NEGERI SEJUTA PERAWAN

NEGERI SEJUTA PERAWAN
Tanpa Hasil


__ADS_3

"Anda tahu, Anda sangat membutuhkan batu bercahaya ungu. Hanya demi rasa sakit hatinya Anda membuat manusia harus saling serang. Sedangkan anda tahu, batu itu lah yang sedang diperebutkan. Lalu jika semua orang mati, siapa yang akan akan memberikan batu itu? Apa lagi jika batu itu hancur, apa anda siap?"


Semua yang ada disana terkesiap mendengar penjelasan Jack, terutama Naga jantan dan juga Naga betina. Ketika keduanya mencerna ucapan Jack baik baik, mereka sadar kalau apa yang diucapkan Jack memang benar. Kalau umat manusia semuanya mati, bagaimana bisa Naga akan menemukan batu bercahaya ungu? Pasti hal itu akan semakin sulit untuk sang naga mencari sumber kekuatan istrinya itu. Saat batu bercahaya ungu terbelah menjadi tiga bagian saja, Naga sudah kalang kabut, bagaimana jadinya kalau batu itu menjadi hancur berkeping keping?


"Mungkin karena anda merasa lebih kuat dan lebih hebat dari manusia, jadi anda terlalu angkuh memggunakan kekuatan anda tanpa memikirkan dampaknya. Tapi anda lupa, kalau ada makhluk tak kasat mata yang kekuatannya lebih tinggi dari anda. Dialah pemilik muka bumi ini. Dia diam tapi memperhatikan. Dia bisa saja dengan mudah menghancurkan bumi tanpa perlu mengancam. Anda tahu bukan siapa dia?"


Lagi lagi ucapan Jack berhasil menampar Naga jantan. Malu, mungkin itu yang dirasakan Naga saat ini. Dia yang merasa selalu lebih unggul dari manusia, justru tertampar oleh ucapan manusia juga. Apa lagi manusia itu seperti tidak memiliki ketakutan saat berhadapan dengan Jack.


"Baiklah, sepertinya kita sia sia datang kesini. Mau pakai cara apapun, pada akhirnya semua akan tahu kalau batu bercahaya itu ada pada kita. Sekuat apapun kita akan menutupi dan menghindarinya, lama kelaman juga pasti bakalan ketahuan, iya nggak?" ucap Jack kepada dua temannya.


"Benar banget, Jack. Kalau begitu lebih baik kita pulang. Kita pake cara yang lain saja," sahut Rahul.


Ketiga pemuda itu lantas berdiri dan langsung pamit. Naga jantan mempersilakan. Kali ini dia dan istrinya harus bersabar lagi untuk mendapatkan batu bercahaya ungu. Meminta sekarang pun percuma, Jack terlalu pintar membalik keadaan yang bisa menyudutkan posisi sang Naga.

__ADS_1


"Padahal batu itu sudah ada di depan mata kita, kenapa malah semakin sulit kita menggapainya?" ucap Naga betina dengan tatapan nyalang ke arah tiga pemuda itu menghilang dari pandangan.


Sang Naga menatap lekat wajah istrinya yang tampak sedih dan kecewa. "Maafkan aku, Istriku. Aku salah perhitungan. Karena amarah, aku tidak bisa berpikir panjang lagi," ucap Naga jantan penuh sesal.


Naga betina pun menoleh. "Jangan menyesali apa yang sudah berlalu, Suamiku. Sekarang kita pikirkan saja, apa yang akan kita lakukan kedepannnya untuk mendapatkan batu itu."


Naga jantan hanya mampu mengangguk dan tersenyum samar, kemudian keduanya saling diam dengan tatapan mata berbeda arah dan pikiran yang berkelana keman mana.


Sementata itu, tiga pemuda mengendarai pelan kuda mereka hutan yang mereka lewati tadi. Sepanjang perjalanan, merekapun terlibat dalam pembicaraan yang serius meski kadang diselingi suara tawa.


"Apa kalian siap? Menjebol mahkota mereka semua?" bukannya menjawab, Jack malah mengajukan pertanyaan kepada keduanya.


"Aku sih siap siap aja, Jack. Barang enak, kok. Nggak susah lagi dapatinnya," jawab Rahul.

__ADS_1


"Bener, Jack. Para wanita itu kan, yang pada datang sendiri? Jadi ngapain kita menolaknya? Kapan lagi ada kesempatan seperti itu?" Nikki ikut mengeluarkan pendapatnya.


"Ya sudah kalau gitu, tapi khusus yang muda dan cantik itu bagianku. Kalian sisanya," ucapan Jack langsung membuat ketiga pemuda menoleh ke arah Jack bersamaan. "Kenapa? Nggak terima?"


"Ya nggak bisa gitu dong, Jack!" seru Rahul. "Aku juga mau bagian yang cantik dan masih muda. Enak aja."


"Iya Jack. Aku juga mau! Yang cantik itu bikin hasrat makin meninggi tahu nggak?" ungkap Nikki.


"Oh tidak bisa! Keputusan mutlak ada di tanganku. Yang cantik dan masih muda khusus buat aku, bye!" ucap Jack, dan dia langsung memacu kudanya lebih cepat lagi.


"Jack, woy! Tunggu! Nggak bisa begitu dong!" protes Rahul dan langsung memacunya kudanya menyusul Jack. Begitu juga dengan apa yang Nikki lakukan.


Tanpa ketiganya sadari, gerak gerik jack ada yang mengawasi. Tak jauh dari keberadaan mereka tadi, ada beberapa pasang mata yang mengintai Jack dan dua rekannya.

__ADS_1


...@@@@@...


__ADS_2