My Bipolar Boy

My Bipolar Boy
109. Tercebur ke Laut


__ADS_3

❇My Bipolar Boy❤❇


.


.


Dan ternyata si penepuk itu adalah si Viona. Cahya mengernyit begitu menyadari kalau yang ada di depannya itu adalah Viona. "Kenapa kau ada disini?"


Viona tampak mengacuhkan pertanyaan itu. Dirinya menatap Cahya dengan pandangan tajam miliknya. "Kau seharusnya jera mendekati Bryanku. Tapi kenapa kau semakin menjadi - jadi, Huh!"


Cahya memasang wajah datar begitu mendengar penekanan di kata Bryanku yang tadi diucapkan oleh Viona itu. "Bukannya aku yang harusnya bilang begitu padamu."


Viona mengeram marah begitu melihat lawannya bukannya takut malah semakin menantangnya. "Kau harus tahu, reputasimu itu sudah hancur. Tapi kenapa kau masih berlagak sok polos begini, Huh!"


Perkataan itu membuat Cahya mengulang kembali ingatannya akan permasalah semalam. "Jangan bilang kau dalang dari penyebaran foto itu."


Dengan senyum sinisnya, Viona menjawabnya, "memang aku dalangnya. Lalu kau mau apa?" Bukannya takut, Cahya malah bangkit dari posisinya. Saat ini Cahya sudah berdiri didepan Viona.


"Jangan karena foto itu, aku akan merasa takut padamu. Itu bukan masalah besar untukku. Lagipula masalah itu sudah selesai semalam." Senyum miring tersungging di sudut bibirnya.


Walaupun sempat terkejut dengan fakta yang baru dia ketahui, bukan menjadi alasan untuk Viona untuk berhenti mengertak orang di hadapannya itu.


"Tapi sepertinya Bryan belum tahu masalah itu." Mendengar nama sang suami dibawa - bawa membuat Cahya sedikit khawatir kalau orang di depannya ini membocorkan hal itu kepada Bryan.


Faktanya memang Bryan belum tahu masalah foto kemarin. Dan Cahya sangat berharap Bryan untuk tidak tahu perkara itu. Walaupun itu foto dirinya dan om Bram, tapi bisa saja Bryan salah paham.


Melihat gelagat aneh dari Cahya, membuat Viona semakin melebarkan seringaiannya itu. "Kira - kira kalau Bryan tahu, gimana reaksinya, ya." Tawa mengejek itu terdengar di telinga Cahya.


Belum lagi, Viona sempat mendorong kasar bahu Cahya membuat sang empunya terdorong sedikit dari posisi awalnya.


Tak terima karena di dorong, Cahya balik mendorong Viona. "Jangan memancing amarahku, ya. Aku bisa membalasmu lebih dari ini." Nada penuh ancaman itu keluar dari celah bibir Cahya.


Sebenarnya Cahya tidak ingin ribut dengan Viona, tapi si Viona ini sudah terlalu sering menganggunya. Belum lagi fakta tersebarnya foto itu adalah karena ulah Viona.


Viona yang tak terima di dorong balik oleh Cahya, kini mengangkat tangannya untuk menampar pipi Cahya.


Plak!


Tamparan itu berhasil mengenai pipi Cahya. Akibat dari tamparan itu membuat pipi Cahya sedikit memerah. Rasa panas mulai menjalar di pipi kanan Cahya. Cahya menoleh kearah Viona yang kini tersenyum sinis padanya.


"Jangan main - main denganku. Aku bisa melakukan hal lebih dari ini, bila kau masih dekat - dekat dengan Bryanku."


Rasa kesal dan amarahnya mulai naik kepermukaan membuat Cahya mendatarkan ekspresinya itu. Dirinya hanya manusia biasa yang tentu saja bisa merasakan sakit dan marah.


Memangnya siapa yang dengan sukarela mengijinkan pipinya ditampar oleh orang lain begitu saja. Jelas saja jawabannya tidak ada! Begitu pun dengan Cahya.


Tatapan tajam yang jarang muncul di kedua mata Cahya, kini mulai muncul kepermukaan. Seolah mengisyaratkan bahwa dirinya itu ada dibalik sorot lembut yang biasa Cahya pancarkan.


"Selama ini aku diam, karena ku pikir kau akan berubah. Tapi ternyata aku salah. Bukannya berubah, kau malah semakin menjadi - jadi." Tatapan tajam itu belum surut dari kedua bola mata Cahya. Bahkan nada penuh penekanan diikutsertakan dalam ucapannya tadi.


"Ku peringatkan untuk yang terakhir kalinya. Jangan berani mencoba memisahkanku dengan Bryan, karena itu adalah hal yang tidak berguna!" Kalimat tajam dan penuh penekanan itu dilontarkan oleh Cahya untuk Viona.


Setelahnya Cahya berniat pergi dari sana, sebab dirinya menyadari tatapan penasaran yang terpancar dari mata para murid yang mungkin sejak tadi memperhatikan keduanya.

__ADS_1


Baru selangkah Cahya berlalu, bisa dirasakan olehnya kalau ada yang dengan sengaja mendorongnya kearah laut. Tubuh Cahya terhempas kearah laut, sebab pagar penghalang hanya sebatas pinggang orang dewasa. Dan pagar itu tak cukup tinggi untuk bisa menahan tubuh Cahya yang kini sudah masuk kedalam laut.


Tatapan serta pekikan terkejut hadir dari para siswa yang sejak tadi memperhatikan pertengkaran antara si Cahya dengan si Viona tadi. Tapi yang bikin gregetan adalah tak ada satupun dari para siswa yang menolong Cahya saat ini.


Mereka semua hanya terdiam di posisi mereka masing - masing yang kini sudah mendekat di area pagar pembatas itu. Sedangkan dibawah saja, Cahya terus menjulurkan tanganya keatas untuk meminta pertolongan.


Cahya itu tidak bisa berenang, makanya sejak tadi dia berusaha minta tolong. Dan lebih mengesalkannya lagi, mereka bukannya menolong tapi malah hanya menjadikan Cahya sebagai tontonan.


"To ... long ak ... u ...." 2 kata terakhir itulah yang diucapkan oleh Cahya sebelum perlahan tubuhnya mulai tertarik ke dasar lautan dalam.


Tak terlihat tubuh Cahya di permukaan air, disusul dengan sosok yang ikut melemparkan dirinya kedalam air.


Byurr,


Keterkejutan itu kembali muncul begitu mengetahui kalau sosok yang baru saja menceburkan diri itu tak lain dan tak bukan adalah Bryan.


Bryan yang tadi baru selesai mengambil minum dibuat bingung dengan keberadaan para murid yang secara kompak melihat ke bawah kapal.


Saat dia berniat mencari keberadaan sang istri, dia mendengar ucapan dari salah satu siswa yang mengatakan kalau Cahya itu tenggelam dilaut.


Ditariknya paksa bahu siswa itu untuk mengatakan hal diucapkannya tadi. Bukannya menjawab dengan cepat, siswa tadi malah menunjuk kearah bawah. Begitu Bryan lihat kebawah, dirinya bisa melihat sosok sang istri ada dibawah sana sambil menjulurkan tangan sembari meminta pertolongan.


Perasaan takut langsung menyelimuti hati Bryan begitu tak lagi melihat keberadaan istrinya itu di permukaan air. Tanpa berpikir panjang, Bryan langsung mendorong kasar orang - orang yang menghalangi jalannya itu untuk menolong Cahyanya itu.


Bryan yang kini berada di dalam air berusaha sekuat tenaga untuk mencari keberadaan sang istri. Begitu ditemukannya, dengan cepat Bryan menghampiri sosok sang istri yang kini terkulai lemas di dalam air itu.


Diraihnya tubuh Cahya untuk bisa dibawanya keatas permukaan. "Ku mohon bertahanlah, sayang." mohon Bryan disela menyelamatkan istrinya itu.


Sampan kecil itu berhasil diturunkan, Bryan dengan sedikit kelelahan membawa tubuh lemas Cahya ke atas sampan itu. Keduanya berhasil naik keatas sampan itu. Dengan bantuan para siswa, sampan itu mulai terangkat menuju ke posisi atas kapal.


Setelah sampai diatas, Bryan yang masih menggendong Cahya itu buru - buru mensejajarkan posisi tubuh Cahya diatas permukaan lantai kapal. "Bangun, sayang." ucap Bryan sambil mencoba membangunkan Cahya. Namun karena tak kunjung bangun, Bryan dengan cepat memberikan napas bantuan pada istrinya itu.


Tak dipedulikannya beragam reaksi yang ditimbulkan oleh para siswa yang melihat aksinya itu. Terpenting saat ini adalah Cahyanya itu bisa kembali sadar.


Di napas buatan yang kelima, tubuh Cahya mulai memberikan respon. Dengan terbatuk, Cahya mengeluarkan air yang sejak tadi tertelan di dalam pernapasannya itu.


Uhuk Uhuk


Melihat kalau Cahya sudah sadar membuat Bryan sangat senang. Dibawanya tubuh dingin sang istri yang kini ada di pelukannya itu. "Syukurlah, kau sudah bangun. Tadi aku benar - benar takut kehilanganmu."


Perlahan Bryan mengeluarkan napas lega begitu melihat mata Cahya mulai terbuka walaupun hanya sedikit. "Bry ... an," panggil Cahya dengan nada lirih akibat dari rasa perih yang masuk kedalam paru - parunya itu.


"Jangan banyak bicara dulu," cegah Bryan yang membuat Cahya tersenyum tipis. Sadar kalau kondisi Cahya belum pulih, membuat Bryan kembali menggendong sang istri ala bridgestyle.


Baru saja Bryan ingin melangkah menjauh, lengan kirinya lebih dulu di raih oleh seseorang. Hal itu tentu membuat Bryan menghentikan langkahnya dan menoleh tajam kearah orang yang memegang lengannya itu.


"Lepas!" Nada dengan penuh penekanan itu keluar dari celah bibir Bryan. Belum lagi tatapan super datar dan tajam yang telah dilayangkan oleh Bryan pada orang itu tadi.


Bukannya menurut, orang tadi malah semakin mengeratkan genggamannya. Tadinya hanya satu tangan kini menjadi dua tangan.


"Aku bilang lepaskan genggamanmu itu." bentaknya tak peduli kalau yang dia bentak kali ini adalah seorang wanita.


Tanpa sadar para siswa mulai menahan napas mereka, begitu tahu kalau dalang dari terjeburnya Cahya kini tengah memegang lengan Bryan. Siapa lagi kalau bukan si Viona. Aksi nekatnya membuat sebagian anak perempuan disana menatapnya dengan bisik - bisik yang kurang enak di dengar.

__ADS_1


"Aku tidak mau. Aku tidak suka melihatmu dekat - dekat dengan dia." Arah tatapan mata Viona mengarah pada Cahya yang saat ini ada di dalam gendongan Bryan. Bryan terkekeh sinis, "lalu apa hubungannya denganku."


Viona semakin mendekatkan dirinya pada sisi kiri tubuh Bryan. Jelas saja Bryan segera mengeser posisi tubuhnya. Dia tidak sudi di dekati oleh perempuan seperti Viona ini.


"Pokoknya aku tidak suka! Apapun yang aku mau, harus aku dapatkan!" teriak Viona tanpa menggubris tatapan tajam yang sejak tadi di layangkan oleh Bryan kepadanya itu.


Dengan menghembuskan napas kasar, Bryan menghembaskan genggaman tangan itu dan akhirnya genggaman tangan Viona di lengannya itu terlepas.


Walaupun terlihat kasar, Bryan masih mencoba menghargai Viona sebagai perempuan. Beda halnya kalau si Viona ini laki - laki, sudah sejak tadi Bryan baku hantam dengannya.


"Aku tegaskan sekali lagi, jangan pernah mengusik ataupun menganggu Cahya dan hubungan kami. Kalau kau masih berani, aku tak akan segan - segan untuk menghancurkanmu!"


Ancaman yang dilontarkan oleh Bryan tadi bukan hanya membuat Viona bergetar ketakutan, tapi hampir semua yang mendengar perkataannya tadi juga merasakan hal yang sama seperti yang Viona rasakan saat ini.


Tapi bukannya menyudahi aksi nekatnya itu. Viona malah semakin menjadi - jadi, bahkan tak tanggung - tanggung. Viona dengan nekat mencium pipi kiri Bryan.


Para siswa yang sejak tadi menonton adegan itu membulatkan mata melebar melihat tingkah agresif dari si Viona ini. Dalam hati mereka, semua merutuki sikap agresif Viona terhadap Bryan itu. Bisa - bisanya mencium tunangan orang di depan orangnya lagi.


Walaupun dengan pandangan berkabut akibat rasa perih dari air laut, tapi Cahya tentu melihat bagaimana pipi kiri sang suami di cium oleh wanita lain. Apalagi wanita itu adalah si Viona.


Bryan mengeram marah, "APA YANG KAU LAKUKAN, HUH?!" Amarah itu datang begitu saja apalagi mengetahui kalau sang istri jelas melihat ketika pipinya dicium oleh wanita lain.


Bentakan itu tak hanya membuat Viona dan para siswa terkejut, tapi juga Cahya yang berada di gendongan Bryan. Ini untuk kedua kalinya Cahya mendengar nada bentakan yang kuat dalam intonasi suara sang suami.


Tentu saja yang pertama adalah ketika Bryan menyuruhnya untuk turun dari mobil waktu itu. Apalagi setelahnya, Cahya di tinggal begitu saja oleh Bryan di jalan tengah hutan.


Viona yang ingin memundurkan langkah begitu mendapatkan tatapan mematikan dari Bryan itupun kehilangan keseimbangan. Sebab dirinya menyenggol kaki kursi yang ada di belakangnya itu.


Byurr,


Tubuh Viona jatuh kedalam air, dengan tangan mengapai keatas seolah meminta pertolongan. Tapi sayangnya tak ada satupun yang menolongnya, apalagi begitu mendengar ucapan dingin dari Bryan barusan.


"Jangan ada yang menolongnya, kalau kalian berani. Ku pastikan kalian tidak akan mendapatkan pernyataan lulus dari pihak sekolah." Ancaman itu berhasil membungkam mulut para siswa yang sebelumya berniat menolong Viona.


Bryan melangkah menjauh dari kerumunan itu tanpa menoleh kearah bawah. Katakanlah Bryan kejam. Tapi tunggu sebentar lagi, karena kalian akan tahu hal yang sebenarnya.


Setelah kepergian Bryan dan Cahya dari sana, para siswa kini memperhatikan Viona yang masih menjulurkan tangannya keatas. Sebagian besar dari para siswa merasa kasihan dan khawatir melihat Viona yang nyaris tenggelam itu.


Tapi pandangan kasihan dan khawatir itu sekejap mata sinar, begitu melihat si Viona dengan santainya berenang ke sisi tangga kapal. Seolah kejadian hampir tenggelam itu hanya sebuah kepura-puraan semata.


Memang benar, Viona hanya pura - pura tidak bisa berenang agar di tolong oleh Bryan. Tapi bukannya di tolong, Bryan malah seolah tak peduli sama sekali. Hal itu tentu saja membuat Viona makin meradang.


Karena hal itulah, Bryan sengaja tidak membiarkan semua orang untuk menolong Viona. Dia tahu kalau di Viona hanya pura - pura tidak bisa berenang. Jangan dikira Bryan itu mudah untuk di kelabui.


Nggak kejam loh, ya. Awas ada yang ngatain Bryan kejam. Nanti dimarahi Cahya loh, ya.


Sorakan dari para siswa tak dipedulikan oleh Viona. Bahkan tanpa malu, si Viona melenggang begitu saja seolah tak ada yang terjadi. Hal itu tentu membuat sorakan 'Huuu' semakin keras terdengar. Bahkan ada yang menjulukinya 'Cantik - Cantik Medusa'.


❕🍁❕🍁❕  


🍁My Bipolar Boy🍁


Terimakasih sudah hadir dan menyempatkan waktu untuk membaca cerita ini. Terimakasih juga untuk setiap Vote dan Komentar kalian semua💖😍

__ADS_1


__ADS_2