My Bipolar Boy

My Bipolar Boy
98. Metode Belajar Ala BryanCahya


__ADS_3

🍁My Bipolar Boy💞🍁


.


.


.


.


.


"Bryan." Panggil Cahya yang sama sekali tidak digubris oleh sang pemilik nama.


"Bryan." Panggilan kedua yang masih mendapat respon yang sama dengan sebelumnya.


Cahya meletakan buku yang dipegangnya itu ke meja belajar yang ada di kamar mereka. Setelahnya Cahya membalikkan posisi badannya yang semula membelakangi Bryan kini menjadi menghadap kearah Bryan.


Membuang napas sebentar, Cahya lantas kembali memanggil sang suami yang masih berkutat dengan game di ponselnya itu.


"Bryan sayang." Ucapnya dengan nada lembut, berharap bisa membuat sang suami menatap kearahnya.


Sepertinya perkataan itu berhasil, buktinya Bryan langsung menoleh kearah Cahya. Ya, walaupun hanya sekilas dan setelahnya kembali lagi berkutat dengan ponselnya.


Dengan membuang napas berat, Cahya lantas berdiri dari posisinya untuk menghampiri Bryan yang saat ini tengah berada diatas ranjang mereka.


"Bryan. Kau tidak mau belajar?"


"Tidak." Sahut Bryan cepat.


Cahya menaikkan alisnya bingung. "Kalau tidak belajar, besok bagaimana mengerjakan soalnya?" Cahya mulai gemas sendiri dengan suaminya itu yang masih asyik sendiri.


"Aku sudah pintar, jadi tidak perlu belajar."


Cahya menjatuhkan rahangnya begitu mendengar penuturan tersebut. Bagaimana bisa suaminya itu berbicara begitu. Apa baru saja Bryan menyombongkan kepintarannya di hadapan Cahya itu.


"Tapi tetap saja, kau harus belajar, Bryan." Kali ini Cahya mulai mengusik kegiatan sang suami agar suaminya itu mau menurut padanya.


Lagipula Cahya kekeh menyuruh Bryan belajar juga untuk kebaikannya Bryan sendiri.


Usaha yang dilakukan oleh Cahya tidak berhasil. Buktinya bukannya berhenti, Bryan malah masih asyik dengan gamenya.


Cahya mendengus pelan. Kemudian dia berbalik menuju ketempat semula dimana buku pelajarannya ada disana. Setelah sampai di depan meja belajar, Cahya langsung saja mengambil beberapa buku dan alat tulis untuk ia bawa.


Ditatapnya sebentar sang suami yang masih asyik sendiri tanpa memperdulikan ucapan dan kehadirannya itu.


Cahya lantas berlalu menuju ke balkon kamar mereka untuk belajar. Lagipula kalau berdiam diri terlalu lama di kamar mereka, yang ada Cahya bukannya konsen belajar malah ribut sama Bryan.


Cahya kira Bryan akan menahannya atau setidaknya menanyakan ia mau kemana. Tapi sepertinya Cahya terlalu berharap. Bahkan Bryan sama sekali tidak menoleh kearah istrinya itu.


OoOoOoOoOo


Bryan yang baru saja selesai main langsung mengedarkan pandangannya kearah kamarnya untuk menemukan keberadaan istrinya itu. Tapi sejauh matanya memandang, keberadaan istrinya sama sekali tidak terlihat.


"Sayang, kau dimana?" Panggil Bryan yang kini mulai panik karena tidak ada sahutan apapun dari sang istri.


Segera saja Bryan turun dari ranjang untuk mencari keberadaan Cahya. Lagipula ia rasa, dia hanya main sebentar. Dan sekarang dimana istrinya itu berada.


"Sayang." Panggilnya lagi. Berfikir kalau mungkin sang istri tidak ada di dalam kamar mereka, lantas Bryan bergegas mencari di ruangan lain.


Siapa tahu kalau istrinya itu sedang ada di dapur atau mungkin sedang menonton tv di lantai bawah. Tapi begitu dicari di lantai bawah, keberadaan istrinya itu tidak terlihat sama sekali.


Kalaupun benar istrinya itu keluar rumah, kenapa dia tidak izin padanya. Itulah yang dipikirkan oleh Bryan.


Segera saja Bryan menelpon sang istri untuk memastikan keberadaan istrinya itu. Padahal menunggu panggilan terjawab itu tidak terlalu lama, mungkin hanya butuh waktu paling lama 2 menitan. Tapi Bryan terlihat sama sekali tidak sabar.


"Angkat, Cahya." Tekan Bryan dalam suaranya itu.


Dan akhirnya panggilan itu terjawab.


"Halo, iya kena--" belum sempat Cahya selesai bicara, tapi lebih dulu dipotong oleh Bryan.


"Kau ada dimana?" Pertanyaan itu membuat yang ditelpon membuang napas sejenak.


"Kamu kenapa sih, aku kan dikamar."

__ADS_1


"Dikamar mana?" Pertanyaan itu mengundang salah satu alis Cahya terangkat.


"Tentu saja di kamar kita. Memangnya mau dikamar siapa?"


"Jangan bohong! Aku sudah mencarimu dikamar. Tapi tidak ada." Ada nada penekanan didalam ucapan Bryan.


"Aku lagi di balkon kamar kita, sayang."


Tanpa menjawab, Bryan langsung saja kembali ke lantai atas untuk menemui sang istri. Bahkan panggilan itu masih tersambung membuat Cahya mendengar suara ketibak-ketibuk yang disebabkan oleh langkah kaki Bryan.


Belum sempat bertanya ada apa, suara pintu balkon yang dibuka kasar terdengar di belakang Cahya. Hal itu tentu membuat Cahya terkejut bukan main.


"Bry.." Belum sempat Cahya menyelesaikan ucapannya, tubuhnya sudah keburu di peluk oleh sang suami membuat Cahya terheran-heran dibuatnya.


"Kenapa kau tidak menyahut waktu aku memanggilmu?" Begitu pelukan itu terlepas, Bryan langsung menanyakan hal tersebut.


Masih dengan menaikkan alisnya, "Memangnya kapan kamu manggil aku? Perasaan kamu nggak manggil aku sama sekali." Ujar Cahya sambil memiringkan kepalanya.


"Tadi aku memanggilmu."


"Kapan?"


"Ya, tadi."


Seolah mengingat sesuatu, lantas saja Cahya berseru. "Ooh, mungkin waktu aku lagi dengerin musik. Jadi aku nggak kedengaran pas kamu manggil aku."


Bryan tak lagi memperdulikan hal itu, ia lantas saja kembali memeluk sang istri. "Kau sedang apa disini?" Tanya Bryan sambil meletakkan kepalanya di bahu Cahya.


Cahya mengelus lembut surai milik suaminya itu. "Aku sedang belajar disini."


"Kenapa tidak di kamar saja?" Cahya memutar pandangannya kearah Bryan. "Aku kalau dikamar nggak konsen. Soalnya kamu berisik. Kamu bukannya belajar malah ngegame mulu." Gerutu Cahya yang membuat Bryan gemas.


Bryan menegakkan tubuhnya dan mulai mencubit pipi milik Cahya itu. "Issh, sakit Bryan." Cahya berusaha untuk melepaskan cubitan itu.


Bryan sendiri terkekeh pelan begitu melihat wajah cemberut istrinya yang terlihat manis di pandangannya.


"Ya sudah. Sekarang aku ikut belajar. Biar isteriku yang cantik ini tidak lagi marah - marah." Niatnya ingin membalas perkataan Bryan dengan gerutuan, tapi tidak jadi. Daripada waktunya terbuang untuk hal unfaedah, lebih baik sekarang Cahya belajar. Mumpung Bryan mau diajak belajar.


Entar malah si Bryan berubah pikiran kan berabe.


"Mari kita belajar." Awalnya Cahya sedikit gugup dalam posisi seperti itu. Padahal dia sudah seminggu menjadi nyonya Bryan Giovino Wirautama. Tapi tetap saja masih canggung dan malu.


Bryan menatap kearah Cahya yang hanya terdiam dalam posisinya itu. Dipeluknya tubuh sang istri agar tidak lagi larut dalam lamunannya.


"Kenapa?" Cahya tersentak begitu Bryan memeluk tubuhnya badan kembali menenggelamkan kepalanya di ceruk leher Cahya.


"Ishh, Bryan geli." Cahya menggeliat dalam posisinya karena merasa kegelian akibat ulah suaminya yang meniup dan mengecup pelan kulit lehernya itu.


"Habisnya kau diam saja. Kenapa hem?" Cahya menggeleng pelan. "Tidak apa-apa. Hanya sedikit canggung saja." Jelas Cahya yang membuat Bryan tertawa.


Hahaha😆


Cahya menoleh kearah wajah Bryan yang masih larut dalam tawanya itu. "Kenapa tertawa?" Bukannya menjawab, Bryan malah mengecup pelan pipi kiri Cahya.


Chup


Kaget?!


Jelaslah, siapa juga yang nggak kaget kalau di cium tiba - tiba begitu. Untung saja ini yang diciup sudah sah. Jadi tidak menimbulkan dosa.


"Kenapa harus malu sih. Kau itu kan istriku. Dan aku ini adalah suamimu. Jadi tidak perlu malu." Ucap Bryan yang kembali melayangkan kecupan bertubi di wajah istrinya itu.


Wajah Cahya tentu saja memerah sempurna begitu mendapat perlakuan manis dari Bryan, sang suami. Dan Cahya juga tidak mengelak dari perlakukan Bryan padanya itu.


Hembusan angin dingin menerpa kedua anak manusia ini, membuat tubuh Cahya sedikit menggigil dibuatnya. Terpaksa kegiatan mereka harus dihentikan sejenak.


"Kau kedinginan, ya." Cahya sedikit mengangguk sambil mengusap pelan lengannya berusaha mengurangi hawa dingin di tubuhnya itu.


Bryan mendekap erat tubuh Cahya untuk membantu mengurangi hawa dingin yang mulai terasa di kulit masing - masing. "Kita masuk kedalam saja. Aku takut kalau kelamaan disini, kamu bisa sakit."


Cahya mengangguk kemudian keduanya mulai membereskan buku pelajaran milik Cahya dan membawanya masuk kedalam.


Setelah menutup pintu balkon dan menguncinya, Cahya dan Bryan langsung menuju kearah ranjang mereka. Bryan masih membawa buku pelajaran untuk mereka pelajari bersama-sama.


Setelah keduanya duduk setengah berbaring, tentu dengan posisi Bryan menyender di kepala ranjang sedangkan Cahya berada dalam delapan sang suami.

__ADS_1


Sungguh Uwu sekali pasangan ini😍.


Keduanya saling belajar dengan buku yang kini ada di tangan Cahya untuk mereka baca berdua. Tak jarang keduanya saling lempar pertanyaan agar lebih mudah menyerap materi.


Dan kalau Cahya salah menebak, maka Bryan akan menghukum dengan memberikan satu kecupan di wajah Cahya. Begitupun dengan Cahya, apabila Bryan salah menebak maka Cahya akan menghukum Bryan dengan cara mencium wajah Bryan.


Tentunya kalian tahu darimana peratuan itu dibuat. Tentu saja dari putra satu-satunya ayah Sanjaya Wirautama dan mama Irena Wirautama ini. Memangnya siapa lagi. Awalnya Cahya menolak ide itu, sebab siapapun yang menang, Cahya pasti akan kena cium ataupun mencium.


Tapi otak cerdik Bryan bermain disini. Dia tadi sempat mengancam untuk tidak jadi belajar apabila Cahya tidak menyetujui ide dari permainannya itu.


Karena itulah, Cahya mau melakukan metode pembelajaran seperti ini. Dan sepertinya metode ini bisa diterapkan kepada sepasang suami istri muda yang masih sekolah ataupun kuliah.


Tapi bukan untuk dicontoh oleh pasangan yang belum menikah, ya. Apalagi bagi yang belum punya pasangan😆.


Ooke tahan dulu ketawanya😉


Sudah cukup lama keduanya belajar bahkan kini buka pelajaran Cahya sudah tertata rapi di samping nakas mereka. Karena tadi Bryan yang menaruhnya disana.


Kini pasangan muda ini tengah saling dekap - dekapan. Bryan mendekap Cahya dan begitupun sebaliknya. "Aku ingin bicara sesuatu."


Perkataan itu lantas membuat Cahya mendongak untuk menatap Bryan. "Bicara saja. Aku akan mendengarkannya."


"Bagaimana kalau setelah UN ini berakhir, kita pergi honeymoon." Perkataan itu membuat Cahya membulatkan matanya terkejut.


"Kau serius?" Tanya Cahya tak percaya. Bryan yang melihat reaksi terkejut Cahya seketika menaikkan alisnya. "Iya, aku serius."


"Tap..pi Apa ng..nggak kecepetan?" Bryan menggeleng pertanda bahwa apa yang diucapkan Cahya barusan adalah hal yang biasa.


Bryan menatap tepat di bola mata istrinya itu. "Apa kau keberatan?" Ingin sekali Cahya bilang ya, tapi mana mungkin itu ia lakukan.


"Bukan begitu, tapi aku merasa kalau itu sedikit terlalu cepat."


"Tidak terlalu cepat, sayang. Lagipula aku sekalian ingin mengajakmu jalan - jalan. Kau mau, kan?"


Bingung menghampiri Cahya, dirinya bukannya merasa keberatan. Tapi kalau setelah UN langsung honeymoon kan terasa terlalu cepat baginya.


Melihat raut wajah Cahya yang terlihat ingin menolaknya membuat Bryan kembali angkat suara. "Begini saja, setelah Un hari keempat berakhir. Siapa yang lebih dulu sampai di gerbang. Maka dia lah pemenangnya."


"Dan yang kalah harus menuruti apapun perkataan dari sang pemenang. Bagaimana kau setuju. Ooh tidak, tentu saja kau harus setuju istriku tersayang." Bryan mengatakan hal itu sambil menaik turunkan alisnya seolah menggoda sang istri yang kini menatapnya itu.


Baru saja Cahya mau menolaknya, lebih dulu Bryan mencegahnya. "Tidak ada penolakan!" Ucapnya dengan penuh penekanan.


Membuang napas panjang, akhirnya Cahya menyetujui kemauan suaminya itu. Dan sebenarnya kalaupun ia bisa menang, itu hanya kemungkinan dari 25% sisanya tentu saja milik Bryan.


Kalian mau tahu sebabnya, jelas saja. Pertama kelas Bryan itu lebih dekat dengan gerbang bila dibandingkan dengan kelas Cahya.


Yang kedua, Bryan itu laki - laki. Kalaupun keduanya keluar di jam yang sama. Maka jawabannya Bryan pasti lebih unggul sebab lari Bryan lebih cepat bila dibandingkan dengan Cahya.


Yang ketiga, Bryan itu orangnya nekat. Apapun akan dia lakukan terlebih lagi kalau hal itu menyangkut orang yang dia sayang.


Nah bagaimana Cahya bisa menang dari ketiga aspek tadi.


"Sudah malam. Sebaiknya kita tidur." Ucap Bryan yang diangguki oleh Cahya. Dan kini keduanya sudah dalam posisi berbaring sambil berhadap - hadapan. Tentu saja dalam kondisi saling berpelukan.


"Selamat tidur Cahyaku." Ucap Bryan sambil memberikan kecupan di kening Cahya.


"Selamat tidur juga Bryanku." Balas Cahya sambil mengecup pipi kanan dan kiri Bryan. Itu memang kebiasaan yang dibuat oleh Bryan, agar keduanya semakin mesra. Dan itu terbukti sampai saat ini.


Setelah mengucapkan selamat tidur dan berdoa, maka keduanya sudah bersiap mengarungi dunia mimpi.


.


.


.


.


Dan Terimakasih Sudah Berkunjung. Sampai Sejauh Ini💞😍


.......


🍁My Bipolar Boy🍁


Sampai jumpa lagi👋😉💞

__ADS_1


__ADS_2