
"Suamiku."
"Apa kamu merasakan kekuatannya lagi?" Naga betina mengangguk. "Mungkin mereka sedang mengerjakan apa yang sudah aku ajarkan, istriku."
"Kalau mereka gagal bagaimana?" tanya Naga betina penuh rasa khawatir.
"Tenanglah, aku percaya pada pria itu. Dia pria yang cerdas dan teliti. Pasti dia berhasil meramu batu bercahaya ungu dengn bahan yang aku kasih tahu," ucap Naga jantan, lalu dia memeluk naga betina unuk memberi rasa nyaman.
Apa yang dikatakan Naga Jantan memang benar. Malam ini, di kamar Jack, sedang meracik ramuan yang disarankan oleh Naga jantan. Menurut sang naga, ramuan itu sudah pasti ampuh jika dibuatnya bersama batu bercahaya ungu. Aneh memang, tapi itulah fakta yang ada di sana.
Jack juga awalnya tercengang saat mendengar ada sebuah racun yang diapisi dengan sihir. Namun itu memang sesuatu yang terjadi dan menimpa banyak wanita perawan di sana. Yang paling membuat Jack heran, racun itu lebih ampuh menyerang wanita yang. Mahkotanya masih rapat.
Setelah melakukan semua yang di ajarkan naga, kini selesai lah ramuan yang Jack buat menjadi tiga gelas. Jack, Nikki dan Rahul menatap tiga gelas berisi ramuan berwarna merah itu dengan sangat serius. Mereka terdiam namun pikiran mereka berkelana dengan berbagai pertanyaan mengitarinya.
"Kamu yakin ini akan berhasil?" tanya Rahul setelah terjadi keheningan beberapa saat tadi. Dia melempar pertanyaan dengan mata terus menatap ke arah tiga gelas cairan berwarna merah.
"Kata Naga, ini memang ramuannya," jawab Jack yang tatapannya sama saja ke arah yang sama.
"Kalau gagal bagaiamana?" tanya Rahul lagi.
__ADS_1
"Aku yakin dia mengatakan yang sebenarnya, karena dia sangat membutuhkan batu bercahaya ungu yang ada di tangan kita," jawaban Jack membuat Rahul merasa lebih lega.
Wajar jika mereka sangat was was dan sangat khawatir. Apa yang mereka lakukan saat ini harus bertaruh nyawa jika mereka gagal.
"Tapi kenapa malah kita yang harus meminumnya Jack? Bukankah yang kena racun sihir para wanita? Kenapa bukan mereka yang meminumnya saja," kini gantian Nikki yang bertanya.
"Iya, Jack, bener yang dikatakan Nikki. Ibaratnya penyakit, yang harusnya minum obat kan yang sakit, bukan dokternya, lah ini malah kebalik," sambung Rahul.
"Justru dengan minum ramuan batu bercahaya ungu ini, kita akan menjadi dokter bagi semua wanita yang ada di pulau ini," terang Jack dengan tatapan penuh keyakinan kepada dua temannya.
"Maksudnya, Jack?" tanya Nikki lagi.
"Oh gitu?" ucap Nikki setelah tadi terdiam sejenak sembari mencerna ucapan Jack. "Terus?"
"Ya setelah itu kita akan menjadi dokter bagi semua wanita disini, siap siap saja, akan ada banyak wanita berbaring di ranjang kita, minta di renggut mahkotanya," kini ucapan Jack terdengar lebih santai.
"Beneran, Jack?" tanya Rahul mencoba memastikan, dan dia langsung bersorak saat Jack dengan yakin menganggukkan kepalanya. "Horre! Pesta!"
"Tapi ini aneh sih, kalau cara kerjanya seperti itu, kenapa tidak diminum langsung saja sama wanita? Mereka juga sama sama punya pelicin?" ucap Nikki masih sedikit ragu.
__ADS_1
Jack langsung mengulas senyum. Dia jadi teringat dengan ucapan Naga. Pasti akan ada yang bertanya seperti yang Nikki tanyakan barusan ."Jadi ibaratnya ini tuh seperti pasangan, Nik. Ada wanita ada pria, ada panjang ada pendek. Itu juga yang berlaku dengan konsep ramuan ini. Wanita yang kena lubangnya, maka pria lah yang menyembuhkan lewat sodokannya."
"Tapi ..." ucap Nikki selanjutnya, tapi keburu dipotong oleh Rahul.
"Gini aja deh, Nik. Kalau kamu masih ragu, suruh Nafata yang minum air ramuan itu. Lalu, kamu coba praktek. Lebih benar dugaan kamu atau lebih benar penjabaran Jack, berani?" tantang Rahul dengan nada penuh penekanan karena kesal. Terlihat jelas di wajah Nikki, kalau dia sekarang merasa dilema.
"Kalau kamu ragu keduanya ya kamu diam aja, Nafata biar menjadi bagianku," sambung Rahul lagi.
"Enak aja!" tolak Nikki.
"Ya udah, tinggal nurut apa susahnya."
"Udah, daripada berdebat kita minum sekarang. kalau gagal, Naga akan menolong kita."
"Nah! Itu baru berita bagus!" seru Rahul.
"Oke, mari kita minum, tos!"
"Tos!"
__ADS_1
...@@@@@@...