My Bipolar Boy

My Bipolar Boy
61. Mungkinkah Cemburu?


__ADS_3

๐ŸŒปM.B.B๐ŸŒป


๐Ÿ’™


"Cahya," seru Vino begitu melihat Cahya datang. Perlahan Cahya duduk di depan Vino dan orang yang memang pernah ditemuinya, hanya saja ia tidak tahu siapa namanya.


"Ini, makanannya. Vino makan, ya." Cahya menaruh nampan yang dipegangnya dimeja kemudian mengangkat mangkok bakso kearah Vino dan yang satu menaruhnya di hadapannya. Begitu pun dengan es teh manisnya.


"Ayo dimakan," belum sempat Vino menyuapkan bakso tersebut kedalam mulutnya. Sebuah suara menghentikan gerakannya.


"Katanya tadi Vino mau makan bekalku. Tapi kenapa sekarang malah makan bakso?" Ucapnya membuat Vino menatap seseorang disampingnya. Begitupun dengan Cahya yang kini juga terfokus pada 2 orang di depannya itu.


"Tapi Vino mau makan bakso."


"Bukankah Vino tadi sudah bilang ingin makan bekal bersamaku." Cahya yang mendengarnya tentu saja agak terkejut. Apalagi gadis, yap orang disamping Vino memang seorang gadis.


"Tapi..."


"Jadi Vino tidak mau makan bersama." Si gadis itu memasang muka sedih membuat Vino merasa tidak enak. Vino nampak bingung membuat Cahya yang melihatnya berharap Vino tidak mengiyakan ajakan makan bekal bersama itu.


Tapi


"Baiklah, Vino mau makan bekal itu." tunjuknya pada kotak bekal bewarna pink itu.


Ternyata benar harapan tidak selamanya terkabulkan. Cahya nampak membuang nafasnya berat.


"Yee. Kalau begitu aku suapi, ya." Ucap gadis itu sambil membuka kotak bekalnya dan mulai mengeser mangkok bakso pemberian Cahya kearah sang pemberi.


Bolehkah ia merasa kecewa? Walaupun sedikit saja.


Cahya menatap 2 mangkok bakso di depannya dengan perasaan campur aduk. Dan tiba tiba nafsu makannya menurun begitu melihat 2 orang di hadapannya sedang suap suapan.


Lebih tepatnya si gadis yang menyuapi Vino. Sedangkan Vino menerimanya begitu saja.


"Apa kalau mereka ingin pacaran harus didepanku." batin Cahya agak kesal dengan apa yang dilihatnya saat ini. Sepertinya dirinya hanya menjadi obat nyamuk saja.


Cahya menyesap minumannya lewat sedotan sambil berusaha mengalihkan pandangannya ke segala arah kecuali kearah 2 orang di depannya itu.


Vino yang sudah makan beberapa suap menoleh kearah Cahya yang sedari tadi belum menyentuh makanannya. Hanya minum es teh manis saja.


"Cahya tidak makan?" Cahya tahu siapa yang barusan bicara padanya. Tanpa menolehpun ia sudah hafal sekali siapa pemilik suara itu.


"Cahya, tidak ingin makan?" Tanyanya untuk kedua kali.


Tapi belum sempat Cahya menjawab, gadis uang tadi menyuapinya itu mengeluarkan suaranya lebih dulu.


"Sudahlah, biarkan saja. Kalau dia lapar, pasti dia akan makan. Sekarang Vino makan dulu ya, biar tidak sakit."

__ADS_1


Bolehkah hati Cahya panas begitu mendengar ucapan yang barusan di dengarnya itu.


ย "Tapi?"


"Sudah, ya. Vino makan lagi. Vino pasti nggak mau kan kalau sakit." Perkataan itu diangguki oleh Vino. Gadis tadi yang baru Cahya ingat bernama Dinda itu kembali menyuapi Vino, seolah tak ada Cahya didepan mereka.


Cahya mendengus melihatnya.


Sreet


Suara bangku yang dipaksa mundur itupun membuat pandangan keduanya menoleh kedepannya.


"Cahya mau kemana?" Yap memang Cahya orangnya, yang baru saja memundurkan kursinya itu. Pandangan Cahya jatuh pada Vino yang saat ini tengah menatapnya.


"Cahya ingin ke toilet sebentar. Vino disini dulu, ya." Vino menganggukkan kepalanya.


Melihat respon Vino yang seperti itu membuat perasaan Cahya kembali tidak nyaman. Bukannya Cahya berharap Vino menahannya pergi, tapi mau bagaimana lagi. Vino sepertinya tampak biasa saja.


Cahya mulai beranjak pergi, saat ini tujuannya hanya ingin menyendiri dulu. Mencoba menenangkan perasaannya yang tengah kenapa sesak sekali, apalagi jika melihat Vino dan gadis itu berduaan.


_________________________


Cahya kini tiba di toilet. Setelah berfikir ingin kemana, akhirnya Cahya memutuskan untuk kesini.


Awalnya ia ingin ke taman belakang, tapi ia tidak tahu jalannya. Jadi daripada nyasar lebih baik dia kemari. Sekalian ia ingin membasuh wajahnya agar terlihat lebih refresh lagi.


Bagaimana tidak? Kalau dirinya hanya berdiri didepan washtafel dan sesekali ia mencuci wajahnya. Bahkan ada yang bilang kalau dirinya tengah kesurupan.


Yang benar saja, begitulah batin Cahya begitu mendengarnya. Setelah cukup tenang, Cahya beranjak menyusul Vino yang mungkin saja sudah selesai makannya.


Mungkin karena ia murid baru, jadi ada beberapa murid yang menatap Cahya. Cahya hanya balas tersenyum dan kembali masuk ke area kantin.


Tapi ada yang aneh.


Sepertinya ia tidak salah jalan, tapi kenapa bangku yang tadi didudukinya itu bersama Vino sekarang dalam kondisi kosong.


Maksudnya sudah tidak ada yang duduk disana. Hanya menyisahkan 2 mangkok bakso dan 2 gelas es teh manis, yang bahkan esnya sudah mencair.


"Vino kemana?" Tanyanya dalam hati. Ia edarkan pandangannya keseluruh ruangan, siapa tahu Vino pindah tempat duduk. Tapi sejauh ia memandang, tidak terlihat dimanapun keberadaan Vino.


"Apa jangan jangan Vino pergi dengan gadis tadi, ya." Gumam Cahya sambil menundukkan kepalanya.


Ada sedikit sesak yang merasuki perasaan Cahya saat dirinya berspekulasi seperti itu. Entah kenapa dirinya merasa kecewa karena Vino tidak menungguinya seperti apa yang dibilangnya tadi.


Perasaan Cahya sedang tidak baik saat ini. Jadi ia memutuskan untuk kembali ke kelasnya. Mungkin saja setelah kembali ke kelas, ia sudah merasa lebih baik.


Saat dirinya tengah memikirkan Vino, tak sengaja telingganya mendengar beberapa murid didepannya menyebut nama Vino. Ia bukan bermaksud menguping tapi salahkan saja murid di depannya yang bicara kelewat keras.

__ADS_1


"Kalian lihat tadi kan, si Vino kayak ngamuk gitu sama Dinda."


"Iya, ngeri lihatnya. Apalagi matanya itu loh, bikin merinding."


"Kira kira, karena apa, ya? Padahal tadi Vino bersikap biasa aja bahkan cenderung imut loh." Cahya membulatkan matanya begitu mendengar perkataan beberapa murid itu.


"Jangan jangan," Cahya tidak lagi mendengar pembicaraan orang di depannya. Ia langsung mengucap permisi dan lewat di samping gadis gadis tadi dan berjalan cepat ke kelas Vino.


Pikirannya kembali berspekulasi kalau Bryan kembali muncul, seperti apa yang di dengarnya tadi. Tapi alasan kenapa Bryan muncul masih belum Cahya temukan.


Ia nampak terburu buru untuk sampai di kelas Vino. Seingatnya tadi pagi paman Bram bilang kelas Vino ada di XII IPA 1. Berarti jarak kelasnya dengan kelas Vino tidak begitu jauh.


Tapi belum sempat ia melangkahkan kakinya ke kelas Vino. Bel tanda istirahat berakhir pun berbunyi. Hal itu tentu membuat Cahya bingung harus bagaimana.


Apalagi seruan di depannya membuat Cahya menatap gadis itu bingung.


"Kenapa masih disitu, kau tidak ingin masuk kelas?" Wulan yang baru saja membuang sampah di tong sampahpun bingung kenapa Cahya diam saja di dekat pintu XI Ipa 1.


Dimana itu merupakan pintu adik kelas mereka. Ya, tadi Cahya sempat berhenti di koridor kelas XI Ipa 1. Ia hanya baru ingat kalau ingin ke kelas Vino dari arah arah kantin maka akan melewati kelasnya.


Makanya ia berhenti sejenak untuk memikirkan apakah ia masuk ke kelasnya atau mengecek keberadaan Vino dulu.


"Ayo masuk. Nanti pak Bambang keburu masuk. Dia itu guru Killer disini". Cahya kemudian melangkah kearah Wulan. Ia mencoba menyakinkan dirinya sendiri kalau mungkin Vino baik baik saja.


Mungkin yang para gadis tadi maksud bukan Vino yang dikenalnya. Bisa jadi Vino yang lain.


"Mungkin bukan Vino. Nama Vino kan banyak" Cahya masih mencoba menyakinkan hatinya yang entah kenapa tida bisa tenang itu.


Ia melangkah mendekati Wulan dan keduanya masuk sama sama kedalam kelas.


...Perhatian...


Up๐Ÿ’ž


Tanda tanda cemburu itu Kyk gimana sih? Coba kasih tau Cahya, siapa tahu Cahya masuk katagori itu๐Ÿ˜„.


Katagori Cemburu


Hallo Ya


Masih setia baca M.B.B kan?


Kalau masih, tunggu kelanjutannya di part selanjutnya. Makasih yang udah mau Like, Ya๐Ÿ’–. Nantikan kehadiran part selanjutnya lagi ya guys๐Ÿ˜‰.


๐ŸTerimakasih๐Ÿ


๐Ÿ˜๐Ÿ˜‡๐Ÿ˜

__ADS_1


__ADS_2