NEGERI SEJUTA PERAWAN

NEGERI SEJUTA PERAWAN
Rencana Di Balik Rencana


__ADS_3

"Maka itu, aku ingin mencoba bertarung melawan dia. Aku ingin membuktilan sehebat apa orang itu," ucap Raja Roma penuh pancaran keangkuhan.


"Kalau begitu apa yang harus kami lakukan, Yang mulia?" tanya seorang Jenderal.


"Siapkan beberapa pengawal. Aku ingin berkunjung sendiri ke sana."


"Baik, Yang mulia."


"Tapi, Yang mulia," tiba tiba sang ajudan menyela. "Bagaimana dengan pencarian putri Nafata. Bukankah itu hal yang paling penting? Kalau boleh saya sarankan, mending kita fokus pada pencarian batu bercahaya dulu. Bukankah akan lebih mudah mengalahkan pria itu jika batu naga sudah berada dalam genggaman tangan kita?"


Raja Roma seketika terdiam dan langsung mencerna ucapan sang ajudan. Jika dipikirkan, apa yang dikatakan sang ajudan memang benar adanya. Kekuatan batu bercahaya ungu pasti akan sangat membantu meningkatkan kekuatan Raja Roma. Tapi sampai saat ini orang yang mengetahui siapa pemilik batu bercahaya ungu belum ketemu. Orang orang Raja Roma benar benar tidak menempukan petunjuk apapun.


Bahkan, gara gara mendengar perubahan yang terjadi pada pulau pengasingan, Raja roma sampai lupa dengan tujuan utama dirinya selama ini. Fokusnya beralih ke arah dimana pulau pengasingan kedatangan banyak pria. Ditambah lagi laporan cenayang yang mengatakan kalau keberadaan batu itu juga belum jelas, membuat Raja Roma semakin melupakan batu itu.


"Benar, Yang mulia," penasehat kerajaan ikut bersuara. "Saya pikir, Yang mulia memang harus lebih memikirkan tujuan utama Yang mulia sejak awal."


"Tapi sampai detik ini, kita belum menemukan titik terang keberadaan Nafata maupun batu bercahaya ungu, sungguh itu sangat membuat aku marah jika memikiranya," balas Raja Roma nampak begitu lesu terduduk di singgasananya.

__ADS_1


"Tapi Tuan penasehat dan Tuan ajudan, Siapa tahu dengan kita bertandang ke kerajaan kagomara, kita bisa saja menemukan salah satunya," ucap seorang menteri. "Sekarang coba anda sekalian pikir saja sendiri, bisa saja pria asing itu juga yang menyembuhkan Putri Nafata dan menyembunyikannya. Sekarang coba kalian pikirkan baik baik, bagaimana bisa pria itu datang dan menguasai kerajaan kagomara. Kira kira menurut anda sekalian, darimana pria itu tahu tentang keadaan Kagomara kalau bukan dari orang dalam kerajaan itu sendiri."


Lagi lagi semua nampak terdiam dan mencerna ucapan sang menteri. Dugaan seperi itu juga masuk akal menurut mereka. Meski jalan cerita yang sebenarnya tidak seperti yang mereka pikirkan dan bicarakan, tapi karena sebuah ambisi, mereka mau tidak mau harus memikirkan sesuatu yang tidak terlalu penting seperti itu.


"Terus saya harus bagaimana? Saya tidak bisa berdiam diri seperti ini," ungkap Raja Roma.


"Kalau menurut saya, kita memang harus sesekali bertandang ke kerajaan Kagomara secara resmi. Karena beberapa kali kita mengirim penyusup dan mata mata, kita tidak bisa mendapatkan informasi apa apa. Anak buah kita menghilang tanpa kabar," usul sang jenderal. Dan nampaknya, para pejabat kerajaan setuju dengan usulan tersebut.


"Baiklah, buatkan pesan lalu kirim ke kerajaan Kagomara," titah Raja Roma.


"Baik, yang mulia."


"Sebenarnya ini pulau apa? Kenapa ada senjata seperti ini? Perasaan selama aku disini, tidak ada senjata yang kayak gini?" tanya Rahul sambil memegang kapak dengan dua mata pisau.


"Iya yah? Tapi memang disini tidak ada senjata seperti ini kan? Cuma ada pedang, tombak dan panah serta tongkat," ucap Nikki sambil memegang senjata mirip meruyung.


"Mungkin karena disini lebih banyak cewek, jadi mereka tidak banyak yang tahu dunia persenjataan," sambung Jack sembari memegangi senjata seperti sabuah cakar harimau.

__ADS_1


"Ah iya, benar. Wanita mana tahu soal persenjataan. Yang mereka tahu hanya senjatanya laki laki yang bikin wanita keenakan," cibir Rahul, dan ketiganya sontak tergelak.


"Ya udah, kalau gitu, bagaimana kita perbanyak senjata senjata ini? Kita bawa ke bagian senjata kita," usul Nikki.


"Oke! Ide bagus itu!"


Dan ketiga pemuda itu segera saja bangkit dan beranjak ke tempat di mana persenjataan dibuat.


Di hari yang sama, Raja roma juga sedang mengutus anak buahnnya untuk menyampaikan sebuah pesan kunjungan.


"Ingat tugas kalian. Kalian bukan hanya mengirim surat pesan ini, tapi juga cari info penting lainnya yang berguna. Mengerti?"


Mengerti, Yang mulia."


"Baiklah. Silakan kalian berangkat."


"Baik. Kami permisi, Yang mulia."

__ADS_1


...@@@@@...


__ADS_2