
Dan keesokan harinya, setelah para pelayan melaksanakan tugasnya, mereka langsung membentuk kelompok menjadi beberapa bagian. Kelompok kelompok itu nantinya akan berbagi beberapa tugas. Sebagian kelompok bertugas mencari laki laki dan sebagian lagi tetap berada di istana. Mereka akan melaksanakan tugas mereka secara bergantian dan juga sangat rahasia.
Bukan hanya para pelayan saja. Para penjaga istana dan prajurit juga membentuk kelompoknya sendiri. Selain berjaga di istana dan mencari beberapa pria, tugas kelompok ini juga menyebarkan kabar baik kepada para penduduk pulau Kagomara secara rahasia.
Banyak warga yang awalnya tidak percaya dan meragukan berita lunturnya kutukan para naga. Namun kesembuhan Ratu Jenita dan Insana, meyakinkan para warga kalau berita itu benar. Sontak saja mereka berlomba lomba mencari pria hingga ke luar pulau.
Sedangkan Jack sendiri, bertugas mempersiapkan ramuan yang nantinya akan dia serahkan kepada para pria. Jack tidak sendiri, dia di bantu Nikki, Rahul dan juga tiga wanita pasangan mereka. Atas perintah Ratu Jenita, beberapa penjaga istana juga mendirikan beberapa tenda yang nantinya akan digunakan untuk ritual pelunturan kutukan dengan tujuan untuk memperkuat bukti keberhasilan Jack dan kawan kawan.
Hingga tiga hari menjelang, ada sekitar seratus pria berhasil dijerat oleh para wanita. Kebanyakan para pria yang datang, adalah warga asli penduduk Pulau yang memilih pergi lantaran kutukan tersebut. Para pria itu juga awalnya ragu, tapi ketajaman mulut wanita membuat para pria akhirnya luluh dan mau membuktikannnya.
"Apa kalian melihat potongan potongan bambu yang ada dihadapan kalian?" ucap Jack dengan sangat lantang dihadapan para laki laki. "Di dalamnya ada ramuan khusus yang akan membantu kalian melunturkan kutukan Naga dari laut timur."
Semua telinga mendengarkan dengan seksama apa yang Jack sampaikan dengan suara yang sangat lantang.
"Ambil dan minumlah isinya! Setelah itu, nikmatilah malam panjang kalian bersama para wanita sepuasnya!"
"Yeeee!" teriak para pria dan mereka langsung mengambil potongan bambu yang dijadikan tempat minum. Dengan semangat para pria menenggak isinya. Setelahnya, mereka langsung menarik wanita dan menyebar, memasuki tempat untuk melakukan ritual massal.
__ADS_1
Jack, Nikki dan Rahul tentu saja turut andil dalam malam itu. Mereka juga telah menyiapkan wanita cantik di dalam kamar mereka. Sedangkan Jenita, Nafata dan Insana, memilih berdiam diri di dalam istana di saat para pria mulai melaksanakan ritual tersebut.
"Wah! Ternyata benar, aku berhasil! Aku masih hidup!" Seru seorang pria dari dalam tenda dengan penuh kegirangan.
"Yeee! Aku masih hidup!" seru yang lainnya.
Dan suara suara itu seperti sahut menyahut dari beberapa pria yang telah berhasil menembus mahkota dan mereka tidak meregang nyawa. Selain suara dari para pria, rintihan kesakitan dan kenikmatan juga mulai terdengar dari mulut para wanita. Malam itu benar benar menjadi malam bercinta secara massal di pulau Kagomara.
"Kamu dengar suara teriakan itu?" ucap Rahul pada wanita yang saat ini sedang dalam satu kamar bersamanya. Tangan kekar pria itu perlahan telah bergerilya di balik baju tipis si wanita.
"Mereka berhasil. Para pria itu berhasil melenyapan kutukan dari naga."
"Berarti, Tuan Jack tidak berbohong, Tuan?"
"Tentu saja tidak. Maka itu kamu siap tidak kutukan yang ada di sini, aku hilangkan?" ucap Rahul sambil memijat pelan lubang milik wanita itu.
"Sangat siap, Tuan. Saya selalu menunggu saat saat seperti ini."
__ADS_1
Rahul langsung menyeringai. "Baiklah, kita mulai sekarang ritualnya."
Wanita itu mengangguk pasrah. Dengan senyum penuh kenakalan, Rahul langsung meraih dagu wanita itu dan menempelkan bibirnya. Perlahan tapi pasti, Rahul juga merebahkan wanita itu dan langsung menyerangnya dengan penuh kelembutan.
"Sekarang, tingggal lubang kamu, bersiaplah, jangan tegang, mengerti?" ucap Rahul beberapa saat kemudian begitu selesai melakukan pemanasan. Wanita itu hanya mengangguk dengan wajah yang sudah sangat berhasrat.
Rahul membentangkan dua kaki wanita itu, lubang indah yang tertutup rimbunnya bulu kini tersaji di hadapannya. Tangan kiri pria itu mengusap lembut lubang rimbun yang sudah basah, sedangkan tangan kanannya memegang benda menegang miliknya sendiri yang dia gesek gesekan ke bibir lubang di hadapannya.
Perlahan namun pasti, benda menegang itu mulai membelah celah lubang yang masih sangat sempit. Rintihan kesakitan mulai mewarnai dalam penyodokan pertama itu. Begitu Rahul merasakan sesuatu di dalam sana, Rahul diam sejenak, lalu menghitung dalam hati, satu, dua, tiga, Rahul menghentakan pinggangnya dengan keras.
Bless!
"Akhh!"
Satu mahkota telah terkoyak.
...@@@@@...
__ADS_1