
Di malam itu, di saat tiga orang pria sedang meracik ramuan dengan bantua batu bercahaya ungu, di tempat yang berbeda justru terjadi kehebohan. Untuk pertama kalinya di kerajaan yang dipimpin oleh seorang Raja bernama Raja Roma, empat cenayang merasakan adanya sebuah kekuatan besar yang mereka yakini kalau kekuatan itu berasal dari batu bercahaya ungu yang mereka cari.
Namun saat mereka mengetahui darimana asal kekuatan itu, mereka jadi ragu sendiri. Menurut mereka, mana mungkin batu bercahaya ungu berada di pulau yang hanya di penghuni para wanita saja. Apa lagi pulau itu adalah pulau pengasingan. Saat ke empat cenayang melaporkan hal ini kepada Raja Roma, dia juga merasakan keheranan yang sama.
"Bagaimana mungkin batu bercahaya ungu ada disana? Bukankah kita sudah sering melewatinya?" ucap Raja Roma mengemukakan rasa herannya.
"Benar, Yang Mulia, saya sendiri juga heran, sekarang kekuatan batu itu juga menghilang kembali. Sepertinya memang terjadi sesuatu pada batu itu," balas salah satu cenayang.
"Maaf, Yang Mulia, saya menyela pembicaraan anda," ucap Jenderal. "Menurut saya, yang tahu keberadaan batu naga saat ini adalah Putri Nafata. Bagaimana kalau kita sebaiknya fokus dulu kepada pencarian dia?"
"Benar, Yang Mulia," Sang Ajudan ikut bersuara. "Apa yang dikatakan Jenderal ada benarnya. Kuncinya ada pada Putri Nafata. Saya yakin, dengan ditemukannya Putri Nafata, maka dengan mudah kita akan mendapatkan petunjuk keberadaan batu naga itu."
Raja Roma nampak manggut manggut dan mencerna semua pendapat yang masuk. Apa yang dikatakan para petinggi kerajaan memang benar, kunci keberadaan batu bercahaya ungu memang ada pada Nafata. Begitu juga dengan harta yang tersembunyi.
"Baiklah, untuk saat ini kita fokus mencari keberadan putri Nafata dan saya juga perintahkan, kirim wanita ke Pulau pengasingan, cari tahu segalanya tentang pulau para wanita itu, mengerti?" titah Raja Roma.
"Baik, Yang Mulia."
Sementara itu, di belakang istana kerajaan Kagomara, tepatnya di bangunan belakang istana, tiga pemuda nampak keluar dari kamar. Setelah minum ramuan dari sang Naga, tiga pemuda langsung pindah ke kamar Nikki. Sebenarnya mereka ingin kembali ke kamarnya masing masing, tapi saat Nikki masuk ke dalam kamar, dia melihat ada Jenita dan Insana sedang berada di kamarnya. Dia lantas segera saja memberi tahu dua pria lainnya, dan sekarang, mereka berkumpul menjadi satu.
__ADS_1
Kini ketiganya duduk diatas dua ranjang yang bersebelahan. Mereka menjadi dua kubu dan saling berhadapan. Wajah ketiga wanita menatap tiga pria dengann sangat serius, sedangkan tiga pria itu malah senyum senyum ke arah tiga wanita di hadapannya.
"Bagaimana hasilnya? Kok kalian tidak menunjukkan apa apa? Malah senyum senyum tidak jelas," tanya Jenita.
"Hasilnya, sudah ada di dalam tubuh kita, Ratuku. Sekarang tinggal melakukan ritual untuk memenyempurnakannya," ucap Jack dengan yakin dan wajah yang berbina.
"Ritual? Ritual apa?" tanya Jenita lagi semakin merasa penasaran.
"Bagaimana kalau sekarang kita ke kamar. Ritualnya harus bersama wanita dalam satu kamar," jawab Jack lagi.
"Bagaimana bisa begitu? Apa anda sedang bercanda?" tanya Jenita sedikit kesal.
"Benar, Ratu. Apa yang dikatakan Jack memang benar. Ritual itu harus dilakukan berdua di dalam kamar," ucap Nikki yang akhirnya paham dengan kata ritual yang Jack sebutkan. Dia juga sudah ingin mencoba ritual sama seperti Jack. Ritual bercinta dengan wanita cantik putri raja.
Jenita mendengus kasar. "Baiklah, kita ke kamar sekarang!"
"Siap!" balas Jack dengan riang. Mereka berdua segera pergi meninggalan kamar Nikki. Kini tinggal empat orang yang ada disana.
"Kamu sendiri gimana, Insana? Mau lepas dari kutukan itu tidak?" tanya Rahul dengan senyum nakalnya.
__ADS_1
"Ya mau, tapi sama siapa?" jawab Insana seperti orang bingung.
"Ya sama saya dong, gimana kalau kita sekarang ke kamar aku?" usul Rahul.
"Sekarang?"
"Iya, masa besok?"
"Baiklah."
Seketika Rahul bersorak dalam hati. "Akhirnya, aku bisa mencicipi lubang wanita!"
Rahul dan Insana pun segera pergi dari kamar Nikki. Kini tinggal Nikki dan Nafata yang berada di dalam kamar. Nikki pun melempar senyum penuh arti. Dia berpindah ke sebelah Nafata berada. Tangannya terangkat, lalu dengan lembut membelai pipi wanita di sebelahnya.
"Sebaiknya kita juga melaksanakan ritual seperti mereka, apa kamu mau?"
Nafata menganguk pelan. "Mau, Tuan."
Nikki kembali tersenyum. "Baiklah, kita mulai sekarang, kamu diam saja ya?"
__ADS_1
Nafata mengangguk. Nikki memandang sejenak wajah cantik Nafata, lalu kepala Nikki bergerak maju dan bibirnya dia tempelkan ke bibir Nafata. Ritual nikmat pun di mulai.
...@@@@@...