
"Semua ini kan berkat bantuan kamu, Tuan," balas Jenita dengan kembali mendaratkan kepalanya di dada bidang Jack. "Tapi Tuan, aku bingung."
"Bingung? Bingung kenapa, Sayang?"
"Apa yang harus aku lakukan kepada ayahku?"
Jack membelai rambut Jenita dengan lembut. "Jangan terlalu dikhawatirkan. Raja Damendra sudah saya larang datang kesini. Kalau dia nekat datang dan membawa pasukannnya, mau tidak mau kita harus melawannya."
Jenita hanya terdiam. Sejahat apapun ayahnya saat ini, tapi Jenita masih ingat semua kebaikan sang ayah sebelum adanya Ratu Amuba. Tidak dapat dipungkiri, Jenita sangat rindu akan sikap ayahnya seperti dulu. Jenita rindu peluk hangat seorang ayah.
"Tapi jangan terlalu menyakiti ayahku ya, Tuan?" pinta Jenita lirih.
"Baiklah, aku akan usahakan semampuku," balas Jack. "Lebih baik kita ke depan, yuk. Kita sambut para pahlawan kita."
Jenita mengangguk lalu dia mengurai tangan yang memeluk Jack. Kemudian dengan tangan bergandengan, kedua anak manusia itu beranjak menuju keluar istana.
Tak butuh waktu terlalu lama, akhirnya yang ditunggu datang juga. Nikki, Rahul, Nafata dan Insana serta beberapa orang lainnnya, terlihat sedang berbondong bondong kembali ke istana. Meskipun lelah, wajah mereka tampak begitu bahagia karena kemenangan besar yang mereka raih saat ini.
"Wah! Pahlawan pahlawan kita sudah datang!" seru Jack begitu melihat teman temannya berdatangan.
"Hahaha ... pahlawan," celetuk Rahul. "Tapi keren juga ya ternyata jadi pahlawan. Kayak gagah aja gitu."
__ADS_1
"Benar," Nikki menimpali. "Mungkin ini juga yang dirasakan para pahlawan kita dulu kali ya? Sangat bangga karena membela negara sendiri. Aku aja yang membela negara orang sangat bangga."
"Hahaha ... betul, makanya kita patut bangga pada pahlawan kita. Perjuangan mereka berat bro," ucap Rahul penuh semangat. Jack dan Nikki mengangguk setuju dengan pendapat Rahul.
"Tuan," Nafata menyela pembicaraaan tiga pria di dekatnya. "Bagaimana dengan tahanan kita? Apa dijadikan satu dengan Raja Roma di dalam penjara?"
"Jangan!" tolak Jack. "Pisahkan mereka dulu dari rajanya. Biar Raja Roma masih berharap kalau pasukannya menang. Taruh mereka di tempat lainn. Aku ingin melihat Raja Roma terus menunggu kemenangannya."
"Baiklah."
Sedangkan di tempat lain, rasa bahagia juga sedang dirasakan oleh si Naga jantan. Sejak perlajanaanya menuju rumah, senyum bahagia tak surut sekalipun dari wajah naga yang sedang menjelma menjadi manusia.
"Suamiku!" seru Naga betina begitu melihat sang suami telah kembali.
"Tidak apa apa, Suamiku. Aku baik baik saja. Aku tidak sabar menunggu kepulanganmu."
"Astaga!" Naga jantan langsung memeluk sang istri. "Lebih baik sekarang kita masuk ya?"
"Tungg dulu!" cegah Naga betina. "Ada yang ingin aku tanyakan."
"Iya, aku tahu, istriku, kita masuk dulu. Nanti aku jawab semua pertanyaanmu," balas Naga Jantan sedikit memaksa.
__ADS_1
"Baiklah," Naga betina akhirnya pasrah.
Suami istri itu akhirnya masuk ke rumah mereka. Sambil melangkah, Naga jantan menceritakan semua kejadian yang dia alami dengan sangat antusias. Semua pertanyaan yang dilontarkan Naga betina, dijawab dengan cepat dan lancar oleh Naga jantan.
"Berarti sebentar lagi batu bercahaya ungu akan kembali padaku, Suamiku?" tanya Naga betina antusias. Wajahnya bahkan sampai berbinar saat melempar pertanyaan itu kepada suaminya.
"Tentu saja, Istriku, Tuan Jack akan segera mengembalikan batu itu pada kita. Apa kamu sangat senang?"
"Sangat, sangat senang sekali," jawab Naga betina lantang dengan senyum yang merekah indah sebagai tanda kalau dia bahagia dengan kabar tersebut.
Naga jantan pun merasakan kebahagiaan istrinya. Dia yakin dengan kembalinya batu bercahaya ungu, kehidupan normal tanpa rasa takut akan kembali dijalankan oleh sepasang naga itu. Dia juga ingin segera menghasilkan keturunan sebagai penerus kekuasaannya.
"Ya udah, sekarang kita harus bersiap siap. Kita akan ke istana menemui Tuan Jack dan yang lainnya," ajak Naga jantan.
"Baik, suamiku.
Dan waktu terus melaju. Di dalam penjara, Raja Roma masih membual dengan angkuhnya kalau sebentar lagi dia akan dibebaskan. Apa lagi sekarang malam telah datang, Raja Roma semakin yakin jika kemenangan saat ini sedang mendekat ke arahnya.
Senyum Raja Roma semakin merekah saat melihat penjaga penjara membuka pintu yang mengurung dirinya dan meminta Raja Roma keluar dari penjara.
"Bagaimana? Apa sekarang kalian telah sadar dengan kehebatan pasukan saya?" tanya Raja Roma semakin menunjukkan keangkuhannya.
__ADS_1
Sang penjaga tak menghiraukan ucapan raja itu tapi malah menyuruh Raja Roma mengikutinya. Tanpa ada rasa curiga, Sang raja melangkah menuju istana dengan senyum cerahnya. Namun betapa kagetnya dia saat sampai di aula istana Kagomara hingga senyum cerah Raja Roma langsung memudar.
...@@@@@...