
"Apa maksud anda?" kini Ratu Amuba yang bertanya.
"Apa pertanyaan saya kurang jelas. Kalau saya tidak mau menikah dengan Ratu Jenita, bagaimana?"
Hati Jenita langsung mencelos. Ada raasa nyeri saat mendengar pertanyaan Jack yang terdengar tegas dan jelas. Dengan pelan dan hati yang remuk, Jenita pun berkata, "Tidak apa apa. Terima kasih sudah jujur sama saya, Tuan."
Jack sontak terkejut dengan apa yang diucapkan Jenita. Jack yakin sekali kalau Jenita pasti sudah salah paham dengan apa yang dia ucapkan. Niat hati ingin mengerjai dua orang itu, tanpa disangka Jenita yang terbawa suasana.
Jack mencoba memberi kode lewat tatapan mata, tapi malah membuat Jenita semakin salah paham. Jenita sudah ingin menumpahkan air matanya, tapi dia coba untuk menahan karena dia tidak mau dianggap lemah. Apa lagi di hadapann Jenita, ada sang ayah dan Ratu Amuba. Bakalan jadi bahan hinaan jika Jenita terlihat lemah dihadapan mereka.
"Jadi anda sama sekali tidak ingin menikahi putri saya?" tanya Raja Damendra mencoba menegaskan sekali lagi.
Jack tidak ada pilihan lain lagi selain meneruskan sandiwaranya. Urusan menjelaskan tentang Jenita yang salah paham, biarlah diselesaikan nanti di atas ranjang.
"Bagaimana mungkin saya menikahi wanita yang memilki orang tua yang serakah dan suka berkhianat."
Deg!
Raja Damendra dan Ratu Amuba merasa ada yang memukul dada mereka begitu mendengar jawaban Jack yang dengan sangat jelas kalau pemuda itu menyindir mereka. Sedangkan Jenita masih terdiam, meski dirinya kaget juga saat Jack mengatakan sesuatu yang menyinggung ayahnya.
__ADS_1
"Apa maksud anda?" tanya Damendra lagi yang mulai menunjukkan emosinya.
"Tidak perlu dijepaskan, anda pasti sudah tahu, maksud dari perkataan saya, bukan?" jawab Jack dengan seringai liciknya.
"Hey!" teriak Raja Damendra sembari bangkit dari duduknya. "Anda pikir anda siapa? Hah! Masih banyak pria yang mau menikah dengan putri saya! Karena dia adalah putri Raja dan Ratu di istana ini!"
Jack lagi lagi menyeringai dan masih duduk dengan santai. "Yakin ada yang mau?"
"Sudah cukup!" Jenita akhirnnya mengeluarkan suara kerasnya sembari berdiri dan menatap tajam Raja Damendra. "Mau ayah sebenarnya apa? Hah! Sudah tahu dia menolak menikah dengan saya, ayah masih mencecarnya dengan pertanyaan yang tidak penting. Maksud ayah apa!"
Plak!
"Heh!" teriak Jack sembari berdiri saat melihat Jenita tersungkur di singgassannya karena tampara Raja Damendra. "Apa yang anda lakukan? Hah!" Jack langsung mendorong tubuh Damendra hingga dia tersungkur menimpa Ratu Amuba.
"Akh!"
"Yang mulia!" pekik Ratu Amuba sembari menangkap tubuh Raja Damendra.
"Kamu nggak apa apa?" ucap Jack setelah meraih tubuh Jenita dan menangkup wajahnya. Jenita tidak menjawab, tapi air matanya sudah menetes dari dua matanya. Jack langsung menenggelamkan kepala Jenita dalam dadanya dan dia menatap tajam dua orang yang yang sedang berdiri dengan tatapan tajam juga.
__ADS_1
"Kau!" hardik Raja Damendra.
"Apa! Mau mengancam saya?" ucap Jack dengan tatapan yang sangat menantang.
"Hey, Tuan yang terhormat! Anda pikir anda siapa? Harusnya anda malu! Anda bukan penduduk asli pulau ini tapi anda seakan akan pemilik kerajaan dan sok berkuasa di sini. Saya tahu anda disini cuma menumpang dan memanfaatkan Putri Jenita, iya, kan?" cecar Ratu Amuba dengan lantang. "Anda seenak hati menghina kami pengkhianat tapi anda sendiri di sini sebagai apa? Asal usul tidak jelas, sampai mengaku utusan Dewa dan Naga. Lebih memalukan yang mana?"
Seketika Jack terkesiap. Apa yang di ucapkan Ratu Amuba memang benar, Jack bukan siapa siapa di pulau ini. Dia hanya pendatang yang memanfaatkan kesempatan dengan keadaan yang ada. Dia juga yang awalnya memanfaatkan Ratu Jenita dengan memberi tantangan agar bisa tetap bertahan diri sampai menemukan jalan pulang.
Tapi pada kenyataannya, Jack sudah terlibat terlalu jauh dalam masalah kerajaan disini. Hingga dia juga harus terlibat asmara dengan wanita yang awalnya hanya ingin dia manfaatkan karena kedudukan wanita itu lebih tinggi.
Di saat suasana aula istana begitu menegang, diluar istana terdengar seperti ada suara keributan hingga ada penjaga istana yang terbopoh gopoh lari menghadap Jenita.
"Maaf Ratu, di luar istana terjadi keributan."
"Keributan? Kenapa bisa ada keributan?" Jack yang menjawab karena Jenita masih tenggelam dalam pelukannnya.
"Iya, Tuan. Para penduduk menuntut agar Tuan Jack menjadi Raja di Istana ini."
"Apa!"
__ADS_1
...@@@@@...