
Previous Chapter
*Cahya uang ditarikpun ikut melangkahkan kakinya. "Kemana?"
"Nanti juga kau tahu." Ucap Bryan sambil menunjukkan seringaian miliknya tanpa disadari oleh Cahya*.Β
ππM.B.Bππ
Kini keduanya telah sempat di parkiran. Cahya masih bertanya tanya akan dibawa kemana dia oleh Bryan.
Bryan memberikan helm pada Cahya kemudian menyuruh Cahya untuk naik. Begitu naik dan sudah memakai helm, tapi Bryan tak kunjung menjalankan laju motornya membuat Cahya bingung.
"Kenapa tidak jalan?" Cahya sedikit mendekat kearah Bryan saat mengatakannya.
"Kau belum pegangan."Cahya mengangguk. Kemudian kedua tanggannya berpegangan pada pegangan besi dibelakang tubuhnya.
(Aku nggak tahu pegangan besi yang ada di motor itu namanya apa. Yang tahu bisa komen disini)
Tapi Bryan masih tak kunjung menyalakan mesin motornya.
"Aku sudah pegangan."
Bryan memutar kepalanya menghadap belakang. Ya, memang Cahya sudah pegangan. Tapi bukan disitu juga maksud Bryan tadi.
"Pegangan aku. Aku bakalan ngebut."
Cahya menghela nafas sebentar sebelum memindahkan tangannya kepundak Bryan. Dibantahpun nggak akan mudah, jadi sebelum Bryan marah lebih baik Cahya nurut aja.
"Sudah." Cahya memberitahu kalau dirinya sudah berpegangan.
"Pegangan pinggangku. Jangan di pundak." Mata Cahya mengerjab sebentar. Dia tidak salah dengar kan? Bryan memintanya untuk pegangan pinggang dia.
Tak ingin menunggu respon Cahya yang menurut terlalu lama itu. Bryan segera menarik kedua tangan Cahya untuk di lingkarkan di pinggangnya membuat Cahya tersentak kedepan dan menubruk punggung Bryan.
"Nah seperti ini yang ku maksud."
Setelahnya Bryan mulai menghidupkan motornya dan melajukanya keluar dari area parkiran mall. Tentu saja setelah membayar biaya parkirannya.
Selama di perjalanan baik Cahya ataupun Bryan tak ada yang bicara. Cahya sendiri sedang berusaha untuk menetralkan detak jantungnya. Sedangkan Bryan tengah fokus sekaligus menikmati moment berboncengan dengan Cahya.
__ADS_1
Ia bahkan sesekali mengengam tangan Cahya yang masih setia berada dipinggannya. Seulas senyum samar tercipta di bibir Bryan. Bahkan saat ia bisa melihat pantulan wajah Cahya di kaca spion motornya itu.
Entah karena suasana yang begitu nyaman atau memang Cahya yang merasa sangat mengantuk. Ditambah lagi dengan tiupan angin malam yang kian menambah beban dimata Cahya agar cepat menutup.
Beberapa kali Cahya berusaha menjaga kesadarannya tapi semakin cepat ia melawan semakin kuat juga godaan untuk tidur.
Apalagi posisinya yang bersandar pada punggung Bryan yang terasa nyaman sekali. Kombinasi yang pas untuk membuatnya cepat tidur.
Terbukti dari deru nafas milik Cahya yang mulai teratur dan kedua mata Cahya terpejam erat, menandakan kalau sang pemilik tengah berada di dunia mimpi.
Bryan bisa melihat kalau sekarang Cahya tengah tertidur dengan posisi bersandar pada punggungnya. Mengetahui kalau Cahya tertidur membuat Bryan memelankan laju motornya sambil mengengam tangan Cahya yang ada di pinganggnya.
"Selamat tidur, Cahyaku." Ucap Bryan tak kunjung melepaskan genggaman tangan kirinya dari kedua tangan Cahya itu.
***
Dilain tempat. Tepatnya di rumah bibi Cahya, ada 2 orang tamu yang berkunjung kerumah mereka.
Dan ternyata paman Dimas baru pulang dari Surabaya setelah mendapat telpon dari seseorang.
Jadi disinilah 4 orang saling berhadapan tengah membicarakan hal yang cukup serius. Bisa dibilang sangat serius.
Ucapan itu membuat Dimas dan Risma terkejut. Mereka tidak menyangka kalau kedua orang tamunya ini mau repot repot datang kemari. Apalagi Dimas dan Risma tahu kalau 2 orang tamu mereka ini merupakan orang yang sibuk.
"Jadi bagaimana? Kalian menyetujuinya?" Baik Risma ataupun Dimas masih bungkam.
Keduanya sedang dilanda bingung. Apalagi ini menyangkut masa depan keponakan mereka.
"Sebenarnya saya mau mengucapkan terimakasih, kerena ibu dan bapak mau datang kemari. Tapi mohon maaf, kami tidak bisa memutusnya hanya berdua saja. Kami akan menyerahkan semuanya pada Cahya."
Dimas menjawab pertanyaan itu sambil melirik kearah istrinya dan dibalas anggukan oleh Risma.
"Baiklah, kami berdua tahu. Tapi kami berdua harap Cahya mau menerima lamaran anak kami. Apalagi sepertinya anak kami begitu menyukai Cahya."
Risma dan Dimas menganggukkan kepalanya. Mereka juga bingung, kalau menolak bagaimana dengan hutang mereka itu. Tapi kalau menerimanya begitu saja, Mereka takut menyakiti perasaan Cahya.
Ya, walaupun mereka sadar kalau mereka berdua sudah menyakiti perasaan Cahya dengan cara menerima pertunangan antara Cahya dengan anak kedua tamu mereka itu.
Hanya saja baik Risma maupun Dimas tidak menyangka kalau pertunangan itu akan berbuah pernikahan secepat ini. Bahkan Cahya belum lulus Sma.
__ADS_1
Dan yang lebih bingungnya lagi bagaimana cara mereka memberitahukannya pada Cahya bahwa dia akan segera menikah.
Sang istri dari tamunya Risma dan Dimas itupun angkat bicara saat menyadari adanya raut terkejut dari pasangan tersebut.
"Kalian berdua tidak perlu khawatir. Pasti anak saya akan menjaga dan melindungi Cahya sebaik mungkin. Yakinlah kalau putra saya ini mampu memberikan kebahagiaan untuk keponakan kalian." Senyum tulus ia berikan pada Risma dan Dimas.
"Lagi pula anak saya sendiri yang meminta acara pernikahan ini di percepat. Awalnya saya ingin mereka bertunangan terlebih dahulu. Baru setelah 2 atau 3 tahun baru diadakan pernikahan." Jelasnya pada paman dan bibinya Cahya itu.
Mereka berdua hanya saling pandang. Bingung juga ingin mengatakan apa.
"Bukannya tadi Bryan kemari. Tadi dia bilang ingin menemui Cahya."
Risma mengangguk membenarkan ucapan dari sosok wanita yang terlihat sangat keibuan itu.
"Kami berdua juga sempat terkejut ketika mendengar Bryan meminta untuk mempercepat pernikahannya dengan Cahya. Kami sempat bertanya alasan kenapa dipercepat, tapi Bryan sama sekali tidak ingin memberitahu. Katanya dia ingin memberitahukannya sendiri pada Cahya." Sang suami dari Irena itu menyahuti perkataan sang istri membuat pasutri dihadapan mereka mengangguk paham.
Yap, 2 orang tamu itu tidak lain adalah ibu dan ayah dari seorang Bryan Giovino Wirautama.
Mereka datang kerumah bibi dan paman Cahya untuk melamar Cahya, itupun atas permintaan putra mereka sendiri.
Entah kenapa tiba tiba Bryan meminta untuk mempercepat pernikahannya padahal rencananya mereka baru mau di tunangkan. Sungguh sebagai sang ayah dan ibunya Bryan. Mereka tidak mengerti jalan pikiran anak mereka.
Kedua pasang pasutri itupun kembali melanjutkan obrolan. Tapi kali ini lebih santai dibandingkan yang tadi. Bahkan tak jarang keempatnya tertawa bersama dan sikap seolah sudah lama kenal. Padahal faktanya, 2 pasutri ini baru pertama kali bertemu.
...Perhatian...
Udah hampir selesai series ini. Masih nggak menyangka kalau aku bisa juga nyelesaiin suatu cerita. Padahal aku paling susah kalau sampai tahapan akhir. Mentok juga di part konflik..
Upπ
*Hallo Ya
Masih setia baca M.B.B kan?
Nantikan kehadiran part selanjutnya lagi ya guysπ. Budayakan vote setelah selesai baca, yaπ*
πTerimakasihπ
πππ**
__ADS_1