
Setelah selesai makan, mereka beranjak untuk pulang, karena hari memang akan gelap.
"Raffa rumahnya mana?" Tanya Anna
"Rumah dekat sungai, yang besar itu" jawab Raffa
"Oh yaudah, Anna duluan ya, rumah kita nggak searah soalnya" pamit Anna
"Loh, kok ninggalin Raffa" rajuk Raffa
"Kan jalan rumah kita beda raf" jelas Anna
"Udah, sekarang kamu pulang, kasian mama kamu nyariin, yaudah aku duluan ya" pamit Anna.
Raffa hanya menatap nanar ke arah perginya Anna, memang ada jalan cabang kanan dan kiri, dan jika ke kanan adalah jalan menuju rumah Raffa, sedangkan kiri mengarah ke rumah Anna.
Raffa hanya diam, entah mengapa ada sesuatu yang aneh dalam dirinya, sangat aneh.
Ia merasa emosi dalam dirinya hampir meledak.
Lalu pandangan nya menajam, seolah olah ini bukan dirinya, tangannya mengepal dan ia seolah olah kehilangan kesadaran dirinya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Perlahan namun pasti, seseorang yang sedang dalam dikuasai amarah itu masuk ke dalam rumah yang terbilang cukup megah itu.
Tangannya terkepal, tanda ia benar benar tersinggung.
__ADS_1
Bahkan ia melewati begitu saja orang tuanya tanpa menyapa.
Langsung masuk ke dalam kamar miliknya, membanting semua barang hingga membuat suara yang cukup gaduh.
Orang tuanya yang mendengar suara gaduh tersebut pun langsung lari dan menggedor pintu milik sang anak.
"Raffa, kamu nggak apa apa?? Jawab nak" khawatir mama Rena
"Raffa" suara berat papa Angga pun juga terlihat sangat khawatir
TOK... TOK... TOK...
Gedoran keras yang terjadi di luar pun tak dihiraukan oleh Raffa. Yah... Orang yang sedang dilanda emosi tersebut adalah Raffa.
Ia tetap tidak menghiraukan gedoran pintu tersebut. Ia langsung memasuki kamar mandi dan membilas tubuhnya.
Dirasa cukup, ia mengambil pakaiannya dan keluar dengan wajah dinginnya.
"R.. Raffa, k.. kamu tidak apa apa kan??" Tanya mama Rena ragu
"Levin nggak apa apa" jawab Raffa datar dan langsung melewati orang tuanya, lalu menuju ke meja makan.
Mama Rena dan papa Angga yang mendengar hal tersebut pun terkejut.
Mereka mematung beberapa saat hingga saat tersadar mereka langsung menuju meja makan dimana ada anaknya di sana.
Tunggu, mereka harus memanggil siapa pada anaknya itu.
__ADS_1
Levin atau Raffa???
Sejenak, mereka berpandangan dan mengurungkan niatnya untuk menyusul sang anak.
Papa Angga yang mengerti perasaan sang istri, ia pun menggenggam tangan sang istri untuk menenangkan nya.
"Jalani yang ada dulu ma" bisiknya pada sang istri
Mama Rena yang mengerti pun langsung menganggukkan kepalanya.
"Levin mau makan apa?" Tanya mama Rena lembut
"Apa aja, terserah" walau terkesan dingin, tetapi ia tidak mengurangi rasa hormat nya kepada orang tuanya.
Mama Rena yang mendengar hal tersebut pun langsung mengambil makanan dan memberikan nya kepada suami dan anaknya.
Mereka mulai memakan makanan mereka dalam keadaan hening dan kalut dalam pikiran masing masing.
Setelah selesai makan, Levin langsung pergi menuju ruang keluarga yang disana terdapat PS.
"Bi, tolong bereskan kamar saya" titah Levin
Mama Rena hanya diam, ia ikut membereskan sisa makanan mereka, dan mencuci piring.
Sedangkan papa Angga, ia pura pura mengecek email, padahal ia sedang mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi pada anaknya tersebut.
Kenapa tiba tiba kok berubah, padahal kan baru sembuh.
__ADS_1
"Laporkan kepada saya kegiatan anak saya hari ini, jangan ada yang terlewat" titah papa Angga melalui saluran telepon nya.
🌻🌻🌻