
Saat malam menjelang, di dalam sebuah kamar, seorang laki laki sedang memeluk pinggang ramping seorang wanita yang sedang menatap langit gelap penuh bintang.
"Aku mau ke kamar Jack dulu," pamit sang pria terdengar lembut di dekat telinga si wanita.
"Semoga Tuan Jack berhasil melunturkan kutukan yang terjadi di pulau ini," ucap si wanita penuh harap.
"Jika berhasil, apa punyaku boleh masuk ke dalam sini?" tanya si pria sambil menggenggam gundukan berbulu halus di bawah perut si wanita. Bukannya memberi jawaban, si wanita malah menutup wajahnya dengan kedua tangan. Si pria lantas tersenyum. "Kenapa malah menutup wajah?"
"Malu, Tuan," balas si wanita. "Tuan terlalu berterus terang."
Senyum si pria semakin melebar. "Kenapa mesti malu? Bukankah lebih baik berterus terang? Lagian, kita sudah saling menyentuh. Tidak akan sempurna kalau milikku tidak masuk ke dalam punya kamu, Putri."
"Ya sudah sana, Tuan pergi. Sudah ditungguin itu," usir si wanita.
"Nanti dulu. Kamu harus setuju dulu, baru aku akan pergi," tolak si pria berngosiasi.
"Iya, iya. Nanti kalau berhasil, silakan milik Tuan masuk sepuasnya," balas si wanita itu gemas.
"Nah gitu dong! Ya udah aku pergi dulu ya?" Si wanita mengangguk lalu si pria pergi setelah mengecup pipi si wanita.
Tak lama setelah si pria itu pergi, terdengar pintu kamar wanita itu diketuk. Dia yang sedang berbaring langsung saja bangkit dan turun dari ranjang lalu beranjak ke arah pintu.
__ADS_1
"Ratu Jenita, Insana! Ada apa?" ucap Si wanita begitu pintu terbuka dan melihat dua wanita yang dia kenal. Dua wanita yang namanya disebutkan itu lantas masuk ke dalam kamar.
"Apa Tuan Nikki sudah pergi?" tanya Jenita.
"Sudah, baru saja," jawab si wanita yang bernama Nafata. Mereka bertiga lantas duduk di kursi yang ada di sana. "Aku harap, Tuan Jack kali ini berhasil," sambung Nafata lagi.
"Aku harap juga begitu. Jadi perawan terus, benar benar menyiksa jiwa," balas Jenita.
"Semakin menyiksa lagi saat pria itu menyentuh kita. Seperti ada Jiwa yang meronta ingin segera dituntaskan," sambung Insana.
"Tapi, apa kalian siap, lubang kalian dimasuki laki laki? Dengar dengar kalau pertama kali dimasukin, rasanya sangat sakit?" tanya Jenita.
"Kalau aku sendiri sih sudah siap," jawab Nafata. "Tuan Nikki udah memintanya. Lagian aku mengangapnya sebagai tanda terima kasih karena Tuan Nikki sudah menyembuhkanku. Kalau kamu, Insana?"
"Hahaha ... memangnya kamu tidak tidur satu kamar dengan Tuan Rahul?"
Insana menggeleng. "Aku tidur di kamar sebelahnya."
"Kalau kamu ingin dimasuki ya bilang saja, Tuan Rahul pasti mau," usul Nafata.
"Masa aku yang bilang, Ratu? Mana aku berani, apa lagi ini yang pertama bagi aku," ucap Insana nampak dilema. Nafata dan Jenita sontak saja tersenyum.
__ADS_1
"Tapi aku yakin sih, kalu Tuan Rahul juga pasti ingin memasukkan miliknya ke dalam punya kamu, Insana. Bukankah dia yang terlihat paling bersemangat," ucap Jenita
"Benar, pasti dia akan memasukan miliknya ke dalam punya kamu, Insana. Kamu tenang saja," sambung Nafata. Lalu dia menoleh ke arah Jenita. "Kalau kamu sendiri bagaimana, Ratu? Apa kamu siap juga dimasuki milik Tuan Jack?"
Jenita sedikit terkejut tapi tak lama kemudian dia mendengus kasar. "Siap tidak siap, aku harus siap, Putri Nafata. Apa lagi Tuan Jack senang sekali menggesekkan miliknya ke tubuhku, menjadikan aku benar benar ingin merasakannya."
"Tapi ... apa Tuan Nikki, Tuan Jack dan Tuan Rahul hanya menyembuhkan kita saja? Terus bagaimana dengan yang lain?" tanya Insana.
"Nah iya? Karena mereka bertiga yang tahu cara pengobatannya, pasti hanya mereka bertiga yang tahu cara penyembuhannya," kata Jenita.
"Ya sudah, kita tunggu saja hasilnya gimana? Kalau berhasil, baru kita bicarakan," usul Nafata.
"Setuju!"
Sementara itu di kamar Jack. Ketiga pemuda sedang melakukan sesuatu seperti apa yang di arahkan sang naga kepad Jack. Setelah cukup lama selesai, mereka pun duduk bersama melingkari tiga gelas berisi air berwarna merah, hasil dari arahan sang naga.
"Ini adalah air yang akan memberi kekuatan pada benda kebanggaan kita, untuk menembus mahkota para wanita dan menyelamatkannya, apa kalian siap melakukannya?" ucap Jack dengan wajah yang sangat serius.
"Siap sekali!" jawab Nikki dan Rahul antusias.
"Baiklah, mari kita minum sekarang, tos!"
__ADS_1
"Tos!"
...@@@@@...