My Bipolar Boy

My Bipolar Boy
64. Anak Volley SNB


__ADS_3

๐Ÿ’žM.B.B๐Ÿ’ž


Kini Cahya sudah berada di dalam mobil Marcel. Keduanya sudah mulai melaju kearah restoran, dimana para anak volley mengajak janjian untuk bertemu dengan Cahya.


Suasana didalam mobil masih santai, bahkan beberapa kali Cahya dan Marcel bertukar cerita. Namun walaupun begitu, Cahya tidak sepenuhnya merasa tenang. Bukan karena tidak nyaman berbicara dengan Marcel, hanya saja rasa tak nyamannya timbul karena masih memikirkan Vino.


Kenapa tidak mencoba menelponnya? Jawabannya karena Cahya tidak memiliki nomor ponsel Vino. Walaupun senyum Cahya masih terulas, namun jangan kira ia bisa bersikap tenang saja.


"Kau sudah dapat teman baru di sekolah barumu itu?" Pertanyaan dari Marcel membuat Cahya menoleh kearahnya.


"Alhamdulillah, sudah," Cahya mengulas senyum kearah Marcel.


"Syukurlah, tapi semuanya baik padamu, kan?"


Cahya tak langsung menjawab, sejenak ia ingat dengan satu orang teman sekelasnya yang nampaknya kurang menyukainya.


"Baik, mereka semua baik." Putus Cahya membuat Marcel menghela nafas lega.


"Memangnya kenapa, kau bertanya seperti itu?" Marcel yang masih menatap kearah jalanan pun sedikit menoleh kearah Cahya.


"Tidak ada apa-apa. Hanya sekedar bertanya." Cahya hanya ber'Oh' ria.


Keduanya masih terlibat obrolan santai, namun sepertinya mereka tidak menyadari ada pengendara yang mengikuti mereka sejak keduanya keluar dari pintu gerbang sekolah tadi.


Tak memakan waktu lama, akhirnya mobil yang dikendarai oleh Marcel tiba juga disebuah restoran. Langsung saja Marcel memarkirkan mobilnya dan mulai mematikan mesin kendaraannya.


"Kau turunlah dulu," Cahya hanya mengangguk kemudian mulai membuka pintu mobil disampingnya.


Begitu tiba diluar, Marcel yang juga sudah keluar dari mobil segera menghampiri Cahya untuk masuk kedalam bersama.


Sebelum itu, Marcel sudah terlebih dulu mengunci mobilnya dengan remote otomatis.


Semasuknya 2 muda mudi itu, tak begitu lama, seorang pengendara yang tadi sempat mengikuti atau mungkin memang dari awal membuntuti itupun mulai memarkirkan motornya tak jauh dari mobil Marcel.


Setelahnya ia mulai membuka helm yang dipakainya dan meletaknya diatas jok motornya.

__ADS_1


Terlihatlah wajah sang pengendara motor tersebut.


Tak ingin ketinggalan jejak, sang pengendara tadi segera menyusul langkah Cahya dan juga Marcel yang sudah lebih dulu masuk kedalam restoran.


Restoran ini terdiri dari 2 lantai. Dan kebetulan para anak volley memesan makanan di lantai 2 jadi membuat Cahya dan Marcel harus menaiki tangga untuk sampai kesana.


"Hei," sapanya membuat hampir semua anak yang berada dalam satu lingkaran meja itupun menoleh kearah sang pemilik nama.


"Ketua." Seru para remaja putri kearah Cahya. Bahkan beberapa dari mereka langsung menarik tangan Cahya dan memeluknya.


Cahya menaikkan alisnya menatap anggota tim Volleynya itu.


"Kalian kenapa?" Pertanyaan itu membuat beberapa orang memutar bola mata mereka malas.


Bukannya menjawab, salah seorang dari yang tadi memeluk Cahya langsung buka suara. "Kenapa kakak pindah sekolah. Pakai acara nggak bilang sama kita-kita," gerutu gadis itu membuat Cahya terkekeh pelan.


"Maaf. Soalnya aku pindah juga dadakan. Jadi tidak sempat mengabari."


"Sudahlah. Suruh Cahya duduk dulu, baru kau bisa menyerangnya dengan pertanyaanmu, Kim."


Ucapan itu membuat Kimmy menarik tangan Cahya agar ikut duduk disampingnya. Kini Cahya sudah duduk disamping Kimmy dan Sarah.


Tapi karena mejanya bentuk lingkaran, posisi Cahya dan Marcel saling berhadapan.


Kayak angka 12 sama 6 didalam jam.


Berhubung yang datang kesana memang ada 12 orang termasuk Cahya dan Marcel. Beberapa dari mereka sedang memesan makanan. Dan sisanya kembali berbagi cerita.


Bahkan Kimmy seperti tidak rela melepas Cahya. Mungkin kalau tidak ditenangkan oleh Cahya dan beberapa anak volley putri, Kimmy sudah menangis tersedu-sedu.


Kimmy memang paling dekat dengan Cahya. Mulai dari pertama masuk club Volley, Cahya adalah orang pertama yang mau berteman dengannya.


Makanya wajar saja, kalau Kimmy merasa sangat kehilangan.


Mungkin karena ada pasangan Andine dan Fajar, suasana yang tadinya melow bisa berubah menjadi ceria dan kocak dengan cepat.

__ADS_1


Kedua pasangan ini memang pasangan yang fenomenal, selain karena berada dalam club yang sama yaitu Volley. Sikap kocak serta konyol mereka sudah terkenal dipenjuru Sma Nusa Bangsa.


Tak sadar, sekarang sudah hampir jam setengah 5. Membuat Cahya undur diri dari pertemuan kali ini.


Ia tak bisa lama-lama, karena sore ini Rima ingin berkunjung kerumahnya.


"Aku harus pulang dulu. Jadi tidak bisa lama lama disini." Sesal Cahya membuat beberapa orang menatap dengan pandangan sedih.


"Yah, padahal baru sebentar saja, kau sudah mau pulang." Si Chika bersuara membuat Cahya tak enak hati.


"Lain kali, kita ketemuan lagi. Lagipula ini juga sudah sore. Jadi aku pamit ya." Belum sempat teman temannya itu menjawab, terlebih dulu Cahya kembali menyambung ucapannya.


"Aku usahakan untuk sering bertemu dengan kalian. Kalian semua jaga diri baik baik. Ingat jaga juga kesehatan kalian. Jangan banyak begadang. Pertandingan besar kan menanti kalian."ย  Cahya menaik turunkan alisnya berniat menggoda teman se volley dulu itu.


"Ketua bisa saja," jawab beberapa anak yang merasa malu akibat godaan Cahya tadi.


Ya, memang setelah pertandingan kemarin, Tim Volley putri berkesempatan ikut tanding antar negara. Bisa dikatakan sebagai perwakilan negara. Jadi tentu mereka harus menjaga stamina agar tidak drop pas hari H.


"Kau mau pulang bareng siapa?" Cahya menoleh kearah Rendra, temannya di tim Volley putra.


"Aku bisa naik bus. Mungkin masih ada angkutan yang lewat daerah rumahku."


"Jangan!" Cegah Marcel yang membuat anak anak disana menatap aneh kearah Marcel.


...**Perhatian...


Up๐Ÿ’ž


Hallo Ya


Masih setia baca M.B.B kan**?


Btw SNB itu Sma Nusa Bangsa ya๐Ÿ˜Š.


Nantikan kehadiran part selanjutnya lagi ya guys๐Ÿ˜‰.

__ADS_1


๐ŸTerimakasih๐Ÿ


๐Ÿ˜๐Ÿ˜‡๐Ÿ˜


__ADS_2