marcel penasaran.


Dialihkan padanya kearah pandangan Cahya yang tertuju pada pintu masuk restoran. Marcel sedikit terkejut melihat siapa yang tengah berjalan kearah mereka. Orang yang merasa di tatap oleh Cahya dan Marcel pun, balik menatap kearah mereka.


"Wah, aku tidak menyangka kalau kita bisa bertemu disini ya, Cahya. Suatu kebetulan yang baik sekali." Cahya tak menanggapi apa yang orang di depannya itu bicarakan.


Tetapi, tatapannya tertuju pada orang yang berada di samping depannya itu. Cahya masih dalam posisi duduk, jadi wajahnya sedikit mendongak untuk menatap mata orang yang tak lain adalah suaminya sendiri.

__ADS_1


Cahya tak menyangka akan bertemu dengan Bryan dan Amertha disini. Tepat disaat dirinya bertemu dengan Marcel. Dan Cahya merasa seperti tengah tertangkap berselingkuh, padahal yang jelas berselingkuh itu adalah suaminya sendiri.


"Oh, ya. Kamu nggak mau ngenalin dia ke kami. Apa dia ini calonnya kamu, ya?" Amertha masih terus menyudutkan Cahya yang tertangkap basah tengah bersama dengan laki - laki lain. Dan menurutnya ini adalah kesempatan emas untuk membuat Bryan jadi benci pada Cahya. Tentunya itu tak akan disia - siakan olehnya.


Ditambah lagi, Amertha merasa kalau Bryan mulai simpatik pada Cahya. Apalagi kerap kali, Amertha mendapati Bryan tengah memperhatikan Cahya secara intens. Dan Amertha akan menggunakan moment ini untuk menarik kembali perhatian Bryan padanya.


Amertha tak ingin Bryan mengingat kenangannya bersama Cahya. Jelas Amertha tahu kalau Cahya itu memang istri Bryan. Tapi rasa cinta dihatinya membuat Amertha gelap mata dan selalu berusaha untuk menjauhkan Bryan dari Cahya.


Bryan menatap lurus kearah Cahya yang masih diam tanpa memberikan sangkalan pada apa yang Amertha katakan sebelumnya. Entah kenapa, Bryan tidak suka pada kesimpulan yang ditarik oleh Amertha mengenai sosok yang menjadi calonnya Cahya.


"Hai, perkenalkan aku Amertha dan ini Bryan, pacarku." Perkataan itu membuat Marcel kaget mendengarnya. Ditatapnya Cahya yang duduk di hadapannya. Marcel kembali menatap pada kedua tamu tak diundangnya itu.


Ada berbagai macam pertanyaan yang ingin dia tanyakan pada Cahya. Tapi mengingat kondisinya tidak cukup baik, jadi Marcel bisa menunda untuk bertanya. Cahya masih diam, tapi setelahnya dia mulai memperkenalkan Marcel pada Bryan dan Amertha.


"Dia ini Marcel. Marcel adalah temanku." Cahya tak memperkenalkan Marcel secara lengkap. Dia hanya memperkenalkan Marcel pada mereka, agar tak membuat kesalahpahaman saja.


Amertha menutup mulutnya sambil mengeluarkan ekspresi yang jelas dibuat - buat. "Ooh, temanmu ya. Aku kira dia pacarmu, ups." Dengan sengaja Amertha mengatakan hal itu. Jelas itu trik agar Bryan salah paham pada Cahya, sebab mengira kalau Cahya telah berselingkuh dari suaminya ini.


"Aku bukan dirimu, ya yang secara sadar mengambil seseorang yang bukan jadi milikmu." Cahya menaikkan sudut bibirnya sambil menatap Amertha. Terlihat jelas raut kekesalan diwajah Amertha, begitu mendengar apa yang di ucapkan oleh Cahya barusan.


Baru saja ingin membalas ucapan itu, panggilan dari seseorang membuat keempatnya menoleh dan menemukan seorang gadis tengah berjalan kearah mereka berempat.


[ * ¥ * ]

__ADS_1


...Salam manis dariku untuk para pembaca setiaku💖...


__ADS_2