NEGERI SEJUTA PERAWAN

NEGERI SEJUTA PERAWAN
Beneran Berhasil!


__ADS_3

"Sepertinya ini bukan cara untuk menyembuhkan Nafata," gumam Nikki, lalu dia kembali turun ke dalam kolam untuk mengangkat tubuh Nafata. Namun saat tubuh Nikki hendak membungkuk, dia dikejutkan dengan sesuatu yang keluar dari dalam kolam.


"Kamu mau membunuh saya? Hah!"


Mata Nikki tentu saja langsung membelalak tak percaya dengan apa yang dia lihat di hadapannya. Mulut Nikki terbungkam bersama rasa terkejut yang sedang terjadi padanya.


"Saya pikir anda orang baik, tapi nyatanya ..." wanita itu masih marah tanpa sadar. Hingga beberapa saat kemudian saat kesadarannya kembali, Nafata langsung terbungkam dan matanya mendelik menatap Nikki yang perlahan sedang tersenyum kepadanya.


"Aku ..." ucap Nafata agak terbata lalu dia memperhatikan tubuhnya yang sedang berdiri di tengah kolam. Tangan dan kaki, Nafata gerakan dan dia masih tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi kepadanya. Nafata kembali menatap Nikki dengan mata yang mulai berkaca kaca. "Saya sembuh, Tuan! Saya sembuh!"


Nikki mengangguk dengan perasaan yang terharu dan tentunya sangat bahagia. "Benar, kamu sembuh."


Tangis Nafata langsung pecah dan dengan spontan dia langsung memeluk Nikki. "Saya sembuh, Tuan! Saya sembuh! hiks ... hiks ..."


Nikki pun membalas pelukan Nafata. "Selamat ya? Akhirnya kamu bisa bebas bergerak sekarang, Putri."


Suara tangis Nafata makin menjadi hingga saat dia sadar sedang memeluk seorang pria, Nafata sontak saja melepaskan pelukannya dari pria itu dan langsung salah tingkah. Nikki tersenyum dan berjongkok mengambil batu bercahaya ungu, lalu segera memisahkannya kembali menjadi tiga bagian.


"Itu?" tanya Nafata saat melihat Nikki memegang batu bercahaya ungu.


"Ya ... kami sudah menemukan caranya," jawab Nikki sembari mengembangkan senyumnya.

__ADS_1


"Bagaimana bisa?"


"Ceritanya nanti saja ya? Lebih baik kita naik, dingin."


Nikki menggandeng tangan Nafata hingga mereka naik ke permukaan, lalu tangan pria muda itu terulur hendak melepas pakain wanita yang ada di dihadapannya.


"Jangan! Biar aku saja," tolak Nafata sambil menyilangkan telapak tangan di dadanya.


"Nggak apa apa, lagian kita sudah pernah saling lihat tubuh kita masing masing tanpa busana, kan?" balas Nikki sambil menurunkan tangan Nafata dan melucuti semua pakaiannya. Nafata pun pasrah saja meski rasanya lebih canggung daripada saat dia sakit.


Setelah itu Nikki melepas bajunya sendiri lalu mengambil kain untuk mengeringkan tubuhnya dan tubuh Nafata. Sedangkan Nafata sendiri tetap diam sambil kadang melirik pria di hadapannya. Senyum Nafata tiba tiba terbesit saat matanya tak sengaja melihat benda yang mengangguk angguk di bawah perut Nikki.


"Tuan!"


"Benda di bawah perut anda menegang," ucap Nafata sambil mengalihkan pandangannya dengan bibir menahan senyum.


Nikki sontak saja tertawa lirih, lalu tangan Nikki mengusap gundukan daging tembem yang terbelah diantara dua kaki Nafata. "Itu tandanya dia pengin bersarang disini, tapi sayang sekali, disini ada jebakannya.."


"Apa tuan pernah memasukan milik Tuan, ke wanita lain?"


"Belum, belum pernah," ucap Nikki dusta, lalu dia menggandeng Nafata menuju ranjang dan mendudukannya ditepian.

__ADS_1


"Kenapa saya ragu dengan jawaban anda, ya?"


Nikki sontak saja tergelak. "Kamu mau pegang punya saya tidak?" tanya Nikki mengalihkan pembicaraan dan dia menuntun tangan Nafata menuju benda benda di bawah perutnya. Awalnya Nafata agak ragu, tapi berkat rayuan Nikki, dia mau juga.


"Digenggam gitu saja udah enak, apalagi kalau dimasukan ke dalam punya kamu ya?"


Nafata tersenyum sambil menggerakkan jari jarinya yang memegang barang milik Nikki. "Apa Tuan tidak menemukan cara untuk melunturkan kutukannya?"


"Belum, benar benar, misteri. Apa aku serahkan saja batu itu ke naga? Lalu meminta pada sang naga agar mencabut kutukannya?"


"Saya rasa itu bukan ide yang bagus, Tuan. Belum tentu Naga mau mengabulkannya. Mungkin saja, naga memberi kutukan seperti ini bukan hanya untuk batu itu. Bisa saja naga ada tujuan lain."


"Begitu yah? Duh jadi makin sulit."


Nafata kembali tersenyum tipis. "Tuan."


"Hum!"


"Kenapa anda tidak mencoba cara seperti yang anda lakukan tadi saat menyembuhkan saya?"


Deg!

__ADS_1


...@@@@@...


__ADS_2