NEGERI SEJUTA PERAWAN

NEGERI SEJUTA PERAWAN
Keyakinan Jack


__ADS_3

"Putri Nafata!"


Pekik Jenita dan Insana bersamaan. Mata kedua wanita itu hampir tidak berkedip. Meski Jenita dan Insana tidak saling kenal sebelum Jenit menjadi Ratu, tapi kedua wanita itu mengenal dengan baik wanita yang sekarang tersenyum kepada mereka. Ketiganya nampak saling peluk dan saling melepas rindu.


"Kamu baik baik saja?"


"Ternyata mereka menyembunyikan kamu disini?"


"Selama ini aku mencarimu?"


"Aku pikir kamu jadi tawanan mereka?"


Bertubi tubi pertanyaan meluncur, dari mulut dua wanita kepada satu wanita diantara mereka. Sedangkan Nafata dengan tenang dan senyum ceria menjawab semua pertanyaan yang terlontar kepadanya. Jenita dan Insana juga saling berkenalan lewat perantara Nafata, hingga akhirnya mereka terlihat sangat akrab saat ini.


"Kenapa kalau wanita sudah berkumpul, bisa selalu heboh, ya? Nggak di dunia kita, nggak di dunia ini, rame banget kalau udah kumpul," ucap Rahul kepada dua rekannnya sambil memeperhatikan tiga wanita yang nampak ribut di atas ranjang sebelah, tempat Nafata terbaring ketika belum sembuh.


"Itulah salah satu uniknya wanita. Coba kalau kita seheboh mereka, pasti kita dikira kaum belok," balas Jack dan ketiga pria itu langsung bergidig ngeri.


"Terus, apa rencana kita selanjutnya?" tanya Nikki.

__ADS_1


"Yang pasti melepas kutukan yang menimpa mereka," balas Jack sambil menatap Jenita begitu lekat. "Mereka sangat tersiksa dengan kutukan itu."


Nikki san Rahul membenarkan ucapan Jack. Biar bagaimanapun mereka tetap wanita yang memiliki hasrat dan membutuhkan sentuhan dari lawan jenis. Bukan hanya Jenita, Insana dan Nafata saja, tapi seluruh penghuni pulau ini. Apalagi yang sudah berusia di atas tiga puluh tahun, sudah pasti mereka sangat mendambakan kaum lelaki hadir mengisi hari hari mereka.


"Tapi aku menemukan fakta lain dari dari mulut Jenita semalam," ucap Jack lagi.


"Fakta?"


"Iya, katanya di pulau ini dan pulau yang lain, kaum pria boleh tidur dengan banyak wanita, tapi tidak boleh menikah dengan lebih dari satu wanita."


"Hah! Yang benar, Jack?" Rahul bertanya dengan tatapan tak percaya. "Kok aneh?"


"Aku belum tanya lebih detail sih, soalnya semalam Ratu cerita sambil nangis."


Rahul yang rasabingin tahunya sangat tinggi sontak mendekat ke arah tiga wanita yang sedang asyik berbagi cerita. Seolah olah ketiga wanita itu lupa dengan apa yang ada di sekitarnya sampai mereka tidak sadar, Rahul sudah ada diantara mereka.


"Maaf, Ratu," ucap Rahul dengan keberanian penuh menyela obrolan tiga wanita. Sontak obrolan mereka langsung terhenti. "Apa saya boleh bertanya?"


Jenita menatap Rahul. "Silakan? Mau tanya apa?"

__ADS_1


Rahul lantas menanyakan apa yang dia dengar. Jack dan juga Nikki yang sama sama penasaran, akhirnya ikut mendekat dan duduk satu ranjang dengan Rahul, berhadapan dengan tiga wanita.


"Benar," Nafata yang menjawab. "Di beberapa kerajaan yang ada dibumi ini, memang memiliki tradisi seperti itu. Satu pria tidur dengan banyak wanita."


Tentu saja ketiga pemuda langsung terkejut. Mereka saling pandang dengan tatapan penuh tanya lalu kembali melempar pandangannya ke arah tiga wanita. Salah satu dari mereka pun bertanya, "Alasannya?"


"Untuk menguji keperkasaan dan memperbanyak keturunan," masih Nafata yang menjawab.


Lagi lagi wajah heran terlihat jelas pada tiga pemuda itu, dan salah satu dari mereka kembali melempar tanya. "Kok bisa begitu?"


"Ya bisa lah," kini Jenita yang menjawab. "Berganti wanita dalam berhubungan, menjadi salah satu tolak ukur untuk menentukan kekuatan dan keperkasaan pria. Semakin banyak wanita yang bisa dia ajak berhubungan badan, semakin tinggi juga derajatnya. Dia bisa diangkat jadi pejabat kerajaan, pejabat daerah atau paling rendah tapi istimewa, sebagai pasukan perang."


Rasa heran yang semakin tak terhingga, tentu saja langsung menyeruak di wajah tiga pemuda. Bagaimana bisa ada tolak ukur seperti itu? Ini sebuah fakta yang menyenangkan sebenarnya bagi ketiga pria itu. Tapi sayang, terhalang kutukan.


"Mungkin karena alasan itu juga, sang naga mengutuk para perawan. Agar keperkasaan pria runtuh dan penduduk bumi perlahan musnah karena tidak dapat berhubungan badan, dan juga kesulitan untuk memiliki keturunan akan semakin banyak," Insana pun ikut mengeluarkan suaranya.


Ketiga pria itu manggut manggut tanda setuju dengan pernyataan Insana.


"Kalian tenang saja, tidak lama lagi, kami pasti akan melenyapkan kutukan menjijikan itu, percayalah!" ucap Jack lantang penuh keyakinan.

__ADS_1


...@@@@@@...


__ADS_2