NEGERI SEJUTA PERAWAN

NEGERI SEJUTA PERAWAN
Dua Wanita Di dalam Kamar


__ADS_3

Disana, di bangunan yang letaknya berada di belakang Istana. Tiga pemuda nampak duduk terpaku setelah menikmati hidangannya. Pikiran mereka masih tertuju ke titik yang sama, yaitu tentang rencana Ratu Jenita yang akan mengumummkan kesembuhannya. Mereka benar benar berpikir keras mencari jalan untuk mencegahnya.


"Kamu benar benar nggak ada ide, Hul?" tanya Nikki kepada pria keturunan India yang sedang menikmati sisa ayam goreng.


"Kalau ada ide, aku pasti udah ngomong sama kalian lah," balas Rahul tanpa memandang orang yang bertanya.


"Kirain kamu lagi nggak ikut mikir? Dari tadi kayaknya kamu santai banget."


"Enak aja!" sungut Rahul tak terima.


"Ah ... aku tahu apa yang harus kita lalukan!" seru Jack.


Karena kaget, Nikki dan Rahul sontak terjengat lalu menoleh ke arah Jack dan serentak bertanya, "Apa?"


"Gini ..." Jack lalu menceritakan idenya, dan dua pria mendengarkan dengan wajah nampak serius.


"Apa itu nggak berbahaya?" tanya Nikki.


"Nggak bakalan, pasti aman," balas Jack yakin.


"Lah terus aku gimana?" Rahul pun ikut bertanya.


"Kamu disini saja buat jaga jaga. Siapa tahu Insana bakalan datang," jawab Jack enteng.


"Yah!" seru Rahul langsung memasang wajah cemberut.

__ADS_1


"Udah, nggak usah protes, ini tuh demi kebaikan kita semua," ucap Nikki. Rahul hanya bisa diam tanpa mau membalasnya.


"Ya udah, ayok, Nik. Kita bergerak."


"Oke!"


Sementara itu di dalam sebuah kamar, Jenita dan Nafata masih terlibat pembicaraan yang sangat serius.


"Putri,"


"Apa?"


"Kapan kamu siap menjadi Ratu mengggantikan aku?"


Jika mengingat kelakuan Ayah dari Jenita, mungkin Nafata bisa saja membenci wanita yang sekarang menjadi ratu menggantikan posisi ayah Nafata. Bagaimana Raja Damendra yang dianggap sahanat baik oleh Raja Kagomara, malah berpihak pada Raja Roma disaat Raja Kagomara membutuhkan bantuan.


Hanya demi harta yang tersembunyi, keserakahan telah menutup mata Raja Damendra untuk melihat kebaikan yang selama hidupnya selalu dilimpahkan oleh Raja Kagomara. Sejak nama Amuba menjadi pendamping Raja Damendra, kehidupan pria itu langsung berubah total.


Namun, Nafata tidak bisa membenci wanita yang pernah menjadi teman masa kecilnya. Nafata justru selalu menemukan kebaikan pada diri Jenita. Seburuk apapun kelakuan ayah Jenita pada keluarganya, Nafata tidak bisa marah pada wanita yang sedang memandangnya.


Nafata tahu, hidup Jenita juga tidak mudah. Sejak ibu kandungnya meninggal, hidup Jenita seperti pion catur yang pergerakannya dikendalikan oleh ayah dan ibu tirinya. Nafata juga tahu, Jenita dijadikan Ratu untuk mencari Informasi tentang harta itu. Namun Jenita sama sekali tidak pernah menanyakanya kepada Nafata. Jenita bahkan tidak pernah peduli dengan harta itu. Jenita hanya ingin bebas, menikmati harinya sebagai seorang wanita.


"Apa kamu ingin ayah kamu murka?" satu pertanyaan meluncur dari bibir Nafata.


Jenita mengalihkan pandangannya ke arah lain. Wajahnya berubah sendu. Sesekali terdengar hembusan kasar dari nafas Jenita. "Aku sudah nggak kuat, selalu ditekan ayahku, Putri. Kamu sudah sering mendengar suara tangisku bukan?"

__ADS_1


Nafata tersenyum tipis. "Lakukan saja apa yang menurut kamu mampu. Jangan terlalu terbebani."


Jenita kembali menatap wanita di sebelahnya. "Tapi jika ayah tahu kamu masih hidup dan berada di sini, kamu pasti tahu apa yang akan terjadi, kan?"


Lagi lagi Nafata mengulas senyum. "Aku tahu apa yang harus aku lakukan. Kamu jangan terlalu khawatir."


"Jangan bilang kamu memiliki rencana untuk kabur," terka Jenita, dan Nafata langsung tergelak. "Ingat, putri. Di luar istana lebih bahaya dari pada disini."


"Aku tahu. Sudah, jangan terlalu dipikirkan. Mending kamu ke Aula utama. Katanya kamu mau mengumumkan kesembuhan kita?"


"Tidak, jangan dulu. Sepertinya para pria itu sangat keberatan. Aku tadi hanya menggertaknya. Biar mereka tahu rasa."


"Hahaha ... bisa aja kamu, Ratu. Padahal ketiga pria itu, wajahnya sudah sangat pucat loh."


Jenita sontak meringis. "Udahlah, aku mau mengumumkan tentang keberadaan kamu dulu. Semoga semua orang yang ada di Istana, bisa merahasiakan tentang kamu yang masih hidup dan sudah sembuh."


Nafata hanya mengangguk sebagai simbol jawaban, lalu Jenita segera saja berdiri dan beranjak keluar dari kamar. Nafata pun ikut berdiri dan melepas bajunya karena ingin mandi. Namun tanpa Nafata ketahui, pintu kamarnya ada yang membuka pelan pelan. Lalu seseorang masuk ke dalam kamar Nafata dan melangkah pelan menuju ke arah Nafata berdiri memunggunginya.


Grep!


Nafata tersentak karena ada yang memegang tubuhnya dan dia langsung menoleh.


"Aw!"


...@@@@@...

__ADS_1


__ADS_2