
"Tuan."
"Hum!"
"Kenapa anda tidak mencoba cara seperti yang anda lakukan tadi saat menyembuhkan saya?"
Nikki tertegun. Ditatapnya wajah wanita yang masih memegang benda di bawah perutnya, tapi gerakan tangannya terhenti. Nafata juga menatap Nikki. Mereka nampak sedang berdikusi lewat tatapan mereka.
Usul yang Nafata ucapkan memang masuk akal, soalnya Nikki sudah dua kali mengalami hal tak terduga yang disebabkan oleh batu bercahaya ungu masuk ke dalam kolam dan berendam di dalamnya.
"Sekarang saya tanya, Tuan darimana mendapatkan cara menyembuhkan saya seperti tadi?"
Nikki menghembus pelan nafas yang masuk. Dia menunduk dan memperhatikan tangan Nafata yang masih menggenggam benda kebanggaannya. Karena mereka sama sama tidak memakai busana, Nikki mengajak Nafata untuk berbaring dan dia menyelimuti tubuhnya dan tubuh Nafata dengan satu selimut. Tidak lupa juga, Nikki menarik kepala Nafata dan menengglamkan dalam pelukannya.
"Aku menemukan cara itu secara nggak sengaja?"
Kening Nafata berkerut, Nafata menarik tangannya dan melepaskan milik Nikki tapi dengan cepat pria itu menahan tangan Nafata dan menariknya agar memegang miliknya kembali.
"Secara tidak sengaja?" Nikki mengangguk. "Bagaimana bisa?"
__ADS_1
Nikki lantas menceritakan awal dari ketidak sengajaan dia dan dua temannya menemukan cara tersebut. Dia juga menceritakan tentang dirinya dan teman teman menjadi jago bela diri.
"Benarkah?"
Nikki mengangguk. "Awalnya aku juga tidak percaya dengan apa yang terjadi, tapi kesembuhan kamu adalah bukti nyata kalau cara tadi memang ampuh."
Nafata mengangguk samar. "Jadi, bukankah cara yang sama bisa saja berpeluang untuk melunturkan kutukan tersebut?"
"Apa aku coba saja memasuki ke dalam lubang kamu?" usul Nikki. "Bukankah tadi kamu sudah berendam cukup lama?"
"Jangan!" tolak Nafata seketika. "Saya tidak mau anda mati sia sia, Tuan."
"Tapi kalau tidak dicoba, kita tidak akan tahu hasilnya, Putri Nafata?"
Nikki tersenyum damai, hatinya tersentuh. Dia langsung mengencangkan pelukannya. "Baiklah, baiklah. Ya sudah, sekarang kita tidur ya?"
Nafata mengiyakan dan keduanya pun terdiam dalam hangatnya pelukan.
Sementara itu, tak jauh dari kamar Nikki. Tepatnya di kamar utama kerajaan, Jack dan Jenita masih belum tertidur. Mata mereka masih terbuka dengan posisi Jenita memunggungi Jack yang sedari tadi memandanginya.
__ADS_1
Jack lantas menggeser tubuhnya ke arah Jenita dan mengerakkan tangan kekarnya melingkar dipinggang wanita itu hingga sang pemilik pinggang terjengat karena merasa kaget.
"Kenapa belum tidur?" ucap Jack pelan di dekat telinga Jenita. Untuk kesekian kalinya wanita itu bergidig karena hembusan nafas Jack sangat terasa menyapu ceruk lehernya.
"Belum ngantuk," jawab Jenita agak ketus, tapi hatinya melompat lompat tak menentu saat Jack sangat menempel pada dirinya. "Tuan, tolong! Di bawah perut anda jangan terlalu menempel pada tubuh saya!"
Sontak saja Jack langsung terkekeh. Bukannya nurut Jack malah semakin menempelkan bagian tubuh di bawah perutnya pada tubuh Jenita dan menggesekanya pelan.
"Tuan!"
"Sudah, diam saja! Aku nggak bakal berbuat yang tidak tidak, Ratu."
Jenita pun pasrah. Dia sadar Jack akan semakin berbuat sesukanya jika Jenita terus memberi larangan. Walaupun dia melarang, tapi sisi liar sebagai wanita normral, Jenita terangsang dengan gesekan yang Jack lakukan.
"Tuan, tolong, saya mohon berhenti!" pinta Jenita dengan suara agak berat karena hasratnya terus meningkat akibat dari perbuatan Jack.
"Kenapa?"
"Jangan memancing hasrat saya, jangan siksa saya seperti itu! Anda tahu sendiri dan anda sadar betul, lubang milik saya tidak bisa dimasuki laki laki, terus tujuan anda berbuat seperti itu untuk apa? Untuk menghina saya hanya karena anda lebih kuat dari saya?"
__ADS_1
Tubuh Jack langsung terdiam.
...@@@@@...