My Bipolar Boy

My Bipolar Boy
26. Panggilan


__ADS_3

🍃🍂🍃🍀🍃🍂🍃


"Sebenarnya ini berkaitan dengan masalah yang aku ceritakan kemarin." Rima berusaha mengingat kembali cerita apa yang diceritakan oleh Cahya padanya itu.


"Masalah apa?" Cahya menghela nafas. "Masalah tentang penawaran penagih kemarin." Rima akhirnya mengingat apa cerita yang dimaksud oleh Cahya.


"Lah apa hubungannya?" Walaupun Rima sudah ingat, tetap saja ia merasa tak ada kaitannya dengan hal itu.


"Pemilik perusahaan atau bisa kau sebut ayah calon suamiku itu memintaku untuk pindah ke sekolahan anaknya."


"Itu artinya?" Rima menggantungkan ucapannya.


"Ya, aku satu sekolah dengannya." Cahya seakan tau apa yang akan diucapkan oleh Rima.


Rima tak menyahuti tapi langsung heboh begitu mendengar ucapan Cahya barusan.


"Seriusan? Aku tak menyangka ternyata calonmu itu seusia dengan kita." Ucapnya dengan wajah shock.


"Memangnya kau pikir di setua apa?"


"Ya, mungkin sudah 25 tahun gitu." Mendengarnya membuat Cahya menggelengkan kepalanya.


"Kau ini ada ada saja sih."


Obrolan keduanya masih berlanjut hingga suara bel berbunyi membuat anak anak yang tadi ada diluar bergegas menuju ke dalam kelas.

__ADS_1


Mungkin jika dihitung, sudah lewat dari 6 menit guru belum juga datang setelah bel berbunyi.


Tapi dimenit ke 8 akhirnya bu guru tiba juga di kelas XII Ipa 2.


"Selamat pagi anak anak." Sapa guru tersebut pada anak didiknya yang dibalas hal serupa oleh murid murid.


"Pagi bu guru." Bu guru tersenyum begitu mendengar sapaan anak didiknya itu.


"Oke kita bahas materi pertemuan kemarin ya anak anak." Para murid hanya mengiyakan saja.


"Oke, pembahasan kita mulai dari penjabaran aljabar yang dimulai dari 2x² + 5y + 6 \=?"


Perkataan bu guru didengarkan dengan baik oleh para murid. Penyampaian yang disampaikan oleh bu guru juga terasa lebih mudah dipahami oleh rata - rata para murid.


Namun sebuah pemberitahuan membuat bu guru dan juga para murid perlahan diam sambil berusaha mendengarkan pengumuman itu dengan baik.


"Panggilan kepada Cahya Larasati dari XII IPA 2 untuk segera menuju ke ruang kepala sekolah sekarang juga. Terimakasih."


Suara itu begitu menggema diseluruh penjuru kelas yang ada di sekolah, karena memang disetiap kelasnya sudah terpasang sebuah speaker untuk hal hal semacam ini.


(Hal hal disini itu kayak, nandain bunyi bel, trus pemberitahuan/ pengumuman gitu).


Seluruh anak kini menatap penasaran kearah Cahya, membuat yang di tatap hanya bisa tersenyum kikuk. Bahkan bukan hanya teman temannya yang menatapnya tapi ibu gurunya juga.


"Kau dipanggil ke ruang kepala sekolah untuk apa?" Tanya Rima yang begitu penasaran terhadap sahabatnya itu.

__ADS_1


Sedangkan Cahya hanya menggeleng tidak tau kenapa dirinya itu dipanggil. Cahya berdiri dari kursinya untuk melangkah menuju kearah gurunya itu.


"Bu, saya izin ke ruang kepala sekolah dulu." Izinnya yang dibalas iya oleh bu guru.


Setelah mendapatkan izin Cahya berlalu pergi menuju ke ruang kepala sekolah. Setelah berjalan beberapa langkah dari pintu kelas, ia mengalihkan pandangannya kearah penjuru sekolahnya.


Sebenarnya ia merasa sedih harus meninggalkan sekolahnya itu, terlebih harus meninggalkan sahabat dan teman temannya disini.


Tapi mau bagaimana lagi, ia juga sudah mengiyakan tawaran dari pak Sanjaya untuk pindah sekolah.


Bisa ia lihat beberapa anak kelas 10 sedang olahraga dilapangan, beserta beberapa guru yang sempat ditemuinya ia.


Ia rasa akan sangat merindukan suasana sekolahnya ini. Ia menghembus nafas panjang dan seluas senyum terparkir dibibirnya.


"Kau pasti bisa melewati semua yang ada didepan nanti" Semangatnya dalam hati.


💛💙💜💙💛


**Hallo Ya


Masih setia baca M.B.B kan?


~Terimakasih~


💞💙💞💙**

__ADS_1


__ADS_2