My Bipolar Boy

My Bipolar Boy
94. Reuni Tim Volley Putri


__ADS_3

🍁My Bipolar Boy💞🍁


Karena menyadari suasana menjadi akward, lantas Cahya buka suara. Setidaknya untuk mengatasi kediaman yang sedang terjadi pada mereka bertiga.


"Ya, sudah. Sebaiknya kita masuk kedalam saja dulu. Bukannya sebentar lagi, pertandingan akan dimulai." Ajak Cahya sambil menggandeng tangan Kimmy. Keduanya melangkah memasuki Gor dengan diikuti oleh Bryan di belakangnya.


Suasana di dalam GOR terbilang sangat ramai karena sudah dipadati oleh orang-orang yang berniat menonton pertandingan volley ini. Bisa Cahya lihat di beberapa sudut lapangan ada para sahabatnya dari tim volley tengah melakukan pemanasan untuk menghadapi pertandingan persahabatan ini.


"Kak aku kesana dulu, ya. Nanti kalau kakak mau kesana, nyusul aja ya, kak." Jelas Kimmy sambil menatap Cahya.


Cahya yang sebelumnya menatap para sahabatnya itupun berbalik menatap Kimmy. "Baiklah, nanti kakak akan menyusul." Balas Cahya sabil tersenyum.


Begitu mendengar jawaban itu, membuat Kimmy mengulas sebuah senyum, "Kalau gitu aku duluan ya, kak." Kimmy mulai berlalu dari hadapan Cahya dan Bryan sambil melambaikan tangan dan dibalas hal serupa oleh Cahya.


Begitu Kimmy sudah agak jauh dari keduanya, lantas Cahya menoleh kearah belakang. Sebab ia sama sekali tidak mendengar suara dari suaminya itu.


"Bryan." Panggil Cahya kepada suaminya itu.


Bryan menunduk menatap kearah Cahya yang memang bertubuh lebih pendek darinya itu. Tatapan keduanya bertemu.


"Kenapa?" Hanya satu kata tanya itulah yang ditanyakan Bryan kepada istrinya itu. Cahya menghela napas sebentar, sebab sepertinya ia tahu kenapa suaminya itu mendadak irit bicara.


Belum sempat menjawab pertanyaan itu, sebuah suara dari arah belakang Cahya membuat Cahya menoleh. "Cahya!" Panggilnya yang saat ini melangkah kearah Cahya.


Cahya menatap pemuda yang tadi memanggil namanya itu. "Ada apa, Cel?" Tanya Cahya begitu pemuda yang dipanggilnya 'Cel' berada di depannya.


Pemuda tadi sempat terkejut begitu melihat Cahya tidak kemari seorang diri, melainkan bersama pemuda yang kini melemparinya dengan tatapan datar itu.


"Tidak ada apa-apa, aku hanya ingin menghampirimu saja." Ucap Marcel sambil tersenyum manis. Cahya membalas senyuman itu dengan anggukan.


Yap pemuda tadi memang Marcel, ketua tim Volley putra dari Sma Nusa Bangsa.


"Ooh, ya. Apakah hari ini kau sibuk? Kalau tidak aku berniat mengajakmu jalan- ja..." Belum sempat Marcel melanjutkan ucapannya, lebih dulu di potong oleh sosok pemuda dibelakang Cahya.


Yap siapa lagi kalau bukan suaminya Cahya. Si Bryan.


Bryan yang memang sejak tadi merasa terganggu dengan kehadiran Marcel di sekitaran istrinya itu, makin terganggu begitu tahu kalau pemuda di depannya ini berniat mengajak istrinya pergi.


Jangan terlalu percaya diri, Bro.


Tentunya Bryan tidak akan mengizinkan pemuda manapun mendekati istrinya.


Lagi-lagi Cahya terjebak dalam suasana yang aneh menurutnya. Apalagi kedua pemuda didepan dan di belakangnya itu saling melemparkan tatapan datar satu sama lainnya.


"Ehem." Dehem Cahya yang berhasil menarik perhatian kedua pemuda tadi.


"Kau tadi ingin bicara apa, Cel?" Tanya Cahya pada Marcel. Marcel menatap kearah Cahya sebelum mengeluarkan suaranya.


"Aku ingin mengajakmu jalan-jalan. Apa kau mau?" Tanya Marcel yang membuat Cahya bingung harus jawab apa.


Tidak mungkin kan Cahya mengiyakan begitu saja. Padahal ada suaminya disampingnya.


Kalaupun menolak, Cahya bingung bilangnya pada Marcel. Belum sempat Cahya menjawabnya, suara Bryan lebih dulu terdengar.


"Tidak boleh." Larangan itu membuat Marcel menatap tidak suka kearah Bryan. Bryan sendiripun tak masalah dengan tatapan yang dilayangkan oleh Marcel terhadapnya itu.


"Apa hakmu melarang Cahya pergi denganku?" Bryan menatap datar kearah Marcel.


Keduanya saling melemparkan tatapan tajam. Cahya yang mulai jengah dengan aksi lempar melempar tatapan itupun kembali berdehem.


"Ehem. Kalau kalian ingin saling bertatapan, aku mohon undur diri, ya." Ucap Cahya yang membuat keduanya menyudahi aksi mereka tadi.


Marcel kini kembali menatap kearah Cahya. Dia ingin mendengar jawaban atas pertanyaannya tadi.

__ADS_1


"Jadi bagaimana?" Pertanyaan itu mendapat helaan napas dari Cahya. Bryan juga menatap kearah sang istri yang belum menjawab pertanyaan tadi.


Sebenarnya Bryan ingin sekali menarik pergi istrinya itu dari sini. Dia tidak suka dengan tatapan yang terlihat sekali sangat memuja istrinya itu, yang dilayangkan oleh pemuda bernama Marcel ini.


Dan tentu saja Bryan tidak lupa akan siapa sosok pemuda yang saat ini tengah menanti jawaban dari Cahya itu.


Dia kan ketua Volley putra Sma Nusa Bangsa, yang mana sering dijodoh-jodohkan oleh para tim Volley SNB untuk menjalin hubungan lebih dari teman.


"Maaf ya, Cel. Aku tidak bisa mengiyakan permintaanmu tadi, sebab aku harus belajar untuk Ujian Nasional nanti." Cahya menampilkan raut wajah menyesal yang membuat Marcel membuang napas kecewa.


Dengan berusaha terlihat baik-baik saja, Marcel kembali membuka suaranya. "Ooh oke, tidak apa-apa. Mungkin lain kali." Marcel berusaha untuk tersenyum walaupun kenyataannya ia nt kecewa mendengar penolakan Cahya tadi.


Padahal dia belum menembak Cahya, tapi kenapa rasanya seperti patah hati bagi Marcel saat ini.


Tak ingin Cahya melihat kekecewaan dari matanya, Marcel langsung pamit undur diri. "Kalau begitu aku duluan, ya." Ucapnya yang diangguki oleh Cahya.


Selepas kepergian Marcel tadi, Bryan sama sekali tidak bicara apapun kepada Cahya. Dia hanya diam entah memikirkan apa, yang pasti ada tatapan kekesalan dimata Bryan saat ini.


Cahya menoleh kearah Bryan yang hanya diam saja disampingnya. "Kenapa diam saja?" Tanyanya yang tak dibalas oleh Bryan.


Sambil menghela napas, Cahya mulai menarik tangan Bryan untuk ia genggam. "Ya sudah, kita cari tempat duduk dulu, ya." Ajak Cahya yang untungnya di turuti oleh Bryan dengan sukarela.


Kini keduanya saling bergandengan sambil melangkah mencari tempat duduk dipodium yang kosong agar mereka berdua bisa duduk dan menonton pertandingan volley ini.


Keduanya mengulirkan matanya untuk melihat apakah ada bangku yang kosong atau tidak. Dan untungnya keduanya melihat ada beberapa bangku yang belum terisi.


"Itu ada bangku kosong." Ujar Cahya sambil mengarahkan telunjuknya kearah bangku yang dimaksud. Bryan mengikuti arah telinjuk istrinya itu dan kembali menganggukkan kepalanya.


"Kita kesana, ya." Ajak Cahya sambil tetap menggandeng tangan suaminya itu.


Setibanya di bangku yang dimaksud tadi, Cahya dan Bryan segera duduk karena sudah menemukan tempat duduk yang kosong. Dari posisinya sekarang, pemandangan dibawah jelas terlihat, berhubung memang spot tempat duduk mereka berada diatas, jadi memudahkan mereka untuk menonton.


Tak lama begitu keduanya duduk, sebuah panggilan menyerukan nama Cahya mulai terdengar dari arah sudut lapangan.


"Cahya!" Cahya yang merasa dipanggil itupun lantas menoleh kearah sumber suara. Setelah tahu siapa yang memanggilnya, Cahya lantas melambaikan tangannya kearah sang pemanggil tadi.


Seolah mengerti isyarat yang diberikan oleh sang pemanggil tadi yang menyuruhnya untuk datang kesana, membuat Cahya mengangguk pelan.


Eksistensi Cahya yang semula pada orang tadi kini beralih kepada Bryan. Dilihatnya Bryan yang tengah memulai bermain game di ponselnya itu.


"Bryan." Panggilan itu membuat Bryan berdehem, menandakan dia mendengar panggilan Cahya itu.


"Bryan, aku izin kesana sebentar, ya. Boleh, kan?" Izin Cahya kepada suaminya.


Sekarang perhatian Bryan tertuju sepenuhnya pada Cahya, bukan lagi pada game yang tadi dimainkannya itu.


"Mau kemana?" Tanyanya membuat Cahya menujuk kearah dimana tadi orang yang memanggilnya berada.


Bryan mengikuti jari telunjuk milik istrinya itu. Dan bisa ia lihat, disana ada beberapa gadis yang kemungkinan temannya Cahya itu.


"Baiklah, aku izinin. Tapi sebentar saja, jangan lama-lama." Cahya mengulas sebuah senyuman begitu diizinkan oleh suaminya itu.


"Terima kasih, aku hanya sebentar. Sekalian aku ingin menyapa mereka, karena sudah lama aku tidak menyapa mereka semua." Bryan berdehem mengiyakan ucapan sang istri.


Melihat respon baik dari Bryan membuat Cahya kembali mengulas senyum. "Oke, aku hanya sebentar, paling juga nggak sampai 20 menit." Cahya masih tersenyum membuat Bryan ikut mengulas senyum tipis dibibirnya.


"Aku kesana dulu, ya. Kamu jangan kemana-mana." Begitu mengatakan hal tersebut, Cahya lantas beranjak dari posisi duduknya itu.


Begitu sudah melangkah beberapa langkah, Cahya berbalik menatap sang suami yang juga tengah menatapnya. Namun Bryan agak heran, kenapa Cahya berbalik lagi menatapnya.


"Bryan, jangan kangen, ya💞." Begitu mengatakan hal tersebut, Cahya langsung berlalu sambil memegangi pipinya yang terasa panas itu.


Di posisinya saat ini, Bryan semakin melebarkan senyuman begitu mendengar perkataan Cahya yang menurutnya lucu itu. Bahkan Bryan dibuat gemas akan tingkah istrinya itu.

__ADS_1


Bolehkah, Bryan membawa pulang Cahya sekarang juga. Rasanya dia ingin terus bersama istrinya itu. Apalagi ia sempat melihat tatapan mata cowok-cowok yang terus menatap kearah istrinya itu, membuat Bryan semakin memantapkan keinginannya untuk membawa pulang Cahyanya itu.


Butuh beberapa puluh detik untuk Cahya sampai di lapangan. Mengingat banyaknya penonton yang hadir membuat Cahya agak kesulitan untuk sampai ke lapangan. Untungnya saat ini Cahya sudah sampai dimana para sahabatnya itu berada.


"Hai kalian apa kabar?" Ucapa Cahya sambil menyapa dan memeluk para sahabatnya yang akan bertanding itu.


"Kak Cahya." Beberapa adik kelasnya dulu yang tergabung dalam tim Volley segera memeluk kakak tersayang mereka. Sedangkan Cahya hanya terkekeh pelanggan begitu menerima pelukan dari adik junior itu.


"Kami baik tapi rasanya ada yang kurang, sejak kau tidak lagi sekolah di SNB." Ucap salah satu dari sahabat Cahya di tim Volley.


Dengan tersenyum canggung, Cahya membalas ucapan itu. "Kalian ini bisa aja sih, nggak gitu juga kali." Cahya kembali terkekeh begitu mendapat respon rengekan dari para sahabatnya itu.


Cahya berusaha menganti topik pembicaraan, "Ooh ya, aku dengar kalian sudah mulai sparing untuk lomba antar negara itu, ya." Sebagian dari mereka mengangguk, mengiyakan perkataan Cahya barusan.


"Ya, kau benar dan kami masih ada di tahap perputaran 16 besar." Sebagian dari mereka mengangguk dengan lesu. Bukannya apa-apa, hanya saja mereka merasa pesimis dengan peluang kemenangan mereka.


Cahya tentu menyadari tatapan mereka, lantas berucap "Tapi aku yakin kalian pasti bisa. Kalian kan sudah rajin latihan. Kalian hanya perlu dorongan semangat serta kalian harus yakin pada anggota tim, bahwa kalian semua mampu menghadapinya bersama-sama." Ucap Cahya panjang lebar.


"Dan yang terpenting, jangan pikirkan kemenangan. Pikirkan saja bagaimana kerja solid tim kalian. Kalau urusan akhir, hasil apapun itu, itu hanya bonus." Ingat Cahya yang disambut anggukan oleh yang lainnya.


"Tapi tetap saja, kita tidak yakin." Cahya mengangguk, dia tahu rasa pesimis selalu ada saat akan menghadapi pertandingan besar. Dan itu hal wajar yang dihadapi oleh semua orang, Cahya yakin itu.


"Kalau seandainya kalian tidak melaju ke babak selanjutnya, maka jangan cepat menyerah. Mungkin itu sebagai pacuan kalian, agar lebih baik lagi untuk kedepannya." Ujar Cahya yang disambut senyuman dari para sahabatnya itu.


"Kau benar, bukankah itu yang sering kau ucapkan saat kau jadi ketua tim basket kami dan sampai sekarang pun kedudukan itu masih kosong. Tak ada satupun dari kami yang bisa menggantikanmu menjadi ketua Volley putri SNB."


Mendengar perkataan itu, tentu membuat Cahya terkejut. Pasalnya ia pikir kepindahannya dari SNB itu berarti dia keluar dari tim basket Volley. Dan itu artinya ada yang harus  menggantikannya menjadi ketua tim.


'Tapi kenapa seperti ini' pikir Cahya.


"Bukannya Wulan bagus untuk jadi ketua tim." Sang pemilik nama yang disebut, menggeleng pelan. "Aku belum sebaik kau saat memberikan nasehat ataupun bimbingan pada kami. Dan semuanya tahu itu, bahwa kau memang tak pernah ada gantinya."


Cahya membuang napas lelah, "Kalian tahu, kan. Kalau sebuah ketua dalam sebuah tim itu penting. Setidaknya jika ada ketua, kalian akan lebih semangat untuk memulai latihan."


"Peran ketua juga penting, karena ada yang ngebimbing kalian, ada yang mendorong kalian untuk rajin berlatih, ada yang ngasih saran dan nasehat agar kedepannya lebih baik lagi." Lanjutnya yang didengar oleh semua anggota tim.


"Ooh ya, aku ingin ada yang bisa menjadi ketua untuk kepentingan tim kita. Walaupun aku sudah pindah sekolah, setidaknya akan ada yang menggantikanku." Ucap Cahya sambil tersenyum.


"Lagipula untuk kedepannya pasti harus ada ada sosok ketua tim, anggap aja keluarnya aku dari tim memang karena aku  sudah kelas 12 dan aku harus fokus untuk ujian. Bahkan senin besok aku sudah mulai ujian."


"Kalian bawa badge kapten?" Pertanyaan itu diangguki oleh salah satu anggota tim. Badge itu diberikan kepada Cahya.


Cahya menatap sejenak kearah badge yang ada di tangannya saat ini. Selama 2 periode dirinya memakai badge itu di lengan kirinya saat akan memulai pertandingan.


Setelahnya Cahya berjalan menuju kearah salah satu anggota tim. "Wulan aku percayakan tim ini padamu. Kau jangan merasa terbebani karena  menjadi ketua. Ini karena kerja keras kalian, aku belajar banyak dari kalian semua. Jadi terima kasih telah memberikan kesempatan untukku jadi ketua tim selama dua periode ini." Cahya masih tersenyum kepada semua anggota tim yang sudah ia anggap sebagai sahabatnya itu.


Mata para anggota tim basket putri memanas, suasana mendadak tiba-tiba berubah begitu aja. Padahal Cahya sendiripun tidak berniat untuk mengubah suasana yang tadi ceria menjadi mengharukan seperti ini. Tapi apa boleh buat, inilah yang terjadi saat ini.


Begitu menyerahkan bedge di lengan Wulan, semua anggota tim mulai memeluk Wulan dan Cahya.


"Kenapa sih suasana jadi seperti ini. Kau membuat kami ingin menangis saja." Dan semuanya tertawa mendengar gerutuan itu.


Kembali mereka berpelukan sebagai pelepas rindu karena sudah beberapa minggu ini, mereka jarang bertemu dan kalaupun berkomunikasi hanya sebentar. Tidak seintens saat dirinya masih bersekolah di SNB.


.


.


.


.


🍁My Bipolar Boy💞🍁

__ADS_1


Terimakasih Sudah Berkunjung Sampai Sejauh Ini. Bagi yang merayakan, saya ucapkan Selamat hari raya idul fitri 1441 H. Mohon maaf lahir dan batin🙏😇


Tunggu kelanjutannya di Chapter depan, ya💞 Terimakasih😇


__ADS_2