
"Jack, woy! Tunggu! Nggak bisa begitu dong!" protes Rahul dan langsung memacu kudanya menyusul Jack. Begitu juga dengan apa yang Nikki lakukan. Mereka bertiga saling mengejar dengan berdedatan kecil yang diselingi suara terbahak
Tanpa ketiganya sadari, gerak gerik jack ada yang mengawasi. Tak jauh dari keberadaan mereka tadi, ada beberapa pasang mata yang mengintai Jack dan dua rekannya. Kening mereka berkerut dan saling tatap satu sama lain.
"Disini ada laki laki? Apa tidak salah?" tanya salah satu dari mereka. "Dan kalian dengar tadi? Apa yang mereka ributkan? Berebut wanita cantik dan masih muda, bukankah ini aneh?"
"Benar! Ini sangat aneh. Untuk apa mereka saling memperbutkan wanita di pulau ini? Apa mereka tidak tahu apa yang terjadi disini?"
"Tapi kenapa firasatku mengatakan kalau mereka berebut wanita untuk ditiduri?"
Lima wanita yang tanpa sengaja mendengar perdebatan tiga pemuda, sontak saling tatap dan saling mengeluarkan pendapat masing masing. Wajah heran dan penuh tanda tanya, tercetak jelas dari kelima wanita yang belum lama ini datang ke pulau itu.
"Sepertinya, diantara kita, harus ada yang pulang, memberi tahu kabar ini kepada Raja Roma," usul salah satu dari mereka.
"Kalau menurutku, jangan dulu. Kita belum tahu pasti apa yang sebenarnya terjadi disini," sahut yang lainnya.
"Betul, aku juga sependapat. Lebih baik kita mengumpulkan informasi yang lebih banyak lagi. Daripada saat Raja Roma bertanya lebih lanjut, kita tidak dapat menjawab karena kurangnya informasi," sambung yang lainnya.
"Setuju! Memang lebih baik seperti itu."
"Baiklah, kita disini dulu. Sekarang kita harus menyusup ke tempat warga. Agar kita bisa memiliki tempat untuk bermalam."
__ADS_1
"Ayok!"
Kelima wanita itu keluar dari tempat persembunyiannya dan kembali melanjutkan perjalanan menuju pusat Istana. Terlihat jelas sekali kalau mereka adalah wanita wanita tangguh. Hanya dengan modal berjalan kaki, mereka melewati hutan tanpa adanya rasa takut. Sepertinya mereka memang wanita pilihan yang ditugaskan untuk mengintai kerajaan Kagomara.
Sementara itu di tempat lain, suara derap kaki kuda terdengar memasuki gerbang Istana. Kuda itu langsung diarahkan penunggangnya menuju ke tempat dimana kuda itu biasa diistirahatkan. Tak lama kemudian dua kuda yang lain menyusul ke tempat itu.
"Kalian ngerasa nggak sih? Sejak kita di pulau ini, banyak perubahan pada tubuh kita sendiri?" tanya Nikki begitu ketiganya berjalan beriringan setelah turun dari kuda masing masing.
"Ngerasain dong. Selain jadi pandai bela diri, aku juga jadi ahli menunggang kuda. Padahal di kampung, lihat kuda aja, jarang banget. Eh disini, malah adu balap tadi," Rahul menimpali.
"Yah, apa yang kalian katakan benar. Disini banyak keanehan tapi menguntungkan bagi kita. Lihat tuh para pelayan. Gila! Bikin pengin euy!" seru Jack sambil matanya menatap para pelayan istana yang sedang merawat taman samping kerajaan. Nikki dan Rahul sontak ikut memandang ke arah mereka.
"Nikmati aja lah, Nik. Nggak usah komentar yang aneh aneh. Kapan lagi, kita bisa melihat wanita lengkap dengan isiannya coba?" protes Rahul.
"Iya, iya, bawel!" sungut Nikki.
"Eh kita duduk di sana yuk? Kita panggil beberapa pelayan untuk menemani kita?" usul Rahul sambil menunjuk ke arah gazebo yang ada di tengah taman.
"Ide yang bagus, Yuk!"
Dan ketiganya kompak mengalihkan langkahnya menuju ke tempat yang Rahul tunjukkan. Tanpa mereka tahu, sebenarnya mereka lagi ditunggu oleh tiga wanita yang ada di rumah belakang istana. Dengan perasaan was was, mereka menanti kabar tiga pria yang sedang pergi menemui naga.
__ADS_1
"Kenapa mereka belum kembali? Apa terjadi sesuatu pada mereka?" tanya Jenita. Entah sudah berapa kali pertanyaan itu terlontar dari mulut sang Ratu.
"Ratu Jenita yang sabar, mereka pasti baik baik saja," ucap Nafata dengan tenang. Meski sebenarnya dia juga sangat khawatir, karena sudah cukup lama dia dan dua perempuan yang bersamanya.
"Iya, Ratu. Ratu yang tenang. Mereka pasti baik baik saja," Insana ikut menimpali.
Disaat bersamaan, dua orang pelayan lewat dan Jenita memanggilnya agar pelayan itu mendekat.
"Ada apa, Ratu? Apa Ratu membutuhkan sesuatu?" tanya salah satu dari pelayan itu.
"Tolong, kasih tahu penjaga Istana. Berita tahu saya jika Tuan Jack sudah pulang," titah Jenita.
Kedua pelayan salin tatap dengan kening berkerut , lalu kembali menatap Jenita dan salah satunya berkata, "Loh? Bukankah mereka sudah pulang dari tadi, Ratu?"
"Sudah pulang? Kok tidak kelihatan?"
"Mereka sedang berada di taman samping, Ratu. Sedang duduk bersama para pelayan istana."
"Apa!"
...@@@@@...
__ADS_1