
"Kok kamu malah enak enakan tidur sih? Jenita hilang!"
"Hilang bagaimana? Jelas jelas tadi dia duduk di depan kandang kuda."
"Kandang kuda? Kandang kuda yang mana?"
"Yang mana lagi. Di sini kandang kuda hanya ada satu!"
"Mana ada! Kita udah nyari kesana tapi nggak ada. Kudanya aja masih utuh!"
"Apa!" Jack langsung terbangun dari tidurnya. "Nggak mungkin!" pekik Jack. Dengan langkah agak sempoyongan dia bergegas menuju ke kandang kuda. Benar juga, disana Jack tidak menemukan suliapapun. Bahkan saat Jack masuk ke dalam kandang kuda. Kini wajah Jack malah terlihat bingung. "Tadi aku ketemu dia duduk disini."
"Kapan kamu ketemu Jenita disitu?" tanya Nikki dengan kening yang berkerut.
"Tadi saat aku pulang dan menaruh kuda,"ucap Jack agak terbata.
"Apa! Jadi saat kamu baru pulang, kamu memilih menemui kita dan membiarkan Jenita sendirian disini?" tegas Nikki dan Jack mengguk. "Astaga, Jack! Kok kamu tega banget sih?"
"Aku mana tahu bakalan jadi begini. Aku pikir dia akan ngikutin aku, jadi sengaja aku nggak ngajakin dia."
__ADS_1
"Ya ampun Jack, kok kamu jadi tega gitu?" ucap Rahul. "Hanya gara gara beda pendapat, kamu sampai segitunya memperlakukan dia?" Jack pun hanya terdiam dengan ekspresi bingung.
"Kamu tahu nggak sih Jack. Hanya karena merasa bersalah sama kamu, Jenita mencari kamu kemana mana hingga malam hari," sambung Nikki.
"Apa!" pekik Jack.
"Ya! Dia lari kesana kemari nyariin kamu. Dia nangis nangis karena menyesal telah menentang keinginan kamu. Dia nungggu kamu pulang sampai lupa makan malam, hanya ingin minta maaf sama kamu. Terus disaat kamu pulang, kamu malah mengabaikan Jenita, Astaga!"
"Sekarang kalau udah kayak gini, gimana, Jack? Udah sangat malam, mau mencari Jenita kemana?"
Jack hanya diam membisu. Tubuhnya merosot ke atas rumput dimana Jenita tadi duduk. Sungguh saat ini penyesalan menelusup di relung hatinya yang begitu dalam. Berandai andai pun percuma, semua terjadi begitu saja. Nikki dan Rahul yang merasa kesal langsung menarik wanita wanita mereka meninggalkan Jack sendirian.
Jack terduduk lemas di atas singgasana. "Jenita." gumamnya.
Dan pagi pun menjelang, Jack yang baru terbangun karena tertidur di singgasana nampak begitu sangat kacau. Beberapa kali dia mengusap kasar wajahnya sendiri. Jack dengan langkah lemas berjalan menuju kamarnya.
Sesampainya di dalam kamar, Jack tercenung. Dia tidak melihat siapapun disana. Jack berharap jenita sudah kembali pagi ini. Tapi sepertinya harapan tinggal harapan. Di sana tidak ada tanda tanda keberadaan Jenita.
Sedangkan di tempat lain, Jenita juga baru tersadar dari tidurnya. Setelah lelah menangis semalaman, dia langsung terlelap di atas tikar yang semalam lumayan berdebu tapi sudah dia bersihkan. Begitu mata terbuka, Jenita langsung duduk sambil meregangkan kedua tangannya.
__ADS_1
"Sekarang aku harus ngapain? Pulang ke istana? Mending tidak. Lebih baik aku disini saja. Bukankah aku sudah tidak di inginkan?" Jenita bergumam pada dirinya sendri.
Jenita bangkit dan menuju lemari barharap ada baju Nafata disana. Ternyata ada beberapa kain yang lumayan tebal di dalam lemari tersebut. "Lumayan masih bisa di pakai." Jenita sontak mengganti pakaiannya. Setelah semuanya selesai dia memutuskan keluar dari gubug.
"Sekarang tinggal ke hutan cari buah," dengan langkah ringan Jenita memasuki hutan tanpa rasa takut sedikutpun.
Kembali ke istana, Jack sedari tadi hanya melamun di ruang makan. Orang orang yang mencari Jenita, tak ada satupun yang memberi kabar baik. Jack pun terus terusan di dera rasa bersalah.
Di saat bersamaan, Ratu Amuba dan Raja Damendra datang ke istana. Mereka ingin memastikan kalau orang yang bernama Jack benar benar sudah mati karena racun. Dengan sangat semangat, mereka memasuki istana Kagomara. Entah kapan mereka berangkatnya sehingga mereka sudah sampai di Istana lumayan pagi.
"Lihat, Yang mulia, wajah wajah penjaga sangat murung. Pasti mereka sedih karena kehilangan Tuan Jack, hihihi ..." bisik Ratu Amuba dengan senangnya.
"Benar! Rasain kalian! Akan aku siksa karena mendukung Jack," sahut Raja Damendra.
Saat mereka mau memasuki istana, mereka memerintahkan pengawal untuk memanggil Jenita. Tanpa menunnggu jawaban pengawal, mereka langsung saja masuk ke dalam Istana.
Senyum Raja Damendra dan Ratu Amuba seketika langsung hilang dan berubah menjadi rasa terkejut yang luar biasa. Begitu mereka masuk Istana, mata keduanya membulat melihat siapa yang sedang duduk di singgasana.
"Tuan, Jack!"
__ADS_1
...@@@@@@...